Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 151


__ADS_3

Saat makan malam sebenarnya Davi sudah menolak permintaan Zara untuk ikut makan bersama dengan dua wanita itu, bahkan Davi sudah memakai alasan pekerjaannya sedang sangat menumpuk, tapi dia bisa berbuat apa jika Zara terus memaksa dan malah semakin merajuk ketika dia menolak hingga akhirnya disinilah pria itu berada duduk bersama dengan Zara di sampingnya dan Aleyara tepat berada di seberang meja tempat dia duduk, artinya kini mereka saling berhadapan dengan Davi yang tak sekalipun melihat ke arah depannya.


"Aku masakin makanan kesukaan kamu Mas," Zara menyendok kan satu sendok penuh sayur capcay berisi udang.


"Jangan banyak-banyak sayang, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan, jika kamu memberiku makan seperti ini kapan aku akan selesai makannya?" protes Davi dengan suara rendah.


Terlihat jelas kalau pria itu memang enggan berlama-lama di meja makan, satu ruangan bahkan yang lebih parahnya berhadapan seperti ini dengan Aleyara di saat dia sudah berusaha untuk tidak bertemu lagi dengan wanita itu.


"Kamu lihat kan Aleyara, ini makanan kesukaannya tapi dia makan hanya sedikit, mungkin kalau bukan makanan kesukaannya suamiku ini tidak akan mau makan," celetuk Zara pada Aleyara yang tersenyum kaku.


"Bukan seperti itu sayang.."


"Sudah makan, Mas bilang tadi banyak pekerjaan yang harus di selesaikan," memotong perkataan sang suami seraya memberikan sendok ke tangan suaminya itu.


Setiap perlakuan Zara dan juga dia bisa melihat jelas bagaimana Davi mencintai Zara hanya menjadi tontonan bagi Aleyara, dia menahan napas setiap Davi menatap penuh cinta terhadap wanita di sampingnya. wanita hamil yang dulu meminta bantuannya untuk bisa menangani rasa trauma akibat pemerkosaan.


Setiap adegan dua orang itu tanpa sadar membuat Aleyara memegang sendok dengan semakin erat, setidaknya wanita ini sedang berusaha untuk menyalurkan perasaan tak suka pada setiap adegan di depan matanya.


Suasana ruang makan itu malah sangat hening hanya terdengar suara sendok yang sesekali bertemu dengan piring hingga menghasilkan bunyi dentingan.


"Kenapa aku merasa tempat ini sangat menegangkan ya?" celetuk Zara menyindir dua orang di dekatnya yang bahkan tidak saling menyapa apalagi berbicara.


Terasa sangat tidak masuk akal! padahal seingatnya dulu ketika tiap kali Davi menjemputnya pria itu akan terlibat obrolan dengan Aleyara, obrolan yang meskipun hanya membicarakan tentang kesembuhan dirinya, tapi setidaknya ada pembicaraan diantara keduanya, tidak seperti sekarang ini yang sama-sama saling membisu.

__ADS_1


Ding!


Suara bel dari pintu membuyarkan pikiran Zara tentang keanehan sikap dari suaminya.


"Mas mau kemana?" tanya Zara ketika Davi hendak beranjak dari duduknya.


"Buka pintu, itu pasti Lugo."


"Tidak perlu, biar aku saja Mas teruskan makannya saja," kata Zara lalu meminum air putih baru kemudian bergegas pergi meninggalkan Davi yang padahal sangat ingin pergi dari ruang makan ini, ketika ada kesempatan dia malah tidak bisa pergi karena Zara yang tidak membiarkannya.


"Kamu tidak sedang menghindari aku kan? semua akses komunikasi kamu tutup," ucapan Aleyara yang tidak pernah Davi sangka membuat pria itu menatap datar wanita di depannya.


"Aku tau kamu bukan seorang bajingan yang akan menghilang setelah tidur dengan wanita," cetus Aleyara membalas tatapan Davi.


"Lugo membawa berkas untukmu, aku sudah memintanya untuk makan malam bersama tapi pria itu menolak, katanya ada urusan yang harus dia kerjakan," suara Zara menghentikan pembicaraan keduanya.


Zara yang sebenarnya dari jauh sudah melihat interaksi keduanya berpura-pura tidak mengetahuinya, hanya saja ada segelumit rasa janggal yang kini mulai mengganggunya terlebih lagi ketika Davi tanpa mengatakan apapun langsung mengambil berkas yang dia sodorkan lalu pergi begitu saja menuju ruang kerjanya.


"Sepertinya tadi kalian mengobrol, obrolan apa?" tanya Zara.


Wanita yang mendapat pertanyaan seperti itupun hanya menggeleng seraya menjawab, "tidak ada yang penting, hanya obrolan biasa,"


Zara mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba untuk percaya pada ucapan Aleyara.

__ADS_1


Sepulang Aleyara, Zara langsung menghampiri ruang kerja suaminya, mengintip lebih dulu sebelum akhirnya masuk ketika melihat sang suami baru saja menutup berkas yang ada di meja.


"Wanita itu sudah pulang?" tanya pria yang kini kembali membuka berkas kedua yang mesti dia selesaikan malam ini juga.


Zara mengangguk seraya memberi jawaban, "sudah," jawabnya.


"Kalau begitu sebaiknya kamu istirahat, ini sudah malam," perintah Davi pada sang istri kala wanita itu mendekat.


"Sama kamu Mas, aku ingin tidur sama kamu," sahut Zara yang kini meraih gorden ruangan itu, hendak menutupnya namun Davi malah melarang.


"Jangan di tutup dulu aku masih belum selesai, kamu tidur saja duluan," menatap Zara tanpa ekspresi yang berlebihan.


Zara mendesah berat lalu membalas tatapan dari suaminya, "apa aku boleh bertanya?" tanya Zara mencoba untuk mengeluarkan apa yang sejak tadi jadi pertanyaan dalam hatinya saja.


Davi melepaskan pulpen yang sedari tadi terselip di tangannya sebelum bersuara, "apa?"


"Apa terjadi masalah antara Mas dan Aleyara?" entahlah, Zara hanya merasa ingin menanyakan hal itu ketimbang harus menyimpannya sendiri dan terganggu dengan pertanyaan itu yang mendadak terlintas setelah melihat interaksi dari suami dan psikolog nya.


"Tidak ada apapun, sebaiknya kita istirahat sekarang," Davi beranjak dari kursi kerjanya lalu menutup gorden dan menarik lengan Zara.


Zara termangu melihat tingkah suaminya, bukankah tadi pria itu mengatakan masih akan menyelesaikan pekerjaannya? lalu kenapa sekarang begitu cepat berubah pikiran? ada pertanyaan yang malah makin menjadi di dalam pikirannya, Zara merasa Davi seperti tengah menghindari pertanyaan yang tadi dia ajukan, menghindari membicarakan tentang Aleyara.


Dengan pikiran yang bercampur menjadi satu itu membuat Zara hanya mengikuti saja ketika Davi membawanya masuk ke dalam kamar dan memintanya untuk tidur sedangkan pria itu juga berbaring di sebelahnya menaikkan selimut untuk menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


******


__ADS_2