
Shania pun mengangguk faham. saat Sanum memberikan nasihat, namun kini Sanum terkejut saat mengusap puncak kepala putrinya.
"Owh ya ampun kamu demam sayang ku."ucap Sanum yang kaget.
"Shania hanya tidak enak badan mom."ucap Shania.
"Tidak sayang kamu demam tinggi, tunggu disini mommy ambilkan dulu obat."ucap Shania.
"Tidak mom, aku tidak mau minum obat."ucap Shania yang masih tetap tidak suka minum obat sejak kecil dia sangat tidak suka minum obat.
"Lalu bagaimana? bisa sembuh sayang jika kamu tidak mau minum obat."ucap Sanum khawatir.
"Tidak apa-apa mom Shania bisa tidur dan minum yang banyak."ucap Shania.
Shania kini berusaha untuk memejamkan mata, gadis itu takut jika ibunya memberi dia obat.
Saat Sanum kembali dengan membawa Air hangat untuk mengompres putrinya di wadah berukuran kecil, diikuti oleh Mariana dan Kenzo juga Kenzie dan kedua kakaknya yang biasanya membantu meminumkan obat pada Shania.
"Cucu Oma kenapa? heumm."Ucay Mariana yang kini duduk di samping tepi ranjang menempelkan punggung tangannya di kening Shania.
"Owh ya ampun ini sih harus segera dibawa ke rumah sakit sayang dia demam tinggi."ucap Mariana .
"Bagaimana? ini daddy putri kita juga tidak suka suasana rumah sakit dan dia akan menangis histeris jika disuntik kecuali saat di SMA saat dia pingsan karena cedera saat itu ada Arvin dia tidak menangis histeris saat sadar tapi ini ."ucap Sanum.
Dia ingat terakhir kali Shania sakit saat kelas satu SMP saat itu dia harus di dirawat di rumah sakit dan saat itu dia nangis sehari semalam karena takut dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya belum lagi ada kantung darah yang menggantung mengalir ke tubuhnya karena saat itu kondisi Shania benar-benar parah Kenzie bahkan sudah menyewa badut untuk menghiburnya dan bahkan menyalakan film kesukaannya tapi Shania tetap meraung-raung menangis hingga tertidur dan saat bangun kembali lagi ke keadaan semula.
"Mom, dia sudah besar masa masih meraung-raung seperti dulu."ucap Kendra.
"Adikmu tidak pernah berubah sifatnya masih sama."ucap Sanum.
"Panggil saja Arvin kemari siapa? tahu bisa dibujuk, jangan dibiarkan mommy khawatir keadaan seperti dulu."ucap Mariana.
"Arvin sedang ada di luar kota, mungkin dua hari lagi baru akan kembali."ucap Sanum.
"Tapi cucu mommy juga lebih penting dari urusan dia, sebaiknya kamu telpon dia."ucap Mariana lagi.
"Biar aku yang menghubungi dia mom, bujuk saja cucu mommy bilang padanya Arvin akan pulang sebentar lagi."ucap Kenzie.
Pria itu langsung bergegas keluar semeantara Kenzo mendekat.
"Sayang bangun yu...cucu opah harus segera kerumah sakit, masa mau buru-buru menikah tapi malah sakit begini."ucap Kenzo.
"Kepala Shania sakit opah batalkan saja pernikahannya lagipula dia tidak peduli lagi sama aku."ucap Shania.
"Kamu salah sayang Arvin sangat mencintaimu, dan Arvin akan segera pulang jika mendengar mu sakit, ayo kerumah sakit dulu sayang demam mu semakin tinggi."ucap Sanum.
"Tidak mau mommy, tidak mau kerumah sakit, Shania mau tidur saja tidak mau pergi.... kalian pergi saja biarkan aku sendiri aku mau tidur saja."ucap Sania merengek seperti biasanya.
"Heumm....nunggu Daddy mu sedang menghubungi Arvin."ucap Sanum.
"Tidak usah beritahu dia, dia tidak akan pernah peduli pada ku."ucap Shania.
"Heumm... putuskan saja jika tidak peduli, jadi kami tidak perlu repot-repot untuk menikah secepatnya."ucap Kevin.
"Kalian ini bicara apa? pernikahan itu akan tetap digelar setelah karantina itu berakhir."ucap Kenzo.
"Ya, opah untuk apa? buru-buru menikah toh aku juga belum sukses."ujar Kenzo.
"Tidak ada protes."ucap Kenzo.
"Nasib."ucap Shania sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Arvin tidak bisa dihubungi tapi daddy sudah tinggalkan pesan."ucap Kenzie.
"Arvin pasti sedang berada di area terpencil saat ini."ucap Mariana.
"Alasan saja omah dia memang tidak pernah peduli padaku."ucap Shania yang kini malah menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu.
"Sayang tubuhmu demam tinggi, bagaimana? jika kita berendam di air hangat."ucap Sanum.
"Tidak mau mom, kalian pergi saja."ucap Shania yang tidak bisa dibujuk.
"Mommy dan Daddy tetap disini ya sayang, mommy akan mengompres mu."ucap Sanum.
"Tidak mau mommy.... tidak mau."ucap Shania.
"Bagaimana? ini daddy."ucap Sanum semakin khawatir.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu sambil kita cari cara lain."ucap Kenzie yang kini kembali keluar diikuti oleh semua orang.
Mereka semua pun pergi tapi bukan untuk menjauhi Shania melainkan ingin berdiskusi bagaimana cara mereka memberikan obat agar Shania bisa menelan obat tersebut.
Sementara itu di luar kota, Arvin kini tengah berdebat dengan seseorang yang merupakan seseorang di masa lalunya.
Dia adalah teman dekat Arvin di saat mereka SMA dulu, satu bulan lalu dia menemui Arvin dia bilang dia akan dijodohkan dengan pria yang memegang kawasan tempat tinggalnya, dia yang meminta Arvin untuk bekerja sama menggagalkan rencana pernikahan itu kini dia sendiri malah menjebak Arvin di antara mereka tepatnya Arvin yang kini hendak dinikahkan dengan wanita yang merupakan mantan teman lamanya itu.
Saat tiba di detik-detik pernikahan itu.
"Aku tidak bisa menikah dengan mu Marsela, aku sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi aku akan menikah."ucap Arvin yang kini tengah memegang handphone hendak menghubungi seseorang.
Namun tiba-tiba handphone itu direbut oleh Marsela saat itu juga dan dilempar ke dalam kolam ikan yang ada di villa itu.
Sontak Arvin berteriak memanggil asisten pribadinya untuk mengambil handphone tersebut beruntung handphone itu adalah handphone Anti air, jadi masih bisa diselamatkan meskipun sedikit bermasalah namun masih bisa digunakan.
"Ayo kita pergi."ucap Arvin.
"Pergilah Ar, dengan begitu kamu juga menginginkan kematian ku."ucap wanita itu yang kini hendak menusuk perutnya sendiri.
"Arvin yang dilema hanya bisa mematung akhirnya Arvin mengiyakan permintaan wanita itu, tepat di sebuah kamar Arvin dan asisten pribadinya itu tengah berdiskusi untuk bagaimana? caranya Arvin bisa kabur dari jebakan pernikahan tersebut.
"Bos, bagaimana? jika kita bayar seseorang untuk melakukan hal itu nanti untuk menggantikan bos, dan pada saat acara ijab qobul biasanya pengantin wanita menunggu di kamar dan kita bisa mengecoh penghulu dan yang lainnya karena mereka tidak tahu wajah bos bukan."ucap asisten pribadi Arvin.
Segera Carikan pria itu, aku bisa membayar dia mahal."ucap Arvin.
"Tentu bos tetaplah disini dan jangan ada siapapun yang melihat wajah bos disini."ucap Riyan
Riyan pun pergi mencari pria yang dikatakan oleh Marsela waktu itu, dan ternyata dia tidak tahu apapun tentang pernikahan itu dan pria itupun mau diajak untuk kerjasama sekaligus balas dendam karena namanya sudah dibawa-bawa, siapa? yang akan mau berurusan dengan preman seperti dia jika bukan karena terdesak.
............................
Kini keduanya sudah berada di sebuah bandara, setelah ijab qobul Marsela sukses dan wanita itu benar-benar nangis bawang terkena omongannya sendiri.
Dia menghubungi Arvin saat Arvin tengah di pantai, disaat hati Arvin tengah galau.
Marsela menangis meraung-raung mengatakan jika dirinya saat itu akan dinikahkan dengan preman yang memegang kawasan tempat tinggalnya, hingga Arvin yang merasa iba pun memutuskan untuk pergi.
Sampai saat dia meninggalkan meninggalkan Shania tanpa pamit karena dia tahu Shania akan bertanya tentang kepergiannya dan Arvin tidak pernah bisa membohongi Gadis yang sangat ia cintai itu.
"Ah...sial sampai lupa bos, saya kemarin sore di telpon katanya Nona Shania masuk rumah sakit."ucap Riyan.
"Apahhh... Owh ya ampun Riyan benar-benar kamu ya."ucap Arvin yang kini terlihat gelisah.
Saat dia di pesawat dan saat dia sudah mendarat di bandara internasional Arvin langsung bergegas menuju mobilnya bersama sang asisten pribadi menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Kenzie.
Arvin yang terlihat sangat panik dia pun bergegas menuju ruangan dimana? Shania berada.
Arvin pun langsung masuk, dia melihat kegaduhan dimana Shania pingsan karena benar-benar demam tinggi dan tidak mau minum obat, dan dia tidak mau di infus.
Dokter pun kesulitan saat memasukkan jarum infus tersebut karena kondisi Shania sudah sangat buruk.
"Ada apa? ini mom."ucap Arvin yang langsung menghampiri Shania.
"Owh syukurlah kalau kamu sudah datang Arvin Shania pingsan."ucap Kenzie.
Pria paruh baya itu terlihat sangat panik saat melihat putrinya tak sadarkan diri.
Infus berhasil di pasang dokter pun mempercepat aliran infus agar kondisi Shania cepat tertolong hingga saat kondisinya sudah stabil barulah dokter menormalkan itu.
Tidak selang berapa lama Shania pun sadar saat itu semua orang telah keluar kecuali Arvin yang bertugas untuk menjaga dan memaksa Shania untuk minum obat.
"Sayang sudah sadar heumm... kenapa? bisa jadi seperti ini."ucap Arvin.
"Aku mau pulang aku tidak mau disini ini lagi kenapa? harus ini ah sakit tau lepas."ucap Shania yang kini merengek minta di lepas.
Arvin tau kenapa? alasan dia diminta untuk menjaga Shania dan mereka semua kabur.
Lalu kenapa bisa Shania bersikap biasa saja saat dia cedera, apa? dia tidak merengek karena malu, meskipun Shania waktu itu menangis meminta pulang tapi dia bilang karena punggungnya sakit.
"Sayang kamu sedang sakit jadi tidak boleh dilepas oke, sekarang kamu minum obat dulu."ucap Arvin.
"Tidak mau, aku tidak suka minum obat."ucap Shania.
"Sayang kamu mau sembuh kan?."kata Arvin.
"Aku sakit juga karena kamu jadi tidak usah pura-pura peduli pergi saja sana yang jauh."ucap Shania.
__ADS_1
"Sayang... maafkan aku please, aku tidak sengaja ingin meninggalkan mu, aku benar-benar ada urusan."ucap Arvin.
"Ya, urus saja sana bukankah urusan mu lebih penting daripada aku."ucap Shania.
"Shania sayang ku cinta ku calon istri ku yang cantik dan seksi, aku sangat mencintaimu jadi aku memutuskan untuk secepatnya kembali honey."ucap Arvin sambil tersenyum manis.
"Jangan senyum aku bisa diabetes tau."ucap Shania.
"Heumm...kalau begitu minum obat sambil ciuman mau gak, seperti yang kamu lihat di drama."ucap Arvin.
"Gak mau pahit."ucap Arvin.
"Kan jadi manis sayang."ucap Arvin.
"Tidak-tidak aku pasti muntah."ucap Shania.
"Ayolah sayang di coba dulu oke."ucap Arvin sambil meraih sebutir obat penurun demam yang harus diminum Shania.
"Ini enak sayang."ucap Arvin.
"Mana ada obat yang enak jangan ngarang eum."ucapan Shania terhenti saat Arvin mencium bibir Shania saat itu juga obat itu didorong masuk oleh Arvin menggunakan lidah hingga mau tak mau Shania menelan obat tersebut.
"Sayang, ini minum nya."ucap Arvin sambil tersenyum.
"Ah pahit yang uwo eum...."lagi-lagi bibir Sania di bungkam dengan bibir Arvin yang kini Sania menelan air yang Arvin berikan.
Akhirnya selesai, meskipun dengan susah payah Shania berhasil meminum obat tersebut.
"Tidak muntah kan sayang."ucap Arvin sambil mengusap bibir Shania dengan tissue.
Arvin pun kembali tersenyum dan mendekatkan wajahnya pria itu kembali mencium bibir Shania tapi tidak lama karena tiba-tiba pintu dibuka begitu saja.
"Bagaimana?... apa? sudah berhasil minum obat."ucap Kendra.
Arvin hanya mengangguk pelan sambil melirik ke arah Shania yang tersenyum.
"Ah... kakak tau kamu sakit karena rindu dia kan."ucap Kevin.
"Yang benar saja..."ucap Shania.
"Betul juga tidak apa-apa ko babe tapi jangan diulangi lagi ya, kalau rindu kamu bisa telpon atau datangi aku."ucap Arvin.
"Telpon pohon yang ada, sejak kemarin pagi kemana? tuh handphone."ucap Shania dengan nada kesal.
"Heumm... handphone kecebur kolam ikan sayang lihatlah belum diperbaiki."ucap Arvin yang memperlihatkan handphone tersebut.
"Bukankah ini ponsel anti air."ucap Shania.
"Ya sayang tapi tidak anti lumpur."ucap Arvin.
Shania pun diam.
"Lalu tahu aku sakit darimana?."tanya Shania yang terus mengintrogasi Arvin.
"Dari asisten ku tapi baru hari ini dia cerita."ucap Arvin.
"Jadi kamu tidak berniat menghubungi ku meskipun lewat telpon umum?."kata Shania.
"Bukan begitu sayang, disana aku sibuk dan tidak menemukan telpon umum karena berada di pelosok desa."ucap Arvin.
"Alasan saja, bilang saja habis ketemuan."ucap Shania jutek.
"Rasakan."ucap Kevin yang terkekeh kecil sambil menarik saudara kembarnya itu untuk kembali ke luar ruangan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak sayang aku tak mungkin tergoda dengan wanita lain selain kamu."ucap Arvin yang kini mengecup bibir Shania karena merasa bersalah.
"Aku pulang dulu honey belum mandi nanti aku kembali temani kamu disini oke."ucap Arvin.
"Ikut pulang aku tidak mau disini ini juga sakit aku tidak mau pokonya aku tidak mau."ucap Shania yang kini bercucuran air mata.
"Tapi sayang demam mu belum sembuh."ucap Arvin.
"Tidak mau mau pulang jangan disuntik lagi aku takut."ucap Shania.
Arvin pun mengusap air mata itu dengan tissue.
Arvin tidak tega meninggalkan Shania dia pun meminjam handphone Shania untuk menghubungi Arfan agar dia mengirim pakaian ganti dan ponsel cadangan miliknya yang ada di walk-in closed tepatnya di tempat penyimpanan jam tangannya itu.
__ADS_1