Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 128


__ADS_3

Hari dimana Ipul harus pergi pun akhirnya tiba hanya tinggal tersisa beberapa jam lagi untuk Riska berusaha membujuk anaknya itu agar membatalkan keputusannya untuk pergi.


Wanita itu sungguh sangat gelisah ketika Ipul yang tetap bersikukuh untuk pergi ke Inggris, meninggalkan dirinya dan sang suami membiarkan mereka hanya hidup berdua dalam kesepian sebab anak mereka hanya Ipul satu-satunya.


Riska bahkan sudah menangis memohon pada sang anak namun nyatanya anaknya itu sudah mengambil pilihan yang ternyata mengecewakan dirinya sebagai seorang Ibu.


"Maafkan Ipul Mah," tutur Ipul seraya memeluk tubuh bergetar sang Mamah yang jelas tersakiti karena keputusannya.


Sedangkan Irman hanya berdiri bersandar di dekat lemari pajangan menyaksikan keduanya, pria itu sudah tidak mengeluarkan apapun lagi sejak dia mendengar sendiri keputusan anaknya pergi ke negara lain.


"Kamu tega ninggalin Mamah," tutur Riska dengan suara yang samar.


"Ipul janji, Ipul akan selalu menghubungi Mamah dan memberi kabar," sahut Ipul dengan suara berat.


"Bukan itu yang Mamah mau, Mamah mau kamu tetap disini bersama Mamah dan Papah tidak pergi kemanapun apalagi sampai pergi sejauh ini!" sentak Riska tak bisa memungkiri betapa kalut dan hancurnya ia saat ini.


Tak pernah rela jika anak satu-satunya yang ia harapkan akan selalu bersamanya justru malah pergi sangat jauh.


"Sudahlah Ris, Ipul sudah dewasa biarkan dia memilih apa yang dia inginkan," kata Irman akhirnya membujuk sang istri, memberikan pengertian bahwa mereka tidak selamanya harus menuntut Ipul untuk mengikuti apa yang mereka mau.

__ADS_1


Anak mereka memang sudah sangat dewasa dan sudah seharusnya mereka membiarkan apa yang mau dilakukan oleh anaknya itu asalkan tetap pada jalan yang benar.


"Tapi bagaimana dengan kita Pah? kita akan kesepian jika hanya berdua saja," rengek Riska macam anak kecil yang takut tidur sendiri.


Irman menarik napas lalu membuangnya perlahan sebelum kemudian melangkah mendekat pada sang istri lalu berkata, "sekarang ataupun nanti sama saja, di masa tua kita, kita hanya akan tinggal berdua, bukankah nanti Ipul pun akan menikah dan pergi juga dari hidup kita? menjalani kehidupannya dengan istri dan juga anak-anaknya kelak," jelas Irman membuat Riska malah makin tersedu.


Sungguh saat ini Riska merasa sangat sedih karena hanya memiliki satu orang anak saja, karena jika anak itu pergi suasana rumah akan benar-benar berubah drastis.


Setelah perjuangan cukup lama untuk tidak membiarkan Ipul pergi, akhirnya Riska pun pasrah ketika Ipul tak juga mengurungkan niatnya.


Dengan berat hati Riska menerima kepergian sang anak di tepi pintu, ia memutuskan untuk tidak ikut mengantar ke bandara karena tidak mau melihat kepergian anak kesayangannya itu, Riska membiarkan suaminya hanya mengantarkan seorang diri.


Pada kenyataannya saat ini hatinya masih terus menangis meratapi nasibnya yang gagal menikah, menyakitkan namun ini pilihannya ketimbang harus menikah dengan lelaki yang tidak pernah mencintainya.


"Berhenti menangis, jangan jadi wanita bodoh! lebih bagus kamu mengetahuinya sekarang dari pada setelah menikah yang malah akan membuat kamu terpuruk Hanna!" Hanna menyakinkan dirinya sendiri, meyakinkan bahwa keputusannya memang sudah sangat benar.



Wanita itu menghapus air mata lalu menatap pesawat yang tengah melintas di langit yang berwarna biru di atas sana, melintasi awan yang saling berkelompok.

__ADS_1



"Boleh saya duduk disini?"



Suara seorang lelaki membuat Hanna menoleh sekilas guna melihatnya lalu menyunggingkan sedikit senyum seraya mengangguk.



Mendapat persetujuan akhirnya lelaki itupun duduk tepat di samping Hanna dengan wajah yang tampak begitu ceria.



\*\*\*\*\*



Ipul & Hanna berakhir...

__ADS_1


__ADS_2