
Davi tampak tak mengerti ketika mendapati Zara masih juga belum bersiap-siap padahal tadi istrinya itu yang mengatakan ingin bertemu dengan teman-temannya.
"Mereka ada urusan," terang Zara seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
Davi mendesah lalu tangannya bergerak membuka satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan seraya masuk kembali ke dalam kamar.
Entah kenapa semakin hari dia malah semakin tidak bisa mengerti dengan sikap istrinya yang memang sering berubah-ubah, ada rasa jenuh yang perlahan muncul di dalam dirinya dengan sikap sang istri, terlebih lagi semenjak kejadian pemerkosaan pada sang istri dulu membuat dia sampai saat ini masih tidak juga bisa mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
Pria itu membuka kemeja lalu melemparkannya di sofa kamar dan duduk di tepi tempat tidur seraya menangkupkan kepalanya.
Tarikan napas berkali-kali keluar dari mulutnya menandakan ada suatu rasa yang sedang dia tahan.
Zara yang tadi sedang merapikan meja bekas makan malam mereka pun tanpa mengerti apa-apa langsung masuk ke dalam kamar dengan langkah kecilnya.
Dilihatnya sang suami yang kini sudah tidak lagi memakai kemeja, hanya kaus dalam tanpa lengan dan celana panjang berwarna hitam, meski begitu Davi tetaplah terlihat sangat menawan tentu saja bagi wanita manapun yang melihatnya.
Zara perlahan mendekati suaminya lalu berdiri di depan sang suami yang masih menunduk.
"Aku lelah Za,"
Dari suaranya saja sudah bisa di ketahui bahwa pria di depannya saat ini merasa sudah lelah, lelah menghadapi dirinya dan Zara sadar akan hal itu.
Dirinyalah yang sudah membuat suaminya menjadi seperti sekarang, ia yang selalu tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakan kejadian buruk itu hingga akhirnya membuat ia kadang tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Zara tak menjawab dengan kepala yang menunduk menatap rambut hitam sang suami yang kini tampak berantakan sebagai bukti bahwa tadi pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri.
Perlahan bola mata Zara mulai bergetar dan genangan air mata pun mulai tertampung di dalamnya.
__ADS_1
"Kamu boleh menyerah Mas, aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku," tutur Zara dengan suara yang tertahan.
"Aku tidak ingin menyerah," sahut Davi.
"Tapi aku tidak mungkin terus membiarkan kamu terus bertahan dengan istri sepertiku, kamu bisa mencari wanita lain yang tentu bisa membuat kamu bahagia, mewujudkan keinginan kamu untuk membina rumah tangga yang sempura."
"Aku tidak ingin wanita lain Za, Aku ingin kamu belajar menerima semua yang sudah terjadi, lupakan semua kejadian itu Za, Aku mohon.." pinta Davi dengan begitu memelas.
Memohon pada sang istri sekalipun dia tahu itu tidaklah mudah, terlebih lagi mereka belum berkonsultasi dengan psikolog, tapi bukankah tidak ada yang salah jika dia meyakinkan istrinya untuk berhenti mengingat hal yang telah lalu? terlebih lagi dia sebagai seorang suami sudah menerima semua yang terjadi dan mau terus bertahan tidak akan pernah meninggalkan istrinya sendiri menghadapi terpaan dunia yang terkadang memang menyakitkan.
Davi mengangkat wajahnya dan kini mata mereka saling bertatapan, "aku merindukanmu Za," tutur Davi dengan suara berat.
Zara pun tak kuasa menahan tangis, wanita itu tak tega melihat suaminya yang seperti ini, durhaka Kah ia sebagai istri? karena sudah membiarkan suaminya dan tak menjalani kewajibannya dengan baik setelah semua yang menimpanya.
Memang baru sampai hitungan bulan ia tak lagi bisa melayani batin suaminya namun bagi seorang lelaki bukankah itu sangat menyiksa?
"Maafkan aku," ucap Zara dengan sesak di dalam dada yang begitu menyiksa.
Davi menggelengkan kepalanya seraya memegang tangan wanita yang teramat dia cintai.
Dan entah bagaimana awalnya hingga kini Zara berada di atas pangkuan Davi dengan pria itu yang begitu agresif mengecup seluruh permukaan lehernya, dari caranya yang begitu menggebu dalam menyentuh sang istri tampak jelas bahwa pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya bahwa dia merindukan wanita yang tengah tanpa jarak dengannya itu.
Merindukan semua yang ada pada sang wanita yang sebenarnya masih trauma untuk melakukannya namun wanita itu menyimpannya sendiri bahkan berusaha sekuat hati untuk menyingkirkan perasaan trauma itu karena tak ingin membiarkan sang suami semakin terluka karenanya.
Davi sudah semakin larut dengan buaian yang dia ciptakan hingga kini Zara sudah berada di bawah tubuhnya.
Belain demi belaian yang dilakukan oleh Davi terus merambat keseluruh bagian tubuh Zara sehingga wanita itu kini hanya memejamkan matanya mencoba meresapi sampai akhirnya Zara menggigit bibirnya kala Davi mulai membuka pakaian yang ia pakai.
__ADS_1
Davi menutupi tubuh mereka yang sudah polos dengan selimut.
Sampai detik berikutnya di saat Davi sudah bersiap menyatu, tubuh Zara menegang dengan dan membuka kedua mata yang terbuka lebar.
"Jangan! jangan lakukan!" teriak Zara histeris seraya memberontak dan memukuli punggung Davi.
"Aku mohon jangan lakukan!" kata Zara lagi dan kali ini dengan suara yang lirih sarat dengan ketakutan seolah berada disituasi yang mencekam.
"Za, ini aku Za suami mu! aku Davi!" Davi mencoba menenangkan namun Zara malah semakin histeris berteriak ketakutan.
Bayangan akan kejadian menakutkan itu mendadak kembali muncul tak bisa ia tahan lagi.
"Aku tidak mau, jangan paksa aku," Zara pun menangis pilu membuat Davi akhirnya memeluk tubuh Zara, menenangkannya sampai tangis wanita itu berhenti.
"Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu," ucap Davi kemudian turun dari tempat tidur, memakai kembali pakaiannya dan menyelimuti tubuh Zara yang kini meringkuk bagaikan seekor anak kucing yang kedinginan, lalu pria itu beranjak meninggalkannya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1