Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 15


__ADS_3

Davi tengah duduk di atas motornya menunggu Zara yang akan dia ajak pergi malam ini.


"Vi,Davi." bukannya Zara yang keluar tapi malah Dira yang menghampiri Davi didepan pagar rumah.


Davi melihat kepala Dira yang menyembul dari balik pintu pagar yang dibuka sedikit.


"Mau kemana?" tanya Dira.


"Nih cewek sama aja sama cowoknya kepoan." batin Davi menyamakan Dira dan Fahri yang tadi pagi juga bertanya padanya mau membawa Zara kemana.


"Mau kemana?!" tanya Dira kali ini dengan suara yang tegas dan tajam penuh rasa ke ingin Tahuan yang berlebih.


"Keliling." menjawab singkat daripada terus diteror pertanyaan oleh Dira.


Mendengar itu Dira malah tersenyum misterius seperti mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Davi terhadap saudara tirinya itu.


Davi mendengus sebal mendapat tatapan serta senyum ngeselin dari pacar temannya itu.


"Fahri lagi ngapain?" sekarang menanyakan Fahri yang sudah tentu Davi tidak akan tahu apapun tentang pemuda itu jika sedang tidak ada disekolah.


"Gue bukan orang tuanya, telepon aja sana punya hp kan lu." omel Davi dengan begitu ketusnya.


Rupanya dari awal dikenalkan oleh Fahri, Davi memang tidak begitu suka terhadap Dira apalagi ketika mengingat betapa manja dan centilnya gadis itu kala Fahri membawa gadis itu ke tempat nongkrong mereka.

__ADS_1


Sungguh Davi sebal dengan Dira, meskipun wajahnya cukup cantik, tapi auranya justru menyeramkan, itulah yang kerap kali ada didalam benak Davi kala pertama kali dikenalkan oleh Fahri.


Dira memanyunkan bibirnya ketika Davi bersikap ketus padanya.


"Kayaknya nih orang keseringan makan yang pahit-pahit, sampai omongannya juga nggak pernah enak didenger, temennya Fahri cuma dia aja nih yang mulutnya pedes." sungut Dira seraya berlalu.


Memang diantara teman-teman Fahri yang lain Davi lah terlihat sekali tidak suka kepadanya, Dira sadar akan hal itu sejak pertama kali dikenalkan oleh Fahri pada teman-temannya.


Tapi tetap saja Dira mencoba untuk mengakrabkan diri sebab tidak dipungkiri wajah Davi memang yang paling tampan diantara teman-teman Fahri termasuk Fahri nya sendiri.


Dan tanpa disadari oleh Fahri Dira cukup sering mencuri pandang Davi untuk melihat wajah tampannya apalagi saat sedang tersenyum akan ada gigi gingsul yang menyembul di bagian kanan mulutnya.


Sungguh itu godaan tersendiri bagi Dira yang memang kadang merasa gemas sendiri jika melihat gigi gingsul itu terlihat matanya.


"Lu pake susuk apaan sih, kok bisa dapetin cowok ganteng kayak si Davi?!" Dira bertanya sinis ketika Zara baru saja menuruni tangga.


"Nggak usah sok polos deh Zar." bentak Dira yang jadi emosi sendiri karena Zara tidak menjawab pertanyaan ngelantur yang ia ajukan.


"Nggak jelas." sungut Zara seraya mencoba abai dan melenggang keluar.


"Ngeselin emang lu Zar, gue bilangin Mamah lu ya." ancam Dira yang memang itulah keahliannya di rumah itu.


Zara menoleh untuk melihat Dira yang berdiri seraya menaikkan kedua tangannya di pinggang dengan tatapan sadis untuk menakuti Zara.

__ADS_1


"Bodo!" celetuk Zara lalu keluar dengan menutup pintu yang begitu kencang.


Dira menghentak-hentakkan kedua kakinya dilantai yang berwarna putih itu untuk melampiaskan kesalnya terhadap Zara.


Dira berlari kencang untuk mengunci pintu rumah karena memang malam ini dia hanya seorang diri karena Dewi yang sedang pergi untuk urusan keluarga diluar kota selama beberapa hari, jadilah Dira dan Zara hanya tinggal berdua saja di rumah itu dna sekarang saat Zara pergi bersama Davi Dira pun hanya seorang diri saja di rumah berlantai dua itu.


Zara keluar untuk menghampiri Davi yang sudah menunggunya 15menit.


"Maaf nunggu lama." ucap Zara dengan senyuman yang merekah melihat pemuda yang baru menjadi kekasihnya itu.


"Nggak usah kaku gini kenapa Zar." protes Davi pada permintaan maaf Zara kepadanya.


"Nggak enak aja sudah bikin kamu nunggu." sahut Zara canggung karena sekarang Davi terus saja memandangi wajahnya dengan tajam, entah apa yang dicari pemuda itu diwajahnya saat ini, karena yang jelas saat ini jantung Zara bekerja cepat memompa aliran darah mengalir dengan derasnya bagaikan air sungai yang dilanda hujan.


Davi tersenyum aneh lalu memberikan helm pada Zara dan memintanya untuk segera naik ke motor miliknya.


"Sudah siap?" tanya Davi ketika Zara duduk di boncengannya.


Zara mengangguk seraya bertanya.


"Kita mau kemana?" mendekatkan kepalanya kearah Davi agar pemuda itu mendengar apa yang ia katakan disaat suara motor dengan knalpot besar khas pembalap menggaung memasuki telinga.


"Jalan-jalan aja, nggak masalahkan?" kata Davi menengok kebelakang hingga pipinya menyentuh bibir tipis Zara.

__ADS_1


Mata Zara terbelalak saking kagetnya dengan kejadian yang tidak ia sangka sedangkan Davi bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.


**************


__ADS_2