
Suasana pagi hari di dalam apartemen yang di tempati oleh Davi juga Zara terlihat begitu lengang setelah kejadian tadi malam.
Davi yang baru bangun dari tidurnya tampak tertegun bingung kala tidak mendapati Zara berada di tempat tidur, pria itu duduk seraya menyingkap selimut lalu kemudian menurunkan kakinya satu persatu menyentuh lantai, baru setelahnya dia berdiri dan meregangkan tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat pegal mungkin karena tidur memeluk Zara yang terus memberontak dan baru berhenti kala wanita itu mulai tertidur pulas.
Seketika terdengar bunyi yang berasal dari persendiannya, lalu kemudian Davi pun melangkah keluar dari kamar untuk mencari istrinya yang sepagi ini sudah tidak ada di dalam kamar.
Tap! tap! tap!
Suara langkahnya begitu jelas terdengar di dalam ruangan di setiap dia sandal yang dia pakai menghentak ke lantai.
Davi berjalan sambil sesekali menguap, tentu dia masih sangat mengantuk pagi ini akibat tidur yang menjelang pagi, sontak langkah Davi terhenti cepat kala melihat wanita yang sedari tadi dia cari sudah sibuk di dekat meja makan, meletakkan semua masakan yang tampaknya baru selesai di masak.
Davi mulai terbiasa dengan sikap Zara yang akan selalu berubah drastis keesokan harinya setelah sepanjang malam menangis akibat traumanya yang mendadak muncul dan kini malah di tambah dengan cemburu dengan rekan kerjanya yang bernama Claire.
Sungguh Davi tidak menyangka jika semua yabg terjadi di Indonesia benar-benar merubah Zara menjadi pribadi yang sangat berbeda, sungguh berbeda!
Tidak ada yang aneh pada setiap gerak-gerik wanita di depannya itu, Zara hanya sedang menata piring dan juga gelas lalu menuangkan air ke dalamnya, hanya saja Davi tampak heran ketika menyadari Zara memakai pakaian yang terkesan rapi dan juga rambutnya yang di biarkan tergerai.
__ADS_1
"Apa mau keluar?" batin Davi melangkah maju.
"Loh kok belum mandi," kata Zara kala menyadari kedatangan suaminya.
Wanita itu terlihat kaget dengan kondisi suaminya yang masih dengan pakaian tidur semalam, celana pendek dan juga kaos berlengan panjang.
"Nanti saja, kamu mau kemana?" jawab Davi sekaligus memberikan pertanyaan kepada sang istri.
"Ikut kamu," sahut Zara seraya menyendokkan nasi ke atas piring di depan sang suami.
"Aku tidak kemana-mana," sahut Davi.
Zara yang sedang meletakkan nasi di piring pun menghentikan gerakannya dan menatap wajah suaminya yang masih terlihat kerutan di keningnya.
"Kantor, memangnya kamu tidak ke kantor?" cetus Zara bertanya.
"Tidak," sahut Davi seraya menggelengkan kepala, "kemarin juga aku sudah membawa pekerjaan dan hari ini pun Lugo akan mengantarkan beberapa dokumen yang kemarin tertinggal," lanjut Davi yang kini melihat perubahan mimik wajah pada wanita di depannya.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu takut aku mengganggu kamu dan wanita bernama Claire itu?" pertanyaan yang terkesan memojokkan itu terlontar begitu saja dari mulut Zara.
Sorot mata Davi pun makin memicing tak percaya jika sepagi ini Zara sudah mulai mencari masalah dengan menuduh dirinya yang bahkan dia tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu.
"Apa siiih Zaaaa, aku memang mau kerja dari sini," jelas Davi dengan nada suara yang terdengar gemas.
"Kalau memang mau kerja di sini kenapa kemarin ke kantor? apa memang mau bertemu dengan wanita.."
"Astaga Zaraa," Davi mendesah berat menahan kemarahan yang memang tidak sepantasnya dia keluarkan mengingat apa yang membuat Zara menjadi seperti sekarang ini.
"Sudah yaa, tidak usah membicarakan hal yang tidak penting lebih baik kita makan saja nanti makanannya keburu dingin," mengalah sudah jalan yang lebih baik ketimbang harus berdebat hingga berakhir dengan pertengkaran seperti yang sudah-sudah.
Zara menggigit bibir bawahnya menahan perasaan sedihnya agar tidak menangis, entah kenapa ia pun merasa memang akhir-akhir ini sudah keterlaluan tapi ia tidak mengerti bagaimana caranya untuk tidak memikirkan segala hal yang terus mengganggunya, mengusik segala pikirannya.
Tentang ketakutan yang sering kali muncul dan juga tentang rasa takut akan diselingkuhi oleh sang suami begitu membuatnya terkadang ingin menangis dan memprotes bahwa ia tidak pantas di sakiti.
*****
__ADS_1