Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
# Pemanasan#


__ADS_3

"Sudah selesai pembicaraannya jika belum kalian bisa lanjut di lapangan."ucap gadis itu.


"Selesai."ucap Shania dingin.


Keduanya pun kembali duduk dengan tenang.


"Hari ini hanya ada satu pelajaran, setelah itu Tim basket Shania akan latihan bersama saya dan mis Ghea."ucap Arvin.


"Shania."panggil Arvin.


"Ya Mr."jawab Shania.


"Setelah selesai mengerjakan tugas ini kamu langsung ke lapangan."ucap Arvin.


"Baik Mr."jawab Shania .


Gadis itu langsung fokus pada laptop yang ada di hadapannya, Shania tidak ingin membuang-buang waktu.


Dia sudah bicara pada Kenzie tentang kepindahannya ke Swiss meskipun keduanya awalnya menolak.


Namun gadis itu tetap kekeuh ingin pindah sekolah, jika tidak bersama dengan ketiga kakak laki-lakinya maka dia akan bersama Julio di Amsterdam.


Sampai saat dua jam belajar akhirnya tugas Shania selesai tidak biasanya saat ini gadis itu terlambat satu jam dari biasanya.


Shania pun keluar dengan membawa tas perlengkapan untuk olahraganya, seperti yang Shania kira sebelum ia berangkat dari rumah.


Shania sudah keluar dari ruang ganti dengan menggunakan pakaian olahraga yang menurut Arvin terlalu seksi bagi Shania yang memiliki tubuh tinggi bak model itu.


Sampai saat bunyi peluit berbunyi, Shania turun dengan santainya, dia melihat semua tim sudah berkumpul melakukan pemanasan begitu juga dengan Arvin yang sesekali menatap kearah gadis yang kini mengepang rambutnya dengan sangat rapi.


"Mau sampai kapan kami menunggu mu, jangan mentang-mentang kamu ketua tim."ucap Karin yang ternyata sudah berada di sana.


"Apa? Lo tidak suka ambil aja posisi gue, lagian juga gue dah enek lihat Lo."ucap Shania.


"Hi,,,, jangan nyollot ya Lo jadi orang mentang-mentang Lo kalah saing sama gue, Lo bisa seenak jidat Lo ngatur sekolah untuk membuat izin kepindahan Lo... Lo kira lo siapa? disini kekasih gue saja yang Bokapnya pendiri sekolah ini tidak belagu kaya Lo."ucap Karin.


Gadis itu terus memaki Shania hingga Shania gagal untuk bersabar dengan sekali tendangan tubuh Karin terpental membentur lantai yang jaraknya begitu jauh.


Semua orang melongo dibuatnya, saat itu juga Arvin berlari menghampiri Shania.


Sementara saat ini Karin tengah meraung kesakitan.

__ADS_1


"Jangan Lo kira karena gue diam saja Lo bisa seenaknya ngelunjak, Gue dah bersabar selama ini jika Lo ngerasa gue kalah saing Lo salah gue gak selevel dengan Lo."ucap Shania yang terlanjur sakit hati.


"Lo pikir gue suka bertahan dengan orang-orang seperti Lo, Lo salah besar gue jijik lihat muka penjilat kaya Lo!."teriak Shania dengan amarah yang benar-benar memuncak.


Dia tidak sadar jika saat ini Arvin tengah mencekal dirinya yang kembali ingin menyerang Karin.


"Sudah tenangkan dirimu."ucap Arvin datar.


"Lepas!! mulai saat ini gue gak peduli lagi dengan reputasi sekolah gue keluar sekarang juga!." ucap Shania yang hendak pergi, tapi tangannya digenggam erat oleh Arvin.


"Shania,,, tunggu kita bisa bicarakan semua ini baik-baik oke."ucap Arvin.


"Tidak lagi aku sudah muak aku tidak peduli dengan semua peraturan sekolah ini."ucap Shania yang benar-benar tengah dilanda amarah.


"Oke Shania sekarang kamu bisa pulang untuk istirahat tapi aku ingin kau kembali lagi."ucap Arvin.


"Tidak semua sudah keputusan mutlak."ucap Shania.


Arvin langsung menarik Sania ke ruang ganti.


"Shania bisa tidak lembut kan hatimu sejenak saja sambil berfikir."ucap Arvin lembut.


"Baiklah saya akan tetap disini tapi tolong usir dia dari sekolah ini."ucap Shania sambil menatap lekat wajah Arvin yang kini terdiam.


Gadis itu hendak pergi setelah meraih barang-barangnya tapi kemudian."Arvin menariknya dengan lembut membawa dia kedalam dekapannya.


"Lepas Mr, apa? yang anda lakukan."ucap Shania yang hendak melepaskan tangan Arvin tapi kemudian Arvin berbisik lirih.


"Aku ingin memberikan mu ketenangan, jika bukan sebagai guru... kamu bisa menganggap ku seperti kakak mu."ucap Arvin.


Shania tiba-tiba terdiam di a mematung dan merasakan ada sesuatu yang benar-benar membuat Shania tenang tapi itu tidak berlangsung lama karena gadis itu kembali melepaskan pelukan itu.


"Aku akan pergi."ucap Shania.


"Shania tolong berikan saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa membawa nama sekolah ini semakin melambung tinggi. demi memenuhi janji saya terhadap almarhum papah saya."ucap pria itu penuh kelembutan.


"Tapi apa? yang anda harapkan dari saya."ucap Shania bertanya.


"Kamu punya semua itu kamu bisa membanggakan sekolah kamu berbakat dalam segala hal, setidaknya bertahan sampai saat kamu lulus kelas dua dan itu hanya tinggal beberapa bulan lagi."ucap Arvin.


"Tapi aku tidak bisa sekolah dengan tenang jika dia tetap disini."ucap Shania.

__ADS_1


"Saya akan pindahkan dia di kelas lain."ucap Arvin.


"Setuju tapi jika dia terus menganggu aku tidak akan pernah diam lagi."ucap Shania.


"Baiklah janji."ucap Arvin yang mengajak gadis itu berjabat tangan.


"Heumm."ucap Shania.


Gadis itu pun berlalu pergi begitu saja, sementara Karin saat ini tengah diobati di ruang UKS , gadis itu menderita memar di bagian wajah dan sedikit keseleo di bagian leher.


Tendangan Shania benar-benar kuat saat ini Arvin langsung bergegas mengantar Karin pulang dengan mobilnya langsung menuju rumahnya.


Sesampainya di sana, kedua orang tua gadis itu benar-benar kaget melihat anak gadisnya mengalami semua itu. Arvin pun menjelaskan semuanya.


Saat itu juga kedua orang tua Karin mengerti dengan masalah yang dibuat oleh putrinya itu hingga gadis itu dipindahkan ke kelas lain.


"Orang tua gadis itu pun menuntut biyaya pengobatan yang tidak seharusnya ada karena Arvin sudah mengobati gadis itu hanya luka lecet.


Gadis itu pun tidak berani berkata jujur karena bisa jadi kedua orang tuanya memarahi dia.


Tapi sampai Arvin pergi meninggalkan rumah tersebut Karin masih terdiam.


Sementara itu di kediaman Shania kedua orang tuanya kini sedang saling tatap akibat keputusan yang putrinya ambil selalu plin-plan.


Namun ada kelegaan di hati Kenzie saat ini karena putrinya itu tidak jadi pergi.


Karena jika Shania pergi dia dan istrinya akan sangat kesepian.


Gadis itu kini tengah menceritakan semuanya.


Shania baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, setelah itu ia turun tepat di jam makan siang.


"Mom,,, laper."ucap gadis manja itu.


"Heumm,,, benarkah."ucap keduanya.


"Ya..."ucap gadis itu.


Shania langsung pergi meninggalkan rumah ruang keluarga menuju ruang makan dimana? semua sudah tersedia di sana.


"eummm YUMI...

__ADS_1


Ka


__ADS_2