
Lamaran itu Mikaila tolak karena dia tidak ingin mengulang kesalahan itu kembali, biarlah dia hidup sendiri meskipun tidak menikah lagi sampai nanti.
Vino,, tidak menyerah hingga berulang kali dia menyatakan cinta nya, dia ingin Mikaila benar-benar menjadi miliknya hingga akhirnya dia pun memberikan waktu kepada Mikaila untuk berpikir sebelum menjawab tepat nya di lamaran kesepuluh.
Dan itu berarti Vino sudah melamar Mikaila hingga ke sepuluh kalinya.
"Sampai saat Vino tidak pernah muncul lagi di hadapan Mikaila, Sanum yang sudah berada di Indonesia hanya untuk menghadiri acara pernikahan salah satu rekan bisnis Kenzie, wanita itu meminta Putrinya itu untuk bersiap menghadiri resepsi pernikahan dari rekan bisnis nya tersebut.
"Sayang ambil ini dan segeralah bersiap waktu nya sudah sangat mepet, mommy harus segera kembali ke bandara setelah ini bersama dengan Daddy."ujar Sanum.
"Mom,,, aku ditinggal lagi."ujar Mikaila merasa sedih.
"Sayang maafkan mommy ini tidak bisa di tawar lagi adikmu pun sudah terbiasa disana, mommy janji setelah kamu lulus kuliah mommy akan membawa kamu ke Swiss."kata Sanum.
"Heumm,,"ucap gadis itu lesu.
Mikaila pun mulai mengganti pakaian tersebut dengan dress yang panjang dan memiliki belahan punggung yang cukup lebar berwarna merah marun hingga memperlihatkan kulit putih mulus yang indah itu.
Tidak hanya itu, di bagian bawah gaun tersebut memiliki belahan sampai di atas lutut.
Sanum pun membantu putrinya itu bersiap.
Sampai saat Sanum memasang kalung mutiara di leher jenjang milik putri kesayangan nya itu, akhirnya penampilan Mikaila sangat. sempurna dan sangat elegan dan semakin memancarkan kecantikan nya.
Sampai Kenzie pun terpesona melihat kecantikan putri sambungnya itu, tapi hanya rasa kagum sebagai seorang ayah tidak seperti pria normal di luar sana.
Karena Mikaila bagi Kenzie sudah seperti darah dagingnya sendiri.
Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil termahal yang Kenzie miliki menuju hotel berbintang yang sangat megah itu, disana tepat di sebuah lobby hotel sudah terpajang foto mempelai yang akan membuat siapapun iri saat melihat mereka berdua bersanding.
"Kak Vino,,"lirih gadis itu.
Gadis itu masuk bersama dengan kedua orang tua nya dimana posisi Kenzie berada di tengah dua wanita tercantik yang ada di hidup nya saat ini karena Shania masih kecil belum sebesar Mikaila.
Semua mata tertuju pada kehadiran mereka, yang berjalan tersendat-sendat karena terlalu banyak rekan bisnis yang menyapa Kenzie.
Sementara dari kejauhan, seseorang menatap lekat kearah gadis yang tengah membalas sapaan dan anggukan hormat dari rekan bisnis Sang Daddy.
Pria itu bahkan lupa jika saat ini dia sedang menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.
Sampai seseorang menepuk punggung nya.
"Yank,, kamu lihat apa? ini tamunya nungguin."ujar wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya itu.
Vino langsung melirik dan mengangguk pada pria itu.
Tamu-tamu pun sudah hampir semua berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepada mempelai hingga akhirnya ia langsung berbaur karena yang ditunggu sejak tadi tidak kunjung datang untuk mengucapkan selamat.
Sementara wanita yang ia cari saat ini tengah berada di sebuah sudut ballroom hotel tersebut tepat diantara bunga-bunga yang di tata begitu apik dan bisa menutupi Mikaila yang kini tengah mengusap air mata kepedihan karena ternyata Gidion datang ke acara itu tapi dia tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita yang sangat cantik dan elegan, bahkan ditangan keduanya sudah melingkar cincin pernikahan.
Mikaila bahkan tidak dilirik sama sekali saat mereka berpapasan, kini Gidion sudah benar-benar melupakan Mikaila, pikir gadis itu.
Sampai saat dia memutuskan untuk keluar dari tempat acara yang bahkan baru separuh berjalan tiba-tiba pria itu tangan kekar itu meraih lengan Mikaila.
"Mika,," ucap nya pelan.
Mikaila sempat mematung dia tidak berani melirik pria itu.
"Mika, maafkan aku,, karena tidak memenuhi janji untuk pertemuan kita yang kedua belas."ujar pria itu.
__ADS_1
Mikaila pun berbalik setelah selesai menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa kak,, selamat untuk pernikahan kakak semoga selalu langgeng dan bahagia juga secepatnya diberikan momongan."ujar gadis itu sambil tersenyum manis, seakan dia benar-benar baik-baik saja, tapi Vino tau keadaan Mikaila saat ini.
"Mika,, aku benar-benar minta maaf."ucapnya lagi.
"Kak,, untuk apa? minta maaf, Kakak tidak punya salah apa-apa padaku justru aku yang minta maaf tadi tidak sempat memberikan ucapan saat di dalam aku tadi kelilipan bulu mata jadi rencananya aku mau langsung ke mobil, dan kado pernikahan pun belum aku siapkan karena aku juga baru tau saat datang, Daddy tidak memberitahu ku."ujar Mikaila berusaha berucap seserius mungkin.
"Sampai saat ini aku lebih tau segalanya tentang mu jadi jangan pernah berbohong lagi dan menutupi rasa sakit itu."ujar Vino yang kini memeluknya erat.
"Kak, lepas nanti orang-orang salah faham."ucap gadis itu yang langsung melepaskan pelukan Vino.
"Biarkan saja biar mereka tahu jika kamu adalah wanita yang sangat aku cintai."ujar Vino.
"Itu benar-benar salah kak, aku bahkan akan lebih dibenci oleh orang-orang disekitar kita, aku pulang dulu sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, aku akan mengirimkan kado nya nanti."ujar Mikaila yang langsung berbalik tapi lagi-lagi Vino memeluk erat gadis itu dari belakang.
Tidak hanya itu, Vino mendaratkan kecupan di pipi wanita yang kini mematung di tempatnya, dengan beraninya vino melakukan itu di antara para pelayan yang berseliweran diantara mereka, karena ternyata itu adalah tempat para staf hotel lewat.
"Lepas kak, aku harus segera pulang."ucap Mikaila kembali tersadar.
"Jika aku tidak bisa memiliki hati mu, aku ingin memiliki raga mu."ucap pria itu spontan.
Mikaila tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung pergi terburu-buru tangis pilu itu kembali pecah hingga dia tiba di lobby hotel dimana taksi sudah menunggunya.
Mikaila pergi menuju apartemen nya, dia tidak perduli jika kedua orang tuanya itu mencarinya.
"Sesampainya di sana masih dengan tetes air mata dia buru-buru masuk kedalam lift.
Mikaila menangis sejadi-jadinya di dalam kamar nya, dia bahkan mengambil satu botol wine, yang sempat Vino bawa dikala pria itu tinggal bersama dengan dirinya.
Mikaila bahkan mengambil itu dari dalam kamar Vino yang masih tertata rapi, pria itu memang sangat suka dengan kebersihan.
Sampai saat Mikaila menuangkan minuman tersebut dan menyesap minuman tersebut perlahan-lahan, dia menahan rasa yang sungguh aneh dilidahnya saat ini.
Mikaila tidak sadarkan diri di dalam kamar nya.
Waktu sudah berganti pagi lagi, wanita itu bahkan belum juga membuka mata, kini Mikaila benar-benar sendirian.
Pasalnya setelah mengucapkan selamat terhadap Vino dan istrinya Farah Queen, kedua orang tuanya pamit lebih dulu karena sudah di tunggu oleh pesawat yang akan membawa dia ke Swiss.
Sampai saat wanita itu pergi kuliah keesokan harinya, dia pergi sendiri mengendarai mobil nya.
Sesampainya di kampus dia belajar seperti biasanya, bahkan sampai saat teman-teman nya yang akrab dengan Mikaila tengah sibuk bergosip tentang pernikahan termegah saat ini, Mikaila hanya tersenyum kecil, setelah itu ia pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di sana.
Dia sedang mencari-cari kado yang cocok untuk pasangan suami istri itu, Mikaila bahkan sudah mendatangi toko perhiasan butik termewah Dan tempat lainnya yang menjual barang-barang branded.
Hingga dia melirik toko handphone dan jam tangan dia memutuskan untuk membeli jam tangan kapel untuk pasangan tersebut.
Dia meminta barang yang benar-benar limited edition dengan harga yang paling mahal karena tidak mungkin jika harus memberikan kado murahan pada pasangan kaya raya itu.
Sampai Mikaila membayar dengan black card yang mommy nya berikan dan baru kali ini dia gunakan untuk membayar sepasang jam tangan seharga tiga milyar rupiah.
Meskipun itu sangat mahal tapi bagi Mikaila itu sesuai dengan kerja keras pria itu selama ini untuk keluarganya.
Semua sudah terbungkus begitu apik, Mikaila kini pergi menuju kediaman keluarga besar Orlando, meskipun dia tau kedatangan nya mungkin tidak akan disambut dengan baik disana karena keluarga Vino tau jika putranya selama ini mencintai Mikaila.
Dan benar saja saat dia tiba di sana hanya ada beberapa orang pelayan yang datang menghampiri nya, Mikaila pun bertanya dimana tuan Vino berada tapi jawaban mereka tetap sama, Vino tidak berada di rumah karena sedang berbulan madu.
Hingga Mikaila langsung pergi dari rumah itu, dia pergi ke kantor milik Vino, dia pun tidak diterima disana karena belum membuat janji sebelumnya, gadis itu pun terpaksa menitipkan Paper bag itu di resepsionis untuk disampaikan kepada Vino.
__ADS_1
Dia juga menulis sesuatu di secarik kertas yang dia masukkan kedalam Paper bag tersebut.
"Hi,,, kak Vino maaf jika aku mengganggu waktu mu, dengan barang tak berharga ini aku tau aku tidak bisa sembarangan masuk ke tempat orang penting seperti kakak, tapi setidaknya aku sudah menepati janji untuk memberikan kado pernikahan yang mungkin tak berharga ini. semoga kakak suka tapi jika pun tidak tidak masalah kakak bisa membuang barang ini di pinggir jalan. setidaknya jika kakak tidak suka masih ada orang lain yang membutuhkan benda tidak berharga ini. sekali lagi selamat atas pernikahan kalian semoga langgeng dan bahagia terimakasih untuk waktu yang selama ini kakak berikan untukku." Mikaila.
Gadis itu pun pergi meninggalkan lobby kantor tersebut, dia langsung pulang ke apartemen nya saat ini dia hanya ingin istirahat sambil mengerjakan tugas kuliah nya tadi.
"Semangat Mikaila kamu bisa melewati semua ini, hidup akan terus berjalan meskipun kamu terpuruk sekalipun, ya Mikaila kuat .lupakan semua beban yang ada di hati dan kejarlah mimpi mu."ujar gadis itu memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Dengan ditemani secangkir kopi dan juga tiga keping biscuit, gadis itu mengisi perut nya di sore hari.
Sampai saat sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone miliknya gadis itu pun langsung membuang nafas kasar.
Lagi-lagi pesan ancaman itu masuk entah dari siapa? tapi disaat gadis itu menelpon ulang tidak tersambung ke nomor tersebut.
Mikaila pun tidak memperdulikan hal itu, dia kini ingin fokus dengan kuliahnya.
Sampai saat sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal, wanita itu tidak berani mengangkat telepon tersebut.
Lagi-lagi sebuah pesan chat masuk.
āļø"Angkat, telpon nya kita harus bicara" Vino.
Mikaila pun langsung mengangkat telepon tersebut tapi bukan Vino yang menelpon melainkan Farah Queen, wanita yang kini resmi menjadi istri Vino.
"Apa? kau tidak punya malu, atau memang urat malumu sudah putus. untuk apa? kau mengejar-ngejar suami orang apa? menjanda baru beberapa bulan membuat milikmu gatal."ucap wanita itu benar-benar diluar dugaan.
Pasalnya wanita cantik itu dikenal sangat baik hati dan sopan terhadap sesama, tapi kali ini Mikaila begitu syok dibuat nya.
"A aku"
Tut.....
Tut...
Sambungan telepon itu terputus, Mikaila kembali banjir air mata, dia benar-benar terluka tidak hanya hati tapi juga harga dirinya.
Wanita itu benar-benar sudah melukai perasaan Mikaila.
Hingga dering ponsel itu kembali berdering, Mikaila bahkan melempar Handphone itu hingga hancur berkeping-keping.
Gadis itu kini terduduk di lantai dua kembali menangis sejadi-jadinya.
Dan lagi-lagi sebotol Vodka yang kini menemani rasa sakit nya itu, hingga di tetes terakhir seseorang merampas botol itu dan melemparnya.
"Apa-apa kamu heeuh! jadi ini yang kamu bilang tidak apa-apa, ini yang kamu bilang baik-baik saja!."teriak pria itu.
*Pergilah,,, tolong jangan temui aku lagi, aku tau aku seorang janda tapi aku tidak akan merebut suami siapapun, sekalipun dunia ini sudah tidak ada lagi pasangan untuk ku, aku Mikaila,, aku wanita yang ditakdirkan untuk tetap sendiri tapi tidak apa-apa aku bisa melewati semua ini sendiri, aku memang janda tapi aku bukan janda gatal, aku tidak akan mengejar pria yang sudah menikah aku juga tidak akan pernah mencari pria lain diluar sana."hingga tubuhnya ambruk di lantai seseorang mengangkat tubuh ramping itu dan dibawanya ke atas ranjang.
Keesokan paginya Mikaila terjaga dengan keadaan diatas ranjang bahkan tidak menggunakan sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang membalut tubuh nya.
Mikaila tidak ingin apapun yang terjadi semalam bahkan dia tidak tahu siapa yang melakukan itu, dan apa? mungkin dia melepaskan bajunya sendiri dan akhirnya tertidur.
Pikiran Mikaila benar-benar berkecamuk hingga saat dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, alangkah terkejutnya saat melihat cermin karena tubuhnya dipenuhi bercak merah yang merupakan tanda kepemilikan.
Mikaila pun menangis dalam diam dia pun menjambak rambut nya sendiri, dia benar-benar pusing bahkan tidak tau siapa? yang berani melakukan hal itu.
Hingga saat ia selesai mandi, sebuah sarapan pagi sudah tersedia di atas meja depan sofa tersebut.
"Sudah mandi honey,," ujar seseorang dari arah pintu.
__ADS_1
"Kak,, kak v Vino jangan bi bilang i ini perbuatan kakak."ujar wanita itu shock.
"Kenapa? apa,, aku juga tidak pantas untuk mu."ujar pria itu datar.