Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Tanpa mu#ku


__ADS_3

Mereka pun sudah berada di bandara keduanya diantar oleh Sanum dan Kenzie.


"Bagaimana dengan mobil kami daddy?."ucap Kevin.


"Daddy akan menyumbangkan itu."bohong Kenzie agar keduanya tidak lagi mengurus tentang mobil tersebut.


Keduanya terlihat lesu namun setelah Kenzie berkata sesuatu kembali mereka terlihat bersemangat.


"Daddy akan izinkan kalian untuk menjadi pebalap tapi setelah kalian berdua benar-benar lulus kuliah dan mampu memimpin perusahaan dengan sebaik mungkin."ucap pria itu.


"Benarkah Daddy?."ucap keduanya.


"Benar tapi Daddy tidak ijinkan kedua putra Daddy lecet sedikit pun."ucap Kenzie.


"Asiappp!."balas keduanya kompak.


Kenzie pun tersenyum sambil merangkul pinggang istrinya yang juga tersenyum padanya.


Sampai saat keberangkatan keduanya tiba.


Kenzie dan sang istri kembali ke rumah mereka, sesampainya di sana mereka pun langsung beristirahat di dalam kamar mereka tanpa tahu bahwa putrinya kini tengah menangis karena sedang patah hati.


Gadis berusia tujuh belas tahun itu baru saja melihat pria yang ia sukai tengah bergandengan tangan dengan sahabatnya sendiri.


Pria itu adalah kakak kelas Shania.


Shania sudah menyukai pria itu sejak dia SMP.


Mereka sebenarnya masih tinggal satu kompleks namun yang namanya Mension itu pasti sangat luas dari tanah dan bangunannya dan di sana di kompleks perumahan Mension milik Kenzie adalah satu-satunya Mension yang ada di sana.


Selama ini, sebelum tiba di Mension tersebut gadis itu selalu meminta sopir untuk berhenti terlebih dahulu di depan pagar rumah mewah yang terlewati oleh Shania setiap akan pergi dan pulang.


Gadis itu selalu melihat pria itu saat pulang sekolah dan pergi sekolah atau jika libur dia melihat pria itu selalu berolahraga di taman kompleks tersebut, dan Shania yang sudah seperti seorang penguntit itu merasa benar-benar terluka karena pria itu ternyata sudah memiliki kekasih dan itu baru dia tahu saat ini.


Lebih parahnya lagi gadis itu adalah sahabatnya sendiri.


Shania kini seolah ingin pergi dari dunia ini, karena rasa sakit itu, maklum saja gadis itu baru mengenal rasa suka terhadap lawan jenis, jadi dia tidak bisa mengontrol perasaannya itu yang masih sangat labil.


Keesokan paginya, saat Sanum datang ke kamar anak gadisnya untuk membantu gadis itu bersiap seperti biasanya, tapi saat itu pula Sanum kaget karena Shania belum juga bangun dari atas ranjang empuknya itu.


"Sayang,,,ini sudah pagi loh kenapa belum bangun juga... nanti terlambat masuk sekolah bagaimana?."ucap Sanum.


"Biarkan saja mom,,, aku malas untuk pergi sekolah."ucap gadis itu.


"Kenapa? sayang apa? ada yang nakal."ucap Sanum masih terlihat biasa saja saat ini karena gadis itu tidak menghadap dirinya.


Posisi gadis itu membelakangi Sanum.


"Mom,,, boleh tidak aku pindah sekolah?."ucap gadis itu yang kini menatap kerah Sanum.


"Oh, ya ampun... kamu kenapa? sayang kenapa? wajah kamu bengkak apa? kamu dihajar orang atau ada bakteri yang masuk ke matamu ayo kita ke dokter kamu pasti kesakitan."ucap Sanum tanpa jeda.


"Mom,,, aku tidak apa-apa aku hanya sedang sakit hati karena pria yang aku suka ternyata pacaran dengan teman baik aku."ucap Shania.


Sanum hanya bisa geleng-geleng kepala, ternyata anak gadisnya kini tengah dalam masa pubertas.


"Sayang,,, kamu suka sama seseorang tapi ku tak pernah memberitahu dia dan saat dia ketahuan sedang jalan bareng dengan gadis lain kamu marah iya begitu?." tanya Sanum.


"Iya mommy,,, Shania sakit hati, Sania pikir dia itu belum punya pacar... tapi kenapa? teman aku yang harus jadi pacar dia hiks hiks hiks aku sedih."ucap gadis itu, sambil menangis sesenggukan.


Sementara Sanum hanya terkekeh kecil.


"Sudah-sudah jangan menangis buat apa? menangisi pria yang jelas-jelas tidak pernah menyukai mu honey buang-buang waktu saja."ucap Sanum sambil memeluk putrinya itu untuk menenangkan gadis itu.


"Heumm,,, sayang kamu tidak perlu bersedih karena suatu hari nanti, akan ada pangeran berkuda putih yang akan menjadi jodohmu."ucap Sanum.


"Hiks hiks hiks... mommy tidak tahu rasanya sakit ."ucap gadis itu.


"Mommy tau sayang bahkan lebih dari tahu, maka dari itu mommy memberikan nasihat padamu."ucap Sanum.


"Aku tidak mau sekolah, aku mau pindah sekolah saja."ucap gadis itu.


"Baiklah sayang baik,,, tapi kita bicara dulu dengan Daddy oke."ucap Sanum.


"Bicara apa? honey, sepertinya ada yang serius?."tanya Kenzie yang menyusul istrinya karena sudah lama berada di kamar putrinya itu.


Kenzie takut putrinya sedang sakit maka dari itu dia langsung menyusul.


"Putri Daddy sedang patah hati."ucap Sanum sambil terkekeh kecil.


"Ahhh,,, mommy kok di bilang-bilang sih aku kan malu."ucap gadis itu merengek manja.

__ADS_1


"Kenapa? harus malu honey,,, Daddy bukan orang lain, ayo bilang siapa? yang sudah membuat putri Daddy patah hati."ucap Kenzie.


"Tidak mau,,, pokonya aku ingin pindah sekolah."ucap Shania.


"Baiklah sayang kamu mau pindah sekolah dimana biar Daddy langsung urus."ucap Kenzie yang begitu menyayangi putrinya itu.


"Tidak daddy jangan seperti itu, justru putri kita harus belajar menerima kenyataan, jika terus seperti ini kapan putri kita dewasanya."ucap Sanum.


"Sayang kita harus membuat putri kita nyaman dan bahagia bukan."ucap Kenzie tidak setuju.


"Iya jika kita panjang umur kita bisa memanjakan putra kita, tapi kita tidak tau sampai kapan kita bisa mendampingi mereka jadi jangan karena masalah sepele kita terus mengikuti apa? keinginan mereka."ucap Sanum bijak.


"Mommy kamu benar sayang, jadi Daddy tidak akan memindahkan sekolah mu honey."ucap Kenzie.


"Tapi Daddy aku tidak ingin bertemu mereka lagi,,,"ucap Shania.


"Anggap saja mereka tidak pernah ada."ucap Sanum.


"Shania tidak ingin sekolah titik."ucap gadis manja itu.


"Hanya untuk hari ini sayang selebihnya tidak lagi


"Tapi Daddy..."protes Sania.


"Tidak ada tapi-tapian sayang sebaiknya sekarang kamu segera mandi sarapan pagi sudah siap."ucap Sanum.


Gadis itu pun bangun dan bergegas pergi menuju kamar mandi, dia tau keputusan orang tuanya adalah yang terbaik.


Meskipun saat ini dia patah hati setidaknya dia masih bisa bersikap biasa saja pada mereka karena mereka tidak pernah mengetahui perasaan Shania.


Sanum dan Kenzie pun turun setelah memastikan memastikan bahwa putrinya tidak lagi bersedih.


Sampai saat gadis itu selesai mandi dan turun untuk sarapan pagi, Kenzie sendiri sudah menelpon pihak sekolah untuk memberitahu pada mereka bahwa putrinya tidak masuk sekolah karena kurang enak badan.


Untuk masalah itu sebenarnya bukan hal yang sulit bagi seorang Kenzie yang merupakan donatur utama sekolah tersebut.


...........................


Keesokan harinya seperti biasanya Sanum kembali menyiapkan bekal dan juga keperluan putrinya di sekolah.


Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat awet muda itu tidak pernah absen untuk mengurus keperluan anak-anaknya karena dia tahu rasanya menjadi anak yang kekurangan perhatian karena dulu ibunya terus bekerja keras untuk menghidupi dirinya.


Aurora tidak ingin putrinya hidup sengsara seperti keadaannya dulu.


Dan kini Sanum yang hidup bergelimang harta dia tidak ingin putrinya atau ketiga anaknya hidup dalam ketergantungan pada segala kemudahan yang ada di hadapannya.


Sanum ingin mereka hidup mandiri seperti dirinya dulu agar saat mereka berdua sudah tiada anak-anak mereka tidak mengalami kesulitan.


Akhirnya mereka pun sarapan pagi bersama setelah itu Shania berangkat bersama dengan sopir pribadinya.


Sampai saat mereka melewati rumah itu Shania langsung meminta sopir itu untuk lewat, dan tak lagi berhenti seperti sebelumnya.


Bahkan sampai saat mereka tiba di sekolah tanpa menunggu lama gadis itu langsung keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam gerbong utama sekolah tersebut.


Shania kini sudah berada di kelas tiba-tiba sahabatnya datang terburu-buru katanya dia merasa dicuekin oleh Shania pagi ini tidak biasanya.


"Shania kamu kenapa? sih aku panggil-panggil tidak dengar ada apa? apa? karena aku tidak datang menjenguk mu, maafkan aku kemarin rencananya aku dan kekasihku ingin menjenguk mu tapi tiba-tiba ibunya meminta dia menjemput kakak laki-laki nya di bandara."ucap gadis itu seakan tak ada celah.


"Heumm,,, sudah selesai bicaranya."ucap seseorang yang kini ternyata sudah berada di belakangnya.


Gadis itu langsung membelalakkan matanya


"Kakak."ucap Karin.


"Eheum... dimana kakak mu."ujar pria tampan yang kini mengguncangkan pakaian formal.


"Selamat pagi Mr."ucap semua murid yang ada di sana.


Karin celingukan hingga saat dia duduk di samping gadis yang sedari tadi terdiam.


"Perkenalkan Saya Arvin Wijaya, saya guru pengganti di kelas ini saya harap kalian bisa mematuhi peraturan yang saya buat."ucap pria itu penuh ketegasan.


Sementara Shania tidak merespon sedikit pun.


Gadis itu tetap fokus pada laptop yang ada di hadapannya.


Gadis itu tengah melihat profil lengkap dari guru baru itu seperti sahabatnya yang lain.


Sampai saat seseorang berdehem keras di samping Shania.


"Sudah puas melihat profil saya, sekarang giliran kamu untuk memperkenalkan nama lengkap mu."ucap pria itu datar.

__ADS_1


"Baik Mr."jawab nya pelan.


Shania hendak maju kedepan namun tiba-tiba tangan pria itu menarik pergelangan tangan itu hingga Shania menatap wajah tampan pria yang kini menjadi gurunya itu.


Begitu juga dengan Arvin yang kini menatap gadis cantik itu.


"Tidak perlu kedepan saya sudah ada disini sekarang perkenalkan siapa? nama lengkap mu."ucap pria itu.


"Nama saya Shania Aurora Georgio."ucap Shania menjawab.


"Sekarang bersiaplah untuk belajar."ucap Arvin yang kini melepaskan genggaman tangannya.


Sebenarnya hal itu tidak disadari oleh mereka berdua sampai-sampai momen itu di abadikan oleh beberapa orang siswi kelas tersebut.


Kini Arvin sudah mulai memberikan mereka pelajaran yang cukup sulit untuk mereka saat ini.


Sementara Karin terus berbisik pada Shania agar Shania mau memberikan contekan padanya.


Sampai sebuah sebuah pena mendarat keras di atas meja Gadis itu.


"Saya tidak suka jika ada murid yang tidak mematuhi peraturan saya! sebaiknya kamu keluar dari kelas saya."ucap pria itu tegas.


"Maaf kan saya Mr, saya hanya mau pinjam bolpoin."ucap gadis itu.


"Kali ini saya maafkan."ucap pria itu.


Sementara Sania kini tengah fokus dengan tugas yang diberikan oleh guru baru itu.


"Shania kamu bisa keluar jika sudah selesai mengerjakan tugas mu."ucap pria itu.


Di sekolah internasional itu seorang guru tidak perlu berkeliling kelas untuk memantau murid-muridnya mengerjakan tugasnya atau tidak karena semua bisa terlihat dari monitor yang ada di meja wali kelas tersebut.


Tanpa menoleh ke arah Karin yang kini tengah menatapnya gadis itu terus berjalan keluar sesuai perintah dari gurunya itu.


Gadis itu kini tengah berjalan menuju kantin sekolah.


"Tumben sudah berada di sini kamu bolos ya."ucap pria yang sudah membuat gadis itu patah hati.


Shania tidak menjawab dia tetap fokus pada layar digital yang memajang menu-menu yang ada di kantin sekolah tersebut.


Tidak menunggu lama gadis itu menemukan apa? Yang ia cari yaitu jus buah favoritnya itu.


Dan satu makanan super pedas yang tengah ia ingin.


Setelah itu ia duduk di pojok menunggu pesanannya datang.


Pria itu merasa ada yang aneh dengan gadis yang biasanya bersikap ramah padanya selama ini tiba-tiba saja bersikap acuh.


Sampai saat jam pelajaran kedua masuk, gadis yang kini tengah kepedesan dengan bibir merah marun karena efek dari makanan pedas itu sungguh terlihat menggoda jika yang melihat itu adalah pria normal.


Gadis itu kembali duduk di bangkunya sampai saat Arvin kembali memberikan materi pelajaran yang baru.


Shania kembali fokus pada laptop nya sambil sesekali menulis di buku yang ia gunakan saat ini sementara Karin seakan tak ingin lagi menyapanya.


Tapi itu lebih baik untuk Shania agar bisa menjauh dari rasa sakit yang kini masih terasa.


Tapi sudah jauh lebih baik saat ia mendengarkan kata-kata bijak dari kedua orang tuanya yaitu mengabaikan keberadaan mereka.


Sampai saat jam sekolah usai, gadis cantik itu sedang merapihkan alat tulis miliknya kedalam tas, tiba-tiba Arvin datang.


Temui saya di ruangan saya ada hadiah kecil untuk murid cerdas di kelas saya."ucap Arvin.


"Baik Mr."ucap Shania sopan.


Setelah itu dia langsung pergi menuju ruangannya, Arvin mengambil sebuah paper bag dan menyimpan itu di atas meja.


Sampai saat Shania tiba di ruangan tersebut, gadis itu mengetuk pintu dan Arvin mempersilahkan dia untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Mr, saya sudah datang."ucap gadis cantik itu.


"Ini ambilah semoga kamu lebih bersemangat dalam belajar, dan satu lagi rok mu kependekan tolong diganti karena mulai saat ini peraturan di kelas saya akan di ubah."ucap Arvin.


"Tapi ini sesuai dengan peraturan dan kebijakan sekolah ini, jika ada peraturan baru biasanya akan ada rapat orang tua murid."ucap Shania.


"Itu khusus untuk mu, saya tidak suka dibantah."ucap pria itu tegas.


Sementara Shania hanya bisa menghela nafas.


"Apa masih ada lagi Mr?."ucap gadis itu.


"Saya rasa untuk saat ini tidak ada, hanya satu saran saya jangan terlalu banyak makan makanan pedas bibir mu sudah seperti."

__ADS_1


__ADS_2