Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Kabur ulang#


__ADS_3

Zaid pun melangkah dengan gontai, hatinya sungguh sangat lesu karena Luna tidak mau ikut dengannya sampai saat jahit masuk ke dalam mobil alun-alun langsung berlari menuju kamarnya Gadis itu menangis bisa jadi-jadinya dia menyesal karena telah meninggalkan Zaid saat itu saat di mana laluna merasa cemburu karena telah ditinggalkan oleh jahit yang tengah mencari calon istrinya itu.


"Masuklah,,, dia tidak akan pernah ikut denganmu karena saat ini Aluna masih merasa bingung atas perbuatanmu waktu itu, sudah kubilang harus dipikirkan lebih matang sebelum bertindak tapi kau terlalu gegabah begitulah akhirnya sekarang wanita itu bahkan tidak ingin lagi ikut denganmu karena dia takut dicampakkan seperti saat itu saat kau mencari calon ibu untuk anak-anakmu."ujar Vino yang menarik tangan Zaid.


Sementara itu gadis yang mereka bicarakan saat ini tengah berdiri di balkon kamarnya. Aluna menetap ke arah mereka yang tengah berbincang .


Aluna pun menitipkan air mata karena saat ini dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Zaid meskipun Alunan tidak terlalu mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Namun rasa takut kehilangan bayi itu begitu besar di dalam hatinya.


"Zaid aku ikut."lirih Aluna.


Bertepatan dengan kepergian mobil itu Aluna kembali berlari kebawah dan hendak menyusul pria itu, namun langkahnya terhenti saat melihat sang Daddy yang kini menatap ke arah nya.


"Mau ke mana Adeline ini sudah larut, sebaiknya kamu pergi istirahat jangan buat Daddy jangan buat rumah ini kembali sepi lagi tetap tinggal di rumah bersama Daddy."ujar Tuan Gultom.


"Daddy bisa cari mommy dan kalian bisa tinggal bersama, aku juga ingin tinggal bersama Zaid. hanya dia yang bisa mengerti Aluna Daddy selalu pergi-pergi jadi tidak pernah tinggal di rumah aku kesepian! tapi jahit selalu membawa Luna pergi kemanapun dia melangkah dia juga selalu mengurus semua kebutuhan Luna. tidak seperti Dedi selalu saja asisten yang bekerja Aku ingin tinggal sama Zaid kalau Daddy rindu sama Luna jadi tinggal datang saja ke sana." ujar Luna.


Tuan Gultom hanya menggeleng pelan karena tidak menyangka ternyata putrinya selama ini merasa kesepian tanpa perhatian darinya.


Bukan dia tidak ingin memperhatikan putrinya secara langsung tapi urusan bisnisnya lebih membutuhkan dirinya.


Karena Luna sampai saat ini belum juga bisa berpikir dewasa dan mewarisi semua itu.


Tuan Gultom berharap suatu saat nanti jika anak gadisnya tidak kunjung berubah, dia berharap akan ada jodoh Aluna yang bisa mengurusi semuanya dan bertanggung jawab atas kehidupan putrinya itu kelak.

__ADS_1


Sampai saat dia menutup mata nanti pria itu berjanji tidak akan pernah memberikan Aluna atau Adelin, seorang Ibu sambung karena bukan tidak mungkin wanita yang baru datang dalam kehidupannya itu tidak akan menerima putrinya yang berbeda dari gadis lain pada usianya.


Adelin pun langsung pergi menuju kamarnya, tapi bukan untuk beristirahat seperti yang diucapkan oleh sang Daddy. melainkan untuk bereskan pakaiannya ke dalam koper sendirian tanpa bantuan siapapun yang biasanya membantu dirinya.


Adelin ingin pergi dari rumah itu untuk tinggal bersama Zaid.


Aluna benar-benar tidak bisa jauh darinya terbukti selama ini dia selalu minum obat tidur untuk bisa memejamkan mata mengistirahatkan pikirannya yang selalu tertuju pada pria itu.


Adeline sudah selesai berkemas, saat itu juga dia meminta tuan Gultom untuk mengantarkan dirinya ke rumah Zaid atau Vino.


"Sayang apa kamu sudah memikirkan itu lebih dulu. rumahnya jauh tidak bisa ditempuh dengan jarak hanya dalam waktu 1 jam. lagi pula Untuk apa kamu di sana bukankah kamu juga punya rumah dan dia bisa datang berkunjung ke sini kapanpun dia mau." ujar Tuan Gultom.


"Tidak Dedi Aku ingin tinggal bersamanya sekarang juga tolong antarkan aku ke sana setidaknya daddy bisa minta asisten Daddy."ujar Aluna.


"Aluna akan pulang ke sini Daddy dan Zaid akan mengantar Aluna pergi."ujar Adeline memaksa.


"Heumm baik'lah tapi tunggu disini."ujar tuan Gultom.


Adeline pun mengangguk, sementara pria itu pergi menuju kamarnya untuk mengambil sebuah alat pelacak agar putrinya tidak lagi hilang jika sewaktu-waktu dia pergi tiba-tiba.


Sebuah gelang cantik yang tuan Gultom rancang sendiri, dia berjalan penuh wibawa mendekat ke arah putrinya itu.


"Gunakan ini untuk melindungi dirimu jangan pernah dilepas siapapun yang meminta Jangan pernah lepaskan ini dari tanganmu Daddy membuat ini dengan penuh rasa sayang untuk Putri Daddy yang cantik ini. dengarkan Daddy baik-baik sayang, jika suatu hari nanti kamu ingin kembali ke sini kamu bisa memijat tombol yang ada di sini di bawah gelang ini ada tombol merah, kamu bisa pijit tombol itu untuk mencari bantuan dan saat itu juga Daddy dan asisten Daddy akan datang menjemput mu sayang."ujar tuan Gultom.


"Terima kasih Daddy Aluna sangat sayang sama Daddy semoga Daddy selalu berumur panjang dan sehat selalu Aluna berharap Daddy akan selalu mengunjungi Aluna kapanpun Aluna ingin bertemu Daddy."ujar Gadis itu seakan ia telah dewasa.

__ADS_1


"Tentu putriku kapanpun itu Daddy akan datang dan jaga dirimu baik-baik ingat jika ada apa-apa segera tekan tombol itu agar daddy tahu di mana posisimu saat itu." ujar Tuan Gultom.


Aluna pun mengangguk, dan asisten pribadi Tuan Gultom sudah menyiapkan mobil pria itu dengan sigap membawa koper Aluna dan di masukkan nya kedalam bagasi mobilnya. sementara Gadis itu masih memeluk Daddynya itu.


Sampai Aluna masuk ke dalam mobil, Tuan Gultom tetap setia berdiri menatap ke arah putrinya yang tidak tersenyum ke arahnya. dan memberikan salam perpisahan.


Lalu tuan Gultom berkata dengan lantang.


"Segeralah kembali Jika kamu sudah tidak betah di sana! karena rumahmu yang sebenarnya ada di sini."ujar pria paruh baya itu.


Aluna pun menitikkan air mata dia bingung antara Ayahnya dan juga Zaid keduanya adalah pria yang sangat berharga bagi dirinya.


Namun dia lebih merindukan Zaid saat ini padahal pria itu baru saja pergi.


Sampai akhirnya mobil itu berlalu pergi barulah kan Gultom masuk ke dalam rumahnya.


Pria itu merasa sangat kesepian, namun dia tidak ingin kebahagiaan putrinya terganggu.


Dia yakin, Zaid adalah pria yang baik yang selama ini selalu menjaga putrinya dan akan selalu menjaganya sampai Aluna tak lagi menginginkan dirinya.


Ada tetesan air mata yang turun dari sudut mata tuan Gultom saat ini, andaikan saja sang istri tidak pergi lebih dulu, mungkin saat ini keluarganya adalah keluarga yang sangat berbahagia karena memiliki anak gadis secantik itu.


Kecantikan Aluna yang mirip dengan almarhum ibunya, mungkin sifat Aluna tidak akan seperti saat ini.


Sudah menginjak dewasa, namun dia masih bersikap seperti gadis belia yang baru menginjak usia lima belas tahun.

__ADS_1


__ADS_2