
Gerald menghembuskan nafas panjang saat dia tengah merenung atas semua yang telah ia lewati selama dua tahun ini.
Dia sendiri tidak menolak jika saat ini dirinya pun tengah terjebak Antara cinta dan kebohongan yang telah ia lakukan untuk menyembunyikan cinta itu.
Kini dirinya bahkan lebih galau dari Shania, dia hanya punya waktu selama dua bulan saja untuk bisa memutuskan, Antara mengakui kesalahannya atau dia harus siap kehilangan semua kebahagiaan yang selama ini ia jalani secara diam-diam dan membohongi keluarga besarnya itu.
Hanya karena sebuah restu yang bahkan belum pernah ia minta sama sekali dari orang tua dan kakek neneknya selama ini dia terjebak di dalam rasa ragu nya sendiri.
Gerald berkali-kali menyesap rokok yang kini hanya tinggal setengah, dirinya benar-benar dibuat tidak berdaya.
Tapi saat ini ada yang tengah menunggu keputusannya, tiga orang yang sangat ia cintai. tiga orang yang sudah memberikan warna dalam hidupnya yang selama ini bahkan jauh dari kata bahagia.
Ya, bahagia itu tidak pernah dia rasakan dari orang-orang di sekitarnya, karena sejak Gerald lahir hingga saat ia diasuh oleh kedua lansia yang merupakan kakek dan neneknya itu dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang seutuhnya yang seharusnya dia dapat dari sebuah keluarga.
Yang dia dapat hanyalah pendidikan dan juga beban besar yang selama ini ia pikul sebagai pewaris tahta kerajaan bisnis dari sang Opah.
Mirisnya lagi Gerald tidak pernah merasakan masa kecil yang ceria dan penuh kebahagiaan ditengah perhatian dari kedua orang tuanya itu.
Yang Gerald dapat adalah hidup bergelimang harta tapi kesepian sendirian dan tanpa adanya kawan atau saudara disisinya.
Gerald hanya harus puas ditemani oleh sang Oma sesekali itupun masih dalam rangka belajar mandiri, Mariana selalu mengajarkan dia hidup mandiri meskipun banyak orang yang akan melayani dirinya di Mension.
Mariana adalah sosok ibu sekaligus nenek yang memiliki jiwa disiplin yang tinggi.
Sejak memutuskan untuk tinggal di Eropa Mariana bahkan terlihat dingin dan jarang bicara, meskipun terkadang Kenzo mengajak dia bercanda dan mengobrol santai.
Mungkin karena terlalu banyak luka yang suaminya torehkan saat itu, mulai dari terungkapnya cinta pertama Kenzo yang selama ini masih bertahta di dalam lubuk hati suaminya itu, sehingga membuat kebahagiaan Mariana selama ini hancur seketika itu.
Dan masih ada kebohongan lainnya lagi, tentang Queen yang kini sudah tiada ternyata putri yang selama ini Mariana cintai faktanya dia adalah adik iparnya sendiri.
Lalu apalagi yang harus Mariana terima setelah itu, fakta apa? yang lagi-lagi akan menyakiti dirinya.
Ditambah lagi sikap keras kepala Kenzo karena menolak Sanum yang jelas-jelas merupakan putri dari wanita yang sangat ia cintai dulu, hingga percekcokan antara putra dan menantunya itu terjadi.
Mariana pernah menganggap bahwa hidupnya begitu sempurna selama ini karena memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintai dirinya, dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan cintanya.
Tapi sebuah fakta melenyapkan semua kebahagiaan yang Mariana rasakan selama ini.
Jika dulu dia menganggap Dion mantan suaminya adalah pria munafik maka saat ini Kenzo lebih munafik dari Dion.
Lalu siapa? yang harus Mariana percaya.
Sendiri... ya itu adalah hal yang dirasakan oleh Mariana selama ini.
Dirinya sudah di khianati oleh mimpinya sendiri selama ini.
Mungkin itulah gambaran jiwa seseorang Mariana yang kini tidak sehangat dan seceria dulu.
Bahkan dia menjalani kehidupan rumah tangganya layaknya seorang pemeran film yang mengikuti alur cerita yang sungguh bertentangan dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia masih harus berperan sebagai seorang istri yang seolah-olah sangat dicintai.
Padahal jiwanya telah kosong cintanya telah sirna bersama kebohongan-kebohongan yang teman hidupnya itu ciptakan.
Ya, jika selama ini Mariana masih bisa bertahan dalam rumah tangga itu, Mariana hanya akan menganggap Kenzo sebagai teman.
Gerald pun merasakan hal itu, senyuman yang selalu dipaksakan, air mata yang selalu datang dikala sepi sudah tidak terhitung jumlahnya itupun selalu jadi keseharian Mariana.
Kata cinta yang keluar dari bibir suaminya sudah seperti angin yang bertiup kencang yang hanya akan meluluhlantakkan bangunan di sekitarnya.
Kata itu hanya akan terasa mengoyak luka batin yang selama ini ia pendam sendiri.
Mariana adalah gambaran sebuah rumah mewah tapi tidak ada kebahagiaan didalamnya.
Dingin sunyi sepi dikala mata hari sudah tidak lagi menerangi bumi.
Wanita itu bahkan tidak jarang akan terjaga dikala tengah malam tiba, menatap teman hidupnya yang dengan pulas nya tertidur seakan tanpa beban.
Selama ini Gerald selalu jadi foto geraper yang selalu mengabadikan setiap momen tersebut.
Dihatinya tertanam, jika Mariana saja merupakan istri yang mendampingi Kenzo selama puluhan tahun sudah sebegitu mengenaskan, apalagi dirinya yang hanya seorang cucu.
Lalu kemana dia akan mengadu tentang perasaannya itu.
Malam semakin larut, Gerald pun berbaring di atas ranjang empuk itu. selama ini hidupnya selalu bergelimang harta dan fasilitas lengkap dan mewah itu selalu menjadi tumpuan hidupnya.
Apakah? dia akan mampu melepaskan semua itu demi keluarga kecilnya nanti, apa? Gerald akan mampu membahagiakan mereka ditengah tekanan dari keluarga besarnya nanti.
Sebuah senyuman keluarga kecilnya ada di sana, itu adalah pengantar tidurnya.
Jika dia sudah benar-benar mengantuk maka dia akan kembali menyembunyikan itu semua, meskipun tidak akan ada yang membuka handphone pintar tersebut.
Sementara Shania yang masih galau saat ini dia masih berdiri di balkon kamar menatap langit yang penuh kerinduan, saat ini dia tengah berdoa semoga akan ada keajaiban datang yang akan membuat dia kembali ke Indonesia.
Ya, saat ini fokusnya adalah Indonesia bukan negara Belanda yang beberapa bulan lalu Arvin tinggali.
Hingga suara deheman sang kakak terdengar nyaring.
Shania terperanjat kaget.
"Kenapa? masih belum tidur heuhhhhh, besok kamu harus sekolah."ucap Kendra.
"Aku sedang rindu Mommy dan Daddy."ucap Shania berbohong.
"Kenapa? tidak di telpon saja."ucap Kendra sambil mengelus bahu sang adik.
"Aku akan semakin ingin pulang."ucap Shania.
"Pulanglah tidak ada yang memaksa mu datang kesini, tidak seperti kami yang memang tengah dihukum."ucap Kendra.
__ADS_1
"Tapi aku masih harus menyelesaikan sekolah ku dulu, nanti mungkin saat aku kuliah baru bisa kembali."ucap Shania.
"Jangan menyiksa diri! cukup kami para laki-laki yang tersiksa disini, jangan kamu yang bahkan masih butuh pelukan hangat dari kedua orang tua kita. dan satu lagi bilang pada daddy jika dia harus menyiapkan rumah untuk cucu menantunya yang dua bulan lagi akan segera kembali ke Indonesia."ucap Kendra yang diam-diam menyelidiki tentang kakak tertuanya itu.
"what!!..."teriak Shania kaget.
"Pria itu langsung membungkam mulut sang adik saat itu juga.
"Pelan kan suara mu, dan ingat jangan banyak bertanya, karena kamu sendiri tidak akan pernah bisa mendengar fakta mengejutkan ini, cukup bantu kakak kita yang saat ini tengah kesulitan untuk meminta restu."ucap Kendra pada Shania.
Pria itu juga sudah berbicara dengan Kevin.
..............................
Sementara itu di kediaman Kenzie saat ini fakta besar tentang putra pertamanya telah terungkap, Kenzie sudah mendapatkan bukti-bukti lengkap tentang pernikahan rahasia yang dilakukan oleh putranya itu hingga menghasilkan penerus yang sampai saat ini belum juga mendapatkan pengakuan dari keluarga besarnya itu.
Kenzie langsung mengutus seseorang untuk menjemput mantu dan cucunya itu.
Dirinya telah merasa gagal sebagai orang tua yang justru telah menelantarkan anak pertamanya dan membiarkan dia diasuh oleh kedua orang tuanya yang bahkan menerapkan disiplin yang tinggi ketaatan adalah segalanya.
Kenzie bukan ingin memisahkan antara putra dan menantunya itu, tapi dia ingin menyelamatkan mereka dari amukan Kenzo seperti rumah tangganya dulu.
Kenzie masih ingat bagaimana kehancuran rumah tangganya dulu, sebelum dia memutuskan untuk menentang sang daddy.
Kenzie tidak ingin itu terjadi pada putra pertamanya, karena belum tentu pria itu sekuat dirinya.
Jika harus dihadapkan dengan pilihan yang justru merupakan sebuah jalan buntu.
Kenzie pun meminta orang itu menyampaikan pesan darinya secara khusus pada Anggun,agar dia tidak kaget saat orang itu tiba-tiba menjemput dia dan kedua anaknya itu.
Sementara keluarga Kenzie tengah fokus pada penyelamatan sebuah hubungan.
Di kediaman Arvin saat ini tengah terjadi keributan dimana Arvin dituntut untuk menikah dengan Karin karena Arfan sudah menghamilinya.
Keluarga Karin mendesak Arfan agar bertanggung jawab, tapi sang Bunda tidak mengijinkan hal itu karena Arfan masih belum cukup umur dan masih sekolah.
Akhirnya keluarga Karin tidak ingin tau antara Arvin atau Arfan yang akan bertanggung jawab terhadap Karin.
Arvin jelas menolak untuk itu, dia tidak merasa berbuat dan dia juga memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
"Baiklah saya akan menempuh jalur hukum, jika putri saya hancur maka kalian dan reputasi sekolah yang kalian dirikan pun akan hancur."ancam ayah Karin.
"Anda tidak bisa melakukan hal itu, karena semua ini tidak ada hubungannya dengan masalah sekolah. seharusnya Anda jaga putri anda agar tidak membawa kehancuran di keluarga anda."ucap Arvin
"Anda tahu sendiri putri anda selalu menginap di luar, dan itu di rumah laki-laki kenapa? baru sekarang heuhhhhh!! setelah putri anda hamil baru bertindak, kenapa? tidak sedari dulu."ucap Arvin lagi.
Arvin benar-benar mengamuk saat ini bukan dia membela adiknya yang sudah melakukan kesalahan, tapi dia juga ingin mengingatkan bahwa semua itu tidak akan pernah bisa terjadi jika saja wanita itu tidak bersikap murahan seperti kemarin.
Kini Arvin benar-benar mengamuk saat ini, masalah tanggung jawab itu gampang dilakukan jika benar-benar Karin mengandung anak Arfan.
__ADS_1
Sementara disini Arfan sendiri mengaku telah terjebak di dalamnya.
Entah apa yang dia maksud yang jelas saat ini Arfan tidak bisa menjelaskan semuanya.