
"Maafkan aku karena telah membuatmu sakit hati dan kecewa, maafkan aku." lirih Davi di tengah hujan yang mulai turun membasahi rerumputan di halaman sana.
"Kamu sadar telah membuatku sakit hati dan kecewa, tapi kamu malah terus menekan ku dengan permintaanmu itu." suara Zara diiringi dengan gemuruh yang terdengar di langit malam yang seperti tengah menangis menyaksikan betapa sakit dan kecewa hatinya karena perbuatan lelaki yang ternyata masih kokoh di dalam ruang terdalam hatinya itu.
"Za." tutur Davi dengan suara yang teramat frustasi.
"Aku mengerti sejahat apa perbuatan ku padamu dulu. aku jahat sama kamu aku tahu itu, bahkan setelah sekian tahun kita jauh aku tetap tidak bisa melupakan kesalahan yang telah aku perbuat padamu, kesalahan karena aku membohongi perasaanku sendiri hingga aku melakukan hal tidak masuk akal dengan memintamu pergi." dada Davi bergerak naik turun dengan aliran darahnya yang mengalir dengan sangat cepat mengisi seluruh celah dirinya.
"Maafkan aku Za, tolong beri aku kesempatan." ujar Davi seraya bersujud di kaki Zara, lelaki itu sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mendapatkan maaf dari Zara, Zarania Permata yang pastinya sudah terlanjur sakit karenanya.
Karena egoisnya dia di masa muda dulu yang bahkan pertama kali mendekati Zara hanya karena Zara sangat dekat dengan Saipul, Adik sepupunya sendiri hanya untuk membuat sepupunya itu sakit hati, namun akhirnya malah dirinya sendiri yang sekarang terjebak dalam cinta Zara, terperangkap ke dalam kubangan penyesalan atas perasaan yang dulu tak mau dia sadari.
Zara yang tengah menunduk tampak tidak percaya melihat kini Davi sudah bersujud di bawahnya dengan wajah yang menengadah menghadap dirinya hingga mata keduanya pun saling menatap dan mengunci.
Sorotan mata yang sebenarnya sudah bisa dimengerti oleh siapapun yang melihatnya, kerinduan dari dua pasang bola mata yang saling menatap itu terlihat jelas.
Zara yang merasakan rindu pada lelaki di depannya saat ini, rindu bagaimana lelaki itu dulu yang selalu membuat hari-harinya bahagia bahkan setiap kali ia bangun dari tidurnya untuk menghadapi hari yang sesungguhnya sangat berat karena ada dua orang asing yang terus menyiksa dirinya.
Sedangkan Davi merasakan rindu akan kejaran cinta dari Zarania yang dulu selalu ngotot mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah putus sekalipun Davi terus memintanya.
"Za." suara Davi terdengar sangat pelan dan putus asa, dia akhirnya merasakan betapa sulitnya berjuang seperti yang dulu di rasakan oleh Zara di tengah dirinya yang terus meminta wanita itu untuk pergi.
"Setidaknya beri aku waktu untuk berpikir Vi." tutur Zara akhirnya yang membuat Davi menghembuskan napas panjang namun bukan napas lega karena dia belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Aku akan menunggu jawaban dari kamu." ucap Davi seraya mengecup tangan Zara yang sejak tadi ada di dalam genggamannya.
"Bangun Vi, kamu lelaki jahat, tidak pantas bersujud pada wanita seperti ku." Zara mengeluarkan ejekan yang membuat Davi membelalak.
"Za, pukul aku kalau memang kamu menganggap aku jahat." seru Davi yang menganggap Zara sangat bersungguh-sungguh mengatakannya.
"Aku sudah pasti akan memukul kamu jika saja aku tidak cin." Zara tidak melanjutkan perkataannya.
"Tidak apa?" tanya Davi yang seperti hantu penasaran meski sebenarnya dia tahu kata apa yang ingin diucapkan oleh wanita di depannya saat ini.
__ADS_1
"Tidak ada, cepat berdiri." pinta Zara seraya mengalihkan pandangannya ke luar memperhatikan hujan yang masih terus turun namun tangannya berusaha untuk menarik Davi agar tidak lagi bersujud pada dirinya.
Davi dapat melihat bagaimana ekspresi Zara yang tampak tengah menyembunyikan perasaan malu dengan mengalihkan tatapannya keluar halaman.
"Kamu sangat kurus." ucap Davi ketika mereka duduk berhadapan di ruang tamu Villa.
Dapat di lihat bahwa Zara tengah mencoba untuk berdamai dengan kekecewaan yang ia rasakan bertahun-tahun lamanya.
"Sengaja biar pesawatnya nggak keberatan waktu terbang." sahut Zara mencoba untuk melucu di tengah kecanggungan yang masih terasa diantara keduanya.
Davi tersenyum sedikit mendengar jawaban wanita di depannya itu.
"Lusa aku akan kembali ke Australia." Davi memberitahukan wanita di depannya yang langsung menunjukkan raut wajah tak biasa.
Kecewa? pasti ini yang tengah di rasakan oleh seorang Zara, baru tadi lelaki di depannya berkata akan menunggu jawaban darinya tapi beberapa waktu kemudian sudah memberitahunya bahwa lelaki itu akan pergi lagi.
Zara mengerjap melihat wajah Davi.
"Kamu masih punya hubungan dengan wanita lain tapi kenapa kamu memintaku untuk kembali padamu?" Zara bertanya bingung.
"Karena ini kesempatan ku, aku tahu kamu akan terus berusaha untuk menghindari dariku. kamu bahkan memberiku nomor yang tidak bisa aku hubungi." tukas Davi menunjukkan wajah yang sedikit kesal karena Zara membohonginya.
"Itu karena aku masih sangat membenci kamu." sahut Zara yang membuat Davi berpindah duduk di sebelahnya hingga Zara bergeser kaget sampai ke pinggir sofa dan tak bisa bergerak lagi.
"Lalu sekarang?" sorot mata Davi begitu tajam membuat Zara tidak bisa berkutik di buatnya.
__ADS_1
"Kamu masih benci aku? kamu masih marah sama aku?" tanya Davi.
"Sedikit." jawab Zara dengan suara yang sangat pelan.
"Sana." Zara mendorong dada Davi yang sekarang malah terus mendekat padanya.
Davi menggelengkan kepala tidak mengindahkan permintaan Zara.
"Selesaikan urusan kamu dulu dengan kekasihmu, aku tidak akan memberi jawaban apapun sebelum kamu menjadi lelaki singel." wanita yang kini tengah menahan gemuruh di dalam dadanya terlihat sangat panik ketika Davi masih terus saja mendekat dan kini menghimpit dirinya di sandaran sofa Villa yang hanya ada mereka berdua.
Davi mengecup kening Zara sangat lama.
"Aku akan selesaikan hubunganku dengannya dan setelah itu aku akan menagih janjimu." tutur Davi lalu menjauh dari wanita yang hampir saja membuat dirinya tidak bisa mengendalikan diri.
Davi membuang napas kasarnya lalu kembali menatap Zara yang membenarkan posisi duduknya.
"Berdoa saja agar aku tidak keburu bertemu dengan seorang lelaki bule dan jatuh cinta padanya." kata Zara asal namun nyatanya perkataannya itu malah memancing rasa cemburu yang mengisi relung hati Davi.
Lelaki itu jadi teringat tentang pertemuan mereka di Australia lalu, bahwa Zara tidak tertarik dengan lelaki Indonesia.
"Kalau begitu lebih baik aku mengunci kamu sekarang, agar kamu tidak bisa mencari lelaki lain apalagi bule seperti yang kamu katakan barusan."
"Kunci? kunci apa maksudnya?" tanya Zara tak mengerti.
"Kita sudah dewasa Za, Aku tidak rela kamu bersama dengan lelaki manapun." kata Davi seraya kembali mendekat.
Zara menggeleng melihat Davi yang kini wajahnya sudah berubah sangat aneh, ini seperti bukan Davi.
Wajah ini mengingatkan Zara pada saat Davi menciumnya secara paksa dulu.
"Davi." seru Zara mencoba untuk menyadarkan Davi agar tidak berbuat hal yang tidak ia inginkan, tapi sepertinya Davi tidak mau mengerti terbukti dengan lelaki itu yang seolah menulikan telinganya.
__ADS_1
\*\*\*\*