
Ipul yang mendapat kabar bahwa Zara sempat menginap di rumah Om dan Tantenya langsung segera menghubungi temannya itu, tak lain karena dia khawatir dengan keadaan Zara dan bagaimana bisa temannya itu pergi dari rumah yang padahal sejak dulu Zara selalu mengatakan tidak akan keluar dari rumah mendiang Ibunya apapun yang terjadi, tapi pagi tadi Ipul di buat terkejut dengan yang di katakan oleh Tantenya.
Sungguh saat ini pemuda itu sangat cemas terlebih lagi ketika Tantenya mengatakan bahwa Zara sudah pergi pagi-pagi sekali dan akan pergi mencari kos untuknya tinggal.
Detik itu juga Ipul pun langsung menghubungi Zara namun nyatanya HP milik temannya itu tidak aktif, entah sengaja di matikan atau memang habis baterai.
Wajah Ipul tampak terlihat bingung namun sesaat kemudian dia pun berlari mengambil kunci motornya yang ada di dalam kamar lalu berteriak pada sang Mamah yang sedang membereskan meja makan bekas mereka sarapan.
"Maah Ipul keluar sebentar." serunya seraya berjalan cepat ke garasi rumah dimana motornya terparkir saat ini.
"Hati-hati." sahut sang Mamah yang sudah bisa menebak akan kemana anaknya itu karena ia juga mendengar saat Kakak iparnya berbicara pada Ipul pagi tadi.
Ipul yang tidak mendengar perkataan Mamahnya langsung saja menjalankan motor besarnya untuk keluar dari garasi dan segera pergi dengan memakai helm.
Pemuda itu terus saja melajukan motornya menuju rumah Zara berharap temannya itu sekarang sudah ada di rumahnya, meskipun dia tadi mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Tantenya bahwa Zara akan mencari kos sebagai tempat tinggalnya.
Motor Ipul berhenti di depan pagar rumah milik Zara yang tampak sepi karena pintunya tertutup rapat, seperti tidak ada orang padahal dia tahu di dalam sana tentunya masih ada makhluk hidup yang tinggal di sana.
Ipul melepaskan helmnya lalu turun dari motor setelah lebih dulu mencabut kunci motornya. dia membuka pagar yang sudah tidak di kunci dan melenggang melewatinya dan menuju teras rumah.
"Permisi." serunya dengan tangan yang mengetuk pintu di depannya dengan cukup keras dan berulang kali.
Tapi sepertinya ketukan tangan Ipul masih kurang keras karena orang yang ada di dalam rumah tak juga kunjung keluar membuat tangan Ipul pun semakin kencang membuat pintu pun bergetar karena perbuatannya.
Tindakan Ipul pun akhirnya membuahkan hasil karena telinganya mendengar ada langkah kaki disertai teriakan dari arah dalam.
"Sabaaaar, jangan di gedor terus nanti rusak pintunya!" omel suara wanita yang sudah Ipul kenal siapa orangnya.
__ADS_1
Yah siapa lagi jika bukan suara Dira saudara tiri dari Zara yang memang sangat tidak Ipul sukai.
"Ngapain lu di sini?" tanya Dira ketika membuka pintu dan wajah Ipul mejeng di depan matanya.
"Zara mana?" bukannya menjawab Ipul malah balik mengajukan pertanyaan yang membuat Dira keki setengah mati.
Wanita itu dengan ketusnya menjawab mengatakan bahwa Zara sudah tidak ada di rumah itu lagi.
"Nggak ada!" sahutnya ketus.
"Kemana?" lagi mulut Ipul melontarkan pertanyaan.
"Mana gue tahu." jawab Dira seraya menunjukkan tampang sinisnya kepada pemuda di depannya.
"Ngapain sih lu, pagi-pagi kemari cuma buat tanyain si Zara? kayak nggak punya kerjaan aja." malah berkata mencibir Ipul yang memang sekarang tengah mencemaskan Zara.
Dira memutar kedua bola matanya seraya mendengar pernyataan Ipul, sudah tentu sekarang ini yang ada di dalam hatinya ia merasa semakin kesal terhadap Zara karena ada saja orang yang mengkhawatirkan saudara tirinya itu padahal baru semalam Zara pergi dari rumah.
"Kabur." sahut Dira kemudian yang tentu saja Ipul sangat tidak percaya dengan perkataannya.
"Kabur atau lu usir!?" tuduhan yang langsung tepat pada sasaran membuat Dira meradang.
"Mau gue usir atau nggak kek bukan urusan elu Saipul!" kata Dira pedas.
"Urusan gue karena Zara teman gue."
"Cuma teman, percuma lu belain dia sampai kayak gini kalau akhirnya dia tetap nggak suka sama elu, gue sih kasihan sama elu Pul." berucap seraya tersenyum misterius.
__ADS_1
"Apa yang mesti lu kasihanin sama diri gue!?" kata Ipul.
"Karena bertepuk sebelah tangan." Dira berkata dengan sangat entengnya untuk mengejek Ipul, namun Ipul memilih untuk bersikap tenang mengontrol dirinya agar tidak terpancing oleh wanita di depannya.
Ipul dengan sikap tenangnya mengangguk-anggukan kepala menanggapi perkataan Dira lainnya yang masih terus meluncur lancar dari mulutnya membicarakan apa saja tentang Zara yang tak pernah sekalipun membalas perasaan yang dia berikan.
"Udah selesai?" dengan suaranya yang santai Ipul bertanya setelah Dira berhenti berkoar.
"Zara nggak ada, sana pergi!" usir Dira akhirnya karena kesal Ipul malah bersikap santai setelah mendengar semua perkataan pedasnya.
"Beri tahu gue dimana Zara sekarang?!" kata Ipul yang masih enggan untuk beranjak dari tempatnya.
"Udah jadi gembel kali sekarang temen lu itu." kata Dira dengan ketus.
"Temen lu itu udah nggak tinggal disini lagi, jadi jangan pernah lu cari dia ke rumah ini!" kata Dira lantang lalu dengan segera membanting pintu di depan Ipul dengan suara yang membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan mengurut dada karena kelakuannya itu.
Wajah Ipul menegang dengan mata yang melebar tidak menyangka dengan apa yang dia dengan barusan, dugaannya benar bahwa Dira dan Mamahnya pasti sudah mengusir Zara dari rumahnya sendiri.
Dengan langkah tegap pemuda itupun berjalan keluar kearah motornya yang terparkir di depan pagar lalu tangannya kembali mencoba untuk menghubungi nomor telepon Zara, namun hasilnya pun nihil, tetap sama dengan yang tadi tidak tersambung.
"Lu di mana sekarang Za?" kata Ipul dengan kecemasan yang semakin menggelayuti hatinya.
Semenjak hari itu Ipul sudah tidak lagi bisa menghubungi Zara gadis itu seperti hilang di telan bumi, tidak ada kabar sama sekali bahkan HPnya pun sudah tidak pernah aktif setiap kali Ipul mencoba untuk menghubunginya, hingga waktu berjalan dengan sangat cepat mengubah Ipul menjadi lelaki dewasa yang meneruskan perusahaan Papahnya sebagai seorang pengusaha dengan usia yang sangat muda, yaitu 24 tahun.
5 tahun lebih dia kehilangan Zara tanpa tahu bagaimana keadaan temannya itu sekarang ini.
\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1