Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Menang#


__ADS_3

"Tapi tawaran Kakak boleh juga."ucap Shania yang kini tengah meminum segelas jus yang sangat menyegarkan tenggorokan.


Sementara itu di lantai dua gedung sekolah tersebut, Arvin tengah mengepalkan tangannya karena melihat Sky berkali-kali mengusap puncak kepala Shania.


"Sugar baby ku, kamu harus menang jika tidak aku akan sangat kecewa saat ini aku jauh-jauh datang dari negri sebrang."ucap Sky.


"Ah,,, lebay kali kakak nih."ucap Shania sambil terkekeh kecil.


"Bukan lebay Honey, tapi aku sangat ingin melihat mu menang."ucap Sky.


"Sejak kapan kau bersikap gombal seperti ini dulu saja saat banyak wanita mendekat kau bilang tidak selera karena cinta ku hanya untuk Julia, sekarang apa?."ucap Vino.


"Vino... jangan bicara sembarangan mulut itu sangat ajaib nanti dia tidak tahan menjalani hidup."ledek Zaid.


"Sialan..."ucap Sky.


"Honey ayo kita pergi lebih dulu, anak-anak kita menunggu."ucap Sky.


Sementara Kenzie sedari tadi hanya duduk tenang bersama dengan sang istri yang kini tengah sibuk dengan ketiga cucunya itu.


"Ah,,, aku masih ada satu pelajaran tambahan sebentar aku akan minta izin dulu."ucap gadis itu yang kini pergi begitu saja.


"Honey tunggu, aku juga ingin tau dimana? kelas mi."ucap Sky.


"Aku mau bersih-bersih dulu dan ganti baju setelah itu aku akan masuk kelas, karena temanku sudah menunggu."ucap Shania.


"Aku."tunjuk Sky pada dirinya.


"Ikut Daddy nanti akan ditunjukkan jalan yang lurus sugar Daddy ku."ucap Shania.


"Ah... baiklah honey."ucap Sky mengalah.


Pria itu pun kembali duduk di depan semuanya sementara Shania harus segera pergi ke ruang ganti.


Gadis itu tidak sadar jika saat ini ada yang mengikuti dia dari belakang.

__ADS_1


"Jadi itu pria yang kamu banggakan, dia tidak lebih dari pecundang yang hanya mengunakan ketampanan nya."ucap gadis itu.


"Heumm,,, saya tidak tau ada masalah apa? antara Mr dan juga kak Sky, tapi yang jelas bagi saya dia adalah pria yang baik."ucap Shania cuek.


"Mereka semua pecundang."ucap Arvin.


"Mr, saya bilang tidak peduli dengan masalah kalian apa? tapi saya tidak suka jika Mr menjelekkan mereka."ucap Shania.


"Apa? yang ingin kamu lakukan heuhhhhh, ayo lakukan!."ucap Arvin sambil mencengkram bahu gadis itu tanpa sadar.


Jika saja tempat itu bukan sekolah yang selama ini ayahnya dirikan mungkin saat ini Arvin akan mengajak mereka duel. tapi dia masih bisa berpikir jernih.


"Ah... sakit."pekik Shania karena Arvin tanpa sadar semakin menekan bahu itu.


"M maaf saya tidak sengaja."ucap Arvin.


Arvin pun langsung bergegas meninggalkan Shania yang kini tengah menatap pria itu, Shania tidak tahu apa? yang terjadi dengan Arvin hingga dia begitu membenci Sky dan Zaid.


Arvin langsung bergegas menuju kedalam kelas dia seakan tengah melpias kan amarahnya terhadap kedua pria itu dengan memberikan ulangan dadakan yang bahkan membuat beberapa murid begitu kesulitan saat ini.


Shania tidak mempermasalahkan hal itu tapi karena dia tidak ingin keluarganya menunggu dirinya, akhirnya dia mengirim pesan lewat Julia.


"Shania, sudah berapa kali saya katakan, jangan bermain handphone saat tengah belajar."ucap Arvin.


"Maafkan saya Mr."ucap gadis itu yang kini masih menatap tajam kearahnya.


Sementara itu di kantin semua orang kini tengah bersiap untuk pulang setelah Julia memberitahu bahwa saat ini Shania ada ulangan mendadak.


Mereka pun pulang dengan menggunakan mobil masingmasing yang mereka bawa tadi, iring-iringan mobil mewah disertai dengan para anak buah Zaid yang kini mengawal dari bagian depan dan belakang juga samping membuat seisi sekolah heboh saat ini


Mereka bergosip ria tentang gadis itu, yang kini disebut komplotan mafia.


Namun Arvin berhasil meredam semua itu, sebagai guru yang baik dia mengatakan bahwa saat ini semuanya tengah kedatangan tamu penting dan pengawalan itu dilakukan untuk melindungi tamu tersebut.


Itulah yang Arvin katakan saat ini, semua itu untuk melindungi reputasi Shania dan juga sekolah.

__ADS_1


Pria itu tidak ingin semua itu terus beredar hingga merusak nama baik sekolah dan juga Shania sebagai murid berprestasi.


Setelah Shania selesai mengerjakan soal ulangan tersebut, Arvin langsung meminta Shania untuk menunggu di ruangannya karena ada yang ingin dia bicarakan saat ini.


Sementara Arvin sendiri masih mengajar.


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu sambil bermain ponsel, Shania kini langsung menoleh ke arah Arvin yang kini duduk di sampingnya.


Shania menatap lekat wajah tampan itu.


"Sudah puas menatap saya."ucap Arvin yang kini mengagetkan Shania.


"Heumm."ucap Shania.


"Shania saya minta maaf atas perbuatan saya tadi, saya hanya terbawa suasana, kamu besok akan segera bertanding. saya harap jika besok keluarga besar mu ingin menyaksikan pertandingan itu, tolong jangan bawa pengawal karena murid-murid lain protes, dan saya akan menyediakan tempat khusus untuk mereka di barisan kursi paling depan."ucap Arvin.


"Baik Mr."jawab Shania singkat.


"Aku tau kamu pasti sedang bertanya-tanya kenapa? Aku begitu membenci Sky dan Zaid mereka adalah kakak kelas ku, dulu Zaid selalu mengalahkan aku saat kami bertanding, hingga suatu hari aku sangat dibuat malu olehnya dan saat itu aku ingin membalas dendam atas rasa malu yang dia berikan padaku."ucap Arvin.


"Saya tau tentang itu, tapi kak Sky bahkan bukan orang asli sini kenapa Mr, juga begitu membenci dirinya."ucap Shania.


"Kau tidak tahu apa-apa tentang kami, tapi baik'lah, aku akan ceritakan semuanya agar kamu tahu, tapi aku hanya ingin memberitahu intinya saja bahwa dia sudah merebut wanita yang paling aku cintai dulu, dia adalah Julia wanita yang dia nikahi hingga saat dia hamil dan meninggal saat dia melahirkan."ujar Sky.


Shania langsung terbengong saat mendengar hal itu, ada satu lagi yang membuat Shania terdiam, saat melihat Arvin yang kini tengah mengepalkan tangannya sehingga urat-urat itu terlihat menonjol.


"Dia persis seperti dirimu, mulai dari cara berpakaian dan juga sama-sama sangat berprestasi, tapi Julia sudah berpaling dari ku saat pria bajingan itu menidurinya."Arvin terlihat semakin terbakar emosi.


"Tapi semua itu sudah lama terjadi dan tidak baik jika Anda terus mendendam, mungkin saja kak Julia juga bukan jodoh anda seperti yang terjadi saat ini."ucap Shania.


"Tapi cara pria itu merampas Julia dariku membuat aku... Ah... sudahlah silahkan keluar ingat apa? yang aku katakan, dan ingatlah menang ataupun kalah besok aku hanya ingin kamu berusaha dan tetap lah bersemangat."ucap pria tampan itu.


"Terimakasih Mr, saya doakan semoga anda bisa secepatnya mewujudkan impian anda untuk membawa sekolah ini jauh lebih baik lagi agar saya bisa segera pergi."ucap Shania.


Arvin pun hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


Dia sudah merelakan jika sewaktu-waktu Shania juga harus pergi dari hadapannya nanti.


__ADS_2