Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 82


__ADS_3

Davi terlihat sedang berbicara dengan teman-teman Zara dengan wajah yang sangat serius.


Apalagi memangnya yang akan dia lakukan selain meminta mereka untuk menjaga Zara dan tidak membiarkan siapapun mendekat pada wanita yang sekarang tengah memperhatikan wajahnya dengan penuh rasa sayang mengagumi betapa Davi yang sudah jauh berbeda dari yang dulu.


Perhatian yang lelaki itu berikan padanya sungguh sangat menyentuh hatinya apalagi segala sentuhan yang Davi berikan pun mampu membuatnya selalu mabuk dalam buaian hingga membuatnya selalu lupa untuk mengendalikan diri.


"Aku tinggal ya, kamu jaga diri jika ada apa-apa segera hubungi aku dan jangan terlalu malam juga pulangnya besok kita harus berangkat pagi-pagi." Davi memperingatkan sebab sebelumnya dia sudah memesan tiket yang sama dengan Zara yang akan melakukan tugasnya sebagai seorang Pramugari.


Zara mengangguk dengan satu sunggingan senyum terukir malu-malu di wajahnya terlebih saat Davi dengan tidak peduli mencium keningnya di depan semua teman-temannya yang tengah memperhatikan mereka.


Para wanita merasa iri melihat keromantisan di depan mereka, akan tetapi satu orang pria malah tengah berkasak-kusuk membicarakan Davi dengan tatapan tidak suka, ya Abian dengan tatapannya yang sangat tajam terus memperhatikan apa yang dilakukan Davi terhadap wanita yang dia sukai.


Ketidak sukaan terpancar jelas dari raut wajahnya ketika ada lelaki yang menyentuh Zara. tangannya pun terkepal erat hingga menunjukkan tulang jari-jarinya.


"Tanpa dia minta pun aku akan dengan senang hati menjaga Zara." Abian menggumam yang membuat teman pramugaranya mengernyitkan kening karena tidak mendengar jelas apa yang temannya itu gumamkan.


Davi sudah pergi dengan mobilnya meninggalkan Zara dengan banyaknya pesan dan peringatan untuk menjaga diri dari apapun dan juga siapapun yang tidak Zara tau.


"Ceritakan pada kami siapa lelaki itu?" berondong Reni dan kedua wanita yang berdiri di sampingnya.


Sejak Zara di jemput oleh lelaki yang tidak mereka kenal saat baru saja sampai menimbulkan jutaan pertanyaan di dalam pikiran mereka apalagi Zara yang tak kunjung menjawab pertanyaan mereka saat di tanya melalui pesan grup.


"Jawab Zara, kenapa malah senyum-senyum begitu." kali ini Sinta yang jadi sangat penasaran oleh sikap Zara.


"Ayo cepat kita berangkat sekarang, nanti keburu ramai." sepertinya Abian sangat tidak tahan jika harus mendengarkan cerita dari Zara tentang siapa lelaki yang sebegitu perhatian padanya bahkan mengalahkan perhatiannya pada Zara.

__ADS_1


Mereka semua masuk ke dalam mobil yang memang sudah menjadi fasilitas mereka selama singgah di negara yang mereka datangi.


Semua terlihat sangat antusias untuk melakukan perjalanan ke sebuah taman yang katanya tersembunyi dan sangat jarang di kunjungi oleh turis atau pendatang seperti mereka, namun ada satu wajah yang terlihat sangat tidak senang bahkan saya pertama kali menjejakkan kaki di bandara, siapa lagi jika bukan Abian lah orangnya tentunya karena hadirnya seorang lelaki di sisi Zara yang makin membuatnya panas ketika lelaki itu dengan tanpa malunya mencium kening wanita yang dia sukai sejak lama.


"Nanti setelah ini kita kemana lagi?" tanya Reni yang duduk di bangku belakang bersama dengan Zara.


Mereka berada dalam satu mobil yang nyatanya memang cukup luas untuk menampung mereka yang berjumlah 6 orang di tambah satu Supir yang akan sekaligus menjadi pemandu mereka nantinya.


"Kita lihat nanti saja." sahut sang senior wanita yang duduk dengan Sinta dan juga Abian di bangku tengah.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Reni lalu matanya memperhatikan jalan yang mereka lalui dengan Zara di sampingnya yang kini malah sibuk berbalas pesan dengan Davi.


*****


Davi yang sedang membaca berkas di atas mejanya menengadah guna melihat Robert yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Ini di kantor, jangan membicarakan hal pribadi di sini." tutur Davi yang memang tidak pernah membahas masalah pribadinya ketika sedang berada di tempat kerja apalagi ini menyangkut seorang Lisa, wanita yang menjadi teman tidur Robert.


Sangat aneh bukan? seharusnya Robert senang ketika tau Davi dan Lisa sudah putus, itu artinya dia akan bisa lebih bebas melakukan apapun dengan Lisa tanpa perlu sembunyi-sembunyi dengan bermain di belakangnya.


Robert yang sangat tau sifat Davi pun memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya dan melenggang keluar begitu saja menuju ruangannya yang berada di lantai bagian bawah.


Davi membuang napasnya dan bersandar di kursi yang memiliki sandaran yang cukup tinggi lalu mengurut keningnya guna sedikit menghilangkan pusing yang mendadak menyerang dan dia semakin pusing kala mendengar suara dering dari HPnya yang tergeletak di atas meja dengan nama seseorang yang dia kenal.


Davi menjawab panggilan orang itu dengan menegakkan tubuhnya di kursi dan terlihat menampakkan wajah yang amat serius kala berbicara ataupun mendengarkan omongan sang penelepon.

__ADS_1


"Iya Kak Jam makan siang Davi akan temui Kakak." ucap Davi sesaat sebelum mengakhiri pembicaraan dengan Reino, ya Reino Kakak dari Lisa yang memang sudah cukup mengenal Davi.


Davi memang sudah ingin menemui lelaki otu untuk bisa berbicara dengannga langsung setelah hubungannya dan Lisa berakhir namun sebelum dia menghubungi ternyata Reino sudah lebih dulu mengajaknya untuk bertemu.


Davi kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum makan siang nanti karena dia tau pasti akan memakan waktu yang cukup lama berbicara dengan Reino nantinya lebih lagi besok juga dia akan ke Indonesia dan pastinya tidak akan langsung kembali, jadi sebisa mungkin hari ini dia menyelesaikan pekerjaannya agar tidak membuat sekretaris dan asistennya kualahan.


"Elsea." panggilnya pada sang sekretaris yang berambut cokelat di depan ruang kerjanya.


"Ya Pak." sahut Elsea cepat seraya berdiri.


"Saya ada urusan di luar, jika ada yang datang katakan saya tidak ada." perintah Davi kepada wanita bule yang hidungnya teramat mancung itu.


"Baik Pak." jawab Elsea sopan sambil menganggukkan kepala dan kembali duduk ketika Atasannya berjalan menjauh menuju lift.


Davi lantas menaiki mobil yang sudah menunggu bersama sang asisten yang duduk di bangku pengemudi.


"Jalan Felix, kita ke cafe xxx." seru Davi pada sang asisten yang memang selalu mengantarnya jika dia minta.


Lelaki bermata biru itu pun segera melajukan mobilnya mengantarkan sang atasan ke tempat yang dia tuju, sungguh menakjubkan bukan? hampir semua yang berada di sekeliling Davi adalah orang-orang bermata biru dan berambut cokelat atau pirang sangat berbeda jauh dengannya yang memiliki rambut serta bola mata yang hitam.


Bertahun-tahun hidup di negara itu membuat Davi bahkan lebih nyaman berbicara dengan orang-orang itu di bandingkan dengan orang dari negaranya sendiri.


Davi membaca pesan masuk di HPnya yang dikirimkan oleh Zara, bibirnya terangkat guna mengulas senyum yang betapa menawan dan jari jemarinya pun mulai lincah bergerak di atas benda pipih itu untuk membalas pesan dari wanitanya.


****

__ADS_1


__ADS_2