
Gadis itu terlelap dalam pelukan Zaid seperti biasanya.
Tidak terasa sudah satu tahun berlalu kini mereka bersama, Julia pun kini sudah melahirkan putra tunggal nya yang diberi nama Vero.
Dan restu dari kedua orang tua Vino sampai saat ini belum mereka dapatkan, entah apa? yang membuat mereka begitu membenci Mikaila hingga saat ini pun masih enggan untuk mengakui Vero sebagai cucunya.
Zaid dan Aluna sering kali menghabiskan waktu dengan bayi menggemaskan dan sangat tampan itu, diam-diam pria tampan itu merasa ingin memiliki keturunan, tapi dia tidak suka dengan wanita manapun yang selama ini ia temui kecuali Aluna si gadis polos.
Sampai saat ini gadis itu masih belum bisa hidup mandiri bahkan tidur pun masih bersama dengan Zaid. apa? Zaid harus menikahi dia saja, tapi bagaimana jika gadis itu tidak kunjung mengerti dengan kehidupan yang mereka jalani saat nanti.
"Aluna bahkan tidak bisa melakukan semuanya sendiri, bagaimana jika dia menjadi seorang ibu."lirih Zaid.
"Kau bisa membimbingnya kelak."ujar Vino dari samping.
"Kau pikir aku guru pembimbing apa?."ujar Zaid.
"Ye,,, dikasih tahu juga."ujar Vino.
"Carikan aku calon istri dan ibu yang seperti istrimu yang selalu pengertian dan perhatian aku juga tidak mungkin akan terus hidup seperti ini."ujar Zaid.
"Seperti ini bagaimana?."ujar Vino berpura-pura tidak mengerti.
"Aku tersesat."ujar Zaid serius.
"Tidak masalah bukan tersesat juga bukankah tersesat di temani wanita cantik setiap malam dalam pelukan itu sangat menyenangkan."Vino.
"Dia bukan tipe ku."ujar Zaid.
"Heumm benarkah, tapi kurasa aku melihat cinta yang begitu besar untuk nya."ujar Vino.
"Itu tidak mungkin."balas Zaid.
"Sebaiknya jangan lakukan hal yang akan membuat dirimu menyesal kau tidak akan mendapatkan batu berlian langka yang terbalut batu kali seperti dirinya."ujar Vino.
"Tapi aku ingin mencobanya."ujar Vino.
"Heumm, baik'lah besok aku akan mencarikan calon untuk mu tapi tetap kau yang harus memilihnya sendiri.
"Apa? ada model yang lebih baik aku ingin melihatnya siapa? tahu ada yang cocok untuk menjadi istri ku."ujar Zaid.
"Baiklah, tolong ambilkan laptop saya."pinta Vino pada pelayan.
"Aluna yang sedaritadi mendengar pembicaraan mereka pun menghampiri Zaid dan duduk di samping pria tampan itu.
"Ada apa? apa ? sudah bosan bermain dengan mereka."tanya Zaid.
"Aku ingin melihat calon istri Zaid."ujarnya tanpa ada yang ditutupi seperti biasanya.
"Kau bicara apa?."tanya Zaid merasa bersalah.
Vino yang melihat reaksi itu hanya berkata di dalam hatinya."Sudah kubilang kalian berdua sudah saling membutuhkan tapi masih ngeyel menyangkalnya tapi baik'lah mari kita lihat sejauh mana ."ujar Vino dalam hati.
Laptop pun sudah ada di hadapannya Vino, dan pria itu hendak membukanya namun saat itu juga Zaid ingin menghentikan Vino namun Aluna langsung berkata.
"Bukalah siapa tahu Luna bisa pilihkan yang cocok untuk Zaid."ujar gadis itu datar.
"Heumm,,, baik'lah aku akan mulai."ujar Vino tanpa melihat sahabatnya yang kini tengah menatap tajam kearahnya.
"Nah deretan model papan atas."ujar Vino.
Satu persatu Vino perlihatkan sekaligus dengan foto profil nya, saat itu juga Aluna menujuk pada gadis cantik yang baru datang ke dunia modeling dan pilihan Aluna adalah yang terbaik menurut Vino.
"Itu saja dia sangat cantik dan sangat cocok dengan Zaid, jadi kapan kalian akan menikah."ujar Aluna seakan pernikahan itu adalah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan begitu saja.
"Kau ini bicara apa?."tanya Zaid yang kini tengah mengepalkan tangannya di saku celananya.
"Menikah, agar Luna secepatnya pergi sebelum dia datang lagipula Luna hanya menyusahkan Zaid kan. jadi sudah seharusnya Luna pergi."ujar gadis itu sambil menatap jemari tangannya.
__ADS_1
"Aluna,,, apa? yang kau katakan!."Bentak Zaid.
Namun tidak sedikitpun gadis itu ketakutan seperti biasanya selalu merengek menangis karena tidak bisa dibentak.
"Tidak apa-apa Zaid, Luna memang seharusnya pergi dari hidup Zaid karena Luna bukan siapa-siapa bagi Zaid, nanti saat dia akan datang beritahu Luna agar Luna secepatnya pergi."ujar gadis itu.
Wajah Aluna datar tanpa ekspresi.
"Hari ini juga dia akan datang kesini."ujar Zaid.
"Heumm,, baik'lah."ujar Aluna yang kini langsung pergi menuju kamar yang sering dia tempati dia masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya, setelah itu dia keringkan dengan handuk dan menyisir rambut nya.
Aluna menanggalkan kalung pemberian Zaid, dan semua handphone juga ada kartu kredit jika sewaktu-waktu Aluna ingin jalan-jalan bersama dengan pengawalnya dia masukkan semua itu kedalam paper bag dan di taruh di atas meja rias, Luna pun pergi dengan tangan kosong bahkan rubrik yang selalu ia mainkan pun sudah tidak ia pegang lagi.
"Julia aku pamit terimakasih atas semua kebaikannya, kalian baik-baik ya Una pergi dulu semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi."ujar gadis itu dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Aluna, ada apa? kenapa kau mendadak pergi."tanya Julia.
"Sudah seharusnya aku pergi mencari keluargaku."alasan Aluna seolah memang serius.
"Tapi mau mencari kemana? mereka tidak ada di negara ini."ujar Julia.
"Aku tidak tahu tapi semoga saja aku bisa bertemu dengan Daddy."ujar Aluna sambil tersenyum manis.
Wajah polosnya itu mampu menyembunyikan semua gurat kesedihan nya.
Sementara Zaid sedari tadi menahan amarah dan rasa sakit karena Aluna bahkan tidak lagi mau mendengarkan dirinya.
"Tuan Vino Luna pergi terimakasih untuk kebaikannya tolong jaga Zaid jangan biarkan dia merokok lagi karena tidak baik untuk kesehatannya."ujar Aluna.
"Aluna kau masih bisa tinggal di sini jika kamu mau."ujar Vino.
"Tidak tuan terimakasih Luna akan mencari Daddy saja."ujar gadis itu.
"Aluna!."bentak Zaid.
"Aluna."bentak haid lagi.
"Aku pergi Zaid semoga selalu bahagia."ujar Aluna yang langsung berlari pergi, gadis itu tidak menghiraukan Zaid yang mengejarnya dengan berjalan cepat.
"Aluna tunggu."ujar Zaid.
Namun gadis itu keburu naik taksi berlalu begitu saja Aluna tidak membawa apapun hingga sopir taksi itu marah dan menurunkan Aluna di pinggir jalan raya.
Gadis itu pun berjalan kaki tanpa tahu arah dan tujuan.
Kini dia sudah tiba di sebuah taman, hujan deras pun turun begitu lebat dan petir bersahutan Aluna duduk bersembunyi di balik samping tong sampah sambil menutup telinganya dengan bibir bergumam memanggil Zaid dan juga sang Daddy karena hanya dua orang itu yang ada di dalam ingatannya.
................................
Sementara Zaid, sedari Aluna pergi pria itu sudah mencari Aluna bahkan dia menghajar pria yang menjadi pengemudi taksi tersebut ditengah hujan yang lebat, dia kehilangan jejak Aluna, karena ternyata kalung yang diberikan kepada Aluna dengan alat pelacak di liontin tersebut Aluna tinggalkan di rumah Vino.
Dia bahkan tidak membawa apapun.
Entah apa? yang ada di pikiran gadis itu saat ini kenapa? dia nekad pergi seolah dia tidak ingin ada saingan di dalam hidupnya, jika Zaid benar-benar menikah.
Zaid bahkan sudah melupakan emosinya pada anak buahnya yang membiarkan Luna pergi begitu saja.
"Aluna!! dimana kamu jangan nekad diluar berbahaya."teriak Zaid.
Pria tampan itu sudah basah kuyup berjalan kesana kemari dari titik pemberhentian Aluna namun gadis itu tidak kunjung di temukan.
Aluna yang ketakutan pun tidak beranjak pergi sedikitpun dia tidak peduli dengan udara yang begitu dingin hingga terasa menusuk tulang.
Gadis itu berlindung di kolong meja yang ada di taman tersebut.
Dalam keadaan remang-remang Aluna terlihat begitu menyedihkan, gadis itu bahkan hanya memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di atas lutut. sampai saat pagi tiba gadis itu baru keluar di saat sinar matahari pagi menyinari are taman tersebut.
__ADS_1
Kini Aluna melanjutkan perjalanan, dengan mengikuti langkah kaki, Aluna berjalan gontai kepalanya terasa sakit mungkin karena semalam dia kehujanan.
Tidak ada satupun orang yang ia kenal untuk dimintai tolong.
Sampai langkahnya terhenti di sebuah emper cafe yang memperlihatkan kegiatan mereka yang tengah sarapan pagi.
Aluna hanya bisa menelan ludah, setelah itu ia kembali berjalan di jalan yang mulai dipadati dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Aluna pun nekad menyeberang, meskipun ketakutan itu terus menghinggapi dirinya.
Berkali-kali mobil-mobil itu membunyikan klakson mobilnya namun Aluna tidak menghiraukan hal itu.
sampai Aluna tiba di sebrang jalan dan tiba-tiba dia ambruk di pinggir jalan raya karena sudah tidak bisa berjalan lagi dalam keadaan kepala sakit selain kehujanan dia juga melewatkan makan siang makan malam dan sarapan pagi.
Saat Aluna sadar dia sudah berada di sebuah ruangan bernuansa putih, gadis itu melihat ada selang infus di tangannya.
"Daddy."lirihnya.
"Syukurlah kau sudah sadar sayang, kemana saja kau selama ini Daddy sudah mencari mu kemana-mana bahkan sudah hampir putus asa untuk bisa menemukan mu oh,,, putriku."ujar pria paruh baya yang terlihat masih gagah itu.
"Aku tidak tau dimana itu Daddy yang jelas ada dia yang baik hati pada Aluna yang sudah menjaga Aluna."ujar gadis itu.
"Adeline,,, berapa kali harus Daddy tekankan bahwa namamu bukan Luna tapi Adeline."ujar pria itu.
"Adeline,,, aku tidak suka nama itu dia selalu menyakiti Aluna."ujar gadis itu.
"Ah,, terserah kamu saja sayang yang jelas daddy tidak ingin kamu pergi lagi."ujar pria yang kini terlihat sendu.
"Aluna harus berpetualang Daddy, petualangan Aluna belum berakhir sampai mommy ditemukan."ujar gadis itu.
Aluna adalah anak tunggal dari tuan Gultom, gadis itu mengalami kecelakaan bersama dengan ibunya saat pulang berlibur, kecelakaan itu merenggut nyawa ibunya dan juga separuh ingatan gadis kecil itu.
Aluna sering menghilang dari rumah setelah dia sembuh dari trauma besar saat kecelakaan itu terjadi, dia melihat darah yang mengucur deras dari kepala sang mommy hingga ia pun tidak sadarkan diri saat kelakan itu terjadi, mobil mereka jauh dari keramaian bahkan nyaris tidak ada kendaraan yang lewat.
Sejak saat itu dia akan berteriak saat dia melihat darah darah apapun itu, sampai pingsan. dan karena hal itu seakan tak ada hentinya hingga membuat Adeline hampir depresi maka tuan Gultom memutuskan untuk melakukan hipnoterapi dan menghilangkan separuh ingatannya untuk membuat gadis itu terhindar dari depresi.
Setelah hal itu dilakukan Adeline malah bersikap seperti anak-anak yang benar-benar polos dan bahkan dia akan mengeluhkan namanya sendiri saat melihat film yang menceritakan wanita bernama Adeline itu jahat pada Una, sejak saat itu dia tidak ingin dipanggil dengan nama Adeline lagi bahkan dia meminta tuan Gultom untuk memanggil dirinya dengan sebutan Luna atau Una.
Aluna sering pergi dari rumah tanpa sepengetahuan oleh penjaga dan bahkan berulang kali dia mengatakan akan mencari makanya.
Dia tidak pernah tahu jika ibunya sudah tiada karena dokter bilang dia tidak akan kuat dengan kondisi itu.
Dan terakhir kali saat sebelum Aluna pergi dari rumah bukan karena ayahnya hendak dibunuh saat itu tuan Gultom berlari cepat masuk kedalam rumah hendak masuk kedalam kamar perawatan diikuti oleh beberapa orang bodyguard nya yang terlihat seakan tengah mengeroyok Daddynya itu hingga akhirnya Aluna berlari pergi untuk meminta bantuan tapi yang ada dia malah tertabrak mobil dan orang tidak bertanggung jawab itu membawa Luna dan membuang Luna di sebuah gedung tua yang merupakan tempat markas penyimpanan senjata milik Zaid saat itulah mereka bertemu.
"Apa? dia orang baik, Daddy akan sangat berterimakasih padanya."ujar Tuan Gultom.
"Ya, dia baik tapi dia akan menikah jadi Luna pergi karena tidak ingin calon istrinya cemburu."ujar Aluna.
Tuan Gultom yang menangkap sinyal kecemburuan dari putrinya itu pun tersenyum karena ditengah keterbatasan daya ingat Adeline terselip kedewasaan yang seharusnya memang itu adalah putrinya yang kini sudah berusia 21 tahun, namun Adeline malah seperti Gadis belia.
Adeline putus sekolah sejak lama tapi tuan Gultom selalu mengajarkan dia tentang apapun yang putrinya ingin ketahui tentang hal-hal yang ia lihat.
"Aku tidak ingat dia tinggal di mana."ujar gadis itu yang kini terlihat sendu.
Tidak apa-apa jangan paksakan untuk mengingat hal itu, kita akan bertemu kembali jika tuhan menghendaki."ujar tuan Gultom sambil mengelus puncak kepala putrinya itu.
Sementara itu di kediaman Zaid, pria itu sudah dua hari ini tidak bisa memejamkan matanya mungkin karena kebiasaan lamanya.
Selama ini Aluna selalu berada di dalam dekapan, sementara saat ini dia bahkan tidak tau apa? Aluna baik-baik saja atau tidak.
"Dimana kamu Aluna,,, aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika kamu sampai kenapa-kenapa."ujar pria itu lirih.
Sementara Aluna pun gelisah didalam tidurnya.
"Zaid, Una minta maaf Una tidak ingin menjadi beban Zaid, Zaid sudah sepantasnya hidup bahagia tanpa adanya beban seperti yang selalu Zaid katakan."ujar Adeline lirih.
Kini Adeline sudah berada di negaranya, tuan Gultom langsung membawa putrinya itu setelah seseorang menemukan dia tergeletak di pinggir jalan.
__ADS_1