
"Abang kapan pulang?" seru Anaya kala melihat wajah Abangnya di layar HP milik sang Mamah, gadis kecil yang dulu berusia 8 tahun kini sudah semakin tumbuh menjadi gadis remaja yang duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama.
Davi hanya tersenyum melihat kedua Adik kembarnya sudah semakin besar selama dia tak ada.
"Iya, Abang kapan pulang, kata Mamah kan kuliah Abang sudah selesai dari beberapa tahun lalu, kok belum pulang juga." timpal Inaya yang sekarang malah terkesan lebih bawel daripada sang Kakak kembarnya.
"Abang sibuk kerja di sini." sahut Davi mengatakan kegiatannya di negara orang lain hingga dia tidak segera kembali ke negara tempat dia dilahirkan dan di besarkan.
"Kan Mamah sudah bilang, Abang Davi sudah punya tanggung jawab di sana." Andini yang memang berada di sebelah Anaya turut menimpali pembicaraan anak kembarnya yang terus saja menuntut sang Abang untuk segera pulang.
"Memangnya Mamah bilang apa?!" kata Anaya dan Inaya bersamaan dengan wajah yang terlihat bingung.
"Setahun yang lalu Mamah bilang sama kalian kalau Abang Davi menjalankan bisnis Ayah yang di sana. kan dulu Mamah sudah sempat kasih tahu bahwa Ayah waktu pergi ke Australia untuk menengok Abang kalian sekalian survei tempat karena Ayah mau bisnis di sana dan Abang yang akan menjalankannya." kata Andini menerangkan dengan wajah yang terkesan jengkel karena ia sebenarnya pun sudah sering kali memberitahu kedua gadis kembarnya itu tentang apa yang di lakukan oleh Davi setelah selesai kuliah hingga kenapa hingga sampai saat inipun Abang mereka itu belum juga kembali, mungkin sudah terbiasa di hidup sendiri karena sekarang memang Davi sudah tinggal di apartemen miliknya dan tak lagi tinggal bersama Om serta Tantenya.
Atau mungkin di tempat itu Davi hanya sedang berusaha untuk melupakan seseorang yang sudah tidak lagi dia ketahui bagaimana kabar dan keadaannya setelah terakhir kali dia mendapat kabar dari Ipul dan juga sang Mamah bahwa mereka sudah tidak bisa lagi menghubungi wanita itu, meskipun begitu dulu setiap kali menelepon Mamahnya Davi masih menanyakan apakah Zara sudah bisa dihubungi atau tidak, namun jawaban sang Mamah yang sudah tidak tahu bagaimana keadaan Zara membuat Davi akhirnya tak lagi bertanya tentang Zara si gadis yang dulu sangat keras kepala.
Saat mendengar hal itu untuk pertama kalinya Davi hanya bisa merenung sendirian di tengah kamarnya yang gelap memikirkan Zara, memikirkan tentang wanita yang dulu sangat keras kepala mengejar dirinya meskipun sudah dia dengan jahatnya menyakiti hati wanita yang sesungguhnya selalu membayanginya hingga beberapa tahun dia berada di Australia, bahkan saat pertama kali sampai Davi pun di buat tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus di Bayangi oleh wajah kecewa Zara yang terakhir kali saat menyetujui permintaan putus darinya.
Dan saat mendapat kabar bahwa Zara menghilang Davi pun berpikir bahwa Zara memang benar-benar membuktikan ucapannya dulu.
__ADS_1
Meski terasa sesak namun Davi tetap berusaha untuk menerimanya karena dia tahu semua itu karena perbuatannya sendiri dan sekarang dia mencoba untuk terima itu, perlahan dia melupakan Zara dengan menjalin hubungan dengan wanita lain di Australia yang juga warga Indonesia dan teman kuliahnya juga.
Sekarang Davi hanya mendengarkan saja ocehan ketiga orang perempuan yang sangat dia sayangi seraya tersenyum manis menunjukkan gigi gingsulnya yang dulu sangat disukai oleh Zara.
"Nanti deh Minggu depan Abang pulang." janji Davi akhirnya yang langsung saja membuat kedua Adiknya bersorak kegirangan mendengar sang Abang akan pulang setelah lima tahun lamanya mereka tidak melihat langsung wajah sang Abang, karena selama ini hanya Ayah dan Mamahnya sajalah yang pergi untuk menengok sang Abang tanpa pernah mau mengajak mereka dengan alasan yang terkesan mengada-ada.
"Bener ya Bang, awas aja kalau bohong kayak dulu." ancam Anaya mengingatkan kejadian setahun yang lalu. Ya setahun yang lalu Davi pernah mengatakan akan pulang ke Indonesia namun nyatanya pemuda itu membatalkan kepulangannya di saat hitungan jam dengan alasan pekerjaan mendadak yang tidak bisa untuk di tinggalkan, membuat kedua gadis kembar itu menjadi sangat dongkol hingga selama dua bulan tidak mau berbicara dengan Abangnya itu saat sang Abang menelepon.
"Iyaa, kali ini bener deh." ucap Davi.
"Semoga aja." sambungnya kemudian yang membuat mata kedua Adiknya membelalak lebar.
"Janji." kata Davi mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.
"Ya sudah, Abang tutup dulu ya mau urus kerjaan soalnya." kata Davi yang memang sudah terlihat sangat rapi, perbedaan waktu yang hanya tiga jam membuat mereka tidak kesulitan untuk saling berkomunikasi.
"Abang makin ganteng, pasti nanti Kak Zara bakal suka." seru Anaya yang terkadang memang sengaja selalu menyebut nama Zara meskipun ia tahu Abangnya sekarang sudah memiliki seorang kekasih, apalagi masalahnya jika bukan karena ia memang tidak menyukai wanita yang sekarang menjadi kekasih dari sang Abang.
Inaya bahkan turut menimpali perkataan Kakaknya.
__ADS_1
"Iya pasti sekarang Kak Zara makin tambah cantik." ujar Inaya dengan wajah tak bersalahnya.
Kedua gadis kembar itu membuat mata Mamahnya mendelik seram seperti meminta agar mereka menutup mulutnya, meskipun sebenarnya ia pun lebih menyukai Zara di banding dengan Lisa kekasih anaknya sekarang ini. namun ia sebagai Ibu tidak bisa melarang Davi yang sudah dewasa untuk memilih siapa wanita yang akan menjadi istrinya nanti.
"Davi matiin ya Mah." kata Davi pada sang Mamah, dari nada suara dan ekspresinya sudah bisa diketahui bahwa hati Davi merasakan segelenyar rasa rindu dengan wanita yang tadi di sebut oleh Adiknya.
"Ya sudah kalau begitu." sahut Andini yang lalu layar HPnya pun langsung mati karena Davi tanpa berkata lagi langsung memutus sambungan telepon itu.
"Kenapa ngomongin Kak Zara?" langsung memberondong kedua anak gadisnya dengan pertanyaan.
"Memangnya kenapa, Mamah juga sering tanyain Kak Zara sama Kak Ipul." kata Anaya.
"Iya tapi kan nggak ngomong sama Abang kalian langsung kayak tadi." sahut Andini.
"Lebih baik ngomong langsung sama Abang, daripada ngomongin di belakang." ujar Anaya yang langsung melenggang pergi diikuti oleh Inaya yang sudah seperti anak buahnya ikut kemanapun sang pemimpin melangkah.
Andini menarik napas panjang melihat tingkah anak kembarnya itu yang memang ceplas-ceplos jika sudah berbicara tanpa memikirkan perasaan orang yang mereka ajak bicara.
"Dasar anaknya Arman." gerutu wanita itu seraya menyandarkan tubuhnya, sudah tidak bersemangat untuk merapikan rumah di hari itu.
__ADS_1