Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Rindu atau rindu#


__ADS_3

Aluna pun tiba tepat saat malam hari, saat itu Zaid tidak sedang berada di rumahnya.


Aluna datang ke rumah Zaid, dia pun disambut oleh asisten pribadinya dulu saat ia hidup bersama dengan Zaid.


Sampai pada saat Aluna tidur di ranjang tempat mereka biasanya tidur berdua, Aluna sengaja tidak menyalakan lampu karena ingin memberikan kejutan pada Zaid meskipun dia sebenarnya ketakutan, hanya penerangan dari sebuah gelang yang dia gunakan itupun hanya sebesar biji jagung asal gadis itu melihat cahaya saja maka semua aman.


Setelah sekian lama menunggu, di kamar itu Zaid tidak kunjung datang, hingga saat siang hari pun tidak ada yang berani membangunkan Aluna yang masih tertidur pulas karena sudah bergadang semalaman.


Sampai saat seseorang tiba di kediaman Zaid yang super besar dengan puluhan orang yang tinggal di sana, pria itu datang dengan membawa belati berlumuran darah yang dilemparkan ke pada anak buahnya.


"Tuan, di dalam ."


"Aku mau istirahat jangan ada yang berani mengganggu ku."ujar pria itu.


Tidak ada yang berani membantah, mereka pun hanya terdiam hingga akhirnya pria itu masuk dia hendak berbaring karena sudah lelah setelah semalaman bertarung melawan musuh-musuhnya.


Bukan musuh yang menyerang, tapi dia yang menyerang musuhnya itu.


Setelah gagal membawa Aluna pulang, Zaid seakan kehilangan kendali atas dirinya bahkan dia pun tidak lagi memikirkan keselamatan nya.


"Euhh bau pipis Luna Uwo....uwo....."tiba-tiba saja gadis yang saat itu."ujar gadis yang kini berlari menuju kamar mandi.


Sementara pria yang sedari tadi datang langsung berbaring pun, dia langsung membulatkan matanya saat melihat gadis polos yang selama ini ia rindukan ternyata ada di sana.


"Uwo,,,,"


"Aluna."ujar Zaid lirih sambil mengucek mata.


Pria itu kini tengah berdiri sambil meyakinkan penglihatannya itu.


"Zaid pipis ya, kok pipisnya ngalahin bau pipis Luna,,,ini seperti bau bangkai."ujar gadis itu.


"Aluna ini benar kamu kan "ucap Zaid.


"Tentu saja, ini aku Zaid." ujar Aluna.


Pria itu langsung menghampiri Aluna, lalu merangkul pinggang gadis itu mendekapnya erat sambil menyalakan shower .


"Kau nyata honey."ujar Zaid yang langsung mencium bibir Aluna dengan kasarnya dan mengigit kecil bibir bawahnya. hingga gadis itu mengeluh dan memukul dada bidang pria itu.


"Zaid nakal bibir Luna di gigit, kalo sudah tidak punya stok daging Zaid bisa minta pada Daddy tapi jangan makan Luna."ujar gadis itu polos.


Zaid pun semakin tersenyum lebar, saat dirinya sadar bahwa saat ini dia tidak sedang berhalusinasi seperti biasanya.


"Zaid Luna belum siap-siap ini sudah basah kan handuknya masih ada di kamar."ujar gadis itu seperti biasa selalu merengek.


Tapi kali ini rengekan Aluna terdengar sangat menyenangkan bagi Zaid.


"Tunggu disini honey, aku yang akan ambilkan."ujar pria tampan itu.


"Iya."ujar Aluna.


Sampai saat Zaid kembali setelah memerintahkan pelayan untuk segera mengganti sepre dan membersihkan seluruh kamar utama itu semeantara waktu, dia akan menahan Aluna di dalam kamar mandi.


Aluna yang tidak sadar bahwa pria itu sudah berada di dalam kamar mandi saat gadis itu sudah berendam di dalam bathtub-e dia tidak terusik sama sekali, hanya saja Zaid yang kini merasa terganggu dengan itu.


Gadis itu sibuk bermain busa sabun di dalam kamar mandi yang luas itu, tepatnya di dalam bathtub-e sementara Zaid memunguti lingerie seksi milik Aluna yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Pria itu berdiri membelakangi Aluna Sabil bersandar di pintu kamar mandi dengan keadaan basah kuyup.


Setelah beberapa menit kemudian dia pun masuk ke dalam ruangan shower dan langsung melucuti pakaiannya.


Dia tidak mandi dengan air hangat melainkan dengan air dingin untuk menetralkan otaknha yang sedang traveling.


Setelah hampir sepuluh menit, Zaid selesai lebih awal dari Luna, entahlah apa? Yang sedang gadis itu lakukan saat ini.


Zaid yang sudah berbalut bathrobe dan sudah menggunakan bokser Karena di dalam kamar mandi itu adalah tempat yang wajib diadakan tempat ****** ***** bersih jika sewaktu-waktu ada keadaan darurat.


Saat dia hendak keluar, dia memberanikan diri untuk melirik kearah Aluna namun dia dibuat kaget saat melihat gadis itu sudah tidak terlihat di dalam bathtub-e tersebut dan Airnya sudah kering bahkan bathtub-e tersebut sudah kosong dan bersih.


Zaid buru-buru keluar kamar mandi karena ternyata wanita itu tidak menggunakan bathrobe dan hanya menggunakan handuk kecil yang tidak mungkin menutupi seluruh bagian tubuh.


"Aluna."panggil Zaid.


"Ada apa?."ujar Zaid.


"Kamu tadi pakai apa? kesini jika handuk itu berada di kepalamu."ujar Zaid saat melihat Alina sudah berpakaian saat.


"Luna pakai handuk lalu keluar dan mengambil bathrobe Luna karena punya Zaid kegedean.ujar gadis itu sambil menunjuk ke arah bathrobe yang menggantung di gantungan.


"Ah syukurlah, sini aku bantu mengerikan rambut."ujar Zaid.


"Tidak usah Luna sudah bisa menyisir sendiri."ujar gadis itu.


Zaid pun mengangguk sambil tersenyum manis, pria itu pun masuk kedalam walk-in closed.


Sampai akhirnya Zaid melihat Luna sudah selesai berdandan cantik dengan semua terlihat sangat cantik seperti saat dia bertemu dengan Aluna di rumahnya.


"Kau cantik sekali honey."ucap Zaid sambil memeluk Luna dari belakang.


"Besok aku sibuk sayang bagaimana? jika lain kali."ujar Zaid.


Aluna terdiam sejenak setelah itu dia pun mengangguk pelan.


Zaid malah merasa heran dengan tingkah Aluna saat ini.


Namun pria itu langsung berkata."weekend nanti, aku akan usahakan untuk meluangkan waktu. dan kita bisa pergi ke pantai."ujar Zaid.


Aluna pun berbalik dan memeluk Zaid.


"Aku ingin bermain sepuasnya Zaid, aku rindu hari itu sebelum aku kembali pulang."ujar gadis itu.


"Pulang?."ucap pria itu bingung.


"Aku tidak mungkin selamanya bersama dengan mu, Daddy bilang Zaid menikah dan memiliki keluarga."ujar gadis itu.


"Kita yang akan membangun sebuah keluarga baru kita honey, apa? Kau tidak ingin seperti Julia yang memiliki anak yang lucu-lucu."ujar Zaid.


"Tapi Luna belum boleh menikah Luna masih kecil,"ujar Luna.


Sementara Zaid tersenyum, gadis cantik yang ada di hadapannya itu begitu menggemaskan.


"Apa?Luna tau anak kecil dan orang dewasa itu memiliki tubuh yang berbeda."ucap Zaid.


Luna terdiam seolah dia sedang berfikir.

__ADS_1


"Sudah tidak usah dipikirkan sekarang cukup ikuti apa? Yang aku katakan, yu sarapan dulu setelah itu temani aku tidur."ujar Zaid.


"Heumm,,, baik'lah Luna juga sudah laper.*ujar gadis itu sambil tersenyum.


Mereka pun sarapan pagi bersama, sampai saat selesai sarapan Zaid langsung menggendong Aluna ala bridal style.


Sesampainya di dalam kamar, Zaid mendudukkan Aluna di atas ranjang lalu dia meraih remote TV dan langsung menyalakan itu.


Setelah itu dia meraih ponselnya dan mencari sebuah film romantis yang sengaja dia nyalakan untuk Aluna tonton.


Zaid sendiri berbaring di samping Aluna yang tengah duduk selonjoran.


Pria itu membaringkan kepalanya di atas pangkuan Aluna sambil memeluk pinggang Aluna pria itu pun memejamkan mata nya.


Gadis itu anteng menonton film sambil mengelus rambut Zaid yang kini sudah terlelap dalam tidurnya.


Setelah sekian bulan lamanya pria itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan hari ini dia hanya ingin tidur tanpa beraktivitas apapun sampai ia puas.


Sementara Aluna sedang mengotak Atik ponsel Zaid, pria itu tidak menggunakan password untuk ponselnya semua agar Aluna tidak kesulitan jika dia nanti ini memainkan benda pipih itu.


Sampai saat Aluna melihat foto Zaid yang terlihat tengah berciuman dengan wanita lain Aluna langsung menghempaskan ponsel tersebut hingga Zaid bangun setelah hampir dua jam tertidur.


"Ada apa heumm."ujar Zaid.


"Luna ingin pulang..... Luna tidak mau tinggal disini, Zaid sudah punya istri jadi untuk apa? Luna disini."ujar gadis itu.


"Aluna kamu mengigau.... omong kosong apa? Itu, aku tidak pernah memiliki wanita manapun."kata Zaid tegas.


"Buktinya ada di handphone mu, Zaid jangan bohong sama Luna."ujar gadis itu.


"Aluna sayang aku tidak mengerti wanita mana yang kamu maksud, aku bahkan tidak pernah menyimpan foto wanita manapun kecuali adikku!."ucap Zaid dengan nada tinggi.


Aluna pun hanya bisa menangis sesenggukan Gadis itu tidak percaya dengan ucapan Zaid saat ini kenapa Zaid selalu bohong padanya itu pikiran Luna.


Zaid jahat! Zaid kamu tidak sayang Luna lagi Luna mau pulang saja."ucap gadis itu sambil terus menangis.


"Sayang aku tidak jahat,,, aku juga tidak bohong aku hanya punya kamu tidak ada wanita lainnya."ujar Zaid.


Namun Aluna malah turun dari ranjang dia ingin pergi meskipun Zaid sudah berusaha mencegah langkahnya.


"Sayang please dengarkan aku dulu, sekarang kamu tunjukkan mana foto wanita itu."ujar Zaid.


"Luna mau pulang saja Luna tidak mau tinggal di sini."ujar gadis itu.


Zaid pun memeluk Aluna dengan erat, gadis itu terus menangis sesenggukan.


"Sudah Jangan menangis lagi semuanya tidak ada aku hanya mencintaimu dan tidak lagi memikirkan wanita lain, aku hanya akan menikah denganmu sampai akhir hayat nanti."ucap Zaid sambil mengecup puncak kepala kepala Aluna dengan sangat sayang.


Gadis itu terdiam dan tak lagi berbicara tentang diam sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Zaid.


Zaid langsung menggendong Aluna kembali membawa gadis itu keatas ranjang dan membaringkan gadis itu di sana.


Aluna langsung membelakangi Zaid, dia masih merasa marah, tapi Zaid tersenyum dalam hati, karena Aluna secara tidak langsung telah memperlihatkan kecemburuannya.


Zaid yakin Aluna memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


Gadis itu memejamkan matanya dalam dekapan Zaid dan kini dia tertidur pulas.

__ADS_1


Zaid pun ikut memejamkan mata bersama dengan Aluna, dia akan terus bersabar menghadapi sifat gadis polos yang kini sangat ia cintai.


"Zaid jahat."


__ADS_2