
Vino yang kesal pun meninju perut Zaid yang kini pura-pura mengaduh kesakitan.
Sampai akhirnya mereka pergi menuju kediaman tuan Gultom.
Vino tau dimana alamat pria itu karena dia pernah di undang untuk hadir di sana sebagai tamu undangan disaat ulang tahun pria paruh baya itu.
Dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai meskipun pun Vino merasa dibuat kesal dengan tingkah laku Zaid yang sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan separuh jiwanya yang hilang itu.
Zaid terus merengek bagaikan anak kecil mungkin jika Vino merekam keadaan saat itu, tahta kerajaan mafia yang dia bangun akan hancur seketika.
Tapi rupanya pria itu tidak perduli dengan keadaan itu, dia lebih peduli untuk bertemu dengan pujaan hatinya yaitu Luna.
Sesampainya di sana, mereka disambut dengan baik oleh asisten pribadi tuan Gultom dan kebetulan pria itu ada disana bersama dengan putrinya tengah makan siang bersama.
"Tuan di depan ada tamu tuan dan nona muda."ujar pria paruh baya itu.
"Suruh mereka bergabung disini."ucap tuan Gultom yang melihat siapa? tamunya itu.
Dia sendiri mengenal Vino dan Zaid.
Pria yang merupakan asisten tuan Gultom itupun akhirnya bergegas menemui tamu yang kini tengah menunggu di ruang tamu.
"Tuan, anda berdua diminta oleh tuan besar untuk bergabung di meja makan."ujar asisten pribadi nya itu.
"Terimakasih."ujar Vino sopan sementara Zaid jangan tanya pria itu bagaimana.
"Aluna."ucap Zaid.
"Zaid."ujar gadis itu.
"Tuan Gultom saya minta maaf jika kedatangan kamu mengganggu kenikmatan makan siang anda."ujar Vino sopan.
"Duduklah."ujar Aluna tanpa basa-basi.
"Adeline, Daddy ingin bicara dengan mereka berdua."ujar tuan Gultom.
"Aluna tidak mau pergi Daddy masih sangat laper Zaid suapi Aluna boleh."ujar Aluna.
__ADS_1
"Adeline,,, sudah berapa kali Daddy bilang namamu Adeline, dan jangan bersikap tidak sopan."ujar tuan Gultom.
"Adeline."ujar Zaid pelan.
"Ya,,, tuan Zaid, putriku bernama Adeline. usianya sudah 21 tahun satu bulan lagi dia berulang tahun, tapi sampai saat ini ingatan dia masih tujuh belas tahun."ujar tuan Gultom.
"Pantas saja jika selama ini ia sangat manja makan disuapi tidur di temani dan setelah mandi sahabat saya tuan Zaid yang merapihkan rambut dan penampilan putri anda dia benar-benar menjaga Aluna maksud saya Adeline."ujar Vino.
"Maksudnya menjaga."ujar tuan Gultom tidak mengerti, akhirnya mereka pun membicarakan tentang semua yang terjadi selama satu tahun berlalu.
"Saya benar-benar minta maaf tuan Zaid putri saya terkadang memang suka berpetualang untuk mencari ibunya yang sudah di surga, saya menghapus ingatan putri saya karena sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa istri saya dan Adeline yang hampir tewas agar tidak sampai benar-benar depresi berat."
"Bahkan dia akan berteriak histeris saat melihat darah hingga berulang kali pingsan, dengan begitu saya sudah memutuskan untuk menghapus separuh ingatannya itu sebenarnya itu juga bukan jalan terbaik tapi demi kesehatan jiwanya saya harus segera mengambil keputusan itu."
"Putri saya suka berpetualang, namun dengan pengawalan ketat, alasannya dia ingin mencari keberadaan ibunya. karena memang saya tidak pernah menjelaskan tentang semua yang terjadi saya masih tidak sanggup jika harus kehilangan putri saya adalah konsewensi terburuknya nanti."
"Adeline bahkan membenci namanya sendiri karena dia melihat drama yang bernama sama memerankan peran yang antagonis dan Luna adalah lawan mainnya.dan petualangan kemarin adalah sebuah keteledoran saya karena kehilangan kontak dengan nya Luna bahkan pergi tidak membawa apapun dan tidak ada yang mengetahui kepergiannya hingga saya hampir putus asa mencari dia di berbagai negara."ujar pria itu masih bercerita.
"Boleh kami bicara berdua."ujar Zaid.
"Tentu silahkan mungkin saat ini dia sedang berada di taman belakang rumah." ujar tuan Gultom.
Zaid pun tiba di tempat yang disebut, dia melihat gadis itu tengah duduk di bangku taman sambil terus komat-kamit Zaid tau bahwa gadis itu tengah kesal seperti biasanya.
"Boleh aku duduk di sini Nona muda Adeline?."tanya Zaid.
"Zaid jangan panggil nama itu,,, Aluna tidak suka."ujar Aluna dengan nada merengek seperti biasanya.
"Kau ini kenapa? heumm,,, namamu sangat bagus."ujar Zaid.
"Dia jahat pada Luna."ujar gadis itu sambil memonyongkan bibirnya.
"Heumm begitu rupanya."ujar Zaid.
"Kamu mau apa? datang kesini."tanya gadis itu.
"Setelah berbulan-bulan aku mencari mu kau bilang mau apa?."ujar Zaid.
__ADS_1
"Untuk apa? cari Luna lagi, bukanya Zaid sudah punya teman tidur."ujar Luna.
"Teman tidur apa? Luna sudah beberapa bulan ini kamu pergi begitu saja aku bahkan tidak pernah bisa tidur nyenyak."ucap Zaid.
"Bukannya Zaid menikah seperti Luna yang akan menikah dengan pria itu."kata Luna.
"Tidak Luna, sampai kapan pun Zaid tidak pernah membiarkan itu terjadi, Zaid ingin Aluna kembali ke rumah kita."ujar Zaid.
"Tidak Zaid akan menikah, dan setelah itu Luna akan di campakkan."ujar Luna.
"Itu tidak mungkin Aluna ku sayang Zaid hanya akan menikah dengan Aluna. apapun yang terjadi nanti."ujar Zaid yang kini meraih jemari Aluna yang sedaritadi bertaubat seakan tengah menyalurkan kegelisahan.
"Luna sayang tatap mata Zaid apa? Luna sayang dengan Zaid atau tidak."ujar gadis itu.
"Heumm,,"Luna tampak ragu.
"Aluna Zaid mencintai Aluna, dan Zaid ingin kita kembali bersama ."ujar Zaid.
"Aluna akan menikah dengan dia."ujar gadis itu.
"Tidak Aluna Zaid akan membunuh pria itu jika Aluna berani menikah dengannya."ujar Zaid.
"Tapi Zaid tidak menyukai Aluna, hingga Zaid mencari wanita lain untuk teman tidur Zaid."kata Aluna.
"Aluna saat itu Zaid hanya bercanda pada Vino yang sebenarnya terjadi adalah aku ingin memiliki anak dengan segera mungkin, tapi Zaid tidak pernah menyadari bahwa Luna masih terlalu kecil untuk hal itu."ujar Zaid.
"Tapi Luna bisa memberikan anak untuk Zaid."ujar gadis itu sambil menatap lekat wajah cantik itu.
"Seperti yang ini bukan "tanya Luna yang memperlihatkan perut buncit seorang wanita .
"Kau memang tidak salah tapi proses itu tidak akan pernah kamu mengerti."ujar Zaid.
Mereka pun berbincang panjang lebar hingga Zaid meminta izin untuk membawa gadis itu kembali tinggal bersama dengan nya.
Namun tuan Gultom tidak mengijinkan nya
Zaid begitu terlihat frustasi karena tidak bisa membawa gadis itu.
__ADS_1
Tapi tuan Gultom berjanji bahwa Aluna bebas memilih pria manapun kelak.
"Aluna, Zaid tidak tau harus bagaimana lagi tapi Zaid jatuh cinta pada Luna."