
Setelah kejadian itupun Zara memang tak pernah lagi mendatangi rumah Davi, gadis itu membuktikan apa yang ia katakan dan yang diminta oleh Davi.
Entah apa yang dirasakan oleh Davi saat ini, bahkan ketika kedua Adiknya malah terus saja menanyakan tentang kapan Zara akan datang.
"Abang nggak tahu, kalian tanya sendiri aja sama dia." sahut Davi kesal dengan pertanyaan kedua Adiknya itu, pertanyaan yang sebenarnya juga mengusik perasaannya, kenapa Zara harus membuktikan ucapannya.
"Sini HP Abang." Anaya menadahkan tangannya di depan sang Abang.
"Mau ngapain?" kata Davi bingung kenapa Adiknya itu malah meminta HPnya.
"Mau telepon Kak Zara." kata Anaya ketus.
"Tadi kan Abang yang suruh kita buat tanya sendiri." Inaya menimpali.
Dengan sedikit ragu namun juga penasaran yang menghinggapi hatinya, Davi menyerahkan HP yang tadi sedang dia mainkan kepada si bawel Anaya.
"Bukain kunci nya Abang." ucap Anaya kesal karena Davi memberikan HP dalam keadaan di kunci.
Davi pun membuka kunci HPnya lalu menyerahkan kembali benda pipih itu ke tangan sang Adik yang langsung membuka WhatsApp Abangnya.
"Namanya apa Bang?" menanyakan Davi soal nama kontak Zara yang dia simpan.
"Zara." jawab Davi malas.
Dengan cepat tangan Anaya pun mengetik nama Zara dan nama itupun akhirnya muncul.
"Emang nggak ada fotonya ya Bang?" kali ini Inaya yang bertanya.
Kening Davi mengernyit mendengar pertanyaan dari Adiknya, tangannya pun bergerak untuk menarik HP itu guna melihat sendiri apa yang ditanyakan oleh sang Adik.
"Iya kali." tutur Davi setelah melihat memang WhatsApp Zara tidak lagi ada fotonya.
Davi masih mencoba untuk berpikir positif bahwa tidak mungkin seorang Zara balik memblokir nomornya setelah beberapa hari lalu dia membuka blokiran nomor Zara di HPnya.
"Masa ceklis satu." gumam Anaya ketika pesan yang ia kirim kepada Zara menampilkan centang yang hanya 1 saja.
"Lagi nggak ada kuota kali." seru Davi seraya mencebikkan bibirnya.
"Ya udah Kak telepon pake pulsa aja kalau gitu." Inaya memberikan saran yang dengan segera langsung dituruti oleh Anaya.
"Kok nggak aktif?" Anaya menampakkan wajah kecewa setelah mendengar operator mengatakan bahwa nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
__ADS_1
Baru setelah mendengar pernyataan Adiknya yang kedua kali Davi merebut HP miliknya dan mencoba untuk membuktikan pernyataan sang Adik.
Telinga Davi mendengar sendiri apa yang tadi di dengar oleh Adiknya.
Davi pun hanya bisa terdiam membeku mengetahui kenyataan yang dulu dia pernah lakukan terhadap Zara.
****************
"Pul." Irman memanggil anaknya yang baru turun dari kamar, karena libur panjang setelah ujian kenaikan kelas Ipul memuaskan dirinya untuk bermalas-malasan di dalam kamar.
"Kenapa Pah?" tanya Ipul seraya menuruni tangga dan menuju sang Papah yang duduk di ruang keluarga.
"Dua hari lagi Abang sepupu kamu akan berangkat ke Australia, kita harus ikut mengantarnya." ucap Irman memberitahu hal yang memang belum diketahui oleh anaknya itu.
"Abang sepupu? maksud Papah Bang Davi?" tanya Ipul memastikan.
"Ya iya Pul memangnya siapa lagi? kamu kan cuma punya Abang sepupu satu orang, sedangkan Kakak sepupu kamu yang lain itu perempuan." tukas Irman.
"Davi melanjutkan kuliah di sana." sambung Riska yang masuk membawa kopi untuk sang suami.
Mendengar itu Ipul malah memikirkan Zara, memikirkan apa sahabatnya itu sudah mengetahui tentang kepergian Davi yang pastinya akan memakan waktu bertahun-tahun.
"Oh iya Kata Tante Andini kalau kamu ketemu sama Zara di suruh ajak sekalian untuk mengantar Davi." pinta sang Mamah.
"Udah beberapa hari ini Zara tidak datang." Andini menjawab perkataan Ipul.
"Kan bisa telepon, Bang Davi nggak mungkin nggak punya nomor Zara."
"Nggak tahu deh kalau itu mah, Mamah cuma diminta untuk menyampaikan pesan sama kamu untuk mengajak Zara nanti."
"Kamu kasih tahu aja Zara." Irman ikut menimpali pembicaraan kedua orang terdekatnya itu.
"Iya." sahut Ipul akhirnya.
***************
"Lu baik-baik aja kan Za?" tanya Ipul ketika dia yang memang sengaja mengajak bertemu Zara.
Zara mengernyit mendengar pertanyaan sahabatnya yang terkesan mengkhawatirkannya.
"Baik Pul." sahut Zara memamerkan senyum khasnya.
__ADS_1
"Besok ikut gue bisa kan?" Ipul mulai membicarakan tujuannya menemui Zara.
"Ikut? kemana?" Zara mengerutkan dahinya.
"Bandara."
"Lu mau liburan?" tanya Zara heran.
Namun gelengan kepala dari Ipul malah membuat Zara makin kebingungan.
"Terus ngapain kita ke sana?"
"Masa lu nggak tahu Za." kata Ipul yang tidak percaya bahwa Zara tidak tahu apapun tentang kepergian Davi.
Zara malah menunjukkan wajah yang benar-benar tidak mengerti apapun dengan yang dibicarakan oleh Ipul saat ini.
"Bang Davi besok akan pergi ke Australia untuk kuliah." akhirnya Ipul mengatakan setelah dia yakin bahwa Zara memang tidak tahu tentang Davi yang memilih untuk kuliah di luar negeri mengikuti keinginan orang tuanya.
Jantung Zara langsung berdebar tak karuan mendengarnya, namun ia tetap berusaha untuk menyembunyikan keterkejutan yang ia rasakan saat ini.
Zara mengulas senyum.
"Gue nggak bisa Pul, ada yang harus gue kerjakan." tutur Zara menolak ajakan Ipul dengan alasan yang sebenarnya bohong.
"Tapi Tante Andini suruh gue ngajak elu Za."
"Salam aja sama Tante dan Om juga si kembar Pul, maaf gue nggak bisa ikut." terus menolak.
"Bang Davi pergi lama loh Za, bertahun-tahun. apa lu nggak mau lihat dia untuk terkahir kali karena kalian tidak akan bertemu sebelum dia lulus kuliah."
Zara menggeleng yakin dengan pilihannya saat ini.
Ia sudah berjanji untuk tidak akan lagi menemui Davi apapun yang terjadi.
Ipul mendesah pasrah dengan pilihan Zara, meski sebenarnya dia tahu Zara merasakan kesedihan karena lelaki yang dia sayangi akan berada di tempat yang jauh.
Sesungguhnya Ipul masih menyimpan perasaannya untuk Zara, namun dia tidak pernah mau untuk memaksa Zara membalas perasaan yang dia punya, dia tidak mau pertemanannya dengan Zara malah hancur karena dirinya.
"Ya sudah kalau itu memang keputusan lu Za." pungkas Ipul yang di menatap Zara sedang memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Gue antar lu pulang sekarang."
__ADS_1
"Oke." Zara mengangkat jempolnya dengan wajah riang meskipun di dalam hatinya ia sibuk menahan perasaan sedih yang terus saja mengerubungi dirinya setelah mendengar bahwa Davi akan berada di tempat yang jauh darinya.
*******************