
"Sudah menghubungi Devanya?" tanya Lugo ketika siang hari berikutnya mendatangi Davi untuk membawakannya beberapa berkas pekerjaan.
Ya, Devanya adalah seorang psikolog wanita yang Lugo sarankan kepada Davi, karena tahu bahwa Devanya sangat pandai dalam menangani seorang yang tengah mengalami trauma seperti yang dialami oleh istri dari temannya itu.
"Sudah, dia baru akan kembali beberapa hari lagi," kata Davi.
"Kembali dari mana?" tanya Lugo bingung sebab yang dia tahu Devanya tinggal di satu kota yang sama dengan mereka di Australia ini.
"Dia sedang berada di luar kota sejak satu Minggu yang lalu," sahut Davi tentang yang dia tahu saat menghubungi Devanya kemarin malam.
"Oh ya aku lupa, dia sempat memberi kabar padaku bahwa orang tuanya mengadakan sebuah pesta," kata Lugo yang akhirnya baru ingat.
Davi mengangguk menanggapi perkataan Lugo yang sampai hari ini masih tetap menjadi sahabat terbaiknya selama dia tinggal di Australia ini, sedangkan Robert? yang Davi dengar dari Lugo bahwa pria itu kini tinggal di Indonesia mengikuti Lisa yang kini sedang hamil besar.
"Dimana Zara sekarang?" tanya Lugo kala tidak sekalipun melihat Zara setelah hampir satu jam lebih dia berada di apartemen sahabatnya ini.
"Di kamar, aku memintanya untuk beristirahat," sahut Davi seraya meletakkan pulpen yang sejak tadi dia gunakan untuk membubuhkan tanda tangan pada lembaran berkas yang kini berjejer di atas meja.
Davi menghempaskan punggungnya di sofa dengan mata yang dia pejamkan.
Lugo dapat melihat betapa lelahnya temannya itu saat ini, dia cukup iba mengetahui keadaan rumah tangga dari sang teman yang seharusnya saat ini adalah masa-masa bahagia mereka, namun malah diberi musibah yang tentunya dia sendiri tak tahu akan sanggup atau tidak jika dirinya yang berada di posisi Davi sekarang.
Sebagai seorang sahabat dia hanya bisa membantu semampu yang dia bisa, mencarikan solusi terbaik bahkan selama ini dia jugalah yang terus berusaha memberikan keyakinan pada sang sahabat bahwa Zara akan bisa kembali seperti yang Davi kenal dulu.
Memang sedikit banyak Davi sering menceritakan apa yang dia alami termasuk ketika tragedi buruk itu terjadi beberapa waktu lalu, sungguh Lugo berharap pernikahan sahabatnya itu akan berjalan baik seperti yang sahabatnya itu harapkan.
"Sudah hampir malam, sebaiknya aku pulang," kata Lugo melihat pada arloji di tangannya.
Davi tersentak kaget kala mendengar suara dari sang sahabat.
__ADS_1
"Apa aku tertidur?" tanya Davi bingung yang tidak sadar bahwa dia sudah tertidur padahal tadinya dia hanya ingin memejamkan matanya saja, tapi ternyata malah kebablasan.
"Ya kamu tertidur, sepertinya kamu benar-benar butuh istirahat," kata Lugo seraya tersenyum.
"Kenapa tidak di bangunkan?" protes Davi pada sahabatnya itu.
"Pekerjaan yang harus kamu kerjakan sudah selesai, lalu untuk apa aku membangunkanmu?" Lugo malah mengedikkan bahunya lalu merapikan kembali berkas yang berserak di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas berwarna hitam dengan merk terkenal yang dia bawa.
Davi pun ikut beranjak dari sofa ketika melihat Lugo berdiri seraya menenteng tasnya.
"Lanjutkan tidurmu," pinta Lugo dengan tepukan di bahu Davi yang lalu di balas oleh sahabatnya itu.
Baru saja memutar tubuh saat selesai menutup pintu, pria yang memakai pakaian santai itu malah sudah melihat istrinya berjalan ke arahnya.
"Aku menunggumu sejak tadi," tukas Zara membuat Davi mengerutkan keningnya.
Menunggu? Davi tak mengerti dengan ucapan Zara saat ini, apa Zara ingin membicarakan sesuatu sampai harus menunggunya? sebab tidak seperti biasanya Zara mengatakan hal ini.
__ADS_1
"Tadi Reni menghubungi ku dan mengatakan kalau dia dan yang lain sedang berada di dekat sini, tadi pagi mereka baru saja mendarat," cerita Zara, tentang teman-temannya yang memang tengah bertugas.
"Mereka mengajak bertemu," lanjut Zara ketika Davi berangsur mendekat ke arahnya.
Ah, jadi hal inilah yang membuat Zara sampai harus menunggunya.
"Aku akan menemani kamu," kata Davi sudah bisa mengerti keinginan Zara yang memang ingin bertemu dengan teman-temannya yang dulu senantiasa terbang bersama kala istrinya itu masih menjadi pramugari.
"Aku bisa pergi sendiri," tolak Zara.
"Aku temani atau kamu tidak akan pergi kemanapun!" tegas Davi lalu meninggalkan Zara yang terdiam di tempatnya.
Lebih baik menurut ketimbang harus di larang bertemu dengan teman-temannya yang seingatnya sudah lama tidak bertemu.
\*\*\*\*\*
__ADS_1