Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Tanggung jawab#


__ADS_3

"Rumah kita jaraknya tidak terlalu jauh honey."ucap Arvin.


"Iya juga ya."ucap Shania sambil terkekeh geli." mereka pun tiba di lobby Mension tersebut.


Arvin turun lebih dulu dia langsung berlari kecil menghampiri pintu mobil dimana calon tunangannya itu berada.


"Ayo turun Honey..."ucap Arvin.


"Gendong lelah."ucap Shania.


"Ih sudah besar juga."ucap Arvin sambil memencet hidung Shania pelan.


"Ih, jangan pegang-pegang operasi plastik mahal tau."ucap Shania pura-pura marah.


"Yank,,, kamu beneran operasi plastik."ucap Arvin.


"Ye...cek saja jika tidak percaya ini asli madein tuhan yang maha kuasa."ucap Shania.


"Tadi kamu bilang oplas mahal."ucap Arvin sambil menggendong Shania.


"Ya kan kalau tiba-tiba hidung aku tersakiti dan rusak aku harus jalani operasi plastik, ih semoga saja tidak aku takut dengan semua itu."ucap Shania.


"Bersyukurlah punya wajah yang sempurna, kamu bisa punya mata yang melihat, kamu juga bisa punya hidung bisa mencium bau dan semua berpungsi dengan semestinya."ucap Arvin.


"Plus cantik bukan."ucap Shania yang kini menggoda Arvin.


"Heumm....bisa iya bisa juga enggak."ucap Arvin.


"Ya, sudah jujur saja aku cantik atau jelek."ucap Shania.


"Cantik sih tapi."ucapan Arvin sengaja di hentikan.


"Tapi apa?."tanya Shania.


"Gak jadi deh."ucap Arvin.


"Ya, sudah turunin aku, ngambek nih."ucap Shania sambil cemberut.


"Hahaha... belum apa-apa dah ngambek."ucap Arvin.


"Habis kamu gak jawab."ucap Shania.


"Yang mana sayang."tanya Arvin.


"Yang tadi kata tapi gak di terusin."ujar Shania.


"Tapi aku sayang... maksudnya."ucap Shania.


"Heumm..."ucap Shania.


"Sudah dapat jawabnya."ucap Arvin yang kini menurunkan Shania dihadapan semua orang yang kini terlihat tegang karena tengah terjadi perdebatan antara Kenzie dan Kenzo yang sudah menyembunyikan semua kebenaran tentang Gerald selama ini.


Sementara Kenzie terus membela putranya dan juga meminta sang Daddy untuk bisa menerima semuanya karena nyatanya Gerald sudah memiliki dua anak yang sangat lucu dan menggemaskan itu.


"Kalian sudah datang langsung naik keatas saja."ucap Sanum yang tidak ingin mereka mendengar perdebatan yang cukup alot itu apalagi kini Gerald kini tengah menenangkan Anggun yang ingin pergi dari Mension karena dia merasa sangat rendah dimata Kenzo yang kini tengah marah besar itu.


Arvin pun mengikuti Shania yang kini berjalan menuju pintu lift mereka hendak menunggu diatas.


Sementara itu Gerald yang kini tengah menghalangi langkah Anggun yang hendak pergi membawa kedua anaknya.


"Yank, please jangan seperti ini, aku ikhlas kehilangan apapun asal jangan kamu dan anak kita."ucap Gerald.


"Tidak Ge, kamu berhak bahagia dengan semua yang kamu miliki maafkan kami yang telah hadir kedalam hidup mu."ucap Anggun yang kini benar-benar sudah pasrah jika harus kehilangan Gerald pria yang selama ini ada dan terus menjaga mereka bertiga.


"Kamu bicara apa? sih yang,,, aku tidak mungkin melepaskan kalian bertiga."ucap Gerald yang kini mendekap ketiganya.

__ADS_1


Shania yang sempat berhenti melihat perdebatan yang pun akhirnya ikut bicara.


"Ma untuklah kak Anggun, biar Shania yang bicara dengan Opah."ucap Shania.


"Tidak Shania jangan sampai kamu mengalami hal yang sama, karena opah tidak akan pernah bisa dibantah."ucap Gerald.


"Tapi bagaimana? dengan nasib kakak dan juga mereka bertiga."ucap Shania.


"Biar kakak pergi bersama dengan mereka, kakak siap jika harus kehilangan semuanya."ucap Gerald.


"Maafkan aku jika ikut campur sebaiknya kakak ikuti dulu kemauan opah, setelah semua selesai nanti kita akan cari jalan keluarnya."ucap Arvin.


"Tidak aku tidak bisa membiarkan istri dan kedua anakku terlantar, biar kami pergi bersama."ucap Gerald.


"Tidak sayang, kalian akan tetap bersama, biar Omah yang bicara dengan Opah mu sekarang juga ."ucap Mariana.


Mariana langsung turun kebawah untuk menemui Kenzo yang saat ini terus berdebat dengan putranya itu.


"Stop, jangan berdebat lagi, semua sudah jelas dan nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin kembali menjadi beras."ucap Mariana.


"Honey... apa? yang kamu katakan."ucap Kenzo.


"Apa? setelah semua ini terjadi kamu masih mau membahas soal retu! lagipula apa? yang selalu diperdebatkan lagi pula jika masalah harta kita tidak akan kekurangan apapun cucu dan anak kita semua juga masing-masing sudah memiliki itu semua."ucap Mariana.


"Sekarang begini saja, jika kamu terus memperkarakan masalah Gerald aku juga akan pergi bersama dengan mereka."ucap Maria.


"Sayang kita bisa bicara baik-baik oke, oke aku tidak akan pernah mempermasalahkan soal itu Gerald akan tetap bersama dengan kita."ucap Kenzo yang semakin tidak ingin istrinya menjauh akhirnya mau menerima semua itu.


Gerald yang hendak pergi bersama dengan Anggun pun dicegah oleh Mariana.


Mereka pun kembali kedalam kamar.


Sementara itu di ruangan santai yang berada di atas kini kedua sejoli yang tengah duduk berhadapan di depan meja mereka tengah memainkan sebuah permainan dan yang kalah akan dicoret wajahnya dengan menggunakan lipstik milik Shania.


"Nona muda, tuan meminta anda berdua turun."ucap pelayan tersebut.


"Ya, kami kesana sekarang."ucap Shania.


"Heumm... baiklah-baiklah sayang jadi kita seri ."ucap Arvin.


Arvin pun beranjak dari duduknya dia berjalan beriringan dengan Shania.


Sesampainya di bawah suasana telah ramai karena kini tengah persiapan untuk makan malam keluarga besar tersebut.


Shania duduk di samping Arvin semua orang kini tengah mendengarkan Kenzo sedang berbicara pada mereka semua tentang makan malam bersama yang kini diadakan.


Pertama untuk merayakan pernikahan Gerald dan juga Anggun, dan yang kedua adalah untuk acara pertunangan yang akan Arvin dan Shania jalani.


Pria itu tidak menyebutkan kapan pesta itu di mulai.


Kenzo yang sudah berbicara dengan Kenzie kini ikut merahasiakan pesta kejutan tersebut.


Makan malam pun dimulai, semua orang sibuk dengan perbincangan mengenai pesta tersebut, terutama Shania yang meminta sang daddy untuk mengabulkan semua.


Namun Arvin bilang bahwa dirinya yang akan membiayai pesta tersebut sebagai tanggung jawab dari seorang calon suami.


Shania pun tersenyum manis pada Arvin, saat itu Kenzie bilang bahwa Arvin tidak perlu mengurus pesta pertunangan ataupun pernikahan nanti, namun Kenzie bilang bahwa Arvin hanya harus memenuhi permintaan Shania setelah menikah nanti.


Kenzie tahu itu saja akan membuat Arvin kewalahan.


"Tapi daddy kenapa? harus kak Arvin yang menanggung biaya hidup aku nanti."ucap Shania yang kini kebingungan.


"Tentu saja Sayang karena setelah menikah tanggung jawab daddy berpindah pada suamimu."ucap Kenzie.


"What... daddy."

__ADS_1


.........................


Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat Shania yang kaget saat mendengar bahwa ia sudah tidak akan dinafkahi lagi oleh Kenzie.


"Itu tidak adil mommy nasehati daddy bagaimana? bisa Daddy lakukan itu."ucap Shania merengek.


"Ya, gampang saja jika kamu ingin tetap menjadi tanggung jawab daddy kamu tidak usah menikah."ucap Kenzie.


"Tapi Shania cinta sama kak Arvin Daddy."ucap Shania.


"Sayang memangnya kenapa? jika tanggung jawab itu beralih padaku, aku juga bisa menghidupi mu! ya... meskipun hanya memberikan mu makan dan minum."canda Arvin.


"Kamu bercanda yank, aku itu masih masa pertumbuhan tau aku butuh pakaian yang baru dan juga butuh beli skincare.... bukanya aku harus tetap kelihatan cantik ya jika sudah menikah apalagi jika sudah memiliki anak."ucap Shania.


"Heumm,,, kamu benar sayang tapi aku cinta kamu apa adanya."ucap Arvin yang langsung dapat ejekan dari semua orang yang ada di sana yang kini terkekeh berjamaah.


"Tidak mau yang nanti kulit aku kering."ucap Shania.


"Ya, siram pakai air agar basah kembali."ucap Gerald.


"Ah kalian jahat."ucap Shania yang hendak beranjak dari duduknya.


"Shania sayang, aku masih bisa bekerja keras untuk menghidupi mu tapi aku tidak janji bisa memenuhi segala keinginan mu mungkin semampu yang aku bisa."ucap Arvin.


"Tidak apa-apa, sisanya aku mohon minta opah saja."ucap Shania.


"Opah tidak punya apapun lagi, semua sudah diserahkan kepada daddy mu."ucap Kenzo.


"Ah,,, bagaimana ini?."ucap gadis itu.


"Jika kamu ragu dengan semua itu, sebaiknya kita batalkan saja pertunangan nya."ucap Arvin yang langsung membuat semua orang terdiam.


"Shania sudah dengar kan pertunangan itu batal."ucap Mariana.


"Ah... kalian semua jahat!! aku benci semuanya."ucap Shania yang langsung pergi sambil menangis.


Sementara semua orang tersenyum dan saling memberi isyarat.


Sementara Arvin sebenarnya tidak tega melakukan itu semua tapi semua rencana Kenzie dan keluarganya agar Shania bisa lebih bersabar. pesta pertunangan itu diadakan besok pagi bahkan Arvin pun tidak tahu akan hal itu.


Setelah semua selesai makan malam, Arvin langsung pamit pulang menuju kediamannya.


Arvin tidak menemui Shania dulu, dia di larang oleh Kenzie agar semua terlihat sempurna.


Sementara Shania saat ini masih menangis sesenggukan ditemani oleh kakak iparnya Anggun.


Julia juga sudah tiba di bandara bersama dengan keluarga kecilnya dan juga Zaid dan sky.


Tidak lupa Aluna dan ketiga bayi menggemaskan ikut serta bersama dengan suaminya Zaid.


Sementara Sky kini datang dengan kedua putranya dan salah satu rekan satu profesinya.


Sky tidak ingin sendirian di pesta tersebut karena itu sudah pasti pesta pasangan .


Juli dijemput oleh sopir pribadi Kenji dan dua mobil lainnya sana di kendarai oleh asisten Vino dan Zaid yang ada di Indonesia.


Semua sedang berada di perjalanan menuju Mension Kenzie.


Kenzie yang kini tengah mengobrol dengan Sanum pun sesekali melirik ke arah kamar milik putrinya Shania yang baru saja tidur setelah menangis dalam waktu yang lama.


Gadis itu baru bisa berhenti menangis saat Sanum bilang akan berbicara pada Arvin.


Sementara Julia dan yang lainnya hanya terkekeh kecil saat mengetahui yang terjadi pada Shania.


Mereka akan membuat kejutan yang begitu besar saat pesta pertunangan nanti.

__ADS_1


__ADS_2