
Saat ini Zaid mengurung Aluna yang masih ngotot ingin pergi, karena Aluna tidak percaya dengan ucapan Zaid lagi.
Hingga saat Aluna menangis dan berteriak pada Zaid untuk dibukakan pintu, saat itu Zaid pun memeluk Aluna sangat erat.
Zaid bahkan kehilangan kontrol astas dirinya yang kini benar-benar ketakutan Aluna pergi.
Zaid melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan saat ini, pria itu benar tidak ingin Aluna pergi.
Zaid merenggut kesucian Aluna yang kini diam mematung setelah peristiwa itu terjadi, Aluna bahkan tidak menjawab perkataan maaf yang dikatakan oleh Zaid.
Keduanya larut dalam buayan cinta yang tengah kacau balau dan seakan hal itu seakan menjadi obat bagi keduanya.
Aluna seakan kehilangan jiwanya yang selama ini selalu seperti kanak-kanak dan saat ini dia benar-benar terdiam seribu bahasa sambil memeluk lututnya dalam keadaan berantakan.
Zaid yang kini mendekat dan membingkai wajah Aluna yang ternyata basah dengan air mata itu kini dia langsung mengecup kening Aluna.
Zaid membawa gadis itu kedalam dekapannya.
"Jangan takut kita akan segera menikah."ucap Zaid.
"Aku hanya takut mommy dan Daddy marah jika tau hal ini sudah terjadi."ucap gadis itu terdengar lebih serius dan lebih dewasa dari sebelumnya.
"Aluna sayang aku janji hari ini juga kita akan segera menikah."ucap Zaid.
"Apa? kamu sudah benar-benar memikirkan tentang semua itu, pernikahan itu tidak segampang yang dibayangkan."ucap wanita itu.
Aluna hendak pergi dengan menggunakan kemeja milik Zaid tapi pria itu mencegah nya.
"Yank,,, please kita bisa bicarakan ini baik-baik."ucap Zaid yang kini memeluk Aluna dari belakang.
"Jika memang kamu berniat baik, sekarang juga antar aku kembali ke tempat Daddy."ucap Aluna.
"Yank,,, rumah mu disini sekarang."ucap Zaid.
"Aku sudah berbuat kesalahan besar, tolong pertimbangkan permintaan ku sebagai layaknya seorang anak aku ingin Daddy ku yang menikahkan aku nantinya."ucap Aluna.
"Baiklah aku akan urus semuanya tapi aku mohon kamu tetap disini."ucap Zaid.
Pria itu langsung menggendong Aluna membawa dia kedalam kamar mandi, Zaid mendudukkan Aluna di samping bathtub-e pria itu pun mengisi bathtub-e tersebut dengan air hangat.
Tepat di sore hari Zaid mandi bareng Aluna, pria itu untuk pertama kalinya membantu Aluna mandi.
Setelah selesai mandi keduanya berpakaian rapi, saat ini rencananya Zaid akan langsung menemui tuan Gultom untuk meminta restu.
Setelah Zaid selesai bersiap, Aluna kini masih duduk di depan meja rias.
Zaid memeluk Aluna dari belakang sambil berkata" Tunggu aku kembali aku janji akan memberikan pesta pernikahan yang megah untuk mu."ucap pria tampan itu sambil tersenyum manis.
Kecupan bertubi-tubi ia darat kan di seluruh wajah cantik itu terakhir sedikit lebih lama di bagian bibir.
"Hati-hati di jalan, tolong jangan berkecil hati jika Daddy marah padamu."ucap wanita itu.
Zaid memang menunggu Aluna yang dewasa kembali dan ternyata percintaan itu telah membawa gadis dewasa itu kembali.
Pria itu pun mengangguk pelan meyakinkan calon istrinya itu.
Kini giliran Aluna yang memeluk Zaid erat, "Tolong jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku."ucap Aluna takut.
"Tidak sayang tidak akan pernah terjadi, aku hanya mencintaimu dan hanya kamu yang ada di sini."ucap Zaid.
"Janji."ucap Luna.
"Janji."balas Zaid
Dan kini keduanya saling memeluk erat sambil bercumbu mesra sebelum akhirnya Zaid pergi, dirinya menitipkan Aluna pada seluruh orang yang ada di sana.
Aluna pun menatap kepergian Zaid dari balkon kamar nya.
Pria itu benar-benar serius ingin menebus dosa dan kesalahannya dengan meminta restu pada tuan Gultom.
Aluna kini tengah duduk di atas ranjang karena hari mulai gelap.
Aluna kini terbaring sendiri sambil menunggu Zaid yang kini tengah berada di rumah besar milik tuan Gultom.
Beruntung pria itu tengah berada di sana, Zaid langsung disambut dengan baik oleh tuan Gultom.
Mereka pun mengobrol panjang lebar sebelum akhirnya pria itu mengutarakan niatnya bahwa dirinya akan menikahi Aluna besok dan tua Gultom yang curiga dengan sikap terburu-buru Zaid pun dia curiga.
Dan pada akhirnya Zaid mengakui kesalahannya siang tadi awalnya tuan Gultom marah besar tapi Zaid langsung mengatakan alasannya saat itu juga.
Pria itu sedikit melunak karena Zaid juga mengatakan bahwa sepertinya Aluna sudah kembali menjadi Aluna yang sangat dewasa.
Malam itu juga tuan Gultom bersama dengan para bodyguard nya mengunjungi rumah Zaid dengan helikopter miliknya seperti yang Zaid gunakan saat ini.
"Sesampainya di sana, suasana Mension milik Zaid begitu sepi hanya ada beberapa penjaga yang memang bertugas untuk menjaga Mension tersebut.
"Dimana istriku?."ucap Zaid pada asisten Aluna.
"Nona muda ada di kamar tuan tadi setelah makan malam dia kembali ke dalam."ucap wanita itu.
__ADS_1
Tuan Gultom pun dipersilahkan masuk kedalam langsung oleh Zaid, Setelah itu dia pun masuk menuju kamar nya.
Zaid masuk secara diam-diam sampai saat di dekat ranjang dia membungkukkan badan lalu berkata.
"Sayang aku sudah kembali, bangunlah diluar ada daddy mu."ucap pria itu membuat.
"Heumm,,, sudah pulang Yank, aku tidak bisa tidur tadi."ucap Aluna.
"Sekarang aku sudah pulang ayo bangun sayang."ucap Zaid lembut.
"Aku mengantuk."ucap Aluna.
"Ada Daddy apa? kamu tidak rindu padanya."ucap Zaid.
"Gendong...."rengek Aluna.
Zaid tersenyum setelah itu ia pun mengecup bibir Aluna singkat lalu mengangkat tubuh gadis itu.
Zaid berjalan sambil menggendong Aluna ala bridal style.
Sampai saat mereka tiba di hadapan tuan Gultom yang kini tengah duduk di sofa ruang keluarga dan dijamu sebaik mungkin langsung oleh asisten pribadi Zaid.
"Ambilkan baju hangat milik istriku."ucap Zaid sebelum gadis itu di turunkan.
"Honey Daddy sangat merindukan mu."ucap tuan Gultom.
"Owh Daddy,,."ucap Aluna yang langsung memeluk sang daddy.
"Daddy sangat merindukan dirimu... kenapa? putri daddy lebih betah disini hingga lupa pulang."ucap tuan Gultom.
"Aluna sering merindukan daddy tapi Aluna lupa jalan pulang."ucap gadis itu yang kini masih memeluk ayahnya itu.
"Kenapa? tidak meminta dia mengantarkan mu pulang."tanya tuan Gultom.
"Dia terlalu sibuk Daddy beberapa kali Luna ditinggal pergi."ucap Aluna.
Tuan Gultom hanya tersenyum, putrinya memang sangat manja.
"Apa? sekarang mau ikut pulang sama Daddy."tanya tuan Gultom.
"Tentu saja Daddy tapi tunggu Luna bawa album foto saat Luna di pantai bersama dengan Zaid."ucap gadis itu.
"Tapi tuan,,,kami harus segera menikah."ucap Zaid yang keberatan.
"Kau tahu dimana? Kau akan mencari mempelai wanita mu jika dia benar-benar menginginkan mu untuk menjadi suaminya."ucap tuan Gultom.
"Yank,,, kamu mau ikut Daddy mu pulang lalu bagaimana dengan pernikahan kita besok?."ucap pria itu.
"Yank,,, please kamu pikirkan kembali Yank, aku sangat mencintaimu dan kita akan segera menikah."ucap Zaid.
"Aku akan menikah saat pria itu benar-benar serius mencintai ku."ucap Aluna.
"Sayang aku harus bagaimana? lagi untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu."ucap Zaid.
"Jika Zaid benar-benar mencintai Luna Zaid akan melamar Luna seperti kebanyakan pria yang ada di film itu."ucap Aluna.
Sementara tuan Gultom hanya mengangguk pelan.
Gadis itu pun beranjak hendak pergi mengambil album foto yang selama ini selalu ia lihat.
"Yank,,, please."ucap pria itu.
"Aku rasa putriku benar tuan Zaid."ucap tuan Gultom.
"Saya akan melakukan apa saja seperti yang Luna inginkan tapi saya mohon jangan bawa Aluna pergi."ucap Zaid.
Pria itu merendahkan dirinya di hadapan calon mertuanya itu.
"Sebagai laki-laki sejati kau tidak akan pernah mengeluh seperti ini."ucap tuan Gultom.
"Tapi saya teramat mencintai putri anda, bahkan beberapa jam berpisah dengannya saja seakan dunia ini akan lenyap apalagi saat dia pergi."ucap Zaid.
"Dia hanya akan bersama dengan ku, sebelum kamu benar-benar melamarnya dan menikahinya."ucap tuan Gultom.
Zaid langsung pergi menyusul Aluna menuju kamar pribadinya.
Zaid tidak punya cara lain selain membujuk Aluna.
"Yank,,, kamu sedang apa? heumm."ucap Zaid.
"Ijinkan aku untuk pulang kasihan Daddy kesepian sejak mommy tidak ada Daddy terus hidup sendiri dan aku terus mencari mommy tapi kini aku tahu mommy sudah tidak ada."ucap Aluna sambil berlinang air mata.
Zaid pun langsung memeluk gadis itu berkali-kali mengecup puncak kepala gadis itu.
"Baiklah kamu boleh pulang tapi ingat untuk jangan lupa menghubungi ku."ucap Zaid.
"Heumm,,, boleh aku bawa pulang ini."ucap Aluna.
"Heumm,,, apapun yang kamu mau."ucap Zaid.
__ADS_1
"Setelah kita menikah nanti, aku ingin kita sering berkunjung ke rumah daddy."ucap gadis itu.
"Tentu saja Sayang."ucap Zaid.
Aluna pun kembali memeluk Zaid membenamkan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu.
Zaid kembali mencium bibir Aluna dengan penuh kelembutan, keduanya saling bertukar Saliva Zaid semakin memperdalam ciumannya itu.
Sampai saat seseorang mengetuk pintu, akhirnya ciuman itu terlepas.
"Tuan,, tuan Gultom pamit pulang."ucap asisten pribadi Zaid.
"Tolong bilang pada daddy suruh menunggu ku."ucap Aluna.
"Tapi Nona tuan besar sudah berangkat."ucap pria itu.
Luna menatap sendu pada Zaid.
"Besok kita akan menyusul kesana."ucap Zaid.
"Sekarang."ucap Aluna.
"Baiklah sayang."ucap Zaid.
"Tolong siapkan semuanya aku akan berangkat lebih dulu bersama dengan istriku."ucap Zaid yang kini meraih mantel Aluna begitu juga dengan jas miliknya.
"Baik tuan."ucap asisten pribadi Zaid.
"Ayo sayang Daddy pasti kecewa karena aku."ucap Aluna.
"Tidak mungkin sayang mungkin karena ada keperluan mendadak."ucap Zaid.
Aluna pun terlihat tenang kembali setelah itu ia pun langsung bergegas pergi bersama dengan Zaid menggunakan helikopter yang tadi.
Zaid langsung duduk di jok belakang bersama dengan Aluna.
Sementara itu di kediaman Kenzie, gadis yang kini tengah bersiap untuk pergi sekolah tiba-tiba dia teringat dengan permintaan gurunya.
Tapi saat ini dia tidak masuk kelas karena ada pelajaran olahraga setelah itu dia juga masih harus ikut pertandingan olahraga basket.
Shania sudah menyiapkan semuanya, kini dia sudah menggunakan stelan olahraga.
Shania saat ini pergi membawa mobil sendiri karena sopir pribadi yang biasanya mengantar dia ke sekolah kini tengah sakit.
Shania pun berangkat menuju sekolahnya.
Sesampainya di sana dia langsung turun karena sepertinya dia sudah hampir terlambat karena terjebak macet.
Shania langsung masuk ke lapangan setelah dia menyimpan tas perlengkapan olahraga miliknya di tempat biasanya.
Rambut yang kini ia ikat menyerupai ekor kuda itupun terlihat begitu indah.
Shania bergerak begitu lincah melakukan pemanasan setelah itu dia pun mulai mengikuti kegiatan olahraga pagi bersama dengan rekannya sebelum pertandingan bola basket itu dimulai.
Shania tidak tahu jika saat ini gadis itu tengah di perhatikan oleh seseorang.
Shania kembali bergerak dengan lincah dan berkali-kali berhasil melakukan lemparan tiga angka, sampai saat saat ronde pertama dia berhasil memenangkan pertandingan.
Shania langsung pamit untuk pergi ke toilet karena ingin buang air kecil, gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang.
Gadis itu hampir jatuh beruntung seseorang langsung menahan tubuhnya saat itu juga.
Shania membulatkan matanya saat itu juga hingga saat gadis itu hendak melepaskan diri dan saat itu Shania hampir terjatuh kembali dan saat itu Karin datang saat posisi mereka terlihat seperti hendak bercumbu.
"Shania! apa-apaan ini, Owh jadi Lo diam-diam menyukai pacar gue ya, dan lo marah saat gue bilang bahwa gue jalan sama di."ceroscos Karin yang seakan memiliki nafas tanpa batas.
"Eheum,,, kalian sedang apa? barusan pertandingan akan dimulai."ucap gadis itu.
"Saya ke toilet dulu dan kamu Karin jangan suka mengira-ngira lagipula aku tidak sembarang memilih pacar atau calon suami yang jelas tadi aku kecelakaan."ucap gadis itu.
Shania pun berlalu begitu saja, sampai saat selesai dari toilet dia melihat wali kelasnya ada di sana.
"Ini untukmu, mulai Minggu depan kamu juga harus mengganti celana itu terlalu kependekan."ucap Arvin sambil berlalu pergi.
"Owh ya ampun,,, aku heran apa? sih maunya ngajak ribut deh siapa? yang salah disini yang buat peraturan atau tubuh ku."ucap Shania yang kini menatap tajam kearah pria yang kini pergi begitu saja.
Saat dia hendak melanjutkan pertandingan, tiba-tiba Kenzie datang melihat itu Shania langsung berlari dan menghambur memeluk Daddynya itu.
"Daddy..."ucap Shania.
"Ya sayang Daddy mampir dulu."ucap Kenzie sambil membalas pelukan putrinya itu sambil mengecup puncak kepala anak gadis satu-satunya itu.
"Aku turun dulu ya Daddy."ucap gadis itu.
"Ya sayang harus semangat kalah atau menang itu adalah resikonya yang penting sekarang putri daddy sudah berusaha."ucap Kenzie.
"Oke Daddy."ucap gadis itu yang mencium pipi Daddynya itu.
Shania langsung kembali ke lapangan karena saat ini pertandingan akan segera dimulai.
__ADS_1
Lagi-lagi Shania menjadi bintang di set kedua, dan itu membuat pemain lawan terbakar amarah akhirnya Shania terus di pepet dan saat itu seseorang dengan sengaja menabrak dada Shania hingga gadis itu terpental dan menabrak tiang ring basket itu.