Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Haruskah aku mati#


__ADS_3

Kini, wanita cantik yang memiliki body gold itu tengah berada di sebuah resort yang sangat mewah, dia tidak ingin terus larut dalam kesedihan.


Mikaila ingin melupakan semua yang terjadi, hingga saat ia bisa mengembalikan keadaan.


Sementara itu seseorang yang kini berada di sebuah unit apartemen, pria itu begitu frustasi karena ternyata Mikaila sudah pergi setelah dia mengecek Cctv.


Dia adalah Vino, pria yang baru saja sadar jika perkataan nya sudah melukai hati wanita itu.


Sementara dirinya juga masih merasa kecewa namun dia tidak seharusnya melakukan itu, karena memang Mikaila belum mengatakan jika dia menerima Vino, sebagai kekasih nya.


Vino, bahkan sudah menelepon orang-orang yang selama ini menjaga Mikaila.


Namun semua nihil, tidak ada satupun yang tau dimana Mikaila berada saat ini.


Satu hal yang pasti, rasa bersalah itu semakin terasa saat Gidion jika juga mencari gadis itu.


Mikaila tengah duduk di balkon kamar nya, tepatnya di atas kursi kayu.


Wanita itu menatap langit malam yang begitu gelap, seperti keadaan hatinya saat ini.


Mikaila menitikkan air mata karena dirinya begitu merasakan kesepian.


Hingga satu Minggu telah berlalu, waktu itu masih berada di sana menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan kadang terdiam seharian di resort.


Mikaila tidak akan keluar jika moodnya benar-benar sedang buruk, dia merasa dirinya terlalu murah seperti yang Vino katakan.


Kata-kata Vino terus terngiang di telinga Mikaila.


Sementara itu di kediaman Gidion, pria itu tengah berbicara serius lewat telepon seluler.


Gidion meminta seseorang untuk menemukan Mikaila yang hilang bagaikan ditelan bumi.


Sampai saat ini sudah hampir sepuluh hari pria itu terus melakukan pencarian namun nihil tidak ada satupun dari orang nya menemukan Mikaila.


"Dimana? kamu honey, aku sangat merindukan mu."lirih Gidion.


"Kamu masih sangat merindukan dia sampai saat ini."lirih Inara.


"Maafkan aku sayang, aku tak bisa menutupi semua itu lagi, tapi aku janji akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua."ucap Gidion sambil membingkai wajah Inara.


"Aku tau itu tapi,,,, apa? tidak sebaiknya kita berpisah saja."ujar Inara.


..."Tidak Inara itu bukanlah solusi, justru itu akan sangat membahayakan keselamatan Mikaila, tidak, jangan lakukan itu."ujar Gidion....


"Itu tidak bukan urusan ku mas,,, kamu yang seharunya bisa melindungi dia jika memang kamu sangat menginginkan dia agar selalu ada di sisimu."ujar Inara.


"Aku tidak bisa melakukan hal itu Inara,,, Itulah kenapa? aku melakukan itu saat ini. aku menjadikan dirimu sebagai tameng untuk keselamatan Mikaila, aku mohon jangan pernah minta untuk berpisah dariku, aku akan melakukan apa saja untuk membuat mu bahagia dan aku akan memberikan semua yang kamu mau tapi tolong jangan minta perpisahan."ujar Gidion.

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak punya hati yang bisa merasakan sakit saat suamiku. sendiri memperlakukan ku seperti ini mas! aku pun wanita yang sama dengan wanita yang sangat kamu cintai,,, rasanya sakit' mas menjadi diriku ini, mencintai tapi tidak bisa memiliki."ujar Inara.


Sebenarnya tidak semua yang dikatakan oleh Inara itu benar, dia memang merasakan sakit karena mencintai tapi tanpa balasan seperti saat ini, tapi bukan Gidion pria itu. melainkan pria yang berinisial v.


"Kamu,,, mencintai aku silahkan akupun akan tetap berusaha untuk adil dengan kalian berdua."ujar Gidion.


"Apa? begini yang kamu sebut adil."ujar Inara.


"Heumm,,, aku tau aku salah akan ku coba untuk perbaiki semuanya."ujar Gidion.


Jika saat ini, perdebatan sedang terjadi pada Gidion dan istrinya. maka lain halnya dengan Vino yang berhasil menemukan keberadaan Mikaila setelah dua belas hari melakukan pencarian.


Vino langsung bergegas menuju pulau pribadi milik Kenzie yang kini tengah ditempati oleh putri sambungnya itu yang tak lain adalah Mikaila.


Sesampainya di sana setelah menempuh perjalanan empat jam lebih pria itu langsung bergegas mencari keberadaan Mikaila yang ternyata tengah menyusuri bibir pantai dengan pasir putih itu.


"Apa? kamu tidak punya hati sama sekali, saat ini bahkan bukanya memberikan penjelasan kamu malah pergi meninggalkan ku."ujar pria tampan yang kini berdiri di hadapan Mikaila dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung pria itu.


Mikaila masih terdiam, tanpa merespon kata-kata pria itu.


"Ini adalah hari terburuk bagiku bahkan wanita cantik yang sangat kucintai kini tak mau lagi bicara padaku."ujar Vino.


Mikaila langsung pergi meninggalkan pria itu.


"Mika."ujar Vino.


"Maaf wanita murahan tidak pantas berbicara dengan anda."ujar Mikaila.


Mikaila berbalik dan melangkah pergi baru beberapa langkah, tiba-tiba Mikaila membentur dada bidang Vino. karena pria itu menariknya dengan sangat cepat.


"Maaf kan aku,,, aku tau aku salah karena aku sudah menyakiti hati mu. tapi saat itu aku pun terluka melihat mu bersamanya begitu mesra. aku benar-benar terluka Mika."ujar Vino.


"Sebaiknya buang perasaan mu itu, karena aku bukan orang yang pantas untukmu, aku kotor dan aku juga bukan wanita yang sepadan dengan mu."ujar Mikaila yang berusaha melepaskan diri.


Namun bukan Vino namanya jika dia menyerah begitu saja.


"Aku siap menjadi Arman, jika kamu menghindari ku sebagai Vino."ujar pria itu.


"Arman atau pun Vino, bagiku sama saja tidak ada bedanya."ujar Mika.


"Yank,,, aku sudah minta maaf."ujar Vino.


Mikaila langsung pergi meninggalkan Vino menuju resort yang sangat indah untuk dijadikan sebagai tempat bulan madu.


"Yank,,, kamu tidak bisa menghindari ku lagi."ujar Vino.


"Berhenti memanggilku seperti itu tuan."ujar Mikaila.

__ADS_1


"Yank!."teriak Vino.


Mikaila tidak menggubris Vino, hingga pintu hampir di tutup rapat tiba-tiba Vino langsung menerobos masuk tanpa bisa dicegah.


"Mikaila aku tidak suka kamu seperti ini, Yank,,, aku sudah minta maaf dan untuk lebih meyakinkan keseriusan ku ayo kita menikah sesegera mungkin jika perlu besok pagi atau malam ini."ujar Vino tegas.


"Tidak,,, aku bahkan tidak akan pernah mau meminta tanggung jawab pada siapapun jika janin itu benar-benar tumbuh di sini, aku sudah berjanji akan membesarkan anak itu jika memang dia ada."ujar Mikaila.


"Apa? yang kamu katakan Mika,,, jangan katakan jika kamu dan dia benar-benar rujuk."ujar Vino.


"Bukan rujuk lebih tepatnya aku dipaksa untuk mengandung anak kami,,,, dia perkosa aku dihari kamu melihat ku bersama dengan nya, semua sudah terjadi sebelum aku bertemu kamu Vino aku kotor. dan aku sudah berjanji padanya untuk tidak berhubungan dengan pria manapun sekalipun itu kamu! dia akan bunuh diri jika itu terjadi."teriak Mikaila yang kini terlihat sangat terpukul dan ketakutan.


"Bajingan! ahhhhhh kenapa? semua ini harus terjadi."teriak Vino frustasi.


Pria itu memukul-mukul dinding meluapkan amarahnya yang terlihat berkobar-kobar itu.


"Stop tuan,,, sebaiknya jangan melakukan hal bodoh sekarang anda bisa kembali. memperbaiki pernikahan anda dengan nya, jangan buang-buang waktu untuk wanita kotor seperti diriku ini."ujar Mikaila.


Vino pun menggeleng dia menghentikan aksinya. pria itu berbalik menghadap Mikaila.


"Ayo,,,, kita menikah aku tidak peduli janin itu tumbuh atau tidak yang jelas aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi."ujar Vino.


"Tidak sebaiknya kamu pergi, aku tidak ingin orang lain mati sia-sia karena diriku. aku mohon mengertilah."ujar Mikaila.


"Baiklah jika seperti itu, lebih baik aku yang mati."ujar Vino yang beranjak dari hadapan Mikaila.


"Kak,,, jangan lakukan itu aku mohon jangan please kak jangan."ujar gadis itu yang kini mengejar Vino yang berjalan menuju bibir pantai.


"Kak,,, jangan tambah lagi dosa-dosa ku, aku mohon aku sudah tidak sanggup lagi menanggung ini semua jika kamu juga bunuh diri karena aku."ujar Mikaila yang berlari berusaha meraih tangan Vino.


"Vino baiklah-baiklah kita akan menikah tapi setelah anak ini lahir aku mohon, tunggu sampai saat anak ini lahir, setelah itu kita akan segera menikah."ujar Mikaila.


"Besok atau aku benar-benar akan bunuh diri."ujar Vino.


"Baiklah-baiklah terserah kamu saja."Mikaila yang kini duduk di atas pasir saking kesalnya karena tidak bisa bisa memilih, Mikaila menangis sesenggukan di sana hingga Vino mengangkat tubuh Mikaila dia membawa Mikaila ala bridal style.


Sampai tiba di dalam resort tersebut Mikaila pun akhirnya diturunkan tepat di atas ranjang empuk itu.


Vino berjongkok di Mikaila dia membingkai wajah cantik itu.


"Honey maafkan aku, aku benar-benar sangat mencintai mu tolong jangan menangis lagi, aku benar-benar sangat mencintai mu Mikaila sayang aku mohon jangan abaikan aku apapun adanya kamu aku masih sangat mencintai dirimu."ujar Vino.


"Kakak bisa katakan apapun saat ini, tapi nanti saat semua sudah terlanjur menikah aku yakin kamu akan menyesali semua itu, apalagi jika janin itu benar-benar tumbuh di rahim ku, siapa? yang akan menerima darah daging orang lain setulus itu, tidak akan pernah ada kak, jika pun kakak benar-benar membuktikan kata-kata itu, dan kakak tidak pernah mengungkit masa lalu aku yakin akan mengganjal di sini, jadi sebaiknya pikirkan baik-baik sebelum penyesalan itu ada."ujar Mikaila panjang lebar.


"Mika,,, aku tidak akan pernah seperti itu, aku janji tolong menikahlah denganku meskipun kamu tidak benar-benar mencintai ku."ujar Vino.


"Bukan masalah cinta dan tidak nya, aku benar-benar bingung harus bagaimana? bagaimana,,, caranya aku menghadapi Dion, dia pun sama-sama keras kepala seperti mu kak, aku harus bagaimana, aku tidak ingin menyakiti siapapun. apa? aku harus mati biar kalian tidak lagi menginginkan aku."ujar Mikaila.

__ADS_1


Air mata pilu itu benar-benar terus keluar deras hingga akhirnya pria itu mencium bibir Mikaila.


Mikaila sempat ingin melepaskan diri dari Vino namun lagi-lagi rasa itu tidak bisa ia hindari, Mikaila menepuk baru Vino berulang kali hingga ciuman itu terlepas.


__ADS_2