
Zara berjalan di halaman rumah Davi dengan langkah kaki yang berat, tak tahu mengapa ia sebegitu hancurnya mengetahui Davi tidak ada rasa sayang kepadanya padahal sedari awal ia sudah di peringatkan oleh Ipul tentang Davi yang memang tidak ada rasa apapun terhadapnya. namun ketika mendengar langsung dari mulut pemuda itu hati Zara merasa sangat teriris.
Zara menghentikan langkahnya karena merasa ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari atas sana.
Zara menoleh dan benar saja dari balkon kamar ia melihat Davi tengah memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit di mengerti.
Zara menarik napas lalu matanya tampak mencari-cari sesuatu di atas rumput yang sangat terawat di sekitar kakinya.
Zara menunduk untuk mengambil sebuah ranting pohon yang berukuran sedang lalu mengarahkan ranting itu kepada Davi, Davi yang sudah tahu Zara akan melakukan apa hanya diam saja di tempatnya tidak ada niat sedikitpun untuk berpindah ataupun masuk ke dalam kamarnya.
Zara melemparkan ranting itu dengan sekuat tenaga ke arah Davi dan ranting itupun dengan suksesnya mendarat di kening Davi.
Davi tidak bergeming sedikitpun bahkan ketika dia merasakan keningnya terasa sakit.
Zara menunjukkan wajah puas dengan mata yang membelalak lebar.
__ADS_1
"Biar kamu rasakan sakit yang aku rasain dan semoga setelah ini kamu sadar, aku tidak mau putus sama kamu." teriak Zara dengan kencang lalu langsung berlari meninggalkan kediaman Davi.
Davi memungut ranting yang mendarat di dekat kakinya lalu sedikit menyunggingkan senyum mendengar yang baru saja di ucapkan oleh Zara.
"Gadis konyol." gumamnya sambil mengelus keningnya yang terasa sakit dan tanpa dia sadari kini berwarna merah akibat ulah si ranting kayu yang tak sopan nya mengenai keningnya.
Zara sampai di rumah dengan perasaan sedikit tenang karena sudah memberikan pelajaran pada Davi yang seenaknya saja memutuskan dirinya meski hanya dengan sebatang ranting pohon saja, namun ranting itu sudah mewakili dirinya.
Pagi hari Zara sudah bersiap untuk pergi sekolah seperti biasanya.
"Nih artis mesum yang lagi viral baru turun." terdengar Dira berkata menyindir Zara dengan wajah yang sangat sinis.
"Bagus banget kamu yah jadi anak gadis bikin video kayak gitu." serang Dewi yang sudah mendapatkan aduan dari anaknya tentang rekaman yang berisi Zara dan Ipul.
"Aku nggak se kurang kerjaan kayak anaknya Tante itu yah yang diam-diam ngerekam orang." sahut Zara tak terima dengan perkataan Dewi yang menyudutkan dirinya.
__ADS_1
"Kok lu malah bawa-bawa gue!" pekik Dira yang ada di ruang makan.
"Emang nyatanya kayak begitu." balas Zara kencang.
"Diam kamu Zara!" sentak Dewi yang tidak terima anaknya di Katai oleh anak tirinya itu.
Zara mendengus kesal karena sudah tentu Dewi itu akan membela anaknya sekalipun anaknya itu melakukan kesalahan besar.
Zara memilih untuk pergi meninggalkan kedua orang wanita yang berisik itu untuk berangkat sekolah.
Zara akan semakin pusing dan bertambah emosi jika tidak segera pergi dari tempat itu.
"Pergi deh lu." sengit Dira melihat Zara melenggang keluar dengan langkah yang cepat.
"Awas kamu ya Zara kalau sampai buat malu keluarga ini!" ancam Dewi dengan mata yang mendelik seram bahkan ketika Zara tidak mendengarkannya sedikitpun.
__ADS_1
"Lihat kan Mah, tuh si Zara emang kelakuannya makin kelewatan semenjak Mamah nggak ada." adu Dira kepada Mamahnya menjelekkan Zara seolah selama sang Mamah tidak ada kelakuan Zara sangatlah buruk. padahal selama Dewi tidak ada Zara lah yang kelelahan mengurus rumah dari mulai memasak mencuci sampai membersihkan rumah, Zara lakukan sendiri tanpa bantuan Dira yang setiap harinya hanya berleha-leha saja bahkan setelah pulang sekolah pun Dira malah sibuk bermain dengan HPnya di saat Zara tengah banting tulang merapikan rumah yang mereka tinggali bersama, rumah mendiang Ibu Zara yang kini diakui oleh Dewi dan anaknya itu.
********************