
Pria itu pun memasukkan dress yang kini tengah dia pegang kedalam paper bag beserta dengan pakaian dalamnya, setelah itu Arvin kembali ke kamar sebelah.
"Tuan putri, ini pesanan mu seperti yang kamu baca di novel."ucap Arvin.
Tapi Shania tidak menyahut bahkan tidak terdengar gemericik air sedikit pun di sana.
"Sayang kamu dimana?."tanya Arvin.
Tidak juga ada jawaban, Arvin sudah mencari ke setiap sudut kamar setelah itu dia bergegas menuju ke ruang televisi tapi tidak kunjung ditemukan Arvin meraih laptopnya untuk melihat ke seluruh ruangan lewat kamera Cctv yang kini tersambung dengan laptopnya, betapa terkejutnya Arvin saat melihat seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapan saat ini.
Arvin melihat dari ujung kaki hingga keatas dan semakin keatas saat itu Arvin langsung berteriak.
"Yank! kamu itu apa-apaan coba kok tiba-tiba muncul itu juga coklat belepotan bukanya di lap kan ada tissue di meja."ucap Arvin.
Tapi wanita Shania tidak bicara dia tetap bisu dengan wajah kotor dan belepotan coklat itu.
Tiba-tiba dari arah belakang Shania tiba-tiba menepuk bahu Arvin.
"Honey... katanya mau mandi kok main laptop sih, aku kira kamu tidak akan ikut-ikutan seperti yang ada di novel."ucap Shania yang membuat Arvin terdiam saat melihat Shania sudah menggunakan pakaian yang tadi ia pilihkan di lemari tersebut.
Arvin masih tidak berkedip sedikitpun hingga saat Shania mengerakkan telapak tangannya kesana kemari.
"Honey kamu kenapa? heumm bukannya kamu jawab pertanyaan aku eh ini malah melamun."ucap Shania.
Arvin langsung terlihat komat-kamit seakan dia tengah melihat hantu di hadapannya.
"Sayang kamu kenapa?sih kamu lihat... jangan bilang jika kamu melihat hantu yang kamu ceritakan semalam ya."ucap Shania.
"Hantu....hantu apa? yang kalian maksud."ucap ibunda Arvin yang tiba-tiba saja masuk menghampiri mereka.
"Mom.... kapan datang."ucap Shania yang langsung memeluk nyonya Ervina.
Sementara Arthur masih dengan tatapan matanya yang terlihat kosong masih terdiam di tempatnya.
"Arvin."ucap nyonya Ervina yang kini berada di hadapannya.
"Yank!...."teriak Shania yang kini terdengar hingga ke luar.
"Sayang kenapa? teriak aku tidak buddeg."ucap Arvin.
"Siapa? suruh kamu terus bengong seperti itu."ucap Shania.
"Sayang ini beneran kamu kan yang tadi aku melihat hantu perempuan itu ada di hadapanku bibirnya belepotan dengan coklat dan matanya di olesi selai strawberry."kata Arvin.
Aku baru keluar dari dalam kamar sayang kamu itu teriak-teriak panggil aku pas aku lagi mandi tadi."ucap Shania jujur.
"Bun, aku benar-benar melihat yang aku sebutkan tadi, aku tidak bohong tapi baju yang mereka kenakan benar-benar baju yang berbeda."ucap Arvin lagi.
"Wah dress nya benar-benar muat ya... syukurlah bunda sudah duga jika suatu saat nanti kamu akan mampir ke sini itulah kenapa? bunda sediakan semua itu untuk mu sayang."ucap Ervina.
"Heumm... terimakasih mom."ucap Shania.
"Sama-sama sayang."ucap nyonya Ervina.
"Jadi ini sengaja Bunda beli dan sudah sejak lama, bukan mas Arvin yang belikan seperti cerita romantis di novel."ucap Shania sambil mendelik pada Arvin yang terlihat menatap penuh rasa bersalah.
"Aku mandi dulu sekarang sudah ada Bunda di sini."ucap Arvin.
"Ya, pergilah jangan sampai kamu terlambat mengantar ku pulang nanti Daddy marah."ucap Shania.
__ADS_1
"Tidak akan sayang kita tidak akan menikah secepat itu."ucap Arvin sambil tersenyum.
"Honey.... aku ingin kita cepat menikah ya....kan Mom agar secepatnya mendapatkan cucu."ucap Shania tanpa ragu.
"Iya sayang, mommy juga ingin segera menimang cucu."ucap nyonya Ervina.
"Tidak Bun, dia masih belum cukup umur untuk menikah dan memiliki anak."ucap Arvin.
"Sayang tapi usia mu sudah dewasa."ucap nyonya Ervina.
"Heumm....mau bagaimana? lagi."ucap Arvin.
"Aku sudah dewasa, sekarang bahkan sudah kuliah."ucap Shania.
"Ingat dengan usia mu berapa sayang."ucap Arvin yang hendak masuk kedalam kamar.
Shania yang kesal pun langsung menghentakkan kakinya di lantai.
"Dasar pria dewasa."ucap Shania yang kini duduk bersebelahan dengan nyonya Ervina.
"Mommy sengaja datang kesini karena mommy mu tadi pagi-pagi sekali mengabari mommy bahwa ada kalian berdua di sini... kalian tidak melakukan yang aneh-aneh kan sayang sampai menginap disini."ucap nyonya Ervina.
"Aneh-aneh gimana mom, kak Arvin bilang ini apartemen berhantu jadi Shania takut untuk keluar dan pulang sendiri.... tapi kak Arvin juga tidak bisa mengantarku mom... dia kelelahan saat di bioskop saja malah tidur."ucap Shania.
"Heumm... sudah satu bulan ini dia hampir setiap malam begadang hingga dini hari baru tidur empat jam lanjut bangun dan beraktivitas kembali mungkin karena sedang mengerjakan proyek besar jadi jam istirahatnya terganggu."ucap nyonya Ervina.
"Ya, mom semalam saja kak Arvin tidur di sini aku di kamar sendirian."ucap Shania polos.
"Karena belum saatnya jadi itu yang terbaik."ucap nyonya Ervina yang kini mengelus puncak kepala Shania yang sudah seperti anak perempuan satu-satunya karena dia tidak punya anak perempuan saat ini.
"Baiklah ayo bersiap Bunda sudah buat sarapan."ucap Nyonya Ervina.
"Ya mom."ucap Shania.
"Ada orang rumah yang akan datang untuk bersih-bersih setiap hari, tapi untuk bagian yang lainnya ada di bersihkan oleh petugas kebersihan di unit ini, jadi menantu mommy tidak perlu bersih-bersih lagi jika tinggal di sini."ucap nyonya Ervina yang selalu terlihat sederhana itu.
Ervina Wijaya adalah seorang wanita cantik yang menikah dengan bule asal Belanda, namun marga suaminya tidak dibawa dalam keluarga karena pernikahan itu tidak mendapatkan restu dari kedua keluarga, namun setelah anak mereka tumbuh besar barulah keduanya merestui pernikahan tersebut.
Namun satu hal yang tidak pernah bisa di ubah yaitu nama kedua putranya yang tetap memiliki marga dari ibunya yaitu Arvin Wijaya.
Arvin adalah gabungan dari Arsen dan Ervina.
Cinta memang bersatu dibalik penolakan keluarga karena mereka berbeda keyakinan dan kasta.
Itulah kenapa? nyonya Ervina memilih tinggal di rumah yang paling sederhana menurut tuan Arsen.
Karena tidak sebesar Mension miliknya di Belanda.
Namun mewah bagi nyonya Ervina karena sejak lahir nyonya Ervina selalu hidup dalam kesederhanaan.
Itulah kenapa? Arvin selalu hidup sederhana meskipun outfit yang ia kenakan tidak sesederhana sifatnya yang selalu merendah.
"Sudah selesai gosipnya."ucap Arvin yang tiba-tiba muncul dan sudah tampil sempurna dan paripurna.
"Kak Arvin kapan ke salon dan siapa? yang cukur rambut kakak keren banget sih makin tampan deh calon suami ku ini jadi ingin cepat-cepat menikah."ucap Shania tanpa ragu.
Arvin hanya tersenyum kecil lalu berkata."Terimakasih pujiannya, tapi selesaikan dulu kuliah baru bisa menikah."ucap Arvin.
"Tiga tahun kak aku tidak mau menunggu selama itu."ucap Shania yang kini cemberut.
__ADS_1
"Heumm... tidak lama kok Yank... hanya sebentar."ucap Arvin.
"Lama...kak aku pilih kak Sky aja kalau begitu."ucap Shania yang kini membuat calon ibu mertuanya terkekeh kecil.
..........................
"Jangan coba-coba."ucap Arvin tegas.
"Suruh siapa ditunda."ucap Shania sambil menyiapkan sarapan pagi miliknya.
"Aku tidak menunda sayang hanya ingin kamu lebih dewasa setelah itu baru kita menikah."ucap Arvin.
"Tapi Om Arvin keburu tua."ucap Shania yang membuat mata Arvin membulat sempurna.
Lagi-lagi nyonya Ervina terkekeh kecil saat melihat tingkah keduanya.
"Dulu saja menolak, sekarang ngebet banget."ucap Arvin.
"Tau.... kamu pelet aku ya?."ucap Shania.
"Hari gini main pelet, gak jaman... kamu pikir aku tidak laku gitu."ucap Arvin.
"Sudah-sudah ayo sarapan pagi dulu."ucap Arvin.
Arvin pun mulai menyantap sarapan pagi yang sudah terlewat itu.
Setelah selesai sarapan pagi Shania hendak pamit pada keduanya tapi nyonya Ervina mencegah kepergiannya.
"Mommy sudah minta izin untuk membawa menantu mommy belanja, ayo kita habiskan uang calon suamimu yang tersimpan selama bertahun-tahun itu."ucap nyonya Ervina.
"Bunda aku nabung buat masadepan kita semua, jika ingin belanja silahkan lagipula mau belanja apa? sampai ingin menghabiskan tabungan yang tidak seberapa itu."ucap Arvin merendah.
"Selalu saja begitu."ucap nyonya Ervina yang kini pura-pura ngambek.
"Ambilah sayang kamu bisa pergi belanja dengan mommy aku masih mau istirahat di sini."ucap Arvin.
Pria itu menyodorkan black card miliknya.
"Tidak kak, aku masih pegang ini ko."ucap Shania yang menunjukkan dompet kecil dibalik handphone miliknya itu.
"Tapi sayang ini uang nafkah dari ku."ucap Arvin.
"Aku belum membutuhkan apapun kak, simpan saja untuk nanti."ucap Shania yang memang tidak suka berbelanja harian atau bulanan dia akan beli sebuah barang ataupun pakaian jika dia memang sangat perlu saja meskipun harga yang dikeluarkan tidak sedikit, tapi semua sudah tersedia jadi untuk apa? belanja lebih baik semua ditabung.
Arvin masih tidak habis pikir, tapi kemudian dia berpikir positif.
Mungkin karena Shania masih tanggung jawab Kenzie, jadi gadis itu ingin Arvin menabung semua itu untuk masadepan mereka.
"Heumm... baik'lah sayang tapi jika ingin beli apa-apa jangan minta pada daddy... kamu bilang saja padaku."ucap Arvin.
"Iya sayang baiklah-baiklah belikan aku es krim saja setiap weekend."ucap Shania.
"Heumm..."balas Arvin.
"Nyonya Arvin apa? kita jadi pergi untuk berbelanja."ucap nyonya Ervina.
"Jadi mom, ayo pergi tapi tidak lama ya aku masih kangen sama anak mommy ini."ucap Shania.
"Mom bawa ini belanja untuk kebutuhan disini aku sepertinya akan tinggal disini lagi."ucap Arvin.
__ADS_1
"Heumm... baiklah-baiklah nak."ucap nyonya Ervina yang kini pergi bersama dengan calon menantunya itu.
Sementara Arvin hanya tersenyum melihat kedekatan mereka, setidaknya Bundanya tidak lagi kesepian seperti hari-hari biasanya .