
"Yank... buka pintunya kita harus bicara."ucap Vino.
"Namun tidak ada jawaban apapun, setelah puluhan kali Vino mengetuk pintu kamar itu.
Sementara yang di dalam kamar saat ini masih menangis sesenggukan didalam kamar mandi, betapa sakitnya hati Julia, setelah dulu dia ditinggal oleh Gidion setelah kecelakaan dan setelah itu hamil anak Gidion saat itu juga dia memutuskan untuk bunuh diri.
Namun pada akhirnya dia pun kembali selamat dan ditemukan lagi oleh Vino pria yang selama ini mencintai dirinya, dan setelah itu mereka menikah tanpa restu dari kedua orang tua Vino yang merupakan sahabat dekat keluarga Gidion.
Julia mengira jika cinta yang begitu besar tidak akan pernah berkhianat, tapi sekarang apa?... Vino pun mengkhianati dirinya.
Pada siapa? Julia harus percaya, tidak ada laki-laki yang benar-benar bisa menerima dirinya sepenuhnya.
Dada Julia semakin terasa sesak dan dia mulai kehilangan kesadaran saat ini.
Julia pun terjatuh ke lantai dengan kepala terbentur bathtub-e.
Darah mengalir dari pelipisnya dia tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi tersebut.
Samun yang merasa ada yang tidak beres dia langsung meminta pelayan untuk mengambil kunci serep.
Setelah pintu terbuka lebar Sanum dan Vino juga Kenzie dan Zaid bergegas mencari Julia.
Sanum menjerit saat melihat Julia tergeletak dengan darah yang meleleh dari pelipisnya.
"Daddy!! putriku.!!"ucap Sanum menjerit.
Kenzie langsung masuk kedalam disusul oleh Vino yang langsung menggendong Julia, dan langsung membawa Julia turun ke lantai bawah untuk dilarikan ke rumah sakit.
Sanum dan Kenzie langsung menyusul setelah menitipkan kedua empat cucunya pada ibu mertuanya Mariana.
Sementara Vino yang sedang di dalam perjalanan bersama dengan Zaid, dia masih memangku istrinya yang kini tidak bergerak sama sekali.
"Sayang bangun Yank,,, aku minta maaf, semua itu aku lakukan karena terpaksa Yank... sungguh aku tak pernah mencintai dia."ucap Vino.
"Sudah aku bilang kirim jauh wanita itu, jika perlu sampai ke Alaska."ucap Zaid yang benar-benar geram dengan apa? yang terjadi.
Dia juga benci dengan orang tua Vino bahkan setelah matipun masih ingin memisahkan mereka.
Zaid sudah menyetir mobil tersebut secara ugal-ugalan, hingga tiba di rumah sakit, Vino langsung keluar begitu Zaid membukakan pintu untuk mereka berdua.
Sampai saat tiba di depan ruang IGD dia yang datang sambil berteriak pun langsung di tolong oleh para petugas medis termasuk dokter yang datang menghampiri mereka bertiga.
Vino langsung membaringkan istrinya di atas berankar pasien setelah itu kini giliran petugas medis yang kini terlihat sangat sibuk melakukan pertolongan pertama pada Julia.
__ADS_1
Sementara kedua pria itu kini tengah duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang IGD tersebut hingga seorang perawat datang dan mengatakan bahwa Julia harus segera di lakukan pemeriksaan menyeluruh dan itu perlu persetujuan keluarga.
Vino langsung masuk kedalam ruangan tersebut dia langsung mendampingi Julia yang masih belum sadarkan diri meskipun sudah mendapatkan pertolongan pertama.
Hingga saat pemeriksaan menyeluruh selesai dilakukan akhirnya mereka pun memastikan hanya ada luka memar dan robek kecil di pelipis akibat benturan keras saat itu juga.
Hingga saat Julia dipindahkan ke ruang perawatan VVIP rumahsakit tersebut Vino pun tidak pernah pergi dari sana meskipun Sanum mengusir dirinya tapi ruangan tersebut.
Tapi saat Julia bangun, dia langsung menangis dan mengusir Vino dari hadapannya meskipun Vino sudah berusaha untuk bertahan sambil meminta maaf, tapi Julia bersumpah tidak akan pernah memaafkannya akhirnya Vino pun pergi dengan langkah gontai menuju ke luar ruangan dia berharap Julia akan mencegah langkahnya tapi sampai dia tiba di ambang pintu Julia tidak kunjung menghentikan langkahnya.
Vino tidak kalah dengan Julia, jika dia tidak mau memaafkan dirinya dia akan membawa keempat anaknya untuk pulang ke Belanda.
Vino pun langsung pulang ke Mension bersama dengan Zaid anak buah Zaid sudah membawa anak-anak dan juga istrinya Luna begitu juga dengan empat anak Julia dan barang bawaannya Vino pun langsung berangkat menuju bandara.
Vino bukan tega pada Julia tapi hanya cara itu yang akan membuat Julia mau kembali dengan Vino.
Anak-anak adalah segalanya bagi nya tapi saat ini Julia menolak untuk memaafkan dirinya meskipun Vino sudah berulang kali mencoba untuk memberitahu tentang semua itu.
Vino mengerti jika Sanum tidak bisa memaafkan dirinya tapi untuk berpisah sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah rela untuk bercerai darinya.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Indonesia, tanpa bicara pada seluruh keluarga, karena saat itu Mariana dan Kenzo juga sedang pergi dari rumahnya.
Sampai saat mereka Sanum kembali membawa Julia pulang Julia hanya menemukan sebuah surat yang Vino tinggalkan.
Julia hanya mampu menangis tanpa kata, kenapa? dia harus bertemu dengan Vino jika akhirnya akan seperti ini.
Wanita itu pun akhirnya hanya bisa menyerah untuk membiarkan mereka untuk tinggal bersama dengan Vino sementara dirinya akan tetap di rumah sang mommy atau tinggal di Mension lama milik Aurora.
Julia sudah terlanjur sakit hati, dia tau anak-anak akan kembali padanya suatu saat nanti.
Sanum terus membujuk suaminya untuk menggugat cerai Vino. namun Kenzie tidak mau gegabah dia tidak peduli Vino bersalah atau tidak karena mereka juga harus mempertimbangkan keempat anak mereka karena jika tidak mereka yang akan lebih tersakiti dad semua yang terjadi.
Julia pun diminta untuk kembali ke Belanda dan Kenzie sendiri yang akan mengurus itu hingga mengantar putrinya itu ke rumah dimana? Vino dan anak-anak berada di sana.
Julia pun akhirnya mengikuti nasihat Kenzie dia tidak ingin bersikap egois karena bagaimanapun mereka masih sangat membutuhkan Julia.
"Julia sendiri hingga saat ini, dia hanya tengah duduk melamun di atas kasur, tidak peduli jika dia pun harus hancur dan terluka seperti saat ini yang pasti dia kembali hanya untuk anak-anak.
Sementara Vino sendiri kini tengah kerepotan mengurus empat anak sekaligus meskipun yang dua sudah besar tapi keduanya masih harus makan dan minum susunya.
Tidak hanya itu mereka terus menangis karena ibunya tidak ada diantara mereka.
Saat bangun tidur sampai tidur lagi hanya ada tangis pilu mereka berempat di susul oleh Vino yang akan menghindar dari mereka karena tidak ingin menunjukkan kesedihan di depan mereka nantinya.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman wanita yang kini menjadi sumber masalah itu. orang-orang Zaid tengah membereskan wanita itu agar tidak lagi berbuat onar.
...............
Setelah tiba di Belanda, Julia dan Kenzie yang kini mengantar kepulangan Julia ke rumah tersebut yang disambut dengan isakan.
"Sayang mommy disini tidak akan meninggal kalian berempat bahkan sampai mommy tiada pun, mommy akan selalu ada."ucap Julia.
Vino yang hendak menyambut Julia dia langsung menghentikan langkahnya. karena Kenzie langsung memberikan isyarat kepada dirinya untuk tidak mendekat saat ini.
Kenzie meminta Vino untuk bicara dengannya berdua, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi keluar. Vino dan Kenzie akhirnya berbicara di sebuah restoran hotel yang megah itu menantunya mengatakan Jika dia menikahi wanita itu karena rasa bersalah atas meninggalnya kedua orang tuanya.
Selama ini. Vina tidak pernah membalas Budi baik kedua orang tuanya dengan mengikuti permintaannya untuk menceraikan Julia. tapi Vino lebih memilih untuk menikah lagi seperti yang mereka inginkan.
Sayang sungguh Sayang, semua itu malah terjadi di saat dirinya dan keluarganya dalam kebahagiaan Vino pun menangis di hadapan Kenzie. dia mohon maaf dan dia berjanji akan mengurus semuanya sampai selesai nanti dan akan memperbaiki seluruh kebahagiaan itu akan ia kembalikan.
Namun saat ini dia benar-benar membutuhkan waktu untuk memperbaiki semuanya. ditambah lagi Sanum tidak menyukainya, dan Julia kakak ingin berpisah dengannya.
Sementara itu di kediaman Zaid saat ini anak buahnya melapor bahwa dia telah membereskan wanita itu, dan telah dikirim ke tempat yang Zaid katakan saat itu.
Dia tidak ingin membiarkan semua hancur karena biar bagaimanapun Zaid dan Vino sudah seperti saudara. jadi mereka menganggap Vino juga bagian dari bosnya.
Sepulangnya dari restoran saat itu Vina berjalan menghampiri Julia yang tengah duduk menyuapi anak-anaknya.
Pria itu hendak menyapa namun dia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh Kenzie tadi. dia tidak ingin memperburuk keadaan.
Akhirnya Vina pun pergi bersama dengan asisten pribadinya menuju ruang baca.
Sementara Kenzie saat ini mendekat ke arah meja makan di mana Sania dan keempat anaknya tengah berada di sana.
"Hi... cucu Opah apa? kalian semua baik-baik saja."tanya kenzi yang kini langsung duduk di hadapan mereka semua.
"Baik opah... tapi kemarin... kami sedih karena mammy tidak ada."ucap Vivian.
Vivian yang terlihat berlinang air mata sementara ketiga kakak laki-lakinya yang ngasih menikmati suapan dari sang mommy yang menyuapi mereka.
Sementara Vivian sudah lebih dulu merasa kenyang dia hanya minum susu dari gelas setelah itu dia bermain dengan ketiga kakaknya.
"Daddy akan pulang sekarang,,, jadi kamu harus baik-baik di sini...Jika ada apa-apa hubungi daddy langsung. jangan minta bantuan kepada orang lain, apalagi pada mommy mu. semua ini daddy lakukan demi anak kalian dan juga kebaikan rumah tangga mu. percaya karena Vino masih sangat mencintaimu. hanya saja dia masih banyak butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya jadi bersabarlah sampai saat tiba kamu tidak boleh banyak berpikir yang macam-macam bersikaplah sewajarnya. karena tidak baik terus-terusan berada dalam kemarahan Jangan hiraukan gangguan di luar sana Jika kamu tidak ingin rumah Tanggamus dan melihat anak-anakmu menderita jadi cobalah bertahan Dan perbaiki semuanya agar benalu itu hilang dari dalam kehidupan kalian." ucap Kenzie sambil mengusap puncak kepala putrinya.
Kenzie sudah sangat menyayangi Julia seperti putri kandungnya sendiri, karena sejak kecil gadis lucu itu selalu membuat Kenzie merasa menjadi seorang ayah yang benar-benar sangat baik saat mengejar Sanum.
Juliana menjadi jembatan untuk mendapatkan Sanum.
__ADS_1