Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 125


__ADS_3

Sebaris kata yang baru saja terlontar dari mulut wanita di depannya sontak membuat Ipul tak bisa berkedip sekalipun, meski sebenarnya hal seperti sudah dia pikirkan saat dirinya nekat mencium Zara tapi tetap saja sulit baginya untuk percaya sebab dia mengira Hanna sudah benar-benar memaafkannya dan mau memulai kembali dengannya untuk tetap melangsungkan pernikahan.


Namun nyatanya Hanna mengucapkan tanpa memikirkan bahwa beberapa hari yang lalu mereka baru saja bertunangan meski berlangsung sangat sederhana karena hanya di hadiri oleh kerabat terdekat saja bahkan Davi dan Zara pun tidak menghadiri acara pertunangan itu.


Jika memang tidak mau menikah kenapa tidak mengatakannya dari awal sebelum mereka bertunangan, Ipul pun di buat mengurut pelipisnya berulang kali seraya ******* napasnya yang terdengar sangat panjang.


"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Ipul kemudian.


"Maaf," sahut wanita bermata besar di hadapannya kini.


Tanpa di sangka Ipul meraih kedua tangan Hanna lalu menggenggamnya dengan sangat erat sambil matanya menelisik kedua mata sang wanita yang dia sangat tahu bahwa di dalam pikirannya kini berkecamuk segala kegelisahan atas apa yang pernah terjadi.


Dan sangat terlihat jelas bagaimana Hanna masih begitu menyayangi lelaki di depannya ini dengan begitu besar hanya dari sorot matanya saja dan bola mata yang mulai bergetar menandakan ada kesedihan yang tengah bersembunyi.


"Katakan sejujurnya padaku tentang semua yang kamu rasakan, tentang kecemasan di dalam hatimu yang bisa aku rasakan," tutur Ipul tanpa mengalihkan pandangan matanya sedetikpun tapi malah semakin menatapnya dengan begitu dalam dan intens.


Bibir Hanna mulai bergerak perlahan menandakan kalau sebentar lagi wanita itu akan memberikan jawaban dari lawan jenis di depannya, dari lelaki yang kini memakai cincin pertunangan yang sama dengannya karena memang cincin itu saling mereka sematkan di jari mereka saat pertunangan lalu.


"Kenapa kamu malah masih bertanya? apa kamu tidak sadar apa yang sampai saat ini masih aku rasakan?" jawab Hanna cepat.


Ipul pun menaikkan kedua alisnya meski sebenarnya dia merasa takut jika Hanna benar-benar ingin membatalkan pernikahan namun dia berusaha untuk tetap tenang, yang perlu dia lakukan sekarang adalah terus meyakinkan wanita yang beberapa tahun ini sudah bersedia menemani dirinya agar percaya bahwa dia bersungguh-sungguh akan melupakan cintanya pada Zara dan terus melangkah mewujudkan pernikahan yang memang sudah lama dia janjikan kepada Hanna.


Akan melupakan? bukankah itu artinya sampai sekarang pun dia masih menyimpan perasaan pada istri kakak sepupunya sendiri?


Benar! karena nyatanya melupakan seseorang yang telah lama dicintai itu terasa sangat sulit terlebih lagi Zara adalah cinta masa sekolahnya, meski kebanyakan orang bilang itu adalah cinta monyet tapi itu tidak berarti untuk Ipul.


"Aku sudah meminta maaf dan kamu pun sudah memaafkan aku, aku pun juga sudah berjanji untuk membuang semua perasaanku pada wanita lain dan belajar untuk mencintai kamu," tegas Ipul.


Hanna membuka mulut seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki yang berstatus sebagai tunangannya itu, perkataan jujur yang akhirnya ia ketahui dan sungguh membuatnya makin kecewa.

__ADS_1


"Jadi sejak dulu kamu tidak pernah mencintai aku?"


Suara Hanna terdengar begitu pelan dan penuh dengan kesakitan bagaikan dihantam dengan palu besar hingga meremukkan tubuhnya.


Sungguh ia malah semakin yakin untuk mundur dari pernikahan, ketimbang harus menikah dan bersuami dengan lelaki yang tidak mencintainya dan baru akan belajar untuk mencintainya.


Pengakuan kurang ajar macam apa yang tengah di lontarkan oleh seorang Saipul Gunawan saat ini?


Benar-benar kesalahan yang malah makin memperumit keadaan mereka berdua, menambah kerunyaman dalam hubungannya dengan seorang wanita karena ucapannya sendiri.


Ipul terdiam menyadari kejujurannya dalam berbicara, kejujuran karena sudah mengatakan hal yang seharusnya hanya dia saja yang tahu, tanpa orang lain apalagi wanita yang akan dia nikahi nantinya.


"Maafkan aku Han, tapi itulah yang sebenarnya terjadi," terang Ipul.


"Jika memang tidak pernah mencintai lalu kenapa kamu mendekati aku? menjanjikan segala impian indah tentang masa depan! harusnya kamu tidak pernah melakukan itu!" sentak Hanna marah dan tak terima mengetahui bahwa kenyataannya ia hanya di jadikan pelarian saja.



Hanna tersenyum sinis mendengar pembelaan Ipul.



"Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku untuk menikah."



"Untuk menjadikan aku sebagai tameng mu?!" sergah Hanna cepat.


__ADS_1


"Hanna!" bentak Ipul tak terima.



"Aku tidak percaya bahwa Hanna yang dulu lembut berubah menjadi seperti ini," ucap Ipul manakala mengingat bahwa dulu tidak pernah sekalipun Hanna berkata keras di depannya seperti sekarang apalagi menunjukkan senyum yang teramat sinis kepadanya.


Memang dia bersalah tapi dia merasa Hanna bukan lagi Hanna yang dia kenal beberapa tahun lalu.


"Jika kamu mau membatalkan pernikahan kita, baiklah aku setuju. kita batalkan segala rencana yang sudah di persiapkan," tegas Ipul akhirnya membuat Hanna yang tadi terdiam menunduk mendengar perkataan Ipul pun akhirnya mengangkat wajahnya tak percaya.



Tidak percaya Ipul setuju untuk membatalkan pernikahan, bukankah seharusnya lelaki itu berusaha untuk membujuknya?



"Aku antar kamu pulang," kata Ipul seraya berdiri dari duduknya menandakan sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan di cafe yang kini mulai terlihat sepi karena sudah mendekati jam tutup.



Nyatanya Hanna merasa dunianya berputar dengan sangat cepat membuat ia memejamkan kedua matanya yang dipenuhi dengan airmata yang akhirnya keluar melalui celah kelopak matanya.



Impiannya untuk menikah dengan lelaki yang ia cintai pun kandas begitu saja karena ketakutan yang ia rasakan dan kebenaran bahwa ia tidak pernah dicintai.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2