
Ipul mengendarai motornya dengan santai membuat gadis dibelakangnya memberikan protes.
"Ngebut dong Pul." kata Zara didekat telinga Saipul.
"Nggak." tolak Ipul dengan suara rendah.
Zara merengut karena Ipul tidak menuruti keinginannya, padahal ia meminta itu untuk menghilangkan rasa kesal akibat perbuatan kedua wanita di rumah itu.
Ipul merasakan aneh ketika Zara tidak lagi mengeluarkan ocehannya.
Dia pun meminggirkan motornya dan mematikan mesin lalu menengok kebelakang.
"Za." Ipul memanggil Zara yang tengah menunduk entah karena berat dengan helm yang gadis itu pakai atau memang Zara tengah merasakan hal lain.
"Hei." menepuk bahu Zara yang mendadak bergetar, Ipul tahu saat ini Zara tengah menangis meskipun wajahnya tidak mau ditunjukkan kepadanya.
Tangan Ipul berusaha untuk membuka helm yang Zara pakai tapi tangan Zara menahannya, ia tidak mau Ipul melihat dirinya mengeluarkan air mata karena ia tahu temannya itu pasti akan mengatai dirinya jelek setiap kali mengeluarkan tangisannya.
Zara tahu Ipul mengatakan itu hanya untuk membuat dia tidak lagi menangis.
Tangan Ipul terus memaksa untuk membuka helm meski Zara juga masih mempertahankan helm besar itu di kepalanya, hingga akhirnya Zara pun menyerah dan membiarkan Ipul melepaskan helm.
Zara masih terus mengeluarkan air matanya meski tidak ada suara tangis yang keluar dari mulutnya.
Ipul menarik kepala Zara lalu menempatkan di dadanya dengan tangannya yang mengelus lembut rambut sang gadis dengan penuh perasaan.
Posisi mereka bertahan seperti itu hingga beberapa menit, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka berdua, terlebih Ipul yang sangat memahami apa yang sekarang dirasakan oleh Zara.
Ia tahu gadis itu pasti habis bertengkar lagi dengan ibu tirinya serta Dira teman sekelasnya juga, sudah sering kali Zara menceritakan hal itu sehingga dia paham betul jika mendadak Zara menjadi melo seperti sekarang.
"Udah?" tanya Ipul kala Zara mulai menjauhkan kepala dari dadanya dan menghapus air mata yang membekas di kedua pipi gadis yang begitu dekat dengannya saat ini.
Zara menganggukkan kepala seraya mengusap hidungnya yang memerah dan mungkin tersumbat.
"Malam ini kita keliling sampai pagi gimana?" Ipul memainkan kedua alisnya.
Zara pun mengangguk cepat menyetujui ajakan Saipul yang memang rasanya ia tidak ingin pulang ke rumah dimana penghuninya tidak menyukai dirinya malah sangat membenci terhadapnya.
Seandainya Zara seorang gadis dewasa yang sudah bekerja tentu saja ia sudah sejak lama meninggalkan rumah itu, tidak peduli bahwa itu adalah rumah peninggalan ibunya asalkan ia bisa terbebas dari dua orang wanita kejam itu tidak jadi soal, ia hanya ingin hidup tenang.
Tapi sayangnya ia hanyalah seorang gadis Kelas dua SMA yang masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolah.
Sekarang ia hanya menunggu setahun lagi untuk bisa lulus sekolah dan langsung saja mencari pekerjaan meskipun hanya berbekal ijazah SMA saja, setidaknya itu masih bisa membantunya untuk mendapatkan pekerjaan dan mengumpulkan uang jikalau nanti ia ingin meneruskan kuliah yang pastinya akan tertunda beberapa saat atau mungkin ia tidak akan pernah kuliah sama sekali.
"Oke, pegangan yang erat, kita ngebut sekarang." ujar Ipul seraya menarik kedua tangan Zara ke pinggangnya.
Zara pun terlihat menurut malah ia sendiri yang mengeratkan pelukannya di pinggang sang teman yang senantiasa hadir disaat ia tengah merasakan sedih seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Siap?" tanya Ipul pada Zara sebelum mulai menarik gas dengan kencang.
"Siap!" jawab Zara.
"Apa?" tanya Ipul yang tidak mendengar jawab Zara karena kini dialah yang memakai helm.
"Siaaap." pekik Zara lantang yang akhirnya membuat Ipul tersenyum karena gadis berada di boncengan nya sudah kembali ceria setelah menumpahkan tangisan di dadanya.
Ipul pun menarik gas nya sampai habis hingga motor pun melaju sangat kencang di jalanan yang untungnya sepi hanya ada satu atau dua kendaraan roda dua yang melintas.
Puas dengan kecepatan penuh akhirnya Saipul mulai memelankan laju motornya.
"Seneng nggak?" tanya Ipul dengan suara yang kencang kepada Zara.
"Seneeeeeng." sahut Zara dengan begitu antusiasnya karena keinginannya menaiki motor Ipul dengan laju yang kencang dikabulkan oleh temannya itu.
Dan sekarang Saipul menjalankan motor dengan santai membawanya ke sebuah cafe yang nampak ramai terlihat dari banyaknya kendaraan roda dua yang terparkir dihalaman cafe.
"Kok kesini?" Zara terlihat heran, karena Ipul tidak memberitahunya bahwa akan pergi ke cafe.
"Cari minum dulu, gue haus." tutur Ipul seraya membuka helm mematikan mesin motor lalu mencabut kuncinya.
Sebelum disuruh Zara sudah turun lebih dulu dari motor itu dan melihat kearah dalam cafe yang tidak terlalu besar tapi cukup ramai dan halaman sampingnya juga ternyata disediakan bangku-bangku sama seperti yang di dalam.
Pengunjung pun tinggal memilih saja mau duduk didalam atau diluar agar bisa menghirup udara malam hari yang dihembusi angin segar.
"Ayo." ajak Ipul sambil menarik lengan gadis itu menuju cafe.
Ipul langsung menyetujui nya dan mengikuti Zara menuju tempat yang gadis itu pilih.
Zara melabuhkan bokongnya dan langsung bersandar di bangku seraya menghembuskan napas panjang.
"Sebentar, gue mau ke toilet dulu." kata Ipul yang merasakan kantong kemihnya penuh dan harus segera dikeluarkan jika tidak ingin ngompol di celana.
Saipul langsung berjalan kearah dalam cafe dimana toilet itu berada.
Zara terlihat menikmati musik live yang tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Suara penyanyi wanita yang begitu pas membuat Zara memejamkan matanya seakan terhipnotis.
Sebuah tepukan di bahu membuat Zara sontak membuka matanya dan melihat orang yang tadi mengagetkan dirinya.
"Sendiri aja?" tanya seorang pemuda yang malah membuat Zara termangu seolah tidak percaya dengan yang ia lihat sekarang ini.
"Ini kan yang tadi sore di toilet." Zara membatin sendiri seraya mengucek kedua matanya seakan ia merasa itu hanyalah khayalan nya saja.
"Haloo." tangan sang pemuda yang tidak Zara tahu siapa namanya mengibas didepan wajah seolah ingin menyadarkan Zara.
__ADS_1
"Oh eh mm." Zara malah jadi kikuk sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Sendiri aja?" tanya pemuda itu kemudian.
Zara terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari orang yang sekarang duduk didepannya.
"Berdua." sahut Zara akhirnya.
"Pacar?" pertanyaan yang seolah ingin tahu itu terlontar.
"Temen." jawab Zara singkat.
"Ooh." lelaki itu tampak mengulum senyum.
"Kalau gitu boleh kita kenalan?" tanyanya lagi.
"Boleh." dengan cepat Zara menjawab.
"Daviandra, panggil aja Davi." pemuda bernama Davi itu mengulurkan tangan menunggu Zara menjabat tangannya.
"Zara." Zara pun menjabat tangan pemuda yang baru berkenalan dengannya itu seraya menyunggingkan senyum.
"Boleh minta nomornya nggak?" kali ini Davi mulai meminta nomor telepon Zara.
"Boleh." Zara mengangguk dan dengan senang hati ia menyebutkan nomor HP nya yang langsung disimpan kedalam HP oleh Davi.
"Oke, kalau gitu gue pergi dulu,lain kali gue hubungin." ucap Davi seraya beranjak dari duduknya dan melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Zara.
Ipul yang baru keluar dari toilet langsung kembali menuju Zara tanpa dia sadari bahwa pemuda yang tadi sore dia hindari malah baru saja berkenalan dengan Zara.
"Kayak orang gila senyum-senyum sendiri." ketus Ipul ketika melihat temannya tersenyum lebar seraya memandangi HP.
Zara yang tidak mau Ipul tahu tentang apa yang barusan terjadi langsung menyimpan HP nya dan menormalkan wajah untuk tidak lagi tersenyum.
Ditempat yang tidak jauh dari Zara dan Ipul, Davi tengah berbincang dengan dua orang temannya seraya berulang kali melihat kearah Zara yang tengah berbicara dengan Ipul.
"Gue sih nggak yakin tuh cewek suka sama elu." kata Fahri yang duduk di samping Davi.
"Kalau nggak suka dia nggak bakal langsung ngasih nomornya." sahut Davi dengan penuh percaya diri apalagi Ari pun turut mengiyakan yang dia katakan.
"Tapi tetap aja gue nggak yakin, lagian kan tuh cewek sama Ipul, nggak mungkin mereka cuma temenan." kata Fahri sambil menyeruput minumannya.
"Kita lihat aja nanti." jawab Davi dengan senyum miring yang begitu licik.
"Lu kayaknya masih dendam aja sama Saipul padahal kan dia sepupu lu sendiri." Ari mulai ikut bicara.
"Gue nggak suka selalu dibandingin sama dia." sahut Davi dengan mata yang menatap tajam kearah Ipul dan Zara yang saat ini sedang tertawa.
__ADS_1
Entah mereka tertawa karena apa yang jelas sekarang guratan wajah Davi terlihat begitu kaku memandang Saipul yang sebenarnya adalah adik sepupunya karena Davi lebih tua setahun dan sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA.
*************