Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Lupa#


__ADS_3

Julia tidak ingin lagi mengingat semua dia ingin melupakan segalanya, semua yang terjadi adalah sebuah pembelajaran hidup yang tidak akan pernah terlupakan.


Julia tidak pernah lagi berharap akan kembali pada pria yang sudah mengkhianati dirinya.


Satu bulan telah berlalu sejak Sanum datang membawa kedua anaknya yang selama ini Julia kira masih berada di tangan Vino.


Julia pun akhirnya menjelaskan semuanya yang terjadi padanya selama ini, Sanum benar-benar tidak menyangka bahwa semua akan seperti saat ini.


Kini Julia sudah bertekad akan menghidupi keempat anaknya sendirian meskipun kedua putranya tidak pernah kekurangan apapun karena Gidion sudah memenuhi semua kebutuhan mereka.


Kini wanita itu tengah menikmati kebersamaannya dengan keempat anaknya termasuk Vivian putri bungsunya itu.


Sanum dan Kenzie pun langsung kembali setelah memastikan bahwa keempat cucunya itu tinggal dengan nyaman bersama dengan putrinya.


Kini kelimanya tinggal di sebuah rumah sewa yang ada negara tersebut.


Julia tengah memberikan mereka buah-buahan segar yang dia beli di toko online yang menjual berbagai macam buah yang dipetik dari pohonnya langsung.


"Sayang tambah lagi."kata Julia.


"Tidak mommy sudah kenyang."ucap Junior.


"Iya mom, sudah kenyang."ucap Vero.


"Ya... sudah Sayang kalian duduk saja dulu mommy mau menyimpan bekas makan."ucap Julia.


"Ya mom."ucap mereka semua.


Sementara itu di kediaman Arvin saat ini, Shania tiba-tiba terbangun dan berlari menuju kamar mandi dia tiba-tiba merasa mual dan sangat pusing.


Arvin pun langsung membuka mata, dan bangkit dari ranjang saat mendengar suara Shania yang sedang muntah.


"Sayang... kamu kenapa? heumm..."ucap Arvin yang langsung meraih tengkuk Shania dan memijat lembut tengkuk isterinya itu.


"Aku mual Yank...uwo..."Shania kembali muntah.


"Kita ke dokter ya sayang, kamu harus diperiksa sekarang juga."ucap Arvin.


"Tidak mau takut,,,,"rengek Shania.


Arvin lupa jika istrinya itu takut dengan yang berkaitan dengan jarum suntik dan obat-obatan.


"Cuma diperiksa saja Sayang,,, tidak di suntik kok."ucap Arvin.

__ADS_1


"Tidak Yank... aku tidak mau hiks... hiks... hiks."Shania malah menangis.


Arvin pun membersihkan wajah istrinya itu dengan penuh kelembutan dan mengeringkannya dengan tissue.


"Sayang... jangan menangis bagaimana? jika ada baby disini dan tidak pernah kita tahu."ucap Arvin lembut.


"Baiklah sayang."ucap Shania yang mengangguk.


Arvin sudah merasakan ada sesuatu yang beda dari istrinya itu.


Shania pun langsung bersiap dibantu oleh Arvin yang kini sudah selesai bersiap juga.


Arvin menggendong istrinya hingga sampai di samping mobil, pria itu pun membuka pintu mobil tersebut dan membantu istrinya itu untuk duduk di jok samping kemudi.


"Yank,,, buruan, aku gak tahan dengan bau pengharum mobil ini."ucap Shania yang kini membenamkan wajahnya di dada Arvin.


Arvin langsung bergegas meninggalkan rumah mereka menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi Shania.


Setelah sampai di rumah sakit Arvin langsung meminta dokter untuk memeriksa kondisi Shania, Arvin bahkan tetap berada di samping istrinya yang kini tengah menggenggam tangannya itu.


"Sayang... aku takut."ucap Shania.


"Jangan takut sayang ku... aku disini."ucap Arvin.


"Apa? baby."ucap Shania tidak percaya.


"Nyonya sedang hamil, apa? nyonya tidak tau itu padahal sudah hampir empat bulan."ucap dokter tersebut dan membuat Arvin melongo tak percaya.


Pria itu terlihat sangat terkejut dan mematung hingga dokter kembali membuat dia tersadar dari keterkejutannya saat ini.


Sampai saat ini, keduanya benar-benar melihat bukti nyata dari cinta mereka saat ini.


Arvin pun menitikkan air mata saat ini, dia tidak menyangka jika saat ini cintanya ternyata sudah tumbuh di rahim istrinya, dan bahkan sudah bernyawa seperti biasanya usia kandungan 4 bulan.


Arvin pun mengabadikan momen tersebut hingga akhirnya mereka pun pulang membawa kabar tersebut pada seluruh keluarga besarnya itu.


Shania pun sudah tidak sabar untuk memberitahu semua itu pada kedua orang tuanya itu.


Dan sesampainya di Mension tersebut Shania dan Arvin langsung meminta semuanya berkumpul setelah semua orang berkumpul kini tiba Arvin menyampaikan berita baik tersebut pada semuanya.


Dan betapa? bahagianya Sanum dan seluruh keluarga yang ada saat ini termasuk para pelayan, hingga akhirnya Sanum meminta dirinya untuk tinggal di sana agar Arvin tidak khawatir saat dia akan pergi bekerja.


Dan Arvin pun menyetujui semua itu karena saat ini dia juga sedang memiliki pekerjaan yang mengharuskan dirinya bolak-balik ke luar kota.

__ADS_1


Arvin juga sangat khawatir jika dia harus membiarkan istrinya itu tinggal di rumah mereka nanti.


Shania pun terlihat sangat bahagia dan berseri saat ini, saat Arvin ingin pergi bekerja.


Dia memeluk dan mencium istrinya itu yang kini bergelayut manja di leher Arvin.


Hari berganti hari kehamilan Shania kini semakin terlihat nyata, perutnya membuncit dan selalu mengidam apa yang dia lihat di sosial media. sehingga membuat Arvin harus bekerja keras mencari semua yang diinginkan oleh istrinya itu. hingga akhirnya apa? yang Shania inginkan bisa Arvin dapatkan barulah wanita itu tersenyum pada suaminya.


Sanum pun hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala saat ini karena tingkah Putrinya itu.


Sampai saat ini Arvin selalu berusaha mewujudkan keinginan istrinya itu.


Shania juga begitu manja terhadap suaminya itu, Arvin kadang tidak bisa pergi meninggalkan Shania sekalipun dia akan bekerja. hingga akhirnya Shania ikut pergi ke kantor.


Arvin akan mendahulukan kepentingan istrinya itu sampai saat istrinya merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhannya barulah ia bisa bekerja dengan tenang.


Hari ini adalah hari tersibuk bagi Arvin selain harus menemani istrinya sambil bekerja, dia juga masih harus mengurus istrinya yang kadang bertingkah ajaib.


Shania akan tiba-tiba minta di kelonin saat Arvin benar-benar sibuk.


Tapi pria itu tidak menolak keinginan istrinya itu.


Arvin akan melakukan apapun untuk istrinya itu.


"Yank.... kamu kenapa?."tanya Arvin.


"Heumm... yang aku."ucap Shania ragu.


"Apa? sayang ku."ucap Arvin lembut.


"Pengen bobo tapi di kelonin."ucap Shania.


"Heumm.... Baik'lah sayang ku."ucap Arvin yang kini melepaskan jas yang dia kenakan.


"Ayo sayang, tunggu mas cuci tangan dulu ya."ucap Arvin.


"Ya sayang ku."balas Shania yang kini duduk di tepi ranjang yang berada di ruangan khusus untuk Arvin istirahat yang baru dibuat saat istrinya ingin ikut kesana.


Arvin pun selesai mencuci tangan, dia pun melepaskan sepatu yang sedari tadi dia kenakan.


"Ayo bobo dah waktunya istirahat siang bukan? setelah ini kita makan siang."ucap Arvin.


"Heumm....."ucap Arvin.

__ADS_1


__ADS_2