
Sejak hari itu, Arvin sudah tidak pernah berkunjung ke kediaman Shania. bahkan pria itu sudah tidak pernah lagi menghubungi Shania.
Shania sudah berusaha untuk menghubungi Arvin tapi sampai saat ini dia tidak kunjung mendapatkan jawaban apapun dari Arvin bahkan semua panggilan itu diabaikan begitu saja.
Shania yang sudah putus asa pun kini sudah bersiap untuk pergi ke kantor Arvin untuk menemui pria itu.
Shania pun tiba di kantor setelah hampir satu jam mengemudi, saat ini dia sudah berada di resepsionis.
Shania langsung bertanya apa? Arvin ada di sana itu atau tidak.
"Maafkan saya nona... Anda harus membuat janji dulu baru bisa bertemu karena tuan sedang sangat sibuk."ucap salah seorang resepsionis yang ada di sana.
"Tidak bisakah anda katakan bahwa saya datang dan ingin bertemu."ucap Shania.
"Tapi saat ini tuan sedang sangat sibuk jadi jika anda harus membuat janji terlebih dahulu. dan saya akan berikan itu untuk dikonfirmasi terlebih dahulu oleh sekertaris tuan Arvin."ucap wanita itu.
Shania pun langsung mengatakan dia tidak perlu buat janji untuk bisa bertemu dengan Arvin dia langsung pergi menuju lift khusus Presdir dan berlalu begitu saja menuju ruangan Arvin.
Setibanya di sana jalannya langsung di cegat oleh sekertarisnya yang sudah mengetahui kedatangan Shania tapi Shania tidak bisa dicegah dia langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintu.
"Maafkan saya tuan saya tidak bisa mencegah nona ini."ucap sekertaris itu.
Arvin yang kini tengah duduk di sofa panjang bersama dengan rekan bisnisnya itu melirik tanpa ekspresi pada Shania yang kini menatap sendu padanya.
Arvin langsung menghentikan pembahasan tersebut dan kembali melirik kearah Shania yang masih mematung di tempatnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Arvin senang bekerja sama dengan Anda."ucap pria paruh baya itu.
"Ya tuan."ucap Arvin singkat.
Shania masih berdiri di sana, tanpa bergerak sedikitpun.
Setelah semua orang pergi kini Arvin kembali ke meja kebesarannya dia kembali berkutat dengan pekerjaannya bahkan tidak sedikit pun ia melirik ke arah Shania.
Shania masih berdiri sambil menatap Arvin saat ini.
__ADS_1
Hingga saat Arvin kembali melirik ke arah Shania.
"Apa? ada yang bisa saya bantu Nona muda Shania Aurora Georgio."ucap Arvin datar pria itu kembali berkutat dengan laptopnya itu.
"Sayang maafkan aku aku terlambat datang ini makan siang mu."ucap seorang wanita cantik dan seksi yang kini masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ah,,, ya kamu bisa duduk dulu aku masih ada pekerjaan."ucap Arvin pada wanita itu.
Shania tidak berkata sedikit pun, dia langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil menahan tangisnya.
Arvin sendiri hanya mampu mengeratkan kepalan tangannya saat ini.
Tepat di luar ruangan Arvin Shania melepaskan cincin tunangannya itu dia berjalan sambil menghampiri meja sekertaris Arvin dimana wanita cantik itu tengah menatap lekat pada dirinya.
"Saya titip ini tolong berikan cincin itu pada tuan Arvin."ucap Shania yang tidak mampu menahan air mata yang jatuh begitu saja meskipun dirinya sudah berusaha untuk menahannya.
Shania turun menggunakan lift karyawan saat ini dia sudah seperti orang tak penting bagi siapapun.
Setibanya di lobby Shania langsung pergi meninggalkan tempat tersebut menuju parkiran dengan berlari sambil sesekali menyeka air matanya.
Arvin yang kini tidak bisa berkonsentrasi pun memutuskan untuk pergi, tapi sekertarisnya menghentikan langkahnya saat sekertarisnya memberikan cincin pertunangannya itu.
Arvin pun langsung menggenggam erat cincin itu dan langsung pergi begitu saja meninggalkan sekertarisnya yang tengah kebingungan, karena masih ada jadwal untuk hari ini.
Shania terus mengemudi sambil sesekali menghapus air matanya yang terus mengalir deras.
"Semua sudah berlalu aku tidak ingin lagi mengenal pria manapun rasanya begitu menyakitkan."lirih Shania.
Dia langsung bergegas pergi menuju bandara dia menelpon Sanum untuk menyiapkan segala keperluannya dan tidak lupa dengan paspor miliknya semeantara Shania sudah memesan tiket pesawat sedari tadi.
Sanum tidak bisa menahan putrinya yang terlihat sangat putus asa, mungkin dengan pergi ke tempat Julia dia bisa sedikit terhibur.
Sanum tidak tau persis apa? yang terjadi pada putrinya saat ini karena Shania pun tutup mulut tidak sedikit pun dia bercerita tentang masalahnya selama ini.
Tapi dia curiga dengan Arvin yang tidak pernah lagi datang berkunjung ke kediamannya dua minggu ini.
__ADS_1
Sanum pun pergi dengan sopir pribadinya menuju bandara setelah mengemas semua keperluan Shania untuk di rumah Julia nantinya.
Arvin yang melihat bahwa saat ini Shania tengah berada di bandara karena GPS ponsel Shania terhubung ke ponsel lama Arvin.
Pria itu sadar jika saat ini Shania hendak pergi, terlihat dari tatapan mata penuh luka saat saudara sepupu Arvin datang mengantar makan siang ke ruangannya saat tadi.
Dia dalam dilema antara pergi mencegah kepergian Shania atau tetap menunggu hingga dia kembali nanti, tapi hatinya tidak tenang saat ini rasanya seperti sedang kehilangan separuh hatinya.
"Arvin pun langsung menghubungi Sanum, karena hanya wanita itu yang akan bisa mengerti tentang apa? yang terjadi semua itu ia lakukan untuk menahan kepergian Shania karena belum ada kejelasan tentang hubungan mereka berdua saat ini.
Arvin pun berulang kali menghubungi Sanum tapi sayang tidak di jawab oleh Sanum karena Sanum lupa membawa handphone itu pergi.
Sementara itu di kamar sedang tidak ada siapapun.
Arvin pun tetap berada di dalam mobil dia hendak pergi menuju bandara.
Namun tiba-tiba nyonya Ervina menelfon mengabarkan bahwa dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit akibat kecelakaan kecil saat menuruni tangga.
Arvin hanya mampu mengacak rambutnya dengan kasar saat ini dia pun langsung pergi menuju rumah sakit.
Arvin rasanya ingin sekali berteriak menangis tapi dia sadar semua tidak akan pernah mengubah kenyataan.
Arvin langsung bergegas masuk setibanya di parkiran setelah memastikan mobilnya aman.
Dia pun berlari ke tempat administrasi dia bertanya dimana ruangan tempat ibunya di rawat saat ini.
Setelah tau dimana? ruangan tersebut, Arvin langsung bergegas menuju kesana saat itu juga.
Dia benar-benar tengah dilema antara menemani ibunya di rumah sakit atau mengejar cintanya.
Saat tiba di ruangan sang Bunda Arvin langsung menghampiri wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
"Bunda kenapa? bisa begini."tanya Arvin sambil memeluk ibunya.
"Kepala Bunda tiba-tiba saja sakit dan Bunda tidak tahu lagi apa? yang terjadi hingga bunda dibawa kemari dan mereka bilang Bunda jatuh dari tangga."jawab nyonya Ervina.
__ADS_1