
Mikaila pun kembali mencari handphone miliknya, sampai akhirnya dia lelah dan kembali tertidur pulas.
Wanita cantik yang kini baru menginjak usia 20 tahun itu, tengah bermimpi tentang hidup nya bersama dengan pria yang sangat ia cintai.
Sementara, Gidion hanya tersenyum saat melihat rekaman Cctv kamar hotel tersebut, dimana disana memperlihatkan istrinya tengah tertidur pulas.
Gidion merasa, sedikit bersalah pada Mikaila yang kini seharusnya melanjutkan pendidikan nya, tapi demi restu kedua orang tua nya dia harus bisa memberikan anak secepatnya pada kedua orang tua nya itu.
"Apa? yang akan terjadi kedepannya nanti aku tidak tau, tapi yang jelas apapun itu, aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita.
Berbeda, dengan Gidion saat ini di kediaman Allan, keluarga kecil yang sangat bahagia itu saat ini tengah menghabiskan waktu bersama-sama.
Makin lama keluarga kecil itu terlihat semakin kompak, anak Allan yang kini berusia dua tahun itu, tengah berenang bersama dengan kedua orang tua nya.
Allan yang kini tengah membawa Alvin dan Bianca berenang kesana-kemari diikuti oleh Bintang.
Bintang yang sedari tadi mengkhawatirkan kedua anak nya. yang kini tengah berpegangan tangan pada daddy nya itu.
"Yank,, kamu hati-hati anak kita masih kecil"ucap Bintang.
"Mommy" panggil Bianca.
"Sayang, mommy kemarilah mommy disini"ucap Bintang.
"Takut"ucap gadis kecil itu.
"Baiklah mommy yang kesana tapi. bilang daddy jangan bergerak"ucap Bintang yang kini terlihat tersenyum pada suaminya yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak karena Bintang, mengejar dirinya di air ingin meraih keduanya.
Sampai saat mereka merasa lelah barulah mereka berhenti berenang.
"Sayang tolong panggilkan suster nya anak-anak, suruh mereka memandikan mereka berdua, setelah itu kita akan mandi bersama."ujar Allan.
Allan, langsung pergi meninggalkan mereka bertiga, Bintang kini tengah memandikan kedua anak nya di kamar mandi yang ada di area kolam renang tersebut.
Setelah itu barulah ia menyerahkan kedua anak nya itu pada baby sitter nya.
"Sayang sudah mandi?"tanya Bintang.
"Sudah Sayang tadi aku mandi duluan"ucap Allan yang kini merangkul pinggang istri nya itu.
"Aku belum mandi kamu basah lagi entar Dadddy"ucap Bintang.
"Tidak masalah aku juga mau temenin istri ku ini mandi, setelah itu aku mau kita buat adik untuk mereka"ucap Allan.
"Jangan ngaco daddy lahirnya mereka saja sudah sebuah keajaiban, dan itu tidak mungkin terjadi lagi"ucap Bintang.
"Mungkin saja sayang bukanya semua itu adalah kehendak yang maha kuasa"ucap Allan.
Allan, memeluk erat tubuh Bintang setelah itu dia langsung mengunci pintu kamar mandi takut-takut sikecil akan masuk kedalam kamar tiba-tiba.
"Sayang aku mau mandi."ucap Bintang.
"Tetu saja kita bisa mandi bersama."balas bintang.
"Yank,, please tunggu diluar saja dulu"ucap Bintang lagi memohon.
"Tidak mau sayang,, aku mau bantuin kamu menggosok punggung biar dapet pahala seperti kata pak ustadz"ucap Allan.
"Hehehe daddy ada-ada saja mandi dibantuin aku bukan anak kecil lagi"ucap nya.
"Terserah yang jelas aku mau bantu sayang ku ini mandi"ucap Allan.
"Mereka pun menyelesaikan kegiatan mandi bersama yang hingga sampai berjam-jam di dalam walk-in closed entah apa yang mereka lakukan yang jelas mereka menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Sementara itu si pengantin baru kini tengah berada di sebuah restaurant hotel milik Gidion rencananya saat ini mereka akan pulang bersama menuju Mension yang sudah di sediakan untuk Mikaila.
Sementara Mikaila hanya bisa pasrah toh gadis itu juga tidak punya pilihan lain saat ini, dia percaya jika Gidion tidak akan membiarkan dia tersakiti atau terlantar di jalanan.
Mikaila selesai makan malam dia pamit untuk pergi ke toilet yang tak jauh dari restaurant hotel tersebut, setelah itu ia baru kembali beberapa menit kemudian.
Gidion menyambut dia sambil memakaikan mantel di tubuh Mikaila.
"Ayo kita pulang"ucap Gidion.
Mikaila yang tidak banyak bicara pun dia hanya mengikuti kemana langkah pria itu membawanya karena saat ini tangan pria itu merangkul pinggang nya.
Mikaila kini sudah duduk di dalam mobil Limosin milik Piter, bersama dengan suaminya dia duduk berdua sementara sopir dan asisten pribadi nya di depan.
"Sayang apa? kamu sudah pernah jalan-jalan di sekitar sini"ucap pria itu.
__ADS_1
"Tidak"jawab gadis itu singkat.
Gidion tau jika Mikaila benar-benar merasa kecewa terhadap dirinya saat ini karena tidak membiarkan dia untuk tinggal sendiri di apartemen nya dan juga dia tidak mengizinkan Mikaila untuk kuliah sebelum gadis itu mengandung anak mereka.
Sampai di sebuah Mension yang sangat luas dan megah itu, Mikaila berpikir jika mereka bakalan tinggal berdua saja namun semua dugaannya salah disana sudah ada ibu kandung Gidion yaitu nyonya Marinka yang benar-benar tidak bersahabat meskipun wajah cantik nya itu terpanggang nyata di hadapan semua orang.
Sementara Dadddy dari Gidion yang merupakan orang asli negara tersebut, dia tidak menunjukkan keramahan atau kebencian nya wajah nya datar.
Mikaila bahkan harus menerima kenyataan pahit saat dia hendak bersalaman dengan wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tidak merespon gadis itu.
Begitu juga dengan ayah dari Gidion, tuan Jhonson, malah menepis tangan itu.
Mikaila hendak berbalik dan pergi, namun tangan Gedion, dengan sigap merangkul erat pinggang Mikaila.
Pria itu menggeleng pelan mengisyaratkan bahwa Mikaila tidak boleh pergi.
"Baiklah mommy daddy,, mulai sekarang istri ku akan tinggal bersama dengan kita disini"ucap Gidion.
"Terserah kita lihat saja siapa? yang akan bertahan"ucap nyonya Marinka seakan tak punya hati.
"Dion,, apa? kau ingin melihat ku mati! kenapa? tidak sekalian kau dorong aku dari atas rooftops hotel mu itu"ucap Mikaila dengan nada tinggi.
"Honey percayalah mommy tidak sejahat itu, mereka teramat menyayangi ku itulah alasan nya kenapa? dia tidak menerima wanita pilihan ku, karena dia takut wanita itu adalah orang yang akan berbuat jahat pada ku"ucap Gidion.
"Dion,, apapun alasannya yang jelas dia tidak akan pernah menyukai ku,tolong kembalikan aku ke Indonesia"ucap Mikaila.
"Tidak honey,, aku tidak mau lagi jauh dari dirimu, aku akan melakukan apapun agar kamu bisa diterima di keluarga ini"ucap Gidion.
"Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah mungkin Dion, tapi baik'lah jika itu yang kamu mau biarkan aku disini sampai aku mati"ucap Mikaila.
"Sayang please,, jangan bicara sembarangan,, tidak ada yang berani menyentuh mu sedikitpun tanpa seizin ku"ucap Gidion.
"Terserah saja,, tapi jika suatu saat nanti aku tiada aku akan mengharamkan jasad ku untuk kamu sentuh"ucap Mikaila tegas.
Bukan tanpa alasan gadis itu berbicara seperti itu tapi dia sudah tahu bagaimana liciknya wanita paruh baya itu.
.........................
Hari pertama di Mension, tepat di pagi hari, setelah Gidion mandi dan berganti pakaian yang telah Mikaila siapkan seperti yang diajarkan oleh Sanum dulu.
Gidion merasa sangat bahagia mendapatkan perlakuan manis dari istri tercinta nya, sementara selama pernikahan dia dengan istri pertama nya, boro-boro mau bersikap seperti itu bahkan gadis itu hanya perduli dengan berhubungan intim dengan Gidion bukan yang lain nya.
Setelah Mikaila selesai memasang dasi dengan sangat rapi Gidion menghadiahi gadis itu dengan kecupan mesra.
"Thank you honey,,I love you so much"ucap nya.
"Sama-sama Dion"ujar Mikaila.
"Ayo,, sudah siap bukan"Gidion.
"Aku disini saja,, tidak masalahkan"tanya Mikaila yang ragu untuk bertemu dengan keluarga besar Gidion.
"Sayang,, hari ini ada Omah dan keluarga daddy yang ingin berkenalan dengan mu"ucap Gidion.
"Tidak Dion, aku tidak mau mereka hanya akan menghinaku lebih baik aku disini saja atau aku pulang ke apartemen ku"ucap Mikaila.
"Tidak mungkin seperti itu sayang Omah adalah orang yang sangat baik"ucap Gidion.
"Baik padamu belum tentu baik padaku, karena bahkan keluarga inti saja sudah bersikap seperti itu.
"Tidak sayang jika kamu tidak percaya kita bisa coba dulu"ucap Gidion.
"Sudah ya Dion,, aku tidak ingin menjadi bahan percobaan sekarang kamu pilih saja aku atau keluarga mu, terserah kamu yang jelas aku akan segera kembali ke Indonesia"ucap Mikaila.
Gideon hanya tersenyum kecil, dia bahkan tidak marah saat mendengar hal itu, karena biar bagaimanapun Mikaila tidak akan pernah bisa kembali tanpa dirinya.
"Ya sudah setidaknya untuk kali ini temani aku makan oke sayang ku"ucap Gidion.
Gidion, merangkul pinggang istrinya itu dengan posisi saling berhadapan, hingga wajah mereka menjadi lebih dekat.
"Sayang lahir kan buah cinta kita setelah itu kita bisa bebas pergi kemanapun yang kamu mau."ucap Gidion lembut.
Pria itu pun lanjut mencium bibir manis itu yang semakin kesini semakin menjadi candu untuk nya.
Hingga beberapa detik kemudian barulah ciuman itu berakhir.
"Ayo turun setidaknya kita bisa sarapan bersama lebih dulu setelah itu kamu bebas mau melakukan apa pun"ucap Gidion.
"Apa? boleh aku ikut kamu pergi ke kantor"ucap gadis itu.
__ADS_1
"Boleh saja tapi hari ini aku terlalu sibuk sayang jadi mungkin kamu akan bosan menunggu di sana"ucap Gidion.
"Dion, tolong biarkan aku kuliah, aku janji setelah itu aku akan melahirkan anak kita."ucap gadis itu.
"Hi,,sayang mereka ingin dalam waktu dekat ini, patuhilah agar kita bisa hidup tenang"ujar Gidion.
Mikaila tidak bicara lagi, hanya saja dia sempat berkata dalam hati, semoga keluarga Gidion bisa dasar.
Mereka pun turun bersama dan sampai di bawah terlihat seluruh keluarga besar yang kini menunggu mereka berdua, sampai terlihat perempuan sepuh yang ternyata asli orang Indonesia, dia tersenyum manis pada keduanya.
"Omah sudah menunggu kedatangan cucu menantu omah ternyata dia sangat cantik"ucap wanita itu.
"Terimakasih Omah"ucap Mikaila yang kini mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Yang betah ya tinggal di sini, jika ada yang tidak baik padamu katakan saja pada Omah"ucap wanita sepuh yang ramah itu.
"Ya Omah,, terimakasih"ucap Mikaila.
Sementara kedua orang tua Gidion tetap acuh, tiba-tiba saja menantu kesayangan mereka datang dan semua orang menyambut nya dengan ramah termasuk wanita sepuh itu.
Mikaila, hanya bersikap cuek saat wanita yang tak lain adalah istri dari Gidion itu mendekati Gidion dan memeluk erat suaminya itu.
"Heumm"ucap Mikaila.
"Hi,, wanita gila kau disini"ucap Sherry.
"Ya aku disini"jawab Mikaila dengan cueknya.
"Omah,, dia adalah wanita yang sudah merusak wajah cantik ku saat itu"ucap Sherry.
"Apahhh! jadi kau orang yang sudah merusak wajah cucu menantu pertama ku"ucap wanita sepuh itu tiba-tiba mengangkat tongkat nya menunjuk-nunjuk wajah Mikaila, dia benar-benar marah pada gadis itu.
Gidion yang melihat itu tidak bisa membela istrinya, karena jika dia membela Mikaila dan tidak memperdulikan Sherry maka akan jadi bencana untuk Mikaila.
Bisa jadi mereka semua bersekutu untuk menyingkir kan Mikaila.
"Aku melakukan itu karena dia ingin membunuhku, dia menculik ku, andaikan saja Cctv itu tidak dihapus oleh Dion mungkin kalian semua akan melihat semua kejadian nya dari awal hingga akhir, tapi dengan begitu Dion ternyata justru menginginkan kematian ku"ucap Mikaila.
"Honey!"bentak Gidion.
"Sekarang aku sudah berada di sini di keluarga yang bahkan tidak punya hati sama sekali silahkan jika kalian ingin membunuhku sekarang juga,,"ucap Mikaila.
Plak...
Tamparan keras itu mendarat di pipi Mikaila hingga sudut bibi gadis itu pecah.
"Aku sudah meminta mu untuk tidak berkata tak sopan pada keluarga ku, tapi kamu bahkan tidak mengindahkan ku"ucap Gidion.
Mikaila mengangkat wajahnya yang kini terlihat jelas bekas gambar tangan Gidion Air mata itu sudah meluncur deras dari mata gadis itu.
"Lanjutkan Dion,, bahkan jika kamu belum puas ambil ini dan segera bunuh aku"ucap Mikaila yang kini menyodorkan pisau itu.
"Mikaila"lirih Gidion.
Srettt ...
Darah muncrat dari pergelangan tangan Mikaila.
"Mika!!"Teriak Gidion.
Pria itu langsung menarik memeluk erat Mikaila saat ini hatinya sungguh begitu sakit, dia tidak bermaksud untuk menyakiti istrinya itu tapi dia tidak ingin istrinya itu bersikap tidak sopan pada keluarga nya.
"Lepas,, ucap Mikaila yang kini mendorong Gidion.
"Cepat panggil dokter!"teriak Gidion.
"Aku tidak butuh dokter"ucap Mikaila yang kini berlari pergi meskipun saat ini kepalanya puyeng dan Dion pun mengejar Mikaila.
Mikaila terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Gidion hingga gadis itu langsung terjatuh tepat di depan Air mancur.
"Honey!!"teriak Dion.
Pria itu langsung bergegas menggendong gadis itu membawa lari Mikaila, menuju kearah mobil nya.
Mikaila tidak sadarkan diri hingga dia tiba di rumah sakit.
Dokter yang menangani Mikaila menyarankan untuk segera melakukan operasi untuk menyambung urat nadi nya yang nyaris putus, dan itu harus dilakukan sesegera mungkin, dan dokter juga membutuhkan donor darah karena stok darah hanya sedikit dan tidak cukup untuk menolong Mikaila yang sudah hampir kehabisan darah tersebut.
Gidion langsung menelpon seseorang saat itu juga.
__ADS_1