
Queen pun turun, tapi bukan untuk ikut Allan masuk melainkan untuk pergi, mencari taksi namun langkah nya terhenti, saat Allan, meraih tangan nya dan menahan nya.
"Queen, please jangan seperti ini, kamu bisa kan dewasa sedikit, aku kesini karena ada pekerjaan yang belum sempat aku selesai kan, kamu itu harus nya bisa menebak nya, aku tidak mungkin berbuat macam-macam pada sepupuku sendiri"ujar Allan.
"Sepupu ya,,, sepupu maka dari itu biarkan aku pergi saja, aku memang tidak pernah pantas untuk siapapun"ujar Queen, sambil melepaskan tautan tangan Allan.
"Queen, kita bahas itu nanti, sekarang ikut aku aku di tunggu orang lain"ujar Allan.
"Aku tidak mau mengganggu kalian, aku pulang saja"ucap Queen.
"Oke!! kita pergi "ujar Allan yang benar-benar sangat kesal pada gadis itu, dia juga punya perasaan pada Queen, tapi dia tidak ingin terlalu terburu-buru mengatakan itu karena dia ingin melihat sejauh mana kedewasaan seseorang Queen suatu saat nanti, karena untuk meminang Queen, butuh persiapan yang matang, selain harus melawan ketentuan kedua orang tua, dia juga harus bisa meyakinkan bahwa Queen benar-benar orang yang tepat untuk menjadi cinta nya.
"Tuan, saya sudah menunggu anda sedari tadi"ujar asisten pribadi Allan.
"Aku tidak bisa meneruskan rapat, sebaiknya kamu bayar denda dan batalkan semua nya"ujar Allan.
"Baiklah tuan"jawab asisten pribadi Allan.
"Tidak lanjutkan saja rapat nya, aku akan menunggu sampai selesai"ujar Queen.
"Tidak kita pergi saja seperti yang kau mau Ratu "ujar Allan.
"Kak!! aku minta maaf jika karena aku, semua pekerjaan mu itu berantakan, tolong lanjutkan rapat nya, biarkan saja aku pulang, aku janji tidak akan pernah mengadu pada Daddy atau kakak, aku akan tutup mulut dan janji tidak akan pernah mengganggu kakak lagi"ujar Queen.
"Tidak aku sudah tidak mood"ujar Allan.
Tapi Queen langsung masuk kedalam hotel tersebut, gadis itu mencari kursi kosong di area restaurant, Allan mengikuti langkah nya, tapi Queen mencegah langkah Allan untuk duduk.
"Pergilah lanjutkan rapat nya, aku akan menunggu mu di sini"ujar Queen.
"Tapi kau harus janji jangan pergi sebelum aku selesai memasak"ujar Allan.
"Ya aku janji, pergilah"ujar Queen.
Allan pun akhirnya pergi, sementara Queen memesan makanan untuk dirinya, sambil menunggu gadis itu celingukan, lalu mengambil handphone nya dari dalam tas, dia memainkan nya, sambil menunggu pesanan datang.
Queen pun mematikan ponsel nya, dia mulai bersiap untuk menyantap makanan yang baru saja dihidangkan oleh pelayan tersebut, dia pun mulai menyantap makanan tersebut, meskipun tidak terlalu berselera tapi dia harus punya tenaga untuk menanggung beban cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, pikir nya.
Queen pun menghentikan makannya karena bahkan dia kesulitan untuk menelan makanan bercampur air mata yang jatuh di pipi nya mengenai bibir nya.
Gadis itu menghentikan suapannya, setelah itu mengambil sebuah kartu untuk membayar tapi pelayan itu bilang semua itu gratis karena sudah ditanggung oleh Allan.
lalu, Queen bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar dia pun mencari taksi dan pergi begitu saja.
Satu jam kemudian, setelah Allan selesai rapat, akhirnya dia pun keluar dari ruangan rapat dengan asisten pribadi nya, menuju restaurant tempat Queen, duduk, tapi dia kaget saat melihat Queen tidak ada di sana, saat bertanya pada pelayan tadi katanya Queen pulang karena mengantuk.
Allan hanya bisa mengacak rambut frustasi, setelah itu dia pun memutuskan untuk pulang ke apartemen nya.
Tanpa sepengetahuan siapapun kini Queen tegah duduk di tepi danau, tempat dimana sang ibu bunuh diri, dia duduk sambil terisak sendirian di malam yang gelap itu, karena bahkan tidak ada penerangan satupun di tempat tersebut.
"Andaikan saja Queen, tidak punya Mommy dan Daddy, juga kak Kenzie, Queen ingin pergi dari dunia ini, Bu"ujar Gadis itu bicara sendiri seolah ibunya ada bersama dengan nya.
Tanpa sadar Queen pun tertidur saking lelahnya menangis.
"Queen, bangun sayang"suara seseorang mampu membuat nya terbangun, saat ini ternyata, saat Queen membuka mata, terlihat Mariana, dengan wajah sembab nya dan sang Daddy yang tertidur pulas di sofa, entah di mana dirinya berada, tapi saat mendengar suara monitor detak jantung, dan beberapa alat terpasang di tubuhnya, akhirnya dia bertanya.
"Mommy, aku kenapa? ada disini"ujar Queen.
"Sudah satu Minggu kamu koma Queen, Mommy dan Daddy mencari mu kemana-mana, tapi kamu ditemukan terapung di tepi danau, beruntung kau tidak kau masih hidup meskipun harus koma" ujar Mariana sambil menangis sesenggukan.
"Hii... Mom, jangan menangis sudah, jangan bersedih lagi Queen sudah sadar" ujar Queen.
" Mommy sangat takut putri Mommy pergi" ujar Mariana.
" Tidak akan Mom"ucap nya lirih.
Queen pun teringat dengan kejadian dimana Allan, membawa nya pergi ke hotel, dan dia pun pergi sendiri.
"Dimana kak, Allan mom?"tanya Queen.
"Dia di pindahkan ke luar negeri oleh uncle Adri" ujar Mariana.
Dari situ Queen mulai mengerti, kenapa? Allan sempat mencegah nya pergi saat itu.
__ADS_1
"Mom, kak Allan tidak bersalah Queen pergi karena ngantuk, saat kak Allan,tengah rapat, tanpa sadar Queen pergi ke sana"ucap Queen.
"Allan, pergi sendiri sayang mungkin karena dia merasa bersalah pada mu"ujar Mariana.
"Tolong hubungi kak Allan mom, katakan aku minta maaf jika gara-gara Queen, dia harus pergi"ucap Queen lirih.
"Tidak usah dipikirkan sayang Allan mungkin ingin menenangkan pikiran"ujar Mariana.
"Sayang kamu sudah sadar, Queen nya Daddy "ujar Kenzo yang langsung memeluk putri nya itu.
"Queen jangan tinggalkan Daddy, sayang" ujar Kenzo.
"Tidak Daddy Queen, tidak mungkin meninggalkan kalian bertiga"ujar Queen.
Mariana pun ikut memeluk keduanya, saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Queen meminta untuk pulang ke rumah, dan Kenzo tidak bisa menolak permintaan dari putri semata wayangnya itu.
Sesampai nya di rumah Queen pun dibawa masuk kedalam kamar nya dia minta ingin sendiri dengan alasan ingin Bobo, gadis berusia sembilan belas tahun itu, pun memejamkan mata nya.
Setelah kepergian kedua orang tua nya, Queen langsung menghubungi nomor Allan, rasa bersalah nya terus mengganggu pikiran nya.
Tapi sayang Allan bahkan sudah tidak bisa dihubungi, saat ini, Queen hanya bisa berurai air mata, tanpa bisa berbuat apa-apa.
sampai akhirnya Queen benar-benar memejamkan mata nya, saat ini karena lelah menangis.
Sementara Allan sendiri kini tengah sibuk mengurus cabang perusahaan yang ada di luar negeri, atas perintah sang Daddy.
............................
Sementara itu di sebuah kota, saat ini tengah mengadakan perekrutan tenaga kerja baru, Sanum dan Kenzie, harus memilih mereka dengan selektif.
"Sanum hari ini adalah hari terakhir kita disini, apa? kamu sudah menghubungi putri mu saat ini"ujar Kenzie.
"Sudah tadi, saat dia baru bangun tidur dia menangis sesenggukan karena rindu"ujar Sanum.
"Maaf gara-gara pekerjaan ini, kamu harus berpisah dari sikecil"ujar Kenzie.
"Tidak apa-apa, karena mungkin sudah seharusnya, saya bersikap profesional"ujar Sanum.
"Sanum, saya tau tapi ini seharusnya tugas si Yudha, karena kamu harus nya tinggal di kantor menghandle tugas kantor bukan tugas lapangan, tapi tenang saja, saya akan beri kamu bonus dua kali lipat bulan ini."ucap Kenzie.
Hal itu membuat Kenzie tersenyum manis.
"Buatkan aku kopi"ujar Kenzie.
"Pesan Starbuck saja ya, tuan karena disini bukan di kantor dan kita tengah berada di hotel"ujar Sanum.
"Terserah saja"ujar Kenzie tidak ingin berdebat.
"Baiklah saya permisi dulu"ujar Sanum yang hendak bersiap untuk pulang.
Sanum membereskan barang-barang mereka berdua, Sanum, selalu menyiapkan semua keperluan Kenzie, selama mereka ada di hotel tersebut.
"Sanum"panggil Kenzie lagi.
"Iya tuan"jawab Sanum.
"Sebentar lagi kita akan pulang tapi sebelum itu, ikut aku untuk mencari oleh-oleh untuk adikku dan putri mu, pasti kamu bisa memilih nya"ujar Kenzie.
"Baik tuan, untuk adik anda saja, saya sudah beli oleh-oleh untuk Siena"ujar Sanum.
"Itu dari mu, bukan dari ku"ujar Kenzie, tidak ingin dibantah.
Sanum pun pergi meninggalkan Kenzie, menuju kamar nya, saat itu juga, wanita itu belum selesai membereskan barang-barang nya, karena Kenzie lagi-lagi memanggil dirinya.
Hingga setelah selesai, Kenzie pun bersiap untuk pergi bersama dengan Sanum, dan untuk pertama kalinya pria itu menggenggam tangan Sanum, yang kini dibuat mematung karena nya.
"Kenapa? ayo jalan jangan buat aku malu karena jomblo, lihat di sekeliling kita"ujar Kenzie sambil tersenyum, menunjuk ke arah sekeliling, dan yang berjalan di area pusat perbelanjaan itu, memang kebanyakan pasangan .
"Tapi tuan"ujar Sanum yang ingin melepaskan genggaman tangan Kenzie.
"Jangan panggil aku tuan di sini bukan di kantor" ujar Kenzie.
wanita itu hanya bisa menghela nafas panjang, sambil ia hembuskan secara perlahan.
__ADS_1
"Apa? begini terlalu membebani mu, hingga kamu mengeluh"ujar Kenzie.
"Tuan jangan sampai nama baik anda tercemar, karena anda jalan bersama dengan saya"ujar Sanum, mengingatkan.
"Kenapa? harus seperti itu, kau manusia dan kita sama-sama manusia, dan kau lajang aku juga, jadi tidak akan ada masalah"ujar Kenzie.
"Tuan tidak ingat siapa? saya" ujar Sanum lirih.
"Kenapa.... apa...? salah nya status janda"ujar Kenzie.
"Saya anak seorang ge"ucapan Sanum terhenti saat Kenzie membungkam bibir nya dengan tangan nya.
"Jangan merendahkan diri mu, karena aku cukup tau siapa? kamu, aku bahkan tidak peduli kau anak siapa? yang aku pedulikan adalah kamu"ujar Kenzie.
"Saya tidak sebaik itu tuan, jadi sebaiknya anda jaga jarak dari saya"ujar Sanum.
Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Kenzie, yang terus memanggil nya dengan handphone, mau tak mau Sanum pun mulai memelankan langkah nya.
"Tuan"ucap Sanum, lirih penuh penekanan.
"Jangan abaikan aku, atau seluruh mall ini akan tau bahwa kau adalah istri ku" ujar Kenzie, sontak wanita itu membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Kenzie.
"Nona, silahkan dipilih, ini cocok untuk wanita cantik seperti anda lingerie limited edition, benar-benar hanya satu-satunya di sini"ujar seorang wanita yang kini berdiri di hadapan mereka memamerkan baju perang antara suami istri itu.
Sontak, Sanum, tersipu malu, saat wanita itu terus menawarkan itu bahkan dia meminta Kenzie untuk memilih barang tersebut untuk Sanum, karena wanita itu mengira bahwa Sanum dan Kenzie adalah pasangan suami istri.
"Bungkus saja itu pasti sangat cocok di istri saya yang cantik ini,benar kan sayang"ujar Kenzie menggoda Sanum, karena Sanum, terlihat sangat malu saat ini.
Sanum tidak menjawab dia malah melengos pergi.
"Sayang tunggu lingerie nya belum selesai dibungkus"ujar Kenzie semakin menggoda sahabat sekaligus, partner kerja nya.
"Ken,, ini gak lucu"ujar Sanum sambil pergi, terlihat ada genangan air mata di pelupuk mata yang indah itu.
"Sanum tunggu, mbak bungkus saja itu nanti asisten saya yang ambil "ujar Kenzie yang langsung berlari mengejar Sanum.
"Sanum, tunggu" ujar Kenzie tapi tidak digubris sama sekali.
"Sanum tunggu ini perintah"ujar Kenzie tegas, seketika itu Sanum pun berhenti, wanita itu terlihat menyeka air matanya.
"Sanum, maafkan aku jika aku sudah keterlaluan, aku hanya ingin mereka menganggap kita sebagai pasangan, setidaknya untuk kali ini saja, aku minta tolong"ujar Kenzie.
"Apa? untung nya, tuan yang ada semua akan merugikan anda, saya saja tidak malu berstatus janda anak satu dan juga anak seorang ge"
"Cukup Sanum, tidak bisa kah untuk hari ini saja kamu menolong ku, aku tidak minta apapun, aku hanya minta kamu berdiam diri di sisi ku, kita jalan layaknya pasangan, apa? itu membuat mu terbebani"ujar Kenzie yang berlalu pergi.
"Aku hanya ingin menjaga batasan Ken, aku siapa? dan kamu siapa? tapi jika tidak diperbolehkan aku bisa mengundurkan diri saat ini juga, aku hanya tidak ingin merusak reputasi mu"ujar Sanum tegas.
"Sanum!"bentak Kenzie, sedikit tertahan.
"Aku sudah katakan aku bisa mengatasi apapun kamu tidak perlu khawatir, dengan itu"ujar Kenzie.
"Tapi"
"Tidak ada tapi-tapian"ujar Kenzie.
Pria itu langsung menarik pergi lengan Sanum, bahkan kali ini dia merangkul pinggang Sanum, dengan erat, tangan kekar itu tidak bisa dilepaskan meskipun Sanum, berusaha untuk melepaskan nya.
Hingga mereka tiba di depan bioskop, Kenzie langsung memesan dua tiket hanya untuk menonton film yang bahkan tidak ia tonton.
Sesampainya di dalam sana, seseorang membawakan popcorn dan Pepsi, sebagai teman menonton film.
"Apa? masih ada waktu untuk melakukan hal ini"ujar Sanum.
"Sampai besok pun masih ada"ujar Kenzie yang kini memejamkan mata nya, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sanum.
Sanum tidak habis pikir kenapa? Kenzo harus ketempat itu jika hanya ingin tidur, bukan nya disitu sangat berisik.
"Ken"panggil Sanum lirih.
"Heumm, aku ngantuk bangunkan aku nanti saja, setelah film nya usai"ujar pria tampan itu.
"Tapi aku ingin ke toilet"ujar Sanum.
__ADS_1
"Apa? ingin aku antar"ujar Kenzie.