Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Luka baru#


__ADS_3

Arvin sendiri saat ini tengah mencoba untuk menghubungi Shania karena dia merasa tidak tenang dengan kasus yang terjadi di keluarganya saat ini.


Pria itu tidak ingin Shania mengetahui hal itu dari orang lain.


Sampai beberapa jam kemudian barulah ada respon dari Shania.


Lewat balasan pesan yang dikirim oleh Arvin.


šŸ’Œ"Selamat untuk pernikahan Mr, semoga langgeng mulai sekarang dan selamanya lebih baik kita tidak usah bertemu lagi atau saling menyapa bila kita bertemu! karena kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi mulai saat ini."Shania.


Betapa terkejutnya Arvin saat ini, karena balasan pesan dari Shania sungguh berbeda dengan pesan yang Arvin kirim beberapa jam yang lalu.


Ulu hatinya terasa nyeri, Arvin langsung menghubungi Shania lewat panggilan video namun ternyata kontak itu sudah memblokir nomornya.


"Anjing!!!! sialan ini pasti perbuatan si wanita ****** itu, Ahhhhhh....awas saja aku akan membunuh kau ******!!."teriak Arvin.


Betapa sakitnya hati Arvin saat ini, mendapati kenyataan ini, dia tidak mungkin pergi ke Swiss dalam keadaan seperti ini.


Arvin pun langsung mengamuk dia melempar semua benda yang ada di hadapannya, dia juga meninju dinding itu tanpa henti hingga sang Bunda datang untuk menghentikan perbuatannya itu.


"Arvin sayang hentikan nak, hentikan!! kamu jangan lakukan ini lihat tangan mu yang berharga ini terluka."ucap sang Bunda.


"Bunda dia tidak inginkan Arvin lagi! dia pasti sudah mendengar kabar sialan itu."ucap Arvin.


"Telpon dia nak, Bunda yang akan bicara dengannya."ucap wanita itu lembut sambil membingkai wajah putranya yang tengah tersiksa.


"Dia tidak akan pernah mau bicara lagi Bunda."ujar Arvin sudah putus asa.


"Hi... sayang dengarkan Bunda, di coba dulu ya jika tidak bisa nanti Bunda yang akan temani kamu kesana untuk menjelaskan kronologinya."ucap sang Bunda.


Arvin pun memberikan handphone tersebut pada sang Bunda dan wanita paruh baya itu meraihnya saat itu juga.


Wanita itu pergi keluar untuk mengambil handphone miliknya dan juga kotak p3k untuk mengobati tangan putranya itu.


Arvin sendiri kini tengah terduduk di tepi ranjang empuk itu.


Tidak sampai berapa lama, nyonya Ervina datang membawa kotak p3k dan ponsel yang kini tengah tersambung dengan seseorang di sebrang sana.


"Ya, Shania Aunty mohon buka blokiran nomor Arvin, lihat putra ku sudah sangat menderita maafkan Aunty jika sudah membuat tidur mu terganggu."ucap nyonya Ervina.


Percakapan itu terus berlanjut saat nyonya Arvin mengalihkan panggilan tersebut dengan panggilan video.


Shania yang kini tengah tidur dan masih berada di balik selimut itupun menatap lekat pada Arvin yang kini tengah terluka dan ibunya tengah mengobati luka itu dengan serius.


"Nak, ayo kita ke rumah sakit lukamu cukup serius sayang apa? yang kamu lakukan lihatlah pendarahan ini tidak bisa dihentikan."ucap nyonya Ervina.


"Tidak usah Bun, biarkan Arvin mati saja karena kehabisan darah. toh Arvin sudah kehilangan wanita yang sangat Arvin cintai."ucap Arvin yang kini bersikap dingin pada Shania.


"Mr, pergilah berobat... kamu harus baik-baik saja sampai hari pernikahan mu nanti."ucap Shania.


"Bunda dengar sendiri bukan dia tidak pernah mencintai Arvin, dia tidak benar-benar serius mencintai Arvin."ucap Arvin yang masih enggan untuk menoleh.


"Sudah-sudah ayo sayang kita harus segera ke dokter."ucap nyonya Ervina panik.


Kepanikan itu pun terjadi kala Shania benar-benar melihat luka yang terus mengeluarkan darah dari tangan Arvin, gadis itu langsung berkata.


"Bertobatlah aku akan pulang sekarang juga."ucap Shania sambil beranjak dari tidurnya dan kini entah pergi kemana?.


Sementara Arvin dan nyonya Ervina kini langsung pergi menuju ke sebuah rumah mewah lainnya yang hanya terhalang beberapa rumah saja di depan pintu pagar yang menjulang tinggi itu tertulis bahwa itu adalah rumah dokter umum.


Arvin turun bersama sang Bunda dan langsung masuk kedalam area pekarangan rumah tersebut, disambut oleh satpam rumah tersebut.


"Silahkan masuk anda sudah ditunggu oleh dokter."ucap pria yang mungkin seumuran dengan Arvin.


Tidak menunggu lama Arvin dan sang bunda langsung masuk kedalam ruangan praktik dokter tersebut.


Saat itu juga dokter itu langsung memeriksa Arvin lalu melakukan tindakan.


Saat ini Arvin tengah ditangani dengan baik oleh dokter tersebut.


Sementara itu kehebohan tengah terjadi saat Shania tiba-tiba ingin pulang ke Indonesia dan dia bicara langsung pada Kenzo.

__ADS_1


"Opah tidak akan mengijinkan mu pulang sendirian sayang kamu masih gadis remaja bagaimana jika amit-amit sesuatu terjadi padamu."ucap Kenzo yang memang ada benarnya juga.


"Tapi Opah, ini benar-benar urgent, aku harus segera pulang sekarang pokonya sekarang."ucap Shania yang kini tengah merengek.


"Ada apa? di Indonesia, biarkan opah menghubungi daddy mu dulu."ucap Kenzo.


Saat itu Shania pun hanya bisa pasrah semoga sang daddy bisa peka dengan masalahnya dan bisa mengijinkan dia untuk kembali.


Keberuntungan kini tengah berada di pihak Shania, Kenzie yang juga sudah sangat merindukan putrinya itu kini meminta Shania untuk kembali dengan Gerald dengan alasan bahwa dirinya kini tengah merindukan keempat putra putrinya itu.


Namun Kenzo hanya mengijinkan Gerald dan kedua adik laki-lakinya pulang untuk sementara kecuali Shania yang memang akan kembali pulang pada kedua orang tuanya itu.


Meskipun Mariana merasa keberatan jika harus kembali terpisah dengan cucunya itu.


Gerald yang sudah dihubungi oleh Daddynya itu pun langsung bersiap bersama dengan kedua adik laki-lakinya itu.


Gerald tau dengan maksud dari sang daddy yang kini sudah merawat istri dan kedua anaknya di Indonesia.


Gerald bersyukur di saat dirinya tengah dalam keadaan bingung dia masih memiliki sang daddy yang ternyata jauh lebih baik dari dugaannya selama ini.


Semua telah siap untuk pergi mereka pun berpamitan pada opah dan Omah mereka saat ini.


"Opah, Omah... aku pamit pulang dulu ya.... Shania sayang kalian lain kali Shania janji akan tetap berada di sisi kalian."ucap gadis berusia delapan belas tahun itu.


"Sampai kapan omah dan Opah harus menunggu, usia kami bahkan sudah terlalu tua saat ini."ucap Mariana.


"Ya mungkin setelah Shania kuliah nanti."ucap Shania.


"Anak manja hanya beberapa minggu lagi kau akan masuk kuliah apa? kau ingin terus berada di SMA."ucap Mariana.


"Hehehe,,, maksud Shania adalah nanti saat Shania kuliah S2 Omah."ucap Shania.


Shania seharusnya baru mau menginjak kelas tiga, tapi karena kecerdasan yang dia miliki akhirnya dia loncat kelas dan sekarang sudah selesai mengikuti ujian, dan sudah menerima kelulusan juga tinggal masuk ke bangku kuliah.


Gadis itu terkekeh geli, saat itu juga Mariana memeluk cucunya itu.


.............................


Setibanya di Indonesia setelah menempuh perjalanan jauh, kini tepat pukul tujuh pagi, mereka sudah berada di bandara dan jemputan mobil itu sudah tiba mereka berempat pun langsung masuk kedalam mobil Alphard tersebut dan masing-masing kembali beristirahat di dalam mobil tersebut.


Keempatnya langsung turun dari mobil menghambur memeluk orang yang mereka sayangi, terutama Gerald yang langsung memeluk sang istri.


"Apa? kabar mu honey, apa? disini nyaman."ucap Gerald sambil memeluk erat istrinya itu.


Anggun mengangguk pasti.


"Kau anak nakal, kenapa? sampai tidak berterus terang kepada mommy dan Daddy jika kau sudah memiliki anak dan istri."ucap Kenzie.


"Maafkan Gerald Dad... mom."ucap Gerald singkat.


Setelah semuanya masuk mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu mereka wajib sarapan pagi bersama seperti biasanya.


Enak menjadi Gerald saat ini dia dilayani oleh sang istri untuk urusan mandi, sementara kedua bujangan dan Shania kini sibuk sendiri semeantara para pelayan hanya membantu mengurus barang-barang mereka yang kini sudah tersusun rapi.


"Apa? kamu betah disini sayangku."ucap Gerald yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menggendong kedua anaknya yang kini berada di bawah bersama dengan omah dan opah mereka.


"Bagaimana? aku bisa merasakan tidak betah disini.... Yank, mommy dan daddy mu adalah orang yang sangat baik dan pengertian, aku bahkan merasa tidak enak hati dengan kebaikan mereka."ucap Anggun.


"Mereka memang sangat baik, tapi peraturan opah tidak akan bisa ditentang oleh siapapun."ucap Gerald.


"Heumm."ucap Anggun yang kini membantu suaminya berpakaian.


Setelah selesai mereka berdua pun menunda untuk melepas rindu. karena selain ditunggu untuk sarapan pagi saat ini mereka juga ditunggu oleh kedua anaknya yang kini sudah berada di bawah.


Kedatangan mereka saat ini sudah ditunggu oleh kedua bayi kembar yang kini tengah bercengkrama dengan kedua orang paruh baya itu.


Mereka sungguh sangat lucu dan menggemaskan, saat ini bahkan keduanya sudah bisa berceloteh dengan bahasa bayi yang tidak pernah dipahami oleh siapapun.


Namun senyum dan tawa mereka membuat siapapun akan jatuh cinta.


Kini semua orang tengah berada di meja makan kecuali bayi tersebut yang kini tengah diasuh oleh kedua baby sitter.

__ADS_1


Mereka kini tengah menikmati sarapan pagi tersebut.


Sampai saat selesai sarapan Shania langsung pamit pergi ke luar.


Gadis itu sudah tidak sabar untuk mengklarifikasi semua pada Arvin.


Shania yang sudah membawa kunci mobil dan ponsel juga black card yang terselip di balik ponsel tersebut seperti biasanya dia menyalip kan kedua benda benda penting itu.


Shania langsung pergi dengan mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopir sebelumnya di depan lobby Mension tersebut.


Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai sudah masuk kedalam area pekarangan rumah Arvin.


Gadis itu turun, sambil melirik ke sekeliling dan tiba-tiba muncul sebuah mobil yang tidak asing bagi Shania dari arah luar.


Gadis itu tiba-tiba terdiam saat melihat Karin keluar dari mobil milik Arvin yang pemiliknya itu baru turun dari mobil.


Shania hendak kembali masuk kedalam mobil namun langkah itu dicegah oleh Arvin.


"Yank... tunggu, semua tidak seperti yang kamu lihat tunggu kita akan segera bicara."ucap Arvin.


"Maaf sepertinya saya salah tempat."ucap Shania yang kini masuk kedalam mobil sambil menahan tangisnya.


Arvin yang kini menghadang mobil Shania dia tidak perduli jika Shania kini menabrak dirinya.


Namun Shania langsung keluar dari dalam mobil yang kini sudah menyala dia hendak menyingkirkan pria yang kini menghadang mobil tersebut, tapi Arvin dengan kilat berlari masuk kedalam mobil Shania dan mematikan mesin lalu membawa kunci mobil tersebut dia menutup mobil itu dengan kasar lalu menarik Shania yang kini tengah bengong menatap kearah nya.


"Ikut aku sekarang juga Yank, jangan sampai membuat ku marah."ucap Arvin yang langsung merangkul pinggang Shania.


"Mr, kau bisa jelaskan semuanya disini mungpung masih ada Karin calon istri anda."ucap Shania yang kini menatap ke arah Arvin yang masih mencengram pinggang Shania dengan tangan yang terluka parah itu.


"Sayang jangan bicara sembarangan atau aku akan bilang kendali dan buat kamu menyesal."ucap Arvin.


"Lepaskan tanganmu."ucap Shania.


"Coba saja jika kamu bisa."ucap Arvin yang kini tengah menatap tajam kearahnya.


"Mr, tangan mu berdarah."ucap Karin.


"Diam!! ucap Arvin yang kini terus berusaha menarik Shania.


Shania tidak ingin melangkah pergi sampai saat."Hubungan kita sudah berakhir."ucap Shania.


"Jangan katakan itu, aku bilang diam ya diam!! apa? kamu tidak mendengar."teriak Arvin hingga nyonya Ervina datang.


"Ar jangan teriak-teriak sayang malu didengar tetangga. ayo masuk nak maafkan Arvin."ucap nyonya Ervina.


"Shania tidak bergerak sampai saat Arvin menggendong Shania ala bridal style.


"Turunkan aku, aku tidak mau masuk."ucap Shania.


"Sayang please jangan buat aku berbuat kasar padamu.


"Ar kita sudah."


"Stop! aku bilang diam."ucap gadis itu.


"Sayang kamu jangan berteriak."ucap nyonya Ervina.


"Tapi Bunda dia terus membangkang, sudah aku bilang kita akan bicara baik-baik di dalam tapi dia terus saja memutuskan semua sendiri."ucap Arvin.


Sementara Shania yang kini sudah di dudukan di atas sofa dia tidak memandang Arvin sedikit pun.


Disana ada Arfan dan Karin yang sudah berada di hadapan nya, sementara Arvin berada di samping Shania dia menggenggam erat tangan Shania.


"Begini nak, saat ini Karin sedang hamil, Aunty tidak tau harus bagaimana orang tua Karin meminta Arvin untuk bertanggung jawab karena Arfan masih sangat muda dan tentunya dia masih sekolah."ucap nyonya Ervina.


"Nikahkan saja, saya tidak akan melarang jika memang itu sudah seharusnya lalu untuk apa? bicara sama saya kita tidak punya ikatan apapun ."ucap Shania.


"Owh jadi begitu lalu hubungan kita selama ini.... apa? Tidak berarti apa-apa untukmu iya begitu."ucap Arvin masih dengan nada tinggi.


"Anggap saja tidak pernah saling mengenal sekarang kamu bebas memilih siapapun."ucap Shania yang kini tengah berusaha melepaskan cengkraman tangan Arvin.

__ADS_1


"Apa? kamu tidak mencintai ku sama sekali, apa? tida ada cinta untuk ku!."ucap Arvin yang kini membingkai wajah Shania.


"Cukup Mr, jika kamu memang menyukai dia maka menikahlah dengannya."


__ADS_2