Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Bangun#


__ADS_3

Sanum pun bangun dari tidur panjang yang hampir seharian penuh itu, Kenzie yang sedari tadi menunggu di samping nya, bahkan pria itu melupakan semua pekerjaan nya, Sanum, masih membisu di hadapan Kenzie, wanita itu merasa kecewa, pada pria yang ada di hadapannya itu.


"Sayang, kita harus bicara"ucap Kenzie.


"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan kita tidak punya hubungan apapun lagi, silahkan pergi"ucap Sanum.


"Sanum, apa? yang kamu katakan sayang, jangan bicara sembarangan"ucap Kenzie.


"Kenzie, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mu, pulang lah"ucap Sanum, datar.


"Tapi kenapa,yang kemarin kita masih baik-baik saja, ada apa...bicaralah, aku tidak ingin kita putus, kita akan segera menikah, apa...yang membuat mu seperti ini heuuhh?"tanya Kenzie yang mulai terbawa emosi, karena Sanum, berkata demikian.


"Aku tidak ingin mengulangi kesalahan dengan menikahi pria yang jelas-jelas masih menyimpan wanita lain dalam hati nya, sudah cukup Ken, cukup"ucap nya sambil menunjuk pintu meminta Kenzie pergi.


"Apa?... wanita, wanita mana yang kamu maksud yang"ucap Kenzie.


"Apa? masih mau pura-pura lupa Ken, sebaiknya kamu pergi saja percuma tidak ada yang akan bisa percaya pada pria seperti dirimu"ucap Sanum.


"Yang, kita bisa bicara baik-baik, sekarang katakan dengan jelas wanita mana yang kamu maksud Sayang, please jangan seperti ini, dan satu lagi yang berhenti mengkonsumsi obat ini, kamu tau ini bahaya"ucap Kenzie.


"Kamu tidak perlu menghawatirkan ku lagi Ken, kamu bisa pergi, mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing, kamu eum..."ucapan Sanum, terhenti saat Kenzie, membungkam bibir nya dengan bibir Kenzie.


Tidak sampai satu detik, Kenzie menempelkan bibirnya itu, Sanum, sudah langsung mendorong dada bidang Kenzie.


"Ken, aku bilang kita sudah berakhir!"teriak Sanum.


"Sanum, kamu hanya sedang cemburu buta, aku tidak punya hubungan dengan wanita manapun, dan sedari dulu aku sangat mencintaimu, hanya kamu sayang"ucap Kenzie.


"Cukup Ken, cukup aku tidak ingin mendengar kebohongan apapun lagi, sudah cukup sekarang kamu bisa pergi atau aku yang akan pergi"ucap Sanum tegas.


"Oke, yang aku akan pergi, tapi ini hanya sampai kamu bisa berpikir jernih, dan ingat aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu"ucap Sanum.


"Terserah kamu saja aku tidak peduli"ucap Sanum yang kini kembali berbaring menyamping Air mata nya terus meleleh membasahi pipinya.


"Tuhan, rasanya sangat menyakitkan, kenapa? harus ada dia, jika dia pun tidak bisa kumiliki"ucap Sanum.


Sementara itu di dalam mobil Kenzie, pun mengamuk air mata yang sedari tadi ia tahan, karena Sanum, menuduh bahwa dia memiliki wanita lain.


pria itu langsung pergi meninggalkan kediaman Sanum, tapi tidak untuk pulang ke rumah atau apartemen nya, Kenzie, pergi ke kantor nya dia ingin melupakan semua itu.


Sesampainya di kantor dia langsung menggunakan lift, khusus yang ada di basement kantor, hingga dia tiba di ruangan nya, dia langsung berkutat dengan pekerjaan nya, laptop yang sudah ia nyalakan dan tumpukan berkas yang menumpuk, meskipun konsentrasi nya terganggu oleh bayangan tangis Sanum, dan teriakan Sanum, tadi.


Sampai tengah malam , Kenzie masih berkutat dengan pekerjaan nya itu, pria itu bahkan tidak berniat untuk pulang ke rumah, sampai akhirnya pekerjaan selesai, Kenzie pun langsung bergegas menuju ruang istirahat nya.


Saat itu dia pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya, sebelum akhirnya tidur, dia tidak mempedulikan betapa sakit nya, perutnya karena sudah melewatkan makan siang dan makan malam.


Meskipun di ruangan tersebut selain ruang istirahat tapi juga ada pantry dan berbagai stok makanan sehat tersedia di lemari pendingin, tapi pria itu tidak sedikit pun mau bergerak untuk menyiapkan makan malam yang sudah terlewat tersebut.


"Sanum, sayang jangan membenci ku"ucap Kenzie lirih, sambil memandang foto Sanum, dan dirinya yang ada di ruangan tersebut, Kenzie bahkan tidak mengecek ponselnya yang sedari sore, ada banyak panggilan, terutama dari Mariana.


Sampai saat wanita itu, menelpon Sanum, untuk menanyakan keberadaan Kenzie, tapi ternyata wanita itu tidak tau keberadaan Kenzie, dimana.


Hingga Mariana, bertanya apa, mereka sedang ada masalah, Sanum pun tidak menjawab nya, tapi Mariana, sudah bisa menebak nya.


Awalnya Sanum merasa tidak peduli, tapi kemudian dia juga tidak bisa tenang , dan memutuskan untuk mencari Kenzie.


Sanum, pun pergi menuju rumah satunya, tapi pria itu tidak ada disana, lalu ke apartemen Kenzie, tapi Kenzie pun tidak ada di sana, Sanum, kembali pergi mencari Kenzie, ke perusahaan nya.


sesampainya di sana, Sanum pun disambut oleh satpam dan bertanya apa? Kenzie ada di sana, dan ternyata satpam pun belum tahu, dia menemani Sanum naik ke lantai atas, dan benar saja ruangan Kenzie masih menyala, Sanum langsung masuk dan berterima kasih kepada satpam tersebut.


"Ken, kamu disini"ucap Sanum, sambil mencari ke setiap sudut, lalu dia berjalan menuju tempat istirahat Kenzie, dia pun langsung membuka pintu tersebut, dan ternyata Kenzie, berada di sana, pria itu terlihat meringkuk di atas ranjang tanpa selimut, Sanum, pun mendekat dan menatap wajah Kenzie, yang terlihat basah di sudut mata nya.

__ADS_1


"Ken, bangun" ucap Sanum, sambil menatap kearah lain, dia enggan saling bertatapan dengan pria itu jika Kenzie bangun.


"Ken"ucap Sanum.


"Sanum, apa? ini beneran kamu"ucap Kenzie.


"Ya, ini aku, kenapa? tidak pulang dan buat mommy mu khawatir, dan kenapa? sungguh merepotkan , aku harus mencari mu kemana-mana, Ken, kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi, jadi tolong jelaskan pada kedua orang tua mu,agar mereka tidak mengira"


"Cukup! Sanum, kamu bisa pergi, maaf jika aku sudah merepotkan mu, seharusnya kamu tidak perlu datang jika hanya ingin berkata seperti itu"teriak Kenzie.


Pria itu bangkit dari ranjang nya, dia meraih jaket nya dan berjalan meninggalkan Sanum, yang masih mematung di sana.


Sanum, merasa semua yang dia lakukan sudah cukup benar, dengan begitu Kenzie, tidak akan perlu untuk berpura-pura menginginkan nya lagi, karena memang ada wanita lain di sana.


Sanum, pun keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gontai dia berjalan menuju pintu lift.


Sementara Kenzie, sudah berada di dalam mobil nya, dia menundukkan kepalanya di atas kemudi, pria itu merasa bersalah karena telah membentak Sanum.


Kenzie, pun keluar dari dalam mobil nya dia kembali berjalan menuju lift, untuk menemui Sanum yang mungkin masih berada di sana, tapi sesampainya di sana wanita itu sudah tidak ada.


.............................


Sanum, pulang ke Mension, dia tidak sudah berjanji untuk pergi jauh dari Kenzie,agar dia bisa melupakan semua nya.


Sesampainya di dalam kamar, Sanum, langsung bergegas mengambil koper, dia memasukkan pakaian dan beberapa keperluan lainnya, setelah selesai dia mengecek ponselnya dan memesan tiket pesawat menuju negara, impian nya.


setelah selesai, tepat pukul empat pagi, dia sudah berada di bandara, untuk menunggu penerbangan yang tinggal beberapa menit lagi.


Sementara itu Kenzie, langsung dilarikan ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan, meskipun tidak fatal, tapi kondisi nya lumayan parah.


Mariana langsung menghubungi Sanum, yang bahkan sudah berjalan menuju pesawat.


Sanum, pun menghentikan langkahnya saat mendengar pria yang sangat ia cintai, mengalami kecelakaan, dia tidak ingin, sampai terjadi apa-apa pada Kenzie, meskipun hatinya sungguh terluka Sanum pun membatalkan kepergian nya, dia langsung berlari menuju luar bandara mencari taksi, karena sopir yang tadi mengantarkan nya, sudah tidak ada.


Sanum buru-buru masuk dan pergi begitu saja.


Setibanya di depan rumah sakit yang Mariana, sebutkan dia buru-buru masuk ke dalam dan bertanya pada resepsionis, dan mereka memberitahu bahwa Kenzie, tengah berada di ruang operasi di lantai teratas gedung tersebut.


Sanum langsung pergi dengan membawa koper nya, sesampainya di sana Kenzie sudah dibawa ke luar dari ruangan operasi, Kenzo dan Mariana menatap kedatangan Sanum, yang berteriak memanggil nama Kenzie.


"Kenzie"ucap Sanum yang syok, dan sampai berlari menuju kearah Kenzie yang kini tengah di dorong kedalam ruangan rawat inap.


"Kamu dari mana, Sanum?"tanya Kenzie.


"Saya, dari bandara mom"jawab Sanum.


"Maksud nya"ucap Mariana.


"Cerita nya panjang mom"kata Sanum.


Kenzie pun sudah berada di ruang Sanum pun duduk di samping nya, sementara Mariana menunggu putra nya di sofa bersama dengan sang suami. sementara Queen masih dalam perjalanan.


"Mom, Kenzie, kecelakaan dimana?"tanya Sanum.


"Di jalan x, seperti nya dia kembali dari Mension mu"ucap Mariana.


Sanum, kaget, mungkin kah Kenzie tau jika dia akan pergi, hingga buru-buru mengejar nya, dan terjadi kecelakaan.


"Mom, maafkan Sanum, mungkin kecelakaan ini terjadi gara-gara Sanum"ucap Sanum, yang langsung membuat Kenzo, naik pitam.


"Apa? maksud mu, Sanum apa aku bilang , dia bukan wanita baik untuk putra kita, Kenzie hanya akan memiliki masalah jika terus bersama dengannya, dan sebelum semua nya lebih parah sebaiknya kamu pergi, karena sebentar lagi putra ku, akan menikah dengan wanita terpandang, seperti yang saya katakan pada Kenzie, kamu hanya akan dijadikan istri kedua, tapi tidak lagi, mulai sekarang jangan pernah muncul lagi di hadapan putra ku"ucap Kenzo.

__ADS_1


"Sanum pun berdiri dan hendak pergi tapi tiba-tiba tangan nya digenggam erat oleh Kenzie, yang baru setengah sadar, meskipun kemudian, Sanum berusaha untuk melepaskan diri, tapi tangan itu terlalu kuat mencengkram erat pergelangan tangan nya.


"Jangan pergi"ucap pria itu lirih.


"Kenzie, aku bukan wanita yang baik untuk mu"ucap Sanum.


"Aku mohon jangan pergi"ucap Kenzie lirih


"Ken, aku tidak pantas untuk mu"ucap Sanum.


"Sudah jangan banyak drama"ucap Kenzo.


"Pria itu langsung melepaskan genggaman tangan Kenzie.


Sanum pun langsung bergegas pergi membawa koper tersebut, meskipun Mariana mencoba untuk memanggil nya.


"Daddy sudah sangat keterlaluan, apa? kurang nya dia, dia anak yang baik, jika kamu mempermasalahkan, bahwa dia adalah janda, ingat aku juga janda, saat kita bertemu, ingat jangan terlalu membenci dia, kita punya putri, bagaimana jika Putri kita, mendapatkan penolakan, dari orang lain"ucap Mariana.


"Itu, tidak akan pernah terjadi, putri kita dari keluarga baik-baik, dan dia cantik, dia punya segalanya, jika pun ada yang berani melakukan itu, aku akan menghancurkan orang tersebut.


Kenzie, hanya bisa pasrah, saat ini dia sedang tidak baik-baik saja, dan tidak mungkin untuk mengejar Sanum.


"Kenapa? Daddy tega, menolak kebahagiaan Kenzie, kenapa? Daddy, apa....aku tidak berhak untuk menentukan kebahagiaan ku sendiri, ia begitu jika begini lebih baik aku mati saja"ucap Kenzie yang berusaha bangkit dan hendak melepaskan selang infus dan oksigen.


"Hentikan Kenzie, sejak kapan? kamu jadi pembangkang"ucap Kenzo.


"Tapi aku mencintai nya mom, aku mohon bawa dia kembali"ucap Kenzie.


"Sabar sayang, mommy akan berusaha kamu tenang dulu oke"ucap Mariana.


"Sanum jangan pergi"ucap nya lirih hingga dia kembali tertidur pulas.


Sudah tiga tahun berlalu, sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi, Kenzie sudah mencari informasi tentang keberadaan nya, hingga akhirnya menyerah dengan pilihan Kenzo, dia menikah dan sudah memiliki anak setelah yang kini berusia dua tahun, seorang putra tampan, sangat mirip dengan nya.


Meskipun pernikahan itu tidak pernah Kenzie inginkan, tapi dia sangat menyayangi putra nya.


Abigail Georgio, putra pertama nya, itu begitu dicintai oleh Kenzo sang kakek.


Sementara itu, di negara lain, Sanum, masih berada di sebuah rumah sakit, dia tengah menemani kekasih nya, yang kini tengah sakit.


Aiden, laki-laki yang telah menyelamatkan nyawa nya dari pembunuh bayaran yang mungkin disewa oleh seseorang, saat itu Sanum, baru pulang kerja dari sebuah perusahaan dimana ibunya telah menanam saham yang cukup besar di sana.


Meskipun selama ini Sanum, bekerja sebagai karyawan biasa.


Saat Sanum tengah berjalan kaki, seseorang hendak melukai dirinya, tapi kemudian Aiden, yang tengah berjalan dari arah berlawanan pun langsung menolong Sanum dan menerjang penjahat tersebut.


Sanum, yang syok, wanita itu pun terduduk lemas, saat Aiden berhasil menyelamatkan diri nya.


Hingga beberapa kali pertemuan, mereka pun akhirnya memutuskan untuk berteman, Aiden, yang merupakan duda tampan, pemilik perusahaan tempat Sanum, bekerja, dia memiliki dua orang anak yang sangat lucu meskipun mereka tidak kembar, tapi jarak kelahiran mereka cukup dekat, hingga mereka terlihat seperti kembar, dan kini tinggal bersama dengan ibu dari mendiang istrinya, sesekali Aiden akan datang mengunjungi nya, bersama dengan Sanum, yang bahkan seorang penyayang.


Sanum akan membuat makanan favorit untuk mereka bertiga.


"Sayang cepat sembuh, kasihan mereka"ucap Sanum.


"Sayang, kamu sayang aku apa? mereka sih kenapa? hanya mereka yang kamu sayang"ucap Aiden.


"Owh ya ampun, sudah tua juga masih merajuk, aku saja wanita tua tidak pernah merajuk"ucap Sanum.


"Kita belum tua sayang, hanya saja kita sudah menjadi orang tua" ucap Aiden.


"Sama saja tua kan"ujar Sanum.

__ADS_1


"Heumm, sayang ku ini, semakin cerewet bisa-bisa aku diceramahi setiap hari nya"


__ADS_2