Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 19


__ADS_3

Ipul langsung membawa motornya menjauh dari tempat yang begitu ramai itu dengan Zara yang berada di boncengannya.


setelah cukup jauh Ipul menghentikan motornya dan mengajak Zara untuk turun dan duduk disebuah warung pinggir jalan untuk membelikan Zara minum.


"Nih." Ipul menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Zara.


Meski ragu namun akhirnya Zara menerima minuman yang diberikan Ipul dan hanya memeganginya saja.


Tangannya memutar-mutar botol itu seperti sedang menghilangkan rasa kesal yang masih meliputi didalam hatinya karena merasa masih belum puas memberikan pelajaran pada Dinda yang dengan beraninya mencium pipi Davi, padahal wanita itu tahu Davi sudah menjadi kekasihnya tapi masih saja tidak tahu malu.


Ipul menggeleng-gelengkan kepalanya melihat penampilan Syaina yang terlihat kacau, baju yang kotor serta rambut yang berantakan karena saling menjambak dengan Dinda tadi.


"Lu ngapain siih Zaa, Zaa." Ipul menarik napas tak habis pikir dengan tindakan konyol Zara yang bahkan ditonton banyak orang terlebih ada yang merekam kejadian tadi.


Ipul sudah bisa menebak besok rekaman itu sudah akan berkeliaran di HP teman-teman mereka atau mungkin bisa saja trending di media sosial.


"Lagian dia nyerang gue duluan." Zara membela diri.


"Ya ngapain di ladenin." kesal Ipul sungguh tak habis pikir dengan apa yang ada didalam kepala Zara saat itu sampai-sampai melakukan tindakan bak seorang jagoan.


"Ya kalau nggak di ladenin tuh cewek malah semakin seenaknya Ipul, maen nyosor-nyosor aja ke cowok orang." ungkap Zara tentang kenapa ia sampai begitu tersulut emosi.


Ipul yang memang sudah ada ditempat itu bahkan saat Zara dan Davi baru datang nampak membuang wajahnya karena kesal Zara cemburu ada wanita lain yang mencium Davi.


Tidak tahu kenapa hatinya berdenyut sakit sekarang ini, padahal dari dulu dia hanya menganggap Zara seperti Adiknya saja.


Tapi ketika tahu Zara menyukai seseorang dan orang itu adalah kakak sepupunya yang terkenal sebagai anak berandalan membuat dia tidak terima, dia tidak rela Zara berdekatan dengan Davi.

__ADS_1


Sebenarnya bukan dia membenci Davi, tapi dia takut Zara harus menelan kecewa karena dia tahu Davi seperti apa.


"Gue antar pulang sekarang." ajak Ipul.


"Sebentar." ucap Zara.


"Apalagi?" tanya Ipul dengan wajah bingung.


"Gue mau telepon Davi dulu." jawab Zara yang tentu saja hal itu membuat Ipul mendengus dengan kasar karena tidak suka dengan Zara yang masih saja ingin menghubungi Davi yang sekarang sedang sibuk balapan.


Ipul lantas hanya duduk di atas motornya saja sedangkan Zara terlihat sibuk dengan HPnya untuk menghubungi Davi.


"Mana Zara?" tanya Davi yang baru saja menyelesaikan balap liarnya seraya membuka helm yang fullface yang dia pakai tadi.


"Dibawa Ipul." sahut Rian mengatakan apa yang dia lihat.


"Kok bisa?!" Davi begitu kaget mendengar pengaduan dari Rian.


"Iya tadi cewek yang lu bawa ribut sama si Dinda, nih gue ada rekamannya." teman Davi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara Davi dan Rian ikut menimpali seraya menunjukkan rekaman keributan antara Zara dan Dinda yang tidak dia ketahui.


"Ngapain sih lu rekam segala, norak tahu nggak lu." malah tak senang setelah melihat hasil rekaman yang menunjukkan perkelahian kedua cewek yang dia kenal.


"Lu lagi kenapa biarin Zara pergi sama Ipul?!" mata Davi mendelik marah, kesal karena Rian malah membiarkan Ipul membawa Zara tanpa berkata padanya.


"Gue nggak berani lah, dia kan Adik sepupu lu Dav." Rian membela diri.


"Ya terus kalau Adik sepupu gue emangnya kenapa? elu kan juga tahu gue nggak suka sama dia, lagian kan lu tahu alasannya apa sampai gue pacarin Zara." bentak Davi yang membuat Rian terdiam.

__ADS_1


"Iya sorry, abis gue ngeri kalau harus berhadapan sama sepupu lu itu." Rian mengaku salah dan terima Davi terus mengomel padanya.


Davi yang wajahnya terlihat begitu sangar mengambil HPnya yang menyala dan mengeluarkan getaran.


Dia langsung menjawab ketika melihat nama sang penelepon.


"Kamu dimana?" tanya Davi dengan cepat.


"Aku sama Ipul."


"Dimana? biar aku jemput." Davi sudah bersiap menuju motornya yang terparkir tidak terlalu jauh darinya.


"Nggak usah, aku pulang sama Ipul, kamu urus aja cewek kamu si Dinda." ujar Zara yang membuat Davi menjadi sewot.


"Ngapain bawa-bawa Dinda?!" ketus Davi yang memang merasa sudah tidak ada hubungan dengan Dinda lagi.


"Ya iyalah harus bawa-bawa dia, orang kamu diem aja waktu dicium sama tuh cewek." Zara berkata tajam mengingat apa yang terjadi tadi antara Davi dan Dinda.


"Kamu dimana sekarang!?" bertanya namun dengan nada membentak yang malah membuat Zara langsung mematikan HPnya.


Davi menggeram kesal dengan sikap Zara yang seenaknya saja mematikan telepon disaat dia tengah bertanya.


"Ayo Pul kita pulang." ajak Zara pada Saipul yang sejak tadi memang menunggunya seraya duduk di atas motor.


Dan tanpa berkata lagi Zara langsung naik ke boncengan motor Ipul dengan wajah yang masih merengut kesal karena ulah Dinda.


Ipul pun menjalankan motornya dan mengantarkan Zara pulang ke rumah.

__ADS_1


Sebenarnya meskipun Ipul memang kesal dan mendiamkan Zara selama beberapa hari namun tetap saja pemuda itu begitu khawatir dengan Zara terlebih saat dia tahu Zara pergi dengan Davi, saat itu juga dia langsung mengikuti motor Davi.


*******


__ADS_2