
Kini Sanum, hanya bisa pasrah apapun, yang terjadi wanita itu, akan tetap pergi, dan hidup seorang diri, Sanum, pun memutuskan untuk pulang ke negaranya, dia pergi menuju Mension, milik ibunya, sementara rumah besar itu tetap kosong, rencananya Sanum, akan mengontrakkan rumah tersebut.
Mengenai, hubungan nya dengan Kenzie, dia tidak ingin memikirkan hal itu lagi, jika Kenzie, datang ke rumah, dia punya suami, tapi jika Kenzie, pergi berarti dia adalah janda, itulah pemikiran Sanum, sudah cukup drama yang menguras air mata itu, selama ini dia jalani, kedepannya tidak ada lagi.
Sanum, hanya berdoa semoga,kelak hidup nya akan jauh lebih baik, meskipun dia hidup sendiri.
Sanum, pun tiba di Mension, yang memiliki kenangan masa lalu bersama dengan sang ibu, dia langsung masuk kedalam rumah besar yang terlihat begitu sepi itu, karena para pelayan tidak ada di sana, hari ini adalah hari libur mereka semua.
Sanum, berjalan masuk, menuju kamar utama nya, dia pun meletakkan koper-koper tersebut sendirian, dan merebahkan tubuh yang terasa sangat lelah setelah perjalanan jauh, dari Amerika.
"Selamat datang bahagia"monolog nya dalam hati.
Sanum, pun memejamkan mata nya, wanita itupun terlelap dalam tidur nya.
Sanum, masih tertidur, saat Kenzie, datang pria itu tau istrinya pulang ke negara mereka, karena Kenzie, sempat mengecek data penumpang, pesawat setelah Sanum, pergi dari hotel tersebut.
"Sayang kamu dimana"ucap Kenzie, saat dia tiba di dalam Mension, tersebut.
Kenzie berjalan menuju kamar Sanum pria itu melihat pintu kamar Sanum, terbuka dan melihat istrinya tengah terlelap di atas ranjang nya.
__ADS_1
"Sayang kamu begitu ceroboh bagaimana jika, ada orang lain masuk"ucap Kenzie.
Pria itu pun berbaring di samping Sanum, dengan posisi menyamping dan memeluk istrinya itu, Kenzie, mengecup bibir istrinya, yang tengah terlelap, seakan semua baik-baik saja.
Hingga tidurnya terusik, hanya karena gara-gara, ulah Kenzie, yang tidak bisa diam, Sanum, yang membuka mata pun, hanya terdiam dan menatap lekat wajah pria yang kini berada di hadapan nya.
"Sayang, aku rindu"ujar pria itu.
Kenzie, bersikap seolah tak ada yang terjadi, padahal jelas-jelas mereka, sudah bertengkar hebat sebelumnya hingga Sanum, pergi dari hotel tempat mereka menginap di Amerika.
"Hi...sayang kenapa? melamun seperti itu"ucap Kenzie.
"Sadar, maksud nya, apa sayang"ucap Kenzie.
Pria itu pura-pura lupa, karena ingin membuat Sanum, berhenti bicara dan melupakan semua nya.
Sanum, bangkit dari ranjang nya, dan pergi menuju kamar mandi.
"Yang, ikut"ucap Kenzie, yang kini mencegah langkah wanita itu.
__ADS_1
"Tidak,, jika kamu ingin mandi, mandilah duluan"ucap Sanum.
"Sayang, aku mau mandi bareng"ucap Kenzie.
"Aku tidak mau"ucap nya.
"Ayolah yang"ujar Kenzie, yang menggendong tubuh Sanum, yang kini oleng karena Sanum, berontak, tapi kemudian dia pun, langsung bisa kembali seimbang dan Kenzie membawa Sanum masuk kedalam kamar mandi tersebut.
Sanum, hanya bisa menghela nafas panjang, pria itu tidak akan pernah melepaskan dirinya, wanita hanya bisa pasrah kemana pun nasib membawa nya.
Sementara itu Allan dan Queen, kembali berbaikan setelah Kenzo, turun tangan bersama dengan Adri, ayah Allan.
Mereka bahkan menyingkirkan wanita yang sudah membuat Allan dan Queen, ribut besar hingga Queen, ingin mengakhiri hidup nya.
Sementara itu, saat ini Queen, tengah berbadan dua, bahkan dia mengandung bayi kembar, Allan, yang mengetahui itu langsung berubah menjadi lebih baik, dia begitu antusias, saat ini bahkan Queen, dilarang untuk melakukan apapun, dia hanya boleh duduk istirahat dan makan juga minum dia yang akan mengambilnya, sementara perusahaan Allan, kini ditangani oleh Devan, dan juga Adri, pria itu begitu antusias saat tau bahwa mereka akan memiliki cucu.
Begitu juga dengan Deswita.
Mereka seakan tak pernah mau jauh dari Queen sementara j
__ADS_1