Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 162


__ADS_3

Sambil menunggu kepastian tentang pesawat yang di naiki oleh Zara, akhirnya Arman mengajak Davi untuk pulang, pria itu tahu bahwa saat ini anaknya sedang sangat terpukul atas nasib istri dan calon anak mereka.


"Lebih baik kita pulang sekarang, kita tunggu kabar dari pihak berwenang," ucap Arman pada sang putra yang dari sorot matanya sudah terlihat jelas bahwa dia tidak sanggup untuk menerima semua kenyataan buruk yang ada.


Ini saja tidak mudah untuk di terimanya apalagi bagi seorang suami yang kehilangan istri tercintanya yang sedang mengandung.


Awalnya Davi menolak untuk meninggalkan bandara, pria itu masih ingin menunggu tapi Arman terus meyakinkan dan sedikit memaksa hingga akhirnya Davi melangkahkan kakinya dengan sangat berat, sekarang dia hanya berharap bahwa dia memesan tiket yang salah, semoga pesawat yang hilang ini bukanlah pesawat yang Zara naiki.


*****


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Andini dengan suara gemetar ketika Davi baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu dengan sang Ayah yang berjalan di belakangnya.


Andini sangat mengenal anak laki-lakinya itu, tentu dia juga tahu bagaimana Davi mencintai Zara, sangat tidak mungkin dan mustahil apabila Davi membiarkan Zara bepergian sendiri apalagi dalam keadaan hamil, tidak mungkin alasan pekerjaan karena Andini tahu bahwa Zara bagian paling penting dalam hidup sang anak.


Davi menunduk karena tidak mungkin bisa menyembunyikan apapun dari wanita yang sudah melahirkannya, wanita di depannya itu sangat mengenalnya bahkan lebih dari dirinya sendiri.


"Katakan Davi! katakan pada Mama apa yang sudah kamu lakukan!?" bentak Andini dengan guratan emosi meskipun kesedihan masih tidak dapat tertutupi oleh emosinya pada sang anak, karena terakhir dia berbicara dengan anaknya itu Andini sudah bisa menebak ada satu masalah yang yang tengah ingin di katakan oleh sang anak tapi anaknya itu justru mengurungkan niatnya untuk mengatakan padanya.


"Tenang Andini," Arman berusaha menenangkan istrinya yang tengah dilanda kemarahan, kemarahan yang tampak jelas dari seorang wanita yang biasanya sellau berbicara lembut dan hati-hati, tapi sekarang lihatlah apa yang terjadi ketika dia merasa ketakutan karena menantunya yang entah bagaimana nasibnya saat ini.


"Aku tidak mungkin bisa tenang saat aku tidak tahu bagaimana keadaan menantuku!"



Dari suaranya saja tidak bisa di pungkiri betapa Andini khawatir akan Zara.



"Katakan apa yang sudah kamu lakukan? Mama tahu bagaimana anak-anak Mama terlebih kamu!" memegang kedua lengan Davi yang terasa tidak bertenaga, kedua lengan itu begitu lemas bahkan ketika Andini menggoyangkannya menuntut jawaban.



"Davi salah Mah, Davi salah.."



"Katakan!" seru Andini lantang.



"Zara marah sama Davi dan tidak membiarkan Davi menemaninya," sahut Davi.

__ADS_1



Semua yang ada di dalam rumah itu menatap Davi dengan penuh pertanyaan, kesalahan apa yang sudah Davi perbuat hingga Zara memutuskan untuk kembali ke Indonesia seorang diri, mereka semua pun tahu kalau Davi dan Zara saling mencintai bahkan cinta keduanya sama besar hingga tidak mungkin Zara marah tanpa alasan atau karena hal sepele.



Ragam pertanyaan mencuat di dalam kepala Riska dan Irman yang ternyata sudah datang setelah mengurus pekerjaannya.



Bukannya memberikan jawaban Davi malah berlutut di kaki Mamanya menunduk dengan punggung yang bergetar.



"Davi melakukan kesalahan fatal.." terdengar suara yang amat lirih dari pria yang terlihat begitu hancur.



Andini menundukkan wajah guna melihat pada putranya diam menunggu apa yang akan di katakan oleh anak yang juga sangat dia sayangi.



Plak!


Bahkan belum tuntas Davi menyelesaikan pengakuannya sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi bagian kirinya.


Andini menatap sang suami yang menunjukkan raut wajah murka, marah dengan kelakuan anaknya, dia tidak pernah menyangka kalau anaknya bisa berbuat hal gila semacam itu terlebih lagi dia pun tahu kalau menantunya mengalami trauma dan hampir membuat menantunya itu gila.



Lalu sekarang mendengar pengakuan dari anaknya sungguh dia tidak bisa lagi menahan kemarahan.



Irman dan Riska bahkan berjengkit tak percaya dan kini saling menatap.



"Berdiri," Arman menarik baju Davi dengan paksa hingga berdiri dan berhadapan dengannya.


__ADS_1


Sedang Andini diam bagaikan patung, sungguh dia seperti tersambar petir mendengar pengakuan dari sang anak.



Davi tidur dengan wanita lain! kata itu terngiang di telinganya membuat tangannya terkepal.



"Sejak kapan kamu menjadi seorang bajingan?" Arman bertanya kejam dengan sorot mata yang mengobarkan api.



"Sejak kapan Ayah mempunyai anak bajingan seperti kamu!?"



Suara Arman menggema hingga sampai keluar rumah membuat Anaya dan Inaya yang baru pulang sekolah menghentikan langkahnya karena terkejut dengan suara kencang dari dalam rumah, keduanya saling tatap sampai akhirnya berlari masuk ketika mendengar suara benda yang berjatuhan.



"Abang!" teriak keduanya begitu mendapati Davi sudah tersungkur di atas meja kaca yang kini hancur berantakan.


Jangan tanyakan tubuh Davi luka atau tidak karena kini sudah banyak darah yang keluar dari kedua tangannya yang tadi sempat dia gunakan untuk menahan tubuhnya.


Sedang bibirnya mengeluarkan darah akibat pukulan yang Ayahnya berikan.



"Mah, Abang.." lirih Anaya pada sang Mama yang memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir sedangkan Irman kini memegangi Arman agar berhenti memukuli Davi yang hanya diam saja tidak mengelak apalagi melakukan perlawanan.



"Mama!!" teriak Anaya serta Inaya ketika Mamanya itu malah jatuh pingsan, entah sudah berapa kali Andini pingsan hari ini.



Sungguh rumah itu kini terasa begitu menegangkan dengan apa yang sudah terjadi, mengetahui alasan kenapa Zara pergi seorang diri hingga akhirnya pesawatnya menghilang membuat hati Andini hancur.


Semakin hancur melihat anak laki-lakinya harus berlumuran darah oleh suaminya sendiri, bukan tidak mau menolong hanya saja dia sangat syok dengan pengakuan dari sang anak.


*****

__ADS_1


__ADS_2