
Zara tengah mengintip dari pintu kamar mandi menunggu sang kekasih yang kini sudah berganti status menjadi suaminya yang sedang melangkah kearahnya.
"Kenapa?" tanya Davi melihat Zara yang hanya melongokkan kepalanya saja.
"Aku lupa bawa handuk." berkata pelan dengan wajah yang menunduk dengan wajah yang pasti sudah sangat merah karena merasa sangat ceroboh langsung masuk ke kamar mandi begitu saja tanpa membawa handuk, sedangkan kebaya yang ia pakai sudah terlanjur ia masukkan ke dalam keranjang cucian di pojok kamar mandi dan terlihat sudah agak basah karena terkena cipratan air, seharusnya tadi ia menggantung saja kain setelan kebaya agar bisa ia gunakan.
Davi tampak terdiam lalu segaris senyum rahasia tersungging di bibir tipisnya seperti tengah merencanakan sesuatu terhadap istrinya sendiri.
"Sebentar." tutur Davi lalu berjalan menjauh.
Zara tersenyum karena mengira suaminya itu akan mengambilkannya handuk, tapi wanita itu mengerutkan kening kala Davi bukan menuju lemari melainkan ke dekat jendela lalu membentangkan gorden guna menutup jendela.
Gerakan Davi tak luput dari perhatian wanita di balik pintu kamar mandi yang kini merasakan deru napasnya semakin kencang karena mulai merasakan tubuhnya terasa dingin karena tidak memakai apapun.
Dan sekarang lelaki yang hanya memakai handuk itu malah mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu meja yang sinarnya terlihat redup, lalu dengan santainya naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di tempat itu seraya menatap langit kamar dengan kakinya bergoyang seperti lupa akan apa yang di minta oleh istrinya.
"Vi." suara Zara terdengar pelan dan sangat tak mengerti dengan tingkah sang suami yang tak jelas itu.
"Kenapa sayang?" bertanya santai.
"Aku kan minta tolong buat ambilin handuk." ucap Zara mengingatkan suaminya mana tau lelaki itu memang benar-benar lupa.
"Kamu ambil aja sayang, lampu nya udah aku matiin, aku capek bolak-balik." sahut Davi yang membuat Zara kesal.
"Ya lagian kenapa kamu malah sibuk nutup gorden matiin lampu, bolak-balik kamu buat sendiri kok, daripada bolak-balik nggak jelas kan mendingan ambilin aku handuk sebentar abis itu kamu langsung tidur." sungut Zara tak mengerti dengan jalan pikiran dari lelaki yang baru hitungan jam menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Tingkah laku Davi sungguh sangat random menurutnya, sibuk tak jelas saat ia hanya minta diambilkan handuk.
"Keluar sayang." pinta Davi mengabaikan Omelan dari sang istri.
"Nggak mau." tolak Zara keras kepala.
"Terus mau ngapain di kamar mandi, nanti masuk angin." Davi menatap ke arah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.
"Diri aja di sini sampai kamu ambilin handuknya, biarin aja masuk angin juga. emangnya kamu tega biarin aku masuk angin?" jawab Zara yang langsung membuat Davi berlari menuju kamar mandi.
Zara tersenyum mendengar suaminya berlarian kearahnya, bahkan Zara hampir terjatuh kala Davi mendorong pintu kamar mandi karena sejak tadi Zara memang berdiri di belakang pintu itu.
Mata Zara langsung membelalak kaget dengan tangannya yang serentak menutupi bagian tubuh sensitifnya.
Di depannya kini Davi tengah menatap tak berkedip dengan pemandangan indah yang baru kali ini dia lihat ada di depan matanya, tenggorokan Davi tampak bergerak guna menelan air liurnya menatap tubuh sang istri yang sangat sempurna.
Teramat sempurna baginya sebagai seorang suami, dada Davi yang polos terlihat naik turun dengan sangat cepat menandakan tarikan napasnya yang semakin cepat.
Zara semakin tak berdaya kala Davi mulai menunduk dan memposisikan wajah di hadapannya sekejap kemudian bibir lelaki itu sudah mendarat lembut di bibirnya yang terasa dingin karena terlalu lama berada di kamar mandi.
Davi semakin menuntut kala kedua tangan Zara melingkar di lehernya lalu tanpa aba-aba apapun lelaki itu mengangkat tubuh sang wanita dan membawanya ke dalam kamar, merebahkannya ke atas ranjang.
Ciuman mereka terhenti dan kini mata keduanya saling memandang dengan penuh cinta, cinta yang tak perlu di katakan namun sudah tersirat jelas dari cara mereka memandang satu sama lain.
Davi menatap Zara sangat dalam seolah tengah bertanya apakah boleh jika malam ini dia meminta haknya sebagai seorang suami.
Anggukan Zara yang sangat pelan membuat Davi tersenyum bahagia lalu dengan lembut kembali melanjutkan apa yang dia mau, menyentuh semua tubuh sang istri dengan penuh penghayatan membuat istrinya pun semakin terbuai dengan yang dia lakukan.
__ADS_1
Dalam remangnya cahaya kamar itu Davi bisa melihat bagaimana ekspresi wajah istrinya yang sudah sangat terbuai dengan segala sentuhan darinya semakin membuat dia semangat untuk terus melakukannya.
Mata Zara menatap sayu kala melihat Davi sudah melemparkan handuk yang lelaki itu pakai sejak tadi ke bawah meja.
"Kamu hanya milikku Za, hanya milikku." tutur Davi saat mulai melaksanakan apa yang sejak tadi dia nantikan.
Matanya terpejam kala merasakan betapa memang hanya dia seorang lah yang memiliki Zara seutuhnya.
Bibir Davi menyunggingkan senyum dengan iringan napas yang menderu cepat, lalu mengelus rambut Zara ketika melihat wanita itu tengah meringis merasakan nyeri di tempat Davi memasukinya.
"Sakit sayang." keluh Zara yang semakin Davi dorong semakin terasa sakit di bawah sana.
Mendengar itu Davi pun menundukkan wajahnya dan mencium kening Zara dengan sangat lama.
"Tahan sayang." ucap Davi seraya membetulkan posisinya.
Zara memejamkan kedua matanya menahan sakit yang ia derita sambil mengatur napas guna mengurangi rasa yang baru pertama kali ini ia rasakan.
Mata Davi memperhatikan ekspresi Zara menunggu wanita itu siap lebih dulu sebelum dia menggerakkan tubuhnya.
Zara membuka mata dan tatapannya bertemu dengan tatapan sang suami yang tengah menantinya memberi izin untuk melanjutkan kegiatan mereka.
Zara mengangguk seraya tersenyum dan itupun membuat Davi mengecup bibirnya dengan cepat dan setelahnya bergerak guna menggapai malam pertama mereka yang pastinya akan terus diingat oleh mereka berdua.
Suara Zara mulai terdengar di telinga Davi yang makin membuatnya semangat untuk bergerak.
"Sebentar lagi sayang." tutur Davi sambil tak hentinya menciumi wajah wanita yang sangat dia cintai itu, wajah wanita yang 5 tahun membuatnya hidup dalam rasa bersalah hingga akhirnya rasa bersalah itu berakhir bahagia dengan pernikahan mendadak yang dia lakukan untuk bisa terus bersama dengan wanita itu.
__ADS_1
Mereka saling memeluk setelah pelepasan yang sangat luar biasa itu dengan Davi yang duduk bersandar dengan tangan yang mendekap tubuh Zara dengan sangat erat dan sesekali mencium pundak kepalanya sebagai ucapan terimakasih karena Zara sudah menjaga tubuhnya hingga hanya dirinyalah satu-satunya lelaki yang menyentuhnya.
****