
Sepertinya Zara sudah benar-benar menikmati kebahagiaannya bersama lelaki yang ia cintai dan juga sangat mencintainya, bahkan kebahagiaannya akan bertambah sempurna dengan kehadiran buah hati mereka yang sebentar lagi akan lahir.
Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki tak lama lagi akan menyuarakan tangisan lantangnya dalam rumah tangga yang kini banyak dipenuhi dengan suara tawa dari si penghuninya.
"Ayolah Mas cepat, Mama dan Ayah sudah tunggu kita," Zara mulai tak sabar ketika harus menunggu suaminya yang sejak tadi belum juga selesai, entah apa yang pria itu lakukan hingga membutuhkan waktu yang lama padahal dia seorang lelaki tapi saat akan bepergian malah menjadi yang lebih ribet dengan penampilannya sangat berbanding terbalik dengan Zara yang seorang wanita.
Zara lebih cepat saat berdandan bahkan hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit, tapi suaminya? tidak perlu di tanya apakah suaminya itu mengidap hormon kehamilan? hingga selalu memperhatikan penampilannya?
Ah Zara menjadi pusing kalau mengingat suaminya yang kini begitu lama jika akan pergi keluar rumah.
"Iya, iya," suara Davi menjawab kegelisahan istrinya yang mulai gemas tak sabar menunggu.
Hidung Zara sudah kembang kempis kala dari jarak jauh bahkan suaminya belum terlihat pun aroma tubuh suaminya sudah sangat terendus olehnya, mungkin Davi menyemprotkan sebotol parfum ke tubuhnya hingga wanginya seolah menyebar ke segala penjuru rumah.
Derap langkah mulai terdengar di ujung pintu tempat Zara berada saat ini dan seraut wajah dengan senyuman menawan lantas menggoda penglihatan Zara seolah menebarkan pesonanya.
Zara akui suaminya ini menjadi jauh lebih-lebih tampan mungkin jiwa-jiwa hot Daddy sudah mulai mendominasi meski anak mereka belum lahir.
Ah rasanya mulai sekarang Zara harus lebih waspada dan menjaga suaminya dari terjangan singa betina di luar sana, lihatlah sekarang Davi malah memamerkan cengiran lebar dengan gigi gingsul yang menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihat.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Davi seraya menghampiri istrinya yang sudah tidak bersemangat, "ayo sayang," sambung Davi sambil menarik tangan sang istri.
"Aku mendadak malas, aku telepon Mama saja dan bilang kita tidak jadi datang." celoteh Zara dengan bibir yang mengerucut tanda bahwa ia sedang tak enak hati.
Kening Davi mengerut, "loh kan kita sudah janji akan datang, lagian mereka pasti sudah tunggu kita di restoran sayang," tukas Davi tak mengerti ada apa dengan wanita yang tadi masih sangat semangat memintanya untuk bersiap karena mereka akan makan malam bersama dengan kedua orang tua serta Adiknya.
"Iya tapi aku udah nggak mood," sahut Zara sarkas seraya menatap suaminya seperti sedang mengulitinya dengan kedua matanya.
Davi gegas duduk merapat kepada istrinya dengan kernyitan di kening yang berlipat-lipat, "gimana bisa mendadak nggak mood, tadi semangat banget sekarang kok melempem begini," terang Davi tak mengerti kenapa wanita di sampingnya sering sekali berubah dengan cepat.
Kemarin pun saat wanita itu memaksa untuk pergi nonton awalnya dengan semangat yang membara memintanya untuk segera bersiap tapi begitu dia sudah rapi dan siap untuk berangkat, tiba-tiba Zara yang baru datang dari dapur membatalkan keinginannya itu sambil terus menatap dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dan sekarang pun begitu, memangnya apa yang salah dengan dirinya?
"Pokoknya aku udah nggak mau," kata Zara dengan keras kepala.
Haaaahh!
Davi membuang napas kasar lalu merogoh saku celananya mengambil handphone lalu berkata pada sang istri tanpa menoleh, "aku telepon Mama dulu, kasih tahu kalau menantunya tidak mau suaminya dilirik oleh wanita lain," seloroh Davi yang mendapat cubitan dari sang istri.
Davi meringis lalu tertawa seraya memegangi tangan sang istri yang berada di pinggangnya.
Rupanya pria itu cukup sadar diri apa yang membuat istrinya itu mendadak kehilangan mood nya untuk keluar rumah.
"Maaf ya Ma, kasih tahu Ayah juga Davi minta maaf karena akhir-akhir ini menantu kalian hormon cemburunya melonjak drastis," kata Davi pada sang Mama yang terkekeh di seberang sana.
Setelah berbicara dengan sang Mama Davi pun menyimpan handphonenya ke atas meja, "sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanyanya pada wanita yang tengah mengerucutkan bibirnya sebab mendengar saat suaminya membicarakan dirinya pada sang mertua.
"Aku mau tidur," kata Zara seraya beranjak dari tempatnya duduk lalu melenggang menuju kamar mereka di lantai atas.
"Itu hal yang aku suka, sebaiknya memang kita tidur cepat malam ini," suara Davi terdengar sangat kesenangan karena dalam kepalanya saat ini bukan tidur yang sesungguhnya.
*****
Di sudut tempat di benua lain dua orang tengah duduk saling berhadapan, dua orang dengan berlawanan jenis berada di sebuah cafe tengah terlibat pembicaraan serius.
"Sebaiknya hentikan kegilaan mu itu Aleyara," Lugo menatap lawan bicaranya yang terlihat putus asa.
Ya, dia adalah Aleyara yang sudah satu Minggu ini terus mengganggunya hanya untuk mengetahui dimana Davi berada.
"Aku tidak gila! ini bentuk rasa cintaku pada Davi!" Aleyara membela diri tak suka dengan tudingan pria bermata biru di depannya.
"Kamu gila dan sangat gila, tidak ada seorang psikolog yang dengan teganya tidur dengan suami dari pasiennya sendiri bahkan di saat kamu tahu bagaimana keadaan Zara saat itu, kamu menyalahi kode etik mu sebagai psikolog!" tekan Lugo menarik napas berat menunjukkan betapa dia tak habis pikir dengan wanita di depannya ini.
"Ini tentang perasaan bukan tentang kode etik maupun profesi ku!" Aleyara tak kalah menunjukkan tekanannya tentang sebuah perasaan yang seharusnya tak ada.
"Perasaan siapa? kamu?" tanya Lugo sinis.
"Aku dan Davi!" sahut Aleyara.
Lugo tertawa miris dengan sikap Aleyara serta kegilaannya yang tak masuk akal.
"Hanya kamu! Davi tidak pernah memiliki perasan apapun terhadapmu, semua yang kalian lakukan hanya kesalahan dan dia sangat menyesal!" Lugo berapi-api mengingatkan si wanita yang keras kepala.
"Aku yakin setelah ini reputasi sebagai psikolog akan hancur tak berbentuk," tutur Lugo sinis.
"Apa yang akan kamu lakukan?" suara Aleyara serta tatapan matanya terlihat panik, ia pun tidak mau profesi yang ia impikan itu harus hancur karena kesalahannya mencintai suami dari pasiennya sendiri.
"Jika kamu tidak berhenti sekarang juga, jangan salahkan aku atau siapapun karena kamu yang sudah memilihnya!" ancam Lugo seraya berdiri, "aku tidak pernah main-main!" lanjutnya seraya menatap Aleyara dengan tajam seolah itu adalah sebuah peringatan tak terbantahkan.
Nyatanya Lugo adalah seorang teman yang tidak pernah mau melihat temannya terkena masalah apalagi masalah yang melibatkan perasaan, karena dia sangat peduli terlebih lagi dia tahu Zara adalah wanita baik yang sangat dicintai oleh temannya.
Setelah memberi peringatan Lugo pun perguruan meninggalkan Aleyara yang memejamkan kedua matanya dengan bisikan hatinya yang terus meminta untuk berhenti melakukan tindakan tak berguna yang hanya akan membuat karirnya berantakan.
******
Hari berganti hari, Minggu juga terlewati dan bulan demi bulan pun tak mau mengalah, semua berlalu tanpa terasa dengan kuncup-kuncup bunga yang bermekaran sempurna.
Semua kesedihan serta cobaan yang pernah terlalui membuat kepingan kebahagiaan semakin kokoh terbentuk dan menjadi sempurna, ketulusan serta kesetiaan yang sempat teruji menjadikan cinta semakin kuat dan layak untuk diabadikan, semua terpatri jelas pada binar-binar bahagia.
Cobaan dan perjuangan yang terlewati menjadikan sebuah pelajaran untuk saling mengerti, menghargai lebih lagi menjadikan pondasi semakin kokoh berdiri menguatkan kisah cinta yang awalnya tumbuh atas rasa emosi serta egois tanpa terasa malah menghadirkan sebuah kisah tentang seorang wanita bernama Zarania Permata dengan lelaki bernama Daviandra Arrayan yang menjadi pilihan hatinya hingga terlahir lah seorang bayi laki-laki yang di beri nama Achnaf Athaya yang kini menghiasi hari-hari pasangan suami istri itu.
"Keponakan kamu sudah lahir dari satu bulan yang lalu Ipul, tapi sampai sekarang pun kamu belum mengunjunginya, apa kamu tidak berniat untuk menemui anakku?!" Zara mulai menyengit kala berbicara dengan pria di belahan dunia yang lain.
Tentu saja wanita itu merasa kesal pada teman sekaligus Adik sepupu suaminya itu, sudah tahu bahwa ia telah melahirkan tapi tak ada kabar apapun bahwa pria itu akan menginjakkan kakinya ke Indonesia guna melihat anak yang baru genap satu bulan hidup di dunia.
Ipul terkekeh menatap layar mendapati raut wajah Zara yang sangat kesal dengannya, "belum ada waktu Za, Lagian gue baru juga kurang dua bulan disini masa udah balik lagi," sahut Ipul dengan tawa yang belum luntur.
__ADS_1
Jawaban yang dia berikan sontak membuat Zara mendelik tak terima lalu mulutnya mulai berceloteh, "jadi lebih mentingin kerjaan gitu? keponakan lahir nggak penting?" sengit Zara yang kembali merasa tersulut.
"Astaga kenapa sekarang emosi mu selalu meluap-luap, apa kamu menambah dosis garam dalam masakan mu?"
Ipul rasanya tak percaya kalau Zara benar-benar sudah kembali menjadi Zara yang dulu bahkan sepertinya bertambah lebih dari yang dia kenal dulu.
"Bukan garam, tapi kelakukan Abang mu itu yang selalu tak mau mengalah dengan anaknya, ada saja yang jadi bahan rebutan mereka," cerocos Zara tanpa rem membuat mata Ipul memicing.
Rebutan? apa yang menjadi rebutan anak dan Ayah itu? anaknya saja masih berusia satu bulan tentu belum mengerti apapun, lalu apa yang menjadikan anak dan Ayah itu hingga saling berebutan seperti yang Zara katakan barusan?
"Menikah lalu punya anak, baru Lo akan mengerti apa yang jadi rebutan gue dan Achnaf!"
Wajah Davi muncul di layar menjawab pertanyaan Ipul yang tak terucap.
"Sebelum ada Achnaf kan Lo udah lebih dulu Bang, seharusnya Lo udah puas," sungut Ipul mengerti dengan maksud sang Abang sepupu.
"Percuma ngomong sama elo, jomblo mana paham sama urusan pria dewasa!" sentak Davi kembali menyerahkan handphone yang tadi dia rampas dari istrinya lalu melenggang pergi dengan kaki yang berderap kencang membuat Zara meringis sedangkan Ipul mengulum senyum tertahan.
"Gimana Pul?" pertanyaan Zara membuat Ipul bingung.
"Gimana apanya?" balik tanya tak mengerti.
"Dompet yang ketinggalan di motor orang waktu kamu mau berangkat ke Inggris apa sudah ada kabar?"
Sejenak Ipul terdiam baru kemudian menggeleng ingat dompetnya yang tertinggal di motor wanita bawel yang dia paksa untuk mengantarnya ke bandara karena macet yang tak kunjung selesai.
"Tidak ada kabar, gue sempat tanya Mama dan dia bilang nggak ada yang datang, untungnya KTP gue yang asli ada di dalam tas tapi," sahut Ipul.
"Yah jaman sekarang memang sulit menemukan orang jujur," tukas Zara menggeleng kepalanya.
"Iya udah gila terus nggak jujur pula, double penyakit!" sungut Ipul mengingat betapa menyebalkan nya wanita yang mungkin sudah menghabiskan uang yang ada di dompetnya.
Zara terkikik geli melihat betapa masih kesalnya Ipul kala membicarakan dompetnya yang sudah raib.
"Jangan benci-benci suatu saat di pertemukan lagi malah jatuh cinta," ledek Zara yang sudah tahu kalau orang yang sekarang membuat temannya itu kesal adalah seorang wanita.
Bola mata Ipul memutar lambat tidak terima dengan perkataan dari temannya.
"Jadi kapan pulang dan tengok keponakanmu?" tanya Zara kemudian.
"Bulan besok tapi gue nggak janji," jawab Ipul.
"Harus janji, pokoknya bulan besok aku tunggu!" tegas Zara dengan bulatan mata yang melebar.
Ipul menarik napas perlahan lalu mengiyakan permintaan dari wanita yang sekarang tersenyum senang.
"Zara sayang, cepetan Achnaf sudah tidur."
__ADS_1
Terdengar teriakan dari kamar atas, siapa lagi pemilik suara itu jika bukan Daviandra.
"Ada seorang suami yang sedang kebelet, sebaiknya segera tuntaskan sebelum dia meradang," celetuk Ipul.
Zara menghela napas lalu mencebikkan bibirnya yang membuat Ipul tertawa.
"Ya sudah aku tutup, jangan lupa pada janjimu!" kata Zara mengingatkan dan diangguki oleh pria di depan layar, setelah mengucapkan salam lalu mematikan benda yang sedari tadi ada di tangannya.
Zara melangkah menuju kamar lalu melebarkan daun pintu untuknya masuk lalu kembali menutupnya.
"Aku kan masih.."
"Aku tahu sayang, jadi aku tidak akan keterlaluan hanya meminta kamu untuk membantu seperti biasa ketika kamu sedang datang bulan."
Davi menyela omongan istrinya menjelaskan apa yang harus istrinya itu lakukan, sebagai seorang istri Zara pun menurut melakukan apa yang di minta oleh sang suami.
Senyum keduanya merekah sempurna setelah selesai dan di sambut dengan suara tangisan dari Achnaf yang tiba-tiba melengking histeris.
"Untung sudah selesai," cetus Davi mengelus kepala Zara yang akan pergi ke kamar mandi.
"Sabar jagoan, Mama kamu ke kamar mandi dulu," kata Davi pada sang anak.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka dengan Zara yang baru saja mencuci muka serta tangannya langsung menuju Achnaf dan segera memangkunya, ia tahu anaknya itu ingin menyusu.
Davi pun gantian ke kamar mandi membersihkan tubuhnya lalu kembali keluar dan naik kembali ke atas ranjang duduk di samping sang istri yang sedang menyusui menyaksikan dengan penuh kebahagiaan seraya mengelus rambut Achnaf yang hitam lebat.
"Aku bahagia memiliki kalian."
Suara Davi terdengar sangat lembut dan penuh kasih membuat Zara menoleh dan menatapnya, keduanya saling bertatapan dengan Achnaf yang masih terus menyusu.
"Awww."
Suara Zara yang kesakitan terdengar keras membuat Davi panik hingga berteriak.
"Achnaf pelan-pelan!"
Suara Davi membuat Achnaf menangis keras.
"Daviiiiiii!" dan sekarang Zara yang berteriakan memarahi suaminya karena sudah membuat anaknya menangis.
Davi tersentak lalu turun dari tempat tidur dengan tergesa, dia lupa bahwa sekarang Achnaf lah yang menjadi prioritas dari istrinya, siapapun tidak ada yang boleh membuat Achnaf menangis termasuk dia yang menjadi partner Zara dalam pembuatan Achnaf.
Secepat kilat Davi menghilang dari kamar memilih untuk menghindar ketimbang harus di terkam oleh harimau betina yang ngamuk karena anaknya di usik.
******
TAMAT..
Alhamdulillah "KEJARAN CINTA ZARANIA" selesai juga maaf jika ada kekurangan yang mungkin membuat tidak puas.
Untuk kisah Ipul akan saya buatkan novelnya tapi kita istirahat dulu ya, sambil nunggu bisa baca novel saya "SI BERANDAL MENIKAH?"
kita emosi-emosi ria dulu sama kelakuannya Raffan yang sengklek dan kesabaran Adeefa punya suami bocah berandal hobi balap, selamat berkesal-kesal ria 😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*