
Arvin sedikit merasa janggal dengan jawaban yang ibunya berikan dia lupa mengecek Cctv yang ada di rumahnya itu.
"Arfan dimana Bunda?."tanya Arvin.
"Tadi dia pamit pulang dulu."jawab nyonya Ervina.
"Shania akan pergi dari Arvin, mungkin sekarang sudah pergi entahlah."ucap Arvin.
"Bagaimana? bisa,,, apa? Yang terjadi pada kalian berdua."tanya nyonya Ervina.
"Arvin tidak sekaya orang lain Bunda, lagi-lagi itu yang selalu menjadi masalah.
"Bunda tidak mengerti dengan mu nak, Harta mu masih tersimpan dengan baik lalu kau kenapa? masih mempersulit diri sendiri."ucap nyonya Ervina.
"Arvin ingin mencari istri yang benar-benar menerima keadaan Arvin apa adanya Bunda bukan ada apanya."ucap Arvin.
"Kamu yang terlalu naif putraku di jaman begini tidak akan pernah ada wanita seperti itu, semua serba materi yang diutamakan. jadi jangan pernah berfikir bahwa akan ada keajaiban dimana kamu akan diterima saat kamu memperlihatkan kesederhanaan pada mereka."ucap nyonya Ervina.
"Arvin tetap tidak sebanding dengan Shania Bunda."ucap Arvin.
"Tapi keluarganya sudah menerima mu dengan baik nak,,, tidak akan ada alasan lain."ucap Arvin.
Arvin hanya mengangguk pelan.
"Apa? Bunda tidak apa-apa jika Arvin tinggal untuk menemui Shania. Arvin akan meminta Arfan untuk segera berangkat kemari."ucap Arvin.
"Pergilah nak."ucap nyonya Ervina yang kini mengusap bahu putranya yang memeluk dirinya.
Arvin pun langsung berangkat menuju ke bandara saat itu juga.
Arvin tidak ingin lagi kehilangan wanita yang benar-benar sangat ia cintai saat ini.
Arvin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara bahkan dia tidak peduli jika saat ini banyak orang yang protes terhadap dirinya.
Arvin bahkan tiba sebelum waktu yang diperkirakan, saat itu Shania sedang bersiap untuk pergi menuju pesawat tapi jalannya tiba-tiba terhenti karena kedatangan beberapa selebritis tanah air yang membuat para fans di sana memenuhi ruangan tersebut hingga petugas kesulitan untuk mengamankan area tersebut.
Arvin pun bisa menerobos masuk dan mencari keberadaan Shania di dalam kerumunan orang-orang tersebut.
Namun Arvin tidak bisa menemukan Shania, tapi saat Arvin melirik kearah eskalator dia melihat Shania yang kini tengah berada di depan tangga berjalan itu hendak melangkahkan kakinya.
Arvin langsung berteriak memanggil nama calon istrinya itu.
"Shania Aurora Georgio, jangan pernah berani melangkahkan kaki mu satu langkah pun karena aku tidak akan pernah memaafkan mu!!." teriak Arvin yang langsung membuat Shania mematung di tempatnya.
Hampir semua orang melirik kearah mereka, Arvin langsung meraih tangan gadis itu dan membawanya kedalam pelukan.
"Tuan Arvin kamu salah orang."ucap seseorang yang kini tengah berada di belakangnya.
"Sayang,,, lalu Ah,,, maafkan saya."ucap Arvin saat melihat orang lain yang baru saja dia lepaskan dari dalam pelukannya itu.
"Aku tidak akan memaafkan mu jika kamu pergi."ucap Arvin yang kini meraih Shania dan memeluknya erat.
"Aku tau kamu akan datang Ar, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati cinta kita saat itu aku hanya sedang jenuh dan aku menghubungi temanku,,, aku tidak pernah mencintai pria lain selain dirimu! tapi kamu kejam baru begitu kamu sudah membalas ku dengan berpaling."
"Pada sepupuku begitu."potong Arvin.
"Kau bohong Ar, kamu tidak pernah punya sepupu, dan keluarga lain buktinya selama ini kamu tidak pernah mengenalkan mereka semua padaku."ucap Shania.
"Mereka semua ada tapi karena salah faham kami semua seolah tak pernah saling mengenal."ucap Arvin.
"Kamu harus buktikan itu."ucap Shania yang masih menangis sesenggukan saat ini.
Arvin pun membawa Shania untuk keluar dari bandara, tapi Shania menahannya.
"Bagaimana? dengan tiket ku ini."ucap Shania.
"Heumm,,, masih mikirin tiket itu,,, aku bisa mengganti itu sepuluh kali lipat."ucap Arvin.
"Heumm,,, benarkah tuan suami punya banyak uang aku jadi benar-benar penasaran."ucap Shania.
"Tidak banyak tapi cukup untuk kita makan satu bulan kedelapan."ucap Arvin yang kembali merendah.
__ADS_1
"Benarkah?,,, itu benarkah?."ujar Shania yang kini menggoda Arvin kesedihan itu seolah sirna begitu saja.
Sesampainya di dalam mobil Arvin langsung mengecup bibir yang selama dua Minggu ini sangat dia rindukan.
"Eum,,, ganti dulu uang tiket pesawat ku."ucap Shania.
"Ambilah honey, kamu bisa membayar apapun mulai sekarang."ucap Arvin yang memberikan dompet miliknya pada Shania.
"Wow,,, aku dapat dompetnya secara langsung tidak hanya uang sumbangan yang tidak seberapa besar itu."ujar Shania yang kini mengungkit tentang kejadian kemarin.
"Bukan hanya dompetnya saja nyonya Arvin, tapi dengan orangnya langsung."ucap Arvin.
"Ah, so sweet nya tuan suamiku yang tampan itu ini apa? kamu tidak merindukan ku beberapa tahun ini hingga terus menjauh dari ku."ucap Shania.
"Heumm,,, bagaimana? ya,,,rindu atau tidak ya, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata."ucap Arvin.
Arvin pun langsung membawa Shania ke rumah sakit untuk menemui ibunya.
"Sayang ini bukan jalan menuju rumah kita."ucap Shania yang kini kebingungan.
"Bertepatan dengan dengan kepergian mu Bunda mengalami kecelakaan, itulah kenapa? Aku terlambat mencari dirimu."ucap Arvin.
"Oh ya ampun,,, bagaimana? keadaan mommy."tanya Shania kaget.
"Selamat, tapi mengalami cedera di kepala."ucap Arvin yang tidak tahu persis dengan keadaan ibunya saat ini.
Sesampainya di sana, Shania langsung merangkul lengan Arvin yang saat berjalan di samping Shania.
Arvin mengelus puncak kepala Shania sesekali.
Sesampainya di dalam ruangan tersebut tiba-tiba Arvin kaget bukan main saat melihat kamar itu kosong..
Disana hanya ada seorang suster yang tengah membereskan ranjang tersebut.
"Dimana? pasien yang tadi di ruangan ini.tanya Arvin.
"Jenazah sudah di bawa pulang oleh putranya satu jam yang lalu."ucap suster itu.
"Pasien atas nama nyonya Ervina mengalami gangguan jantung dan pasien meninggal pukul 17:30 ucap suster itu.
Arvin langsung berteriak."Tidak!! Bunda!! ini tidak mungkin."teriak Arvin yang kini berada di dalam dekapan Shania yang juga menangis sesenggukan.
"Yank... kamu. yang kuat ya,,,, ayo kita pulang kasihan Bunda pasti sedang menunggu mu."lirih Shania.
"Bunda,,, maafkan Arvin yang tidak pernah berbakti."ucap pria itu.
Kenzie yang datang ke rumah sakit menyusul putrinya dan Arvin karena takut terjadi apa-apa pada mereka dalam keadaan duka ini.
Kenzie yang melihat Shania yang kini menggandeng Arvin yang terlihat sangat lemas pun langsung bergegas membantu menggandeng Arvin.
"Kamu harus kuat Ar, tuhan lebih menyayangi Bunda mu daripada kita."ucap Kenzie pada Arvin yang kini tengah berjalan bersamanya.
"Bunda baik-baik saja tadi daddy, aku bahkan izin untuk menjemput Shania. dan Bunda mengijinkan itu, bahkan Bunda bilang harus mempertahankan hubungan antara aku dan Shania meskipun kami tidak sepadan."ucap Arvin yang kini masih menangis sesenggukan.
.....................
Shania masih memeluk Arvin hingga tiba di rumah Arvin saat ini pria itu langsung turun dari mobil dan berlari menerjang kerumunan orang-orang yang kini memenuhi halaman rumah dan sampai kedalam rumah.
Shania mengikuti langkah Arvin.
"Kenapa? kamu tidak beritahu abang!! kenapa?."ucap Arvin yang kini mendorong Arfan yang hendak memeluk Arvin pemuda itu hanya bisa menangis pedih tanpa bisa menjawab.
"Bunda bangun bunda,,,ini Arvin pulang bukankah tadi Bunda bilang ingin Arvin tetap bertahan. lihatlah Bunda Shania ada di sini, bukankah Bunda juga sangat menyayangi dia tapi kenapa? Bunda malah seperti ini,, bangun Bunda bangun ini Arvin hiks hiks hiks ini Arvin Bunda,,, bangun."ucap Arvin yang kini terus menggoyangkan jenazah sang bunda namun nyonya Ervina tetap tidak bergerak.
Arfan langsung memeluk Arvin, tangis pilu itu benar-benar sangat menyayat hati dari seluruh pelayat termasuk Sanum yang kini duduk di samping bersama dengan Mariana.
"Arvin sudah sayang sudah, kasihan mommy mu, dia pasti akan sangat sedih jika kalian seperti ini."ucap Mariana dan Sanum yang mencoba menenangkan Arvin.
"Kenapa? Bunda tidak menunggu sampai Arvin bisa membahagiakan Bunda bukankah Bunda ingin cucu perempuan yang banyak bukankah Bunda ingin bermain dengan cucu Bunda bangun Bunda bangun."ucap Arvin .
"Arvin semua sudah takdir yang maha kuasa, kita tidak akan pernah bisa tawar menawar, karena setiap orang memiliki garis takdir masing-masing."ucap Sanum sambil mengusap punggung calon menantunya itu.
__ADS_1
Sanum pun meminta Shania berganti pakaian dengan gamis yang tadi ia bawa.
Arfan pun membantu Arvin untuk wudhu dan berganti pakaian karena saat ini mereka harus membaca surah Yasin untuk almarhum ibunya.
Sampai semua keluarga ibunya datang termasuk sepupunya yang kini penuh tangis pilu di dalam ruangan tersebut.
Arvin sendiri kini hanya berdiam diri di samping jenazah ibunya setelah dia bersih-bersih.
Sementara Shania kini tengah mengusap air matanya yang terus menetes karena bukan hanya Arvin yang merasa kehilangan.
Shania bahkan terkenang beberapa kali kebersamaan mereka saat itu mereka selalu larut dalam kebahagiaan berdua.
Sanum pun mengusap mengusap pundak putrinya, saat ini akan dilakukan proses pemandian jenazah.
Seluruh perempuan yang ada di sana pun ikut memandikan jenazah, suara lantunan ayat suci terdengar begitu menggema di seluruh ruangan.
Arvin membacakan surah Yasin untuk almarhum ibunya disampingnya ada Shania.
Selama semalaman penuh mereka pun mengaji untuk almarhum barulah pagi harinya jenazah itu di kebumikan setelah di sholatkan terlebih dahulu.
Arvin kini terduduk lemas di samping gundukan tanah merah itu bersama dengan Arfan masih menangisi kepergian ibunya.
Dia benar-benar telah menyesali perbuatannya karena telah membawa wanita ****** itu masuk kedalam rumah mereka hingga akhirnya terjadi keributan besar antara dirinya dengan wanita itu yang membuat ibunya terjatuh di tangga dan akhirnya tiada.
"Flashback on"
"Arfan tolong maafkan aku,,, aku mohon izinkan aku untuk tinggal di sini."ucap Karin.
"Tidak Karin, jika Abang tau kamu datang dia akan sangat murka."ucap Arfan.
"Arfan kamu tega melihat ku jadi gembel di jalanan mana buktinya bahwa kamu mencintai ku dan menerima ku apa adanya itu."ucap Karin.
"Aku memang masih mencintai dirimu Karin, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa pergilah sebelum Abang kembali dari kantor."ucap Arfan.
"Kau bohong Arfan!! kau tidak punya perasaan hanya karena kamu takut kakak mu marah kau memang pengecut!!."teriak Karin.
Sementara itu Arfan yang tidak tahu ibunya ingin menghampiri mereka , sehingga saat Karin berlari dia tidak sengaja menabrak sang bunda hingga nyonya Ervina terjatuh dan berguling di tangga.
Arfan pun mengatakan bahwa ibunya tidak sengaja terpeleset di tangga karena dia tidak ingin Arvin mengetahui kejadian itu.
Arfan pun langsung membawa ibunya yang berdarah-darah itu ke rumah sakit hingga saat ibunya sudah sadar dan bisa bicara seperti sedia kala, Arfan sengaja pergi setelah meminta ibunya menghubungi Arvin agar langsung pergi ke rumah sakit saat itu untuk menggantikan posisinya sementara saat dirinya menghapus semua rekaman Cctv.
Dia juga meminta asisten rumah tangga yang ada di situ untuk tutup mulut.
Sementara saat itu Arfan pun belum membaca hasil laporan pemeriksaan dari dokter setelah itu ibunya itu sadar.
Hingga dia kembali, asisten pribadinya itu bilang bahwa Karin kembali dan memasuki kamar nyonya Ervina dan keluar membawa sebuah koper yang entah apa? isinya.
Akhirnya Karin pun dilaporkan oleh Arfan ke kantor polisi dan ia memberikan bukti rekaman Cctv pada polisi.
Saat Arfan kembali dari kantor polisi, dia mendapati ibunya sudah di tutup dengan kain putih.
"Flashback off.
Arvin sudah kembali pulang bersama dengan sanak saudara mereka saat ini dia pun meminta ketua RT untuk menetapkan ibu-ibu pengajian kompleks perumahan tersebut ikut mendoakan almarhum dan begitu juga dengan bapak-bapak Arvin pun memberikan sejumlah cek pada pria paruh baya itu untuk biyaya tersebut meskipun pria itu menolak karena mendoakan almarhum adalah sebuah kewajiban mereka semua selaku para tetangga.
Namun Arvin bilang itu untuk uang bensin dia juga memberikan sejumlah uang dalam cek untuk anak-anak yatim-piatu dan itu diberikan pada asisten pribadinya dia ingin mereka ikut mendoakan ibunya.
Sanum pun membawa beberapa asisten Mension tersebut untuk mengurus persiapan yang akan digelar nanti sore.
Hingga semeantara untuk urusan katering semua sudah di urus oleh Sanum termasuk untuk menyantuni para anak yatim yang akan hadir nanti.
Saat semua tengah berkumpul sambil beristirahat tiba-tiba beberapa orang polisi datang ke kediaman Arvin.
Dan betapa terkejutnya Arvin saat mendapati kenyataan bahwa Arfan dan Karin terlibat di balik kematian sang Bunda.
Arvin pun langsung ingin menghajar adiknya jika saja mereka semua tidak menghalangi Arvin termasuk Shania yang kini memeluk erat Arvin.
"Lepas sayang aku akan membunuh anak durhaka itu, dia tidak pantas hidup bahkan demi menyembunyikan semua ini dia meninggal Bunda yang bahkan meregang nyawa gara-gara iblis itu!!."teriak Arvin yang kini tengah terbakar amarah.
"Maafkan Arfan bang Arfan tidak pernah mengira Karin akan Setega itu membunuh Bunda,,, dimana dia pak polisi biar aku yang membunuh dia untuk membalas kematian Bunda.!!"
__ADS_1