Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 102


__ADS_3

Zara tengah termenung di balkon kamar suaminya, bibirnya sedikit membentuk senyuman kala di tempat inilah dulu suaminya itu terkena ranting yang ia lemparkan dari halaman di bawah sana, ia memejamkan mata mengingat kembali masa SMA nya yang sering melakukan hal konyol bahkan bukan hanya sekali ia melakukan tindakan kekerasan pada pria yang ia cintai itu, dulu pun ia pernah mengadu kepala mereka juga menginjak kaki Davi yang kala itu sifatnya sangat menyebalkan, sungguh tidak menyangka jika akhirnya mereka bisa menikah meski sempat juga berpisah untuk waktu yang lumayan lama.


Bahagia? tentu tidak usah di tanya, Zarania Permata sangat bahagia menjadi istri seorang Daviandra Arrayyan, pria yang berhasil menjungkirbalikkan kisah cintanya itu sudah bertahta sempurna di dalam hatinya ketika pria itu mengucapkan kalimat suci pernikahan yang menjadikan mereka pasangan yang sah juga diridhoi oleh sang pemilik semesta.


Zara menarik napas kala merasa hembusan angin menerpa wajahnya, hembusan yang begitu menyejukkan dengan kemeja kebesaran milik sang suami yang sengaja ia pakai, karena jujur saja meski suaminya baru pergi dua hari lalu namun ia sudah merasakan rindu yang teramat sangat, rindu yang membuat semalaman ia menangis kala berbicara dengan pria yang berada di benua yang berbeda.


Bahkan Davi harus menenangkan dirinya saat ia terus saja merengek meminta pria itu untuk segera kembali. "Aku janji sayang, setelah urusan aku selesai aku akan pulang ke Jakarta." kata Davi semalam yang sedikit menenangkan hati seorang istri.


"Kak Zara." suara cempreng dari halaman membuat semua lamunan Zara tentang suaminya pun buyar dalam sekejap, suara siapa lagi kalau bukan salah satu dari Adik iparnya yang meski wajah sangat mirip namun perbedaan sifatnya semakin hari semakin berbeda.


Anaya sang Kakak memang lebih bawel ketimbang Adik kembarnya, Inaya yang lebih pendiam serta lebih senang menghabiskan waktunya dengan belajar, berbeda jauh dengan sang Kakak yang akan selalu kabur jika Mamahnya sudah memintanya untuk mengerjakan PR yang di berikan oleh guru sekolahnya.


Dan sudah bisa di tebak siapa yang ada di bawah sana? ya Anaya yang memang sering kali bertengkar dengan Abangnya sendiri, mau masalah sesepele apapun mulut mereka takkan berhenti jika sudah mulai masuk mode antara kucing dan tikus.


Zara melambaikan tangannya membalas panggilan sang Adik ipar yang sepertinya sudah siap untuk berangkat sekolah.


"Inaya mana?" tanya Zara dengan suara yang sedikit ia kencangkan sebab jarak mereka yang sedikit berjauhan.


"Masih di dalam, dia mah lelet." ejek Anaya yang memang akan selalu mengatakan hal itu jika Adiknya di rasa begitu lamban, padahal memang dianya saja yang selalu bersemangat untuk pergi sekolah, tentunya bukan karena ia antusias dengan pelajaran tapi lebih karena ia bisa bertemu dengan teman-temannya yang sama bawel dengannya dan juga centil.

__ADS_1


Zara hanya mengulas senyum ketika orang yang tadi ia tanyakan sudah muncul dan menyunggingkan senyuman tak kalah manis dengannya, ah Adik ipar yang satu ini memang sangat kalem, berbeda dengan Kakaknya tentunya juga dengan dirinya sendiri, karena sejak dulu hingga sekarang sikap dan kelakuan Zara juga sama dengan Anaya, bawel bahkan terkenal bar-bar saat berusia remaja dulu.


"Aku berangkat ya Kak." kata Inaya sopan seraya mendangak karena posisi sang Kakak ipar yang berada di lantai atas.


"Iya, hati-hati." sahut Zara lalu matanya mengiringi kedua Adik iparnya yang sudah masuk ke dalam mobil yang memang selalu mengantarkan mereka ke sekolah.


Matahari sudah semakin menyilaukan mata membuat Zara memilih untuk beranjak masuk ke dalam kamar, langkahnya yang tadi akan ke kamar mandi pun langsung beralih ke meja begitu mendengar suara pesan masuk di HPnya.


Pesan dari seniornya yang mengingatkan bahwa sore nanti mereka sudah harus kembali terbang hanya keluar pulau saja, ya mereka akan terbang ke pulau Lombok, tentunya tidak seperti saat terbang keluar negara yang akan menginap, namun kali ini malam harinya mereka akan kembali lagi dengan membawa penumpang lainnya yang hendak ke Jakarta.


Setelah membalas pesan itu, Zara pun langsung bergegas menuju lemari pakaiannya untuk menyiapkan seragam pramugari nya yang sempat di protes oleh sang suami yang katanya terlalu kekecilan untuk tubuhnya hingga malah memamerkan lekukan tubuh rampingnya.


Pakaian yang tadi nya tersusun begitu rapi di dalam lemari pun kini sudah berada di atas karpet, baju yang sebenarnya di dominasi dengan kaos suaminya itu tak menampakkan rok yang ia cari sedari tadi.


"Masa ketinggalan?" katanya bingung sendiri seraya menepuk-nepuk kepalanya sendiri yang mendadak pusing, karena mau tak mau ia harus pulang ke rumahnya untuk mengambil pasangan pakaian kerjanya.


Namun sebelum itu ia lebih dulu menghubungi suaminya untuk meminta ijin, jujur ia sangat takut jika harus ke rumah itu sendiri setelah apa yang dikatakan oleh suaminya, tapi sepertinya ia harus memberanikan dirinya untuk ke sana.


"Kenapa sayang?" tanya Davi di ujung telepon.

__ADS_1


"Nanti sore aku ada penerbangan ke lombok." kata Zara memberitahu.


"Ya udah." kata Davi kemudian karena belum mendengarkan perkataan Zara yang selanjutnya, dia berpikir bahwa Zara hanya sedang memberutahunya saja sebagai seorang istri pada suami.


"Tapi rok aku kayaknya ketinggalan di rumah kita Mas." sepertinya mulai hari ini Zara akan membiasakan diri untuk memanggil suaminya dengan sebutan Mas, agar lebih menghormatinya sebagai lelaki yang sudah menjadi suaminya.


"Udah kamu cari? kali aja ke selip." kata Davi kemudian dengan dirinya yang sedang bersama Lugo, membicarakan apa lagi, jika bukan tentang Robert yang masih belum mereka temukan, entah sembunyi dimana lelaki berambut pirang itu saat ini.


"Udah, semua isi lemari bahkan keluar semua, tapi nggak ada juga, aku mesti ke rumah buat ambil Mas." ujar Zara.


Davi menarik napas sesaat, khawatir jikalau istrinya pergi sendiri ke rumah. "Aku telepon Ipul dulu, minta dia buat temenin kamu." tegas Davi akhirnya, ya pada siapa lagi dia harus meminta tolong jika bukan pada Adik sepupunya itu sekalipun dia sangat yakin bahwa Ipul masih menaruh perasaan pada istrinya, namun setidaknya Ipul tidak akan macam-macam pada istrinya, terlebih lagi sejak dulu Ipul lah yang menjaga istrinya itu.



"Ya udah, jangan lama soalnya jam dua aku sudah harus berangkat." menyetujui omongan sang suami, karena memang hanya itu yang bisa Zara lakukan sebagai seorang istri, perkataan suami adalah mutlak selagi itu demi kebaikannya juga rumah tangga mereka.



Telepon mereka pun selesai dengan Davi yang kini menghubungi Adik sepupunya untuk meminta tolong, pertolongan yang sangat dia butuhkan saat dia tak ada.

__ADS_1


****


__ADS_2