
Setelah mereka pulang dari bioskop sepanjang perjalanan Arvin terus terdiam karena tengah fokus menyetir.
Mungkin karena ini malam Minggu jalanan jadi macet dan Arvin harus berkonsentrasi pada jalan yang tengah ia lalui.
"Honey... kamu suka tidak dengan film tadi."tanya Shania.
"Heumm."jawab Arvin.
"Ih sebel deh ditanya suka atau tidak jawabnya hanya heumm."ucap Shania.
"Sayang aku lagi nyetir kamu lihat kan macet banget."ucap Arvin.
"Iya Mr, kalau boleh tidak usah jalan saja sekalian."ucap gadis itu.
"Kalo gak maju kapan sampainya Yank..."ucap Arvin.
"Besok juga tidak apa-apa yang penting kita bisa berduaan romantis kaya film tadi."ucap Shania.
"Heumm... film yang mana honey aku tidak tau."ucap Arvin.
"Owh ya ampun sayang lalu kamu fokus kedepan itu ngapain saja."ucap Shania.
"Bobo Yank... aku ngantuk."Shania kesal bukan main dia pikir Arvin fokus kedepan itu nonton eh ternyata malah tidur, pantas saja tidak merespon Shania yang tengah senyum-senyum sendiri.
"Maafkan aku sayang, sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur nyenyak, aku curi-curi waktu untuk tidur, tapi kamu senang bukan ditemani nonton."ucap Arvin.
"Shania malah diam sambil menatap jendela mobil.
"Honey, ayolah.... tanpa harus nonton film romantis juga kita sudah romantis bukan."ucap Arvin.
Shania masih tidak mau merespon dia malah menyandarkan kepalanya di jok penumpang tersebut.
Shania merebahkan diri di jok tersebut.
Arvin pun langsung membelokkan mobilnya menuju apartemen pribadinya, dia tidak ingin Shania terus marah. setelah tiba di apartemen Arvin meminta izin untuk membawa Shania menginap di sana karena jalanan macet dan jika pulang pun tidak akan bisa pulang cepat.
Beruntunglah Kenzie bisa mengerti meskipun terus mewanti-wanti jangan sampai terjadi hal yang tidak seharusnya.
Arvin pun meyakinkan hal itu, hingga saat ini keduanya sudah berada di apartemen tersebut.
"Masuk sayang itu kamu bisa bobo di kamar aku bobo di luar di ruang televisi."ucap Arvin.
"Aku pulang saja untuk apa? kesini jika untuk bobo, dirumah juga bisa."ucap Shania.
Arvin pun langsung menyambar bibir Shania dan memegang erat pinggang gadis itu Arvin yang selalu berusaha menahan hawa nafsu kini dia tengah sibuk menelusuri bibir Shania.
"Sayang,,,ini kan yang kamu mau."ucap Arvin namun Shania tidak menjawab dia bahkan tidak sedikit pun bicara.
"Yank aku benar-benar minta maaf, tadi aku ngantuk kita bisa nonton film itu lagi disini ok honey."ucap Arvin yang tidak punya pilihan lain, yang sebenarnya dia tidak suka ada film yang terus menerus memperlihatkan adegan romantis seperti film Edward Cullen dan Bella swan.
Arvin teringat dengan Julia karena dulu mereka juga suka menonton film tersebut.
Akhirnya Arvin mengeluarkan laptopnya yang lama yang berada di dalam di bawah meja.
Arvin langsung mencolok kan charger laptop tersebut ke sambungan listrik.
Dia langsung menyalakan laptop tersebut dan dengan lincahnya jemarinya menari di atas keyboard laptop tersebut dan tak lama film yang tadi di tonton pun muncul.
"Duduklah honey kita menonton film."ucap Arvin.
"Tidak mau aku hanya ingin pulang."ucap gadis itu.
"Shania... please jangan seperti ini aku sedang lelah tadi."ucap Arvin.
"Ya sudah istirahat sana aku pulang sendiri naik taksi juga bisa."ucap Shania.
"Ya pergilah dengan begitu kamu berarti tidak pernah menghargai ku selama ini."ucap Arvin.
"Yank... kamu ko bicara begitu."ucap Shania yang kini duduk di samping Arvin menatap pria yang saat ini terlihat berwajah datar.
"Yank!..."
Tapi Arvin malah beranjak pergi menuju kamar.
"Yank, kamu dengar nggak sih."ucap Shania yang kini tengah mengekor di belakang Arvin.
"Yank... aku pulang saja kalau kamu terus seperti ini."ucap Shania yang kini berbalik badan dan hendak pergi.
Tapi Arvin menarik pinggang Shania dengan sekali tarikan dan kini tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lainnya.
__ADS_1
"Jangan harap bisa pergi setelah ini sayang."ucap Arvin yang kini mendorong Shania hingga mentok di dinding Arvin mengurungnya.
"Sekarang. pilih mau lakukan itu lebih dulu atau saat kita bulan madu nanti."tanya Arvin.
"Kamu bicara apa? yang aku tidak mengerti kilah Shania.
"Kamu tidak mengerti lalu kenapa? kamu terus-menerus ngotot ingin kita segera menikah secepatnya dan kamu ingin membuktikan adegan romantis yang tadi kamu tonton ia kan?."ucap Arvin.
Arvin langsung menyambar bibir Shania kembali kini ciuman itu terasa kasar dan terdapat emosi di dalamnya.
Shania langsung mendorong dada bidang Arvin dan Shania langsung pergi meninggalkan Arvin yang kini mengejar langkahnya sambil berkata.
"Kenapa? malah ingin pergi ayo lakukan apapun yang kamu inginkan, mungpung kita sedang berdua ucap Arvin yang kini menghadang langkah Shania.
Arvin langsung mendekat dan menggendong tubuh Shania membawa gadis itu kearah sofa.
"Duduklah kita begadang sampai pagi jika perlu."ucap Arvin.
Shania tidak bicara, dia tetap bungkam sambil bersandar di sofa tersebut.
Shania langsung menutup mata dengan bantal saat film yang tengah di putar ternyata film 21+.
"Ar, "lirih Shania yang kini menutup mata.
"Kenapa? heumm... filmnya seru anggap saja itu sebagai latihan untuk kita nanti bukankah kamu tidak tahu."ucap Arvin yang sudah mematikan laptop nya secara diam-diam.
Arvin hanya ingin menguji Shania seberapa kuat gadis itu mempertahankan kehormatannya setelah berulang kali mengajak Arvin untuk menikah.
Arvin langsung menutup laptopnya dan kini berbalik menatap Shania.
"Kenapa?di tutup bukankah filmnya seru."ucap Arvin sambil tersenyum manis.
"Aku tidak mau melihat itu, kamu jahat...itu untuk orang yang sudah menikah."ucap Shania.
Shania menatap lekat wajah Arvin yang kini menatap ke arah dirinya.
"Antar aku pulang, biar aku yang nyetir."ucap Shania.
"Sudah larut....ah aku ngantuk."ucap Arvin berpura-pura mengantuk saat itu juga dia berbaring di sofa dengan bantalan sofa yang ia gunakan.
"Yank... aku pulang sendiri nih."ucap Shania.
"Yank.... aku takut tau.... aku tidur dengan siapa? nanti."ucap Shania yang kini ikut berbaring di samping Arvin dan memeluk erat tubuh kekar itu.
"Jangan tidur aku takut."ucap Shania lagi.
Arvin tetap terdiam untuk menggoda calon istrinya itu.
"Yank kamu jahat aku telpon mommy saja."ucap Shania.
"Cengeng...ayo tidur."ucap Arvin yang berbalik sambil mencolek hidung Shania.
"Suruh siapa? cerita soal hantu."ucap Shania
"Suruh siapa? ngotot ingin pulang tadi bilang tidak ingin pulang pas di jalan."ujar Arvin.
Perdebatan itu terus berlanjut sampai mereka tiba di dalam kamar Arvin dan Shania tidak mandi atau berganti pakaian mereka lanjut berbaring di ranjang meskipun tidak terjadi apa-apa Arvin hanya tidur memeluk calon istrinya itu karena Shania ketakutan.
"Kamu tidak ingin mandi dulu yang."tanya Arvin.
"Tidak mau aku takut gak apa-apa gak mandi juga.... tapi gak nyaman."keluh Shania.
Arvin pun langsung bergegas bangkit dari ranjang, tapi Shania langsung mengikuti Arvin dia mendekap tangan Arvin yang kini diam-diam tersenyum karena tingkah lucu nya itu.
"Mandilah aku berjaga di depan pintu."ucap Arvin.
"Tidak mau lebih baik kamu antar aku pulang."ucap Shania yang kini tidak mau bergerak kemanapun.
"Yank,,, kalau kamu takut bagaimana bisa kita tinggal di apartemen setelah kita menikah nanti."ucap Arvin.
"Aku juga punya apartemen dan disana tidak ada hantunya."ucap Shania.
"Tapi aku ini laki-laki Yank... aku tidak ingin terus bergantung pada keluarga mu, meskipun perusahaan ku tak sebesar milik daddy Kenzie tapi aku juga ingin menghidupi istriku dengan layak."ucap Arvin
"Terimakasih Yank.... tapi tidak ada masalah kan milikku milikmu juga dan kita bisa menikmatinya bersama."ucap Shania.
Shania pun tanpa sadar masuk kedalam kamar mandi, dia pun bergegas membersihkan diri sambil mengobrol dengan Arvin yang kini duduk di samping pintu kamar mandi.
Arvin pun terus berbicara sampai Shania selesai mandi dan sudah keluar dengan menggunakan bathrobe.
__ADS_1
"Aku sudah mandi sekarang bagaimana? aku ganti baju sementara aku tidak bawa baju ganti Yank..."ucap Arvin.
Arvin pun langsung bergegas menuju walk-in closed dia mengambil T-shirt miliknya tidak hanya itu dia kembali berjalan menuju kamar sebelah dimana disitu ada barang-barang milik sang bunda dia mengambil pakaian dalam milik sang bunda yang masih baru.
"Pilihlah yang mana yang ingin dikenakan itu masih baru dan jika tidak muat tidak apa-apa kamu tidak usah pakai itu masih ada milikku meskipun berbeda."ucap Arvin yang kini masih tersenyum.
"Owh ya ampun ini tidak seperti yang ada di cerita novel yang biasanya si pria akan meminta asisten pribadinya untuk mencari pakaian ganti untuk sang wanita di malam hari."ucap Shania.
Arvin hanya tersenyum mendengar ocehan calon istrinya itu, dirinya sadar jika Shania terlalu muda untuk dirinya.
Terbukti saat ini Shania lebih suka membanding-bandingkan hal yang dia lihat saat ini.
"Tuan putri, tidak semua hal yang ditulis di novel itu benar adanya. karena tidak semua orang itu sama penghasilan nya! aku akan memerintahkan asisten pribadi ku untuk urusan bisnis dan tidak dengan urusan pribadi kecuali asisten rumah, tapi kamu harus terbiasa setelah menikah nanti tidak akan ada pelayan sebanyak pelayan di rumah mu karena keuangan ku dengan Daddy jelas berbeda ya... kecuali jika kamu menikah dengan Sky mungkin beda cerita seperti halnya almarhum Julia."ucap Arvin yang kini menghentikan ucapannya karena Shania membungkam bibirnya.
"Sayang aku mohon jangan terus mengatakan hal itu, aku juga tidak akan mengeluh dengan semua itu... lagipula aku tidak suka terlalu banyak orang di rumah."ucap Shania.
"Syukurlah sayang jika seperti itu aku pun tidak suka ada banyak orang lihat di rumah ku tak ada orang hilir mudik mereka hanya akan ada saat beres-beres rumah."ucap Arvin.
Shania yang sudah berpakaian sambil mengobrol karena Arvin dan dirinya berbeda posisi
"Yank...ini milik mommy mu atau milik kekasihmu."ucap Shania kaget karena semua muat di dirinya.
"Itu benar-benar Bunda yang beli aku tidak pernah membawa wanita manapun kesini."ucap Arvin yang kaget dengan semua itu.
"Heumm.... Bunda tidak mungkin membeli ini semua untuk dirinya, lain kali aku akan bertanya kepada bunda."ucap Shania.
"Ya, tanyakan saja lagipula aku tidak bohong."ucap Arvin yang langsung pergi menuju kamar mandi kini giliran dia yang akan mandi setelah memastikan Shania selesai berpakaian dan aman.
Shania buru-buru masuk kedalam selimut tebal itu untuk menunggu Arvin selesai mandi karena
Shania melirik ke sekeliling ruangan kamar tersebut dia langsung menutup kepalanya dengan selimut saat itu juga.
Hingga Arvin mandi dan berpakaian, dia baru melirik Shania yang kini sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu.
"Sayang, kamu sudah tidur."ucap Arvin.
Shania tidak menjawab dia juga tidak bergerak Arvin pun mengambil selimut cadangan di lemari dia mengambil satu bantal dari atas ranjang tersebut.
Arvin keluar dari dalam kamar, setelah mengganti lampu terang menjadi lampu temaram.
Pria itu pun langsung bergegas pergi menuju sofa, saat ini sudah pukul dua belas malam, Arvin berbaring di sofa, setelah menggunakan selimut dia langsung memejamkan mata nya.
Sampai saat pagi menjelang Arvin terbangun saat mendengar jeritan dari Shania yang kaget karena saat bangun Arvin sudah tidak ada.
"Ahhhh........!!!!jerit Shania.
"Ada apa? ucap Arvin yang langsung berlari saat mendengar itu.
"Kamu tega ninggalin aku Yank...."ucap Shania yang kini terlihat akan menangis.
"Bukan begitu sayang.... tadi malam kamu sudah benar-benar terlelap bahkan saat aku panggil-panggil pun tidak menyahut jadi aku bobo di sofa."ucap Arvin.
"Heumm..... kamu tidak bohong kan."ucap Shania.
"Tidak bohong honey kamu bisa cek Cctv."ucap Arvin.
"Kenapa? kamu tidak tidur di ranjang atau kamu."ucap Shania terhenti.
"Aku pria normal sayang.... maka dari itu aku bobo terpisah sama kamu untuk menghindari kecelakaan"ucap Arvin.
"Heumm... benarkah."ucap Shania yang tiba-tiba memeluk Arvin yang berbalik hendak pergi meninggalkan Shania.
"Jangan pergi."ucap Shania.
"Sudah pagi sayang kamu tidak lihat itu."ucap Arvin.
"Heumm."lirih Shania yang melepaskan pelukannya.
"Aku mandi di kamar sebelah kamu disini saja dan bersiaplah kita akan segera pulang."ucap Arvin.
"Heumm...rumah tangga kita berakhir hanya dalam hitungan jam."ucap Shania sambil terkekeh.
"Hus... jangan bicara sembarangan."ucap Arvin yang langsung pergi menuju walk-in closed untuk mengambil pakaian ganti.
"Honey baju ku bagaimana?."ucap Shania.
"Aku cari milik Bunda dulu."ucap Arvin saat masih berada di dalam walk-in closed.
Setelah selesai memilih baju untuknya Arvin pun pergi menuju keluar kamar dan masuk kedalam kamar sebelah dia membuka lemari lagi, dan lagi-lagi baju yang tidak sesuai dengan yang Bundanya miliki.
__ADS_1
Arvin bingung untuk memberikan itu karena yakin sekali jika Shania akan salah sangka.