
"Pul." Zara memanggil Saipul yang berjalan di depannya dan sepertinya pemuda itu tidak menyadari ada Zara di belakangnya terlihat dari sentakan di tubuh pemuda itu saat Zara memanggil.
Saipul hanya menoleh sekilas saja lalu tampak kembali acuh dan melenggang pergi menjauh.
Tentu hal itu membuat Zara mempercepat laju langkahnya untuk bisa mengejar Ipul dan mengobrol dengan temannya itu yang sejak semalam hanya diam saja ketika menjemput dirinya untuk menemui kedua orang tua Davi.
"Gue mau ngomong." tangan Zara menarik Saipul dengan cepat dan menggeret pemuda itu menuju gudang kosong di belakang sekolah.
"Gua belum ngerjain PR." ujar Ipul agar Zara melepaskan dirinya, tapi hal itu tidak membuat Zara bergeming sedikitpun untuk membiarkan Saipul pergi setelah dirinya bersusah payah mendapatkannya dan membawanya agar bisa berbicara berdua saja.
"Duduk sini." Zara menekan bahu Ipul untuk menduduki kursi kayu yang terlihat sudah lapuk itu.
Memang itulah kegunaan gudang, untuk menumpuk barang-barang bekas yang sudah rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi.
Dengan terpaksa Saipul menduduki bangku kayu yang sebelah kakinya sudah tampak keropos dimakan rayap.
"Kenapa?" tanya Ipul akhirnya dengan terus melihat Zara yang berdiri di hadapannya persis seperti seorang jaksa penuntut yang sedang memberikan tuntutannya pada terdakwa dan terdakwa itu adalah dirinya.
"Kenapa beberapa hari ini lu diemin gue, cuekin gue nggak mau ngomong sama gue, saat gue panggil pun elu cuma nengok tanpa menjawab, salah gue apa sama elu Pul?!" Zara mulai mengajukan serangkaian pertanyaan dengan wajah yang terlihat sedih, ya sedih karena temannya yang dulu begitu akrab dengannya sudah sangat enggan berbicara dengannya, jangankan berbicara melihat wajahnya saja seolah tidak mau.
__ADS_1
Ipul mengatupkan bibirnya seraya melihat Zara, ada rasa kasihan yang juga bercampur rasa marah karena Zara masih saja berhubungan dengan Davi dan sekarang sepertinya malah akan semakin dekat saja karena orang tua Davi yang meminta bantuan Zara untuk bisa mengembalikan Davi menjadi seperti dulu.
Kecewa? sudah sangat pasti di rasakan oleh Saipul saat ini, wanita yang setiap harinya mati-matian dia buat untuk tersenyum sekarang malah dekat dengan Kakak sepupunya.
Kakak sepupu yang berubah menjadi berandalan tak jelas karena terpengaruh dengan pergaulan nakal di luaran sana.
"Jawab Pul kenapa Lu kayak gini sama gue sekarang?" ucap Zara menuntut penjelasan.
Ipul menghirup napas yang sangat dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan.
"Gue kan udah bilang Za, jauhin Davi dia nggak baik buat elu, gue nggak mau elu kecewa apalagi cuma dijadiin mainan sama dia." ungkap Saipul dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Tapi gue sayang sama Davi Pul, gue cinta sama dia, gue mau merubah dia seperti yang orang tuanya minta, gue mau Davi jadi lebih baik." tutur Zara dengan wajahnya yang begitu sendu.
Melihat itu membuat Ipul menjadi tidak tega, tapi dia juga masih tidak rela Zara bersama Davi jika hanya di jadikan mainan saja.
Tidak, Saipul tidak mau itu terjadi pada Zara.
Zara tertunduk dengan posisi yang berdiri di depan pemuda yang duduk di bangku kayu lapuk itu.
__ADS_1
Tangan Ipul berusaha untuk meraih tangan Zara guna menenangkan temannya itu, tapi belum sempat berdiri bangku yang dia duduki menunjukkan tanda akan segera hancur, dan benar saja bangku hancur lalu Ipul pun jatuh diikuti oleh Zara yang tangannya tertarik tak sengaja oleh Saipul.
Zara jatuh menimpa tubuh Ipul hingga kini mata mereka saling berhadapan dengan sangat dekat, mereka terbengong dengan mata yang tidak berkedip sama sekali diiringi dengan hembusan napas yang saling menerpa wajah masing-masing.
Dengan tanpa di sangka Saipul mengucapkan kata yang selama ini dia rasakan tanpa sadar.
"Gue sayang elu Za." ucapnya lirih dan tanpa disadari oleh Zara dan seolah Ipul tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, wajah Ipul semakin mendekati Zara hingga bibir mereka kini sudah saling berhadapan.
Tanpa sadar Ipul mencium Zara membuat Zara yang masih tak sadar hanya diam seraya merasakan bibir mereka beradu.
Tapi sedetik kemudian Zara tersadar lalu bangun dengan wajahnya yang menampakkan betapa syok nya ia karena mereka baru saja berciuman tanpa sadar, padahal hanya dirinyalah yang tidak sadar bahkan saat Ipul mengetakan sayang padanya pun Zara seolah tidak mendengar.
Zara berlari menuju kelas dengan tangannya yang terus saja memegangi bibir yang tadi sempat bersentuhan dengan bibir temannya.
Saipul bergegas duduk dengan wajah yang penuh penyesalan, dia sudah bisa menduga bahwa setelah ini Zara akan marah padanya.
Ipul memukuli kepalanya sendiri bahkan sekarang mengincar lantai untuk dijadikan sasaran tinjunya memukul keras hingga menimbulkan suara yang mengagetkan satu orang yang sejak tadi ada di satu tempat mengintip bahkan mengabadikan semua yang terjadi antara Saipul dan Zara.
Orang itu tersenyum sangat licik sebelum pergi dari tempat persembunyiannya tanpa diketahui oleh Saipul.
__ADS_1
*************