Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Bertemu Gidion#


__ADS_3

Keesokan paginya Vino pun pergi setelah pamit pada kedua orang tuanya yang kini mengantar dia pergi ke bandara meskipun Vino sudah melarangnya.


Mereka bilang bahwa Vino adalah putranya satu-satunya jika mereka tidak memberikan perhatian saat ini lalu kapan lagi.


Bahkan saat wanita itu mereka berkata bahwa mereka akan menerima wanita manapun yang akan menjadi istri Vino.


Dan Vino pun dengan percaya dirinya bilang bahwa dia akan kembali dengan istri dan anaknya meskipun kedua orang tuanya menganggap bahwa itu hanya sebuah candaan.


Sementara Vino tidak memaksa agar kedua orang tua nya percaya tapi dia sudah cukup bahagia dengan pernyataan mereka.


Pada saat dia duduk sambil menunggu keberangkatan pesawat dia menoleh ke arah samping ternyata Gidion kini berada di sampingnya.


Gidion pun menatap lekat Vino yang kini tengah menatapnya.


"Siapa? Julia."ujar Gidion.


"Apa urusanmu?."tanya Vino.


"Sejak kapan kau menikah?."tanya Gidion lagi.


"Aku tidak punya hak untuk mengetahui urusan pribadi ku."ujar Vino tegas.


Penerbangan pesawat dengan tujuan xx akan diharap untuk segera bersiap karena pesawat akan segera lepas landas.


Akhirnya Vino pun beranjak dari duduknya dengan koper bawaannya dan tas yang dia gendong.


"Aku akan segera mencaritahu keberadaan mu di sana secepatnya."ujar Gidion lirih.


Sampai saat dia pun berangkat menuju Inggris untuk mengurus semua kepindahan perusahaan yang kini dia kelola dan menjadikan kator cabang menjadi kantor pusat.


Gidion ingin menetap di Indonesia meskipun perusahaan terbesarnya ada di negara tersebut.


Sementara Vino, sepanjang perjalanan pria itu hanya tertidur hingga tiba di negara tujuan.


Sesampainya di bandara setelah pesawat landing, pria itu langsung disambut oleh Zaid dan Luna yang sedari tadi mengikutinya.


Luna terus menggenggam tangan Zaid hingga pria itu tidak bisa bergerak bebas.


Zaid selalu mengatakan bahwa Luna harus melepaskan genggaman tangannya. namun gadis itu tidak kunjung melepaskan tangannya itu.


"Hi,,, pasangan serasi apa? kabar."ujar Vino.

__ADS_1


"Begini Vino sahabat ku yang baik,,, sebaiknya kamu jangan mengatakan apapun yang sungguh membuat ku semakin bahagia."ujar Zaid yang mengatakan kebalikan nya.


"Kenapa? bukankah semua orang selalu ingin berbahagia."ujar Vino.


"Ya,,, hehehe kamu benar tapi mulutmu membuat ku lebih dari bahagia. kamu tau bahagia yang berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan terutama jantung kita."ujar gadis itu.


"Heumm,,, benarkah."ujar Vino sambil tersenyum mengejek sahabatnya yang kini menyentil jidatnya itu.


"Ah sakit onta ."ujar Vino.


"Duh Cemen ayam negeri."ejek Zaid kembali.


"Bagaimana? kabar istri ku Luna." tanya Vino.


Vino langsung bergegas menuju mobilnya karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak dan istri nya.


Zaid geleng-geleng kepala saat melihat seorang pria yang tengah merindukan keluarga kecilnya lalu dia menatap ke arah Luna, dan tiba-tiba dia bergidik ngeri.


Pria itu tidak bisa membayangkan jika wanita yang menjadi istrinya itu adalah Luna.


Mungkin Zaid akan mati berdiri karena tidak bisa bersabar lagi untuk menghadapi kekonyolan wanita itu.


Secara saat ini yang Zaid urus adalah gadis berotak bayi yang terus membuat Zaid frustasi.


Pria itu langsung menarik Luna membawa dia kedalam mobil yang kini ditumpangi oleh Vino.


Mereka pun pergi meninggalkan bandara menuju rumah.


Satu jam perjalanan menuju rumah dari bandara membuat gadis itu merengek ngantuk dan ingin tidur.


Zaid langsung membantu wanita itu untuk bersandar di jok penumpang senyaman mungkin.


Sementara Vino hanya geleng-geleng kepala, bukan karena dia kesal justru karena dia kagum dengan sikap Zaid yang begitu sabar menghadapi Gadis yang super lemot itu.


Zaid memang dikenal sebagai pemuda yang baik sejak mereka masih ABG tapi setelah menjadi mafia kekejaman Zaid juga tidak asing lagi bagi Vino.


Namun melihat Zaid memperlakukan gadis itu dengan penuh kesabaran Vino yakin jika Zaid masih memiliki banyak kebaikan didalam dirinya yang menurut Zaid sendiri dalam kesesakan.


Setibanya di rumah Vino. pria itu langsung disambut oleh anak istrinya.


Mereka saling memeluk, Zaid sendiri melewati mereka sambil menggendong Luna yang tengah tertidur.

__ADS_1


"Yang,,, apa? selama aku pergi kamu pernah melihat keajaiban dunia."ujar Vino yang kini melirik ke arah Zaid yang berlalu pergi melewati mereka dengan Luna didalam gendongan nya.


"Heumm,,, mereka sering ribut terutama Luna yang selalu membuat pria itu pusing tujuh keliling dengan tingkah kekanakan nya itu."ujar Sanum.


Zaid langsung membaringkan Luna di kasur empuk yang selama ini mereka tempati.


Zaid akan tidur bersama Luna meskipun mereka tidak melakukan apa-apa hanya tidur biasa karena Zaid tidak ingin gadis itu kenapa-napa karena setiap malam gadis itu selalu berteriak memanggil nama kedua orang tua nya sambil menangis histeris jika dia terbangun dan tidak melihat siapapun di sampingnya.


Zaid sudah seperti Baby sister selama ini.


Sampai saat ini gadis itu bangun pagi Zaid masih harus membantu gadis itu bersiap.


Zaid pun siap pergi bekerja setelah selesai mengurus Luna.


Setiap hari dia akan pergi ke perusahaan dan juga ke rumah sakit setelah itu ke markas.


Selama itu Luna selalu ada di sisinya.


Zaid akan terus berjalan menuju tempat-tempat yang biasa ia kunjungi dan Luna tidak bisa dibiarkan sendiri.


Wanita itu akan langsung menangis jika Zaid mengabaikan dirinya.


Sementara itu di kediaman Luna Vino akan terus berada di samping istrinya itu untuk membantu istrinya beraktivitas.


Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi Vino akan tetap berada di sisinya.


Karena selama satu Minggu ini Vino akan terus berada di rumahnya karena saat ini adalah giliran Zaid yang mengurus perusahaan milik mereka.


Mereka bersama-sama mengelola perusahaan yang mereka dirikan bersama sampai saat ini perusahaan itu semakin berkembang pesat, Zaid tidak pernah menemukan kendala yang sangat berarti selama mengurus perusahaan halal nya itu.


Bahkan sampai saat ini dia selalu menyisihkan uang halal itu untuk beramal atau pun untuk kehidupan pribadi nya.


Zaid memang tidak pernah bercita-cita untuk memiliki keluarga. karena trauma masa lalunya itu tapi dia pun tidak bisa menolak takdir tuhan jika sewaktu-waktu dia mendapatkan jodoh.


Pria itu memiliki tabungan untuk menjalani pernikahan itu dengan uang halalnya.


Jika sewaktu-waktu dia memutuskan untuk hengkang dari dunia bawah tanah.


Zaid masih bisa bertahan hidup dengan semua yang dia miliki saat ini.


Hari ini dia tengah menghadiri acara seminar di sebuah kampus.

__ADS_1


__ADS_2