Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Pria aneh#


__ADS_3

Keesokan harinya gadis cantik itu sudah bersiap untuk pergi sekolah saat ini pertandingan basket itu di mulai saat semua orang tengah berada di meja makan Shania melewati mereka sambil pamit untuk pergi begitu saja.


"Sayang ini masih pagi nak, kamu kenapa? tidak sarapan dulu."ucap Sanum.


"Aku buru-buru mom, karena saat ini Shania harus ikut rapat bareng dengan tim sebelum bertanding."ucap Shania.


"Baiklah sayang hati-hati nanti mommy menyusul."ucap Sanum.


"Baiklah jika kalian ingin melihat pertandingan, tapi jangan bawa pengawal hanya akan buat gaduh seisi sekolah nanti Shania yang akan kena tegur."ucap Shania.


"Katakan siapa? Yang berani menegur mu."ucap Zaid.


"Tentunya seisi sekolah."ucap Shania.


"Biar nanti aku yang bereskan."ucap Zaid.


"Tidak perlu Shania, tidak butuh itu kalau kak Zaid ingin datang datang berdua saja karena di sekeliling sekolah tidak akan ada penjahat."ucap Zaid.


ketiga pria itu terkekeh sambil berbicara kompak."Terang saja tidak akan ada penjahat karena ketua penjahatnya ada di sini."ucap Vino Sky dan Zaid sendiri.


Sementara Shania langsung pergi.


Zaid ketiga orang pria terkekeh."Tentu saja tidak akan yang berani karena tidak ada yang ingin mati konyol."ucap Zaid


Shania pun pergi dengan cueknya berjalan menuju pintu keluar rumah.


Dia pergi dengan sopir seperti biasanya, saat ini Shania benar-benar terburu-buru sehingga dia hanya memakan apel dan sandwich yang gadis itu bawa saat ini.


Sampai saat dia tiba di halaman sekolah, gadis itu pun turun menuju tempat dimana mereka akan mengadakan rapat anggota tim tersebut.


Shania masih berpakaian santai dengan topi putih di kepala T-shirt dan celana jeans panjang berwarna hitam.


Tidak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung tersebut.


Gadis cantik itu terlihat semakin menggoda saat berpakaian santai seperti itu.


"Sudah datang."ucap seseorang yang kini tiba-tiba saja membawakan paper bag milik Shania .


"Mr."ucap Shania lirih.


"Kenapa? ayo jalan kamu pasti belum sarapan dengan benar saat datang sepagi ini."ucap Arvin.


"Sudah tadi di jalan."jawab Shania.

__ADS_1


"Kalau begitu temani aku sarapan pagi terlebih dahulu karena masih ada waktu tiga puluh menit lagi untuk rapat."ucap Arvin.


Shania pun mengikuti Arvin kearah kantin sekolah.


Keduanya duduk di bangku pojok sambil mengobrol sesekali Arvin menatap gadis cantik yang kini tengah berada di hadapannya.


"Shania, apa? cita-cita mu."ucap Arvin.


"Tidak ada, saya tidak punya cita-cita karena saya lebih suka menjalani hidup sesuai yang tuhan gariskan untuk saya."ucap gadis itu.


"Heumm,,,, baru kali ini saya mendengar bahwa seseorang tidak punya cita-cita."ucap Arvin yang kini hendak menyiapkan sarapan pagi ke mulutnya.


"Kenapa? harus seperti itu dan bagaimana?jika cita-cita kita tidak kesampaian, apa? kita tidak merasa sedih atau merasa berdosa dengan dirinya sendiri."ucap gadis itu.


"Heumm,,, tapi setidaknya dengan cita-cita kita bisa termotivasi."ucap Arvin.


"Ah,,, silahkan lanjutkan sarapan paginya Mr, saya mau ganti seragam dulu."ucap Shania.


"Gati di ruang istirahat saya disana jauh lebih aman ketimbang di tempat umum kalo ada yang iseng naro kamera bagaimana?."ucap Arvin.


"Aku tidak takut karena tidak ada yang bisa mengintip kearah ku disana."ucap gadis itu.


Shania pun langsung bergegas pergi meninggalkan Arvin yang kini masih terdiam.


Pria itu pun saling tatap dengan tatapan permusuhan.


Setelah itu Arvin meninggalkan Zaid pria itu pun berdecih, "Sekali pecundang akan tetap menjadi pecundang.


"Zaid jangan marah-marah begitu Aluna baik-baik saja."ucap istrinya itu dengan lembut.


"Ya aku tau sayang."balas Zaid.


Mereka pun pergi menuju tempat favorit mereka dulu.


"Semua masih sama seperti dulu dan tidak ada yang berubah."ucap Zaid.


"Tentu saja, yang berubah itu Lo yang kini sudah tua."ucap gadis itu.


"Heumm,,, benarkah aku rasa aku masih sama seperti yang dulu yang kini terlihat sangat awet muda."ucap pria tampan itu.


"Hahaha, benarkah."ucap Sky.


"Diam kau."ucap Zaid.

__ADS_1


Sementara Aluna masih terkekeh kecil saat melihat suaminya tersudutkan.


"Oh senengnya mentertawakan ku honey."ucap Zaid.


"Maafkan Luna sayang, Luna tidak tahan melihat suami Luna yang tampan ini tersudutkan."ucap Aluna yang kini tertawa kembali.


"Owh ya ampun.... istri ku sendiri ikut-ikutan mereka yang gesrek itu."ucap Zaid lagi.


Zaid pun tersenyum sambil mencubit gemas pipi sang istri.


"Tertawalah sepuasnya ingat nanti sebentar lagi saat malam datang aku akan menghukum dirimu."ucap Zaid.


"Owh my God!!... aku suka itu hukuman manis kan sayang."ucap gadis itu.


"Hahaha."tawa renyah dari semua anggota keluarga.


Zaid ikut terkerek sambil mengecup bibir istrinya sekilas.


Biarlah istri tetap bersikap polos seperti itu, karena saat dia berada di ranjang dia bukan Aluna yang seperti saat ini.


Zaid mencintai wanita cantik itu dengan sepenuh hati, meskipun dia tau jika saat ini dia telah menempatkan posisi Aluna dalam bahaya.


Ya, bahaya yang Zaid maksud adalah Aluna akan menjadi buruan para musuhnya yang selama ini berkeliaran di manapun tempat mereka bersembunyi dari dirinya.


Tidak lama setelah rapat anggota dimulai pertandingan itu pun akan segera dimulai, saat ini Shania Karin dan temannya yang lain sudah berada di pinggir lapangan.


Mereka sudah bersiap dan melakukan pemanasan.


Penampilan Shania dan kawan-kawan nya sungguh memukau, bukan karena mereka berparas cantik dan tinggi semampai, tapi gadis mereka menciptakan kostum baru yang di desain oleh Arvin dan Shania.


Kini pelatih sudah meminta mereka untuk masuk lapangan basket tersebut dan wasit membunyikan peluit agar mereka berbaris rapi terlebih dahulu saling berhadapan untuk memperebutkan bola pertama mereka saat ini.


Peluit panjang tanda pertandingan dimulai pun sudah dibunyikan saat itu Shania langsung melompat dengan gesit merebut bola tersebut dan mendribel bola tersebut mengoper bola pada setiap temannya yang kini sudah menyebar menuju ring lawan.


Namun tiba-tiba mereka mendapatkan perlawanan sengit baru saja main Karin sudah tumbang terkena sikut dari pihak lawan yang bermain curang namun Shania tidak kalah gesit dia mampu melompat tinggi menghadang bola tersebut.


Hingga bola itu gagal memasuki ring milik timnya.


Teman dari Shania yang lain kini mampu membawa bola menjauh menuju ring milik lawan saat akan memasukkan bola lagi-lagi mereka dihadang secara kasar oleh lawan.


Arvin yang melihat itu sempat memberikan isyarat terhadap Shania agar melakukan perannya seperti yang mereka bahas dalam rapat tadi.


Kini Shania terus berusaha untuk bisa mengecoh lawan sambil mengoper bola, hingga dia berusaha untuk membuat lemparan tiga angka yang cukup memukau dan itu berhasil.

__ADS_1


Sky yang sedari tadi duduk anteng di bangku VVIP kini tersenyum bahagia.


__ADS_2