
Zara masih terus menumpahkan kesedihannya kepada sang Mama mertua, dengan siapa lagi ia harus mengadu tentang kegelisahan serta ketakutan yang kini menghantui dirinya ketika ia sudah tidak lagi memiliki seorang Ibu.
"Zara takut hamil Ma, Zara takut," suara Zara terdengar sangat lirih dan bergetar menyiratkan ketakutannya tentang suatu hal yang tidak ia inginkan terjadi.
"Apa yang harus di takutkan, itu sudah takdir dan kamu harus bisa menerimanya." Andini memberi pengertian meski dalam hatinya ia juga merasakan sesak yang teramat sangat kala mengatakan hal itu.
Ia sebagai seorang wanita tentu bisa merasakan apa yang Zara rasakan saat ini, ketakutannya akan hamil dari hasil perkosaan pasti akan sangat menyedihkan dan bukan tidak mungkin jika akhirnya malah membuat menantunya itu depresi bahkan mungkin bisa lebih buruk dari itu.
"Zara nggak pantas buat Davi, Zara udah kotor! Zara benci sama diri Zara!" Zara mulai histeris memukuli dirinya sendiri.
"Davi tidak akan mau menerima Zara lagi," seru Zara dengan matanya yang tetap dipenuhi oleh bulir-bulir air mata yang memenuhi kedua matanya dan mengaliri pipinya yang yang kulitnya sudah terlihat pucat, tidak bercahaya seperti biasa, hidungnya yang kecil namun mancung pun sudah berwarna sangat merah karena sejak tadi terus-menerus ia tekan dengan tangannya agar lendir dari hidungnya tidak mengalir namun malah membuat hidungnya tersumbat hingga suaranya menjadi sengau.
Andini mencoba untuk memegangi kedua tangan Zara agar tidak terus memukuli tubuhnya yang terlihat sudah sangat lemah dengan menutup rapat mulutnya tidak menjawab apa yang Zara katakan, ia memilih untuk membiarkan Zara memuaskan diri mengeluarkan semua yang ingin ia katakan.
"Apa tidak cukup sejak kemarin aku meyakinkan kamu bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap bersama kamu Zara!" terdengar suara lantang dari arah pintu membuat kedua wanita itu menengok ke sana.
Davi berdiri di pintu dengan segelas susu yang ada di tangannya, tadi pria itu membuatkan susu untuk istrinya dan berniat untuk memberikannya namun dia malah mendengar perkataan dari sang istri, perkataan yang sejak kemarin terus saja di ulang berkali-kali bagaikan sebuah kaset rusak yang benar-benar merusak pendengarannya.
Zara menatap Davi dengan pandangan yang berkabut, air matanya semakin memenuhi kedua matanya yang juga bergetar mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pria yang sejak dulu ia cintai.
"Aku mencintai kamu tulus, sejak dulu sampai sekarang tidak akan berubah apapun yang terjadi kepadamu, semua tidak akan pernah dan mungkin berubah. cintaku padamu tetap sama," tegas Davi dengan suara yang mulai melembut, dalam lubuk hatinya dia pun tidak tega berkata keras pada sang istri di tengah penderitaan yang istrinya rasakan.
__ADS_1
"Kita akan menghadapi segalanya berdua, kamu hamil pun itu anakku!" sambung Davi dengan penuh penekanan.
Sedangkan Zara malah semakin terisak mendengar semuanya, entah kenapa hatinya malah seakan teriris dengan ketulusan yang Davi tunjukkan, ia malah merasa tidak sanggup menghadapi kebaikan juga ketulusan yang suaminya itu berikan, perasaan bersalah akan terus timbul karena merasa tidak pantas mendapatkan pria sebaik Davi.
"Apa aku masih pantas untuk kamu? aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri," lirih Zara membuat Andini sontak mengeratkan pelukannya.
Ibu mertuanya itu mengelus punggungnya yang bergetar seraya berbisik, "berhenti mengatakan hal seperti itu Za, Davi akan sangat marah," suara Andini terdengar begitu pelan guna memberikan pengertian pada sang menantu untuk tidak lagi berkata hal yang ngelantur, berkata asal yang nantinya hanya akan membuat Davi kecewa karena wanita yang dia cintai masih saja meragukan ketulusannya dalam mencintai wanita yang sudah menjadi istrinya.
Dan benar saja seketika Zara menyelesaikan kalimatnya rahang Davi mengetat menunjukkan betapa dia sangat tidak terima dengan ucapan dari sang istri, tangannya yang masih terluka karena memukul cermin tempo hari pun mencengkeram gelas hingga kemudian gelas itu pecah di tangannya dan menambah luka yang ada.
"Davi! apa yang kamu lakukan!" pekik Andini lalu berlari menuju sang anak dengan Zara yang mengikutinya.
"Hati Davi lebih sakit di banding ini Ma, Davi harus apa Ma, biar istri Davi percaya kalau Davi nggak akan pernah tinggalin dia," ucap Davi seraya menatap Zara yang menghentikan langkahnya menatap pada sang suami dengan linangan air mata yang sejak kemarin-kemarin tidak juga kunjung berhenti.
__ADS_1
"Biar Mama obati," kata Andini menarik tubuh Davi keluar dari kamar tanpa menjawab pertanyaan sang anak.
"Ada apa, apa yang terjadi?" Arman yang mendengar suara ribut dari dalam kamar ikut panik dan berlari ke sana, pertanyaannya yang belum terjawab malah sudah dia ketahui apa yang terjadi ketika melihat darah yang keluar dari tangan anaknya.
Andini sibuk membersihkan luka dan nampak meringis melihat luka di tangan sang anak.
"Ini harus di jahit," seru Arman khawatir karena luka yang menganga di telapak tangan sang anak yang bahkan seperti tidak merasakan kesakitan sedikitpun.
Anaknya itu tampak diam dengan tatapan mata yang kosong tak jelas menatap ke arah mana.
"Biar Ayah bawa Davi ke rumah sakit saja, Mama jaga Zara," perintah Arman yang di angguki oleh sang istri.
Arman pun menuntun Davi keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, anaknya itu tidak mengeluarkan suara sedikitpun bahkan ketika mereka sudah berada di dalam rumah sakit saat seorang dokter bertanya pun Davi tetap saja diam tidak memberikan jawaban.
\*\*\*\*
__ADS_1