
Arvin kini tengah duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda saat ini.
Sementara Shania kini tengah dijadikan boneka percobaan oleh calon mertuanya.
Wanita itu terus memberikan berbagai model perhiasan dan juga tas dan lainnya saat ini.
Shania biasanya suka protes jika Sanum memaksa untuk memakaikan semua apapun yang tidak ia sukai, tapi pada Ervina dia tidak protes justru dia terlihat asik saat bersama calon mertuanya.
Ervina pun mulai mengirimkan foto keseruan mereka berdua pada Arvin.
Arvin pun tersenyum saat melihat Shania yang kini seperti boneka percobaan.
Pria itu senyum-senyum sendiri saat melihat calon istrinya yang terkadang polos itu dijadikan sebagai model oleh ibunya sendiri.
Tiba-tiba Arvin duduk di samping Shania yang tengah duduk makan siang bersama dengan sang mommy.
"Sayang."ucap Shania.
"Heumm...... Apa? tidak boleh."ucap Arvin dengan sengaja.
"Heumm... boleh dong yang, katanya tidak mau ikut."ucap Shania.
"Sayang aku penasaran ingin melihat model papan atas yang selalu lalu lalang saat aku ingin fokus bekerja."ucap Arvin.
"Model."beo Shania.
"Ya model."ucap Arvin.
"Model yang mana?."tanya Shania.
"Model yang kini terlihat sangat cantik kamu pasti penasaran kan dia ada di area sini."ucap Arvin dengan sengaja.
Shania tidak bicara lagi wanita itu langsung pergi meninggalkan keduanya tanpa bicara Arvin yang melihat itu pun bergegas mengejar Shania.
"Yank... kamu mau pergi kemana heumm..."ucap Arvin yang hendak meraih tangan Shania tapi tidak dapat karena Shania sudah lebih dulu menghindari Arvin.
"Yank... kamu kenapa?."ucap Arvin yang langsung meraih pinggang Shania.
Shania pun berbalik lalu berkata."Aku memang sudah seharusnya pergi.... dan lagi untuk apa? aku disini kalau aku sudah tidak berarti lagi di mata mu, dan kau sudah memilih wanita lain."ucap gadis itu.
"Sayang kamu salah faham yank....yang aku maksud adalah kamu... kamu harus lihat buktinya ada di sini."ucap Arvin.
"Aku mau pulang terserah dengan semua itu aku tidak peduli."ucap Shania yang hendak mencegah taksi.
"Yank, please jangan pergi dulu kamu sedang salah faham."ucap Arvin.
"Stop bicara seperti itu aku sudah leleh ok, aku mau pulang."ucap Shania.
"Baiklah kita akan pulang tapi aku yang akan mengantar mu."balas Arvin.
Mereka pun pergi tanpa pamit dari Ervina yang kini juga pulang tanpa menunggu keduanya kembali pasti mereka sedang ada masalah, itu pikir Ervina saat ini.
Di dalam mobil kedua sejoli itu kini masih ribut terutama Shania yang menolak penjelasan dari Arvin.
"Yank, kalau kamu tidak percaya kamu bisa lihat ponsel ku disana tidak ada foto orang lain selain kamu dan keluarga ku. dan yang tadi aku lihat itu foto kamu yang Bunda kirim ke aku."ucapnya sambil memberikan ponsel tersebut.
"Aku tidak peduli."ucap Shania yang langsung menepis ponsel itu hingga terjatuh ke bawah.
"Yank... jangan seperti ini tidak baik, jika kamu terus begini bagaimana aku bisa mengantar mu pulang.... aku tidak mau kamu pulang dalam keadaan marah begini apalagi ini hari terakhir kita bisa bersama sebelum weekend nanti."ucap Arvin.
Arvin pun langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Sekarang kamu katakan saja apa? yang kamu mau Yank... aku tau kamu sedang lelah iya kan? tadi juga sudah aku bilang jangan pergi dengan Bunda, dia memang sangat suka anak perempuan untuk dijadikan teman mainnya dan akhirnya kamu juga yang pusing kan."ujar Arvin.
__ADS_1
"Aku tidak mengeluh soal itu, tapi aku tidak suka kamu melirik wanita lain."ucap Shania.
"Aku tidak pernah melakukan itu Honey sejak aku bertemu dengan mu aku tidak pernah melirik wanita manapun bahkan sejak berpisah dengan Julia."ucap Arvin jujur.
"Aku ingin kita menikah secepatnya, aku bisa mengurus semua setelah menikah nanti."ucap Shania.
"Usia mu masih sangat muda sayang, aku tidak ingin kamu bosan dengan pernikahan itu nantinya."ucap Arvin.
"Kita bisa berhenti sejenak jika kita bosan."ujar Shania polos.
"Pernikahan itu bukan permainan honey, dimana? disaat kita lelah kita bisa berhenti sejenak. tapi pernikahan itu menuntut kesiapan fisik dan mental meskipun bukan arena tinju atau sebagainya."ucap Arvin.
"Aku yakin aku bisa."ucap Shania yang saat ini tidak ingin berpisah dengan Arvin ingin selalu berdekatan dengan Arvin dalam keadaan halal.
Agar dirinya bisa leluasa untuk melakukan apapun itu, setelah menikah nanti.
Tapi Shania tidak pernah tahu tujuan dari sebuah pernikahan, dan cara untuk mempertahankan pernikahan itu hingga akhir hayat.
Arvin pun mengelus puncak kepala Shania membelainya penuh rasa sayang.
"Aku ingin setelah kita menikah nanti langsung memiliki anak sayang karena aku sudah dewasa dan mungkin sebentar lagi menjadi tua."ucap Arvin.
"Aku siap Yank... aku hanya tidak ingin kita terlalu lama berpacaran."ucap Shania.
"Baiklah setelah kita sampai di Mension nanti kita akan bicara dengan mommy dan Daddy."ucap Arvin.
Shania pun tersenyum.
"Sudah ya kita lanjutkan lagi perjalanannya."ucap Arvin.
Shania pun mengangguk setelah itu mengecup bibir Arvin.
Pria itu pun tertegun sejenak lalu membalas kecupan itu dengan ciuman mesra yang memabukkan bagi keduanya, tidak beberapa lama Arvin pun menyudahi ciuman tersebut.
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya menuju kompleks perumahan mereka saat ini.
Sementara itu di kediaman Kenzie semua orang telah menunggu kepulangan anak gadis satu-satunya yang sejak kemarin siang hingga siang lagi belum pulang meskipun Sanum dan Kenzie percaya Arvin bisa menjaga putrinya itu.
Sampai saat mereka tiba di Mension mereka langsung ikut bergabung dengan keluarga mereka yang saat ini tengah berkumpul.
"Heumm... sepertinya ada yang sudah ngebet ingin menikah."ucap Kendra.
"Kakak tau aja."ucap Shania asal.
"What's!!."teriak Kevin kaget.
"Aku dan kak Arvin ingin menikah dan ingin segera punya baby."ucap Shania sambil tersenyum.
"Betul itu Arvin."tanya Kenzo dan Kenzie secara bersamaan.
"Tentu opah daddy, saya tadinya ingin Shania selesai kuliah dulu, tapi Shania bilang dia bisa membagi waktu antara kuliah dan pernikahan."ucap Arvin serius.
"Tidak-tidak kita belum menikah jadi tunggu sampai kami menikah nanti."ucap keduanya kompak.
"Sanum dan Mariana hanya menggelengkan kepalanya.
"Buktikan jika kalian sudah mampu untuk memimpin perusahaan, maka opah dan daddy tidak akan melarang kau menikah dengan siapapun."ucap Kenzie.
"Yah daddy itu nanti setelah kita menjadi pembalap profesional dan menikah barulah kita bisa mengurus seluruh perusahaan."ucap Kevin.
"Mimpi apa? kamu selama ini Ken, daddy tidak pernah bermimpi punya keturunan yang memiliki cita-cita untuk menjadi pembalap dan menyia-nyiakan hidupnya."ucap Kenzo.
............................
__ADS_1
Semua orang kini masih mendiskusikan tentang rencana Arvin dan Shania.
Sudah dipastikan jika pernikahan itu tertunda sampai saat kedua kakak Shania menikah dan mengurus perusahaan barulah Shania bisa menikah dan dengan adanya itu keduanya akan mengikuti acara perjodohan yang akan Kenzo adakan untuk keduanya melewati seleksi ketat.
Keduanya mau tidak mau harus mengikuti langkah itu, agar adik bungsunya itu tidak kelamaan menunggu keduanya.
Arvin sebenarnya sudah pasrah jika keluarga Shania menunda sampai saat Shania lulus kuliah, tapi Shania terus protes untuk hal itu.
Dan akhirnya kedua kakaknya harus mengikuti sebuah perjodohan.
"Untuk hari esok, semua akan di mulai daddy ingin kau menyiapkan semuanya."ucap Kenzo pada Kenzie.
Pria itu pun mengangguk pelan menyetujui permintaan sang daddy.
Sementara kedua putranya itu sungguh terlihat enggan untuk semua itu, sebagai seorang pria tampan dan gagah dia tidak ingin mendapatkan cemoohan dari para gadis yang pernah mereka tolak. karena dengan begitu mereka pasti akan mengejek mereka berdua terkena karma.
Arvin pun sempat tersenyum melihat kedua pemuda yang usianya hanya beda lima tahun darinya.
Keduanya kini menatap tajam kearahnya karena gara-gara Arvin yang mengatakan ingin menikah secepatnya keduanya pun harus terkena imbasnya.
"Kakak kalian tidak boleh seperti itu pada suamiku."ucap Shania yang langsung membuyarkan tatapan permusuhan itu.
"Kendra dan Kevin kalian itu sudah dewasa."ucap Sanum.
"Iya mom, kami pergi dulu."ucap keduanya kompak.
Siang itu keduanya pergi menuju apartemen mereka dimana di sana ada kedua wanita yang mereka kasihi selama ini mereka tempatko di tempat tersebut.
Sesampainya di sana, keduanya kaget karena apartemen itu sepi dan seakan tak pernah mereka tinggali.
Mereka langsung mengecek Cctv, untuk mengetahui sejak kapan mereka pergi, dan hal yang mengejutkan pun terjadi saat mereka melihat Kenzie datang ke hunian tersebut.
"Sial bagaimana? mungkin kita ketahuan."ucap keduanya.
"Sudah kubilang jangan biarkan mereka tinggal di sini, tapi kamu tetap saja bilang mereka aman."ucap Kevin.
Kendra hanya mendengus pelan.
Kini keduanya tidak punya harapan untuk bersama dengan mereka.
"Ah, kita benar-benar akan terjebak di dalam perjodohan ini."ucap keduanya.
Mereka pun kembali pergi meninggalkan apartemen tersebut dan pergi untuk mencari hiburan dengan kedua mobil sport miliknya itu.
Sementara Arvin masih menemani Shania di rooftops yang nyaman tepat di samping kolam renang yang ada di sana.
"Kak.."lirih Shania.
"Apa? honey."ucap Arvin.
"Dinegara mana kita akan tinggal nanti saat kita menikah."ucap Shania.
"Tentu saja disini."ucap Arvin.
"Heumm.... rasanya aku tenang karena dekat dengan mommy dan Daddy."ucap Shania.
"Ya, sayang aku juga memikirkan itu, aku sebagai anak pertama dan kamu sebagai anak bontot harus lebih dekat dengan orang tua apalagi kamu adalah anak perempuan satu-satunya bagi daddy Kenzie."ucap Arvin.
"Kak Julia, adalah putri pertama daddy dan itu tidak ada perbedaan sama sekali."ucap Shania.
"Heumm... aku lupa akan hal itu."ucap Arvin beralasan.
Pria itu bertanya-tanya apakah Shania tidak pernah diberitahu bahwa Julia adalah kakak tirinya.
__ADS_1
Arvin pun tidak ingin terus memikirkan itu, saudara kandung atau bukan Julia tetap kakak dari Shania.