
Mikaila mendengar seseorang mengetuk pintu secara tidak beraturan, gadis itu kaget karena bel pintu juga terus berbunyi, Mikaila pun menelpon kedua asistennya itu tapi ternyata tidak ada siapapun di sana, gadis itu benar-benar merasa takut entah kemana mereka berdua hingga Mikaila tidak bisa menghubungi nya.
Sampai suara pintu terbuka Mikaila masih berada di dalam kamar, gadis itu bersembunyi di dalam selimut.
"Ikut kami sekarang juga karena jika tidak kedua asisten anda akan mati ditangan bos kami"ucap seseorang yang berjas hitam tersebut.
"Kalian siapa? ucap Mikaila yang kini terlihat gemetar ketakutan.
"Tidak perlu tau siapa? kami yang jelas saat ini anda harus ikut kami"ucap pria itu yang langsung membawa Mikaila yang kini hanya menggunakan dress tidur yang begitu tipis, dan hampir menerawang.
"Tunggu biarkan saya ganti baju dulu"ucap Mikaila.
"Tidak bisa, sudah tidak ada waktu lagi"ucap pria itu.
"Heumm, baik'lah"ucap Mikaila yang meraih kardigan miliknya yang ada di sofa tersebut.
"Sepertinya Nona, Sharon akan mencabik-cabik gadis ini secara dari postur tubuh dan warna kulit gadis ini lebih menarik"ucap beberapa orang yang berbisik-bisik di belakang Mikaila.
"Siapa? bos kalian"ucap Mikaila memberanikan diri untuk bicara.
"Bukan urusan mu itu tidak penting"ucap ketua dari mereka, yang terlihat selalu dituruti oleh beberapa orang lainnya.
"Saya akan buat perhitungan jika kalian berbuat sesuatu terhadap kedua asisten pribadi ku"ucap Mikaila.
gadis itu sudah berada di dalam sebuah ruangan yang terlihat sangat minim penerangan, tiba-tiba saja Mikaila sadar saat dia sudah terikat di sebuah kursi yang terbuat dari besi tersebut.
"Lepaskan aku dimana? kedua asisten ku, apa? salah mereka pada kalian!"teriak gadis yang kini basah kuyup dan menggigil, karena disiram dengan air dingin.
"Hahaha! masih punya nyali ternyata"suara tawa seorang wanita, yang kini terlihat terbakar api cemburu.
"Kau, adalah perempuan yang tadi sore aku jumpai, apa? urusan mu dengan ku! aku tidak punya masalah dengan mu"ujar Mikaila.
"Tentu saja kau salah karena telah berani hadir dalam kehidupan suamiku, kau adalah kuman yang harus dihancurkan"ucap wanita yang tak lain adalah Sharon istri dari Gidion.
"Bukan aku yang hadir dalam hidup suamimu, tapi dia yang mengejar ku!"teriak Mikaila yang mulai terbakar emosi.
"Kau!"
Plak....
Tamparan keras itu mengenai pipi Mikaila, hingga gadis itu terlihat bekas gambar tangan.
"Kau berani menyentuh ku, A*j**!!"teriak Mikaila.
"Kau wanita gila"ucap Sharon.
"Kau yang gila'!! A*j*n*!"balas Mikaila sambil tertarik, berkali-kali Mikaila berucap menyebut nama binatang.
"Patahkan kakinya"perintah Sharon pada anak buah nya.
"Apa? kau gila"ucap Mikaila.
"Hahaha kau takut"tawa sarkasme itu terdengar kembali.
"Dasar psikopat amatir kenapa? kau tidak lakukan itu sendiri, dan kemarilah mendekat biar aku bisikkan sesuatu yang akan membuat mu semakin bernafsu untuk menyiksaku"ucap Mikaila dengan penuh semangat, dia tidak gentar sedikitpun, dia justru ingin membalaskan rasa sakit yang pernah ia alami. dia bahkan tidak pernah peduli nasibnya nanti akan bagaimana yang jelas, dia ingin sekali melukis wajah cantik itu dengan kukunya yang tajam.
"Kau pemberani rupanya, Sharon langsung mendekat.
"Apa? kau tau berapa kali dia mencumbu bibir ku saat dia akan pergi"ucap Mikaila sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah wanita itu yang semakin memerah, kini wanita itu mencengkram kuat rahang Mikaila.
Dan tiba-tiba.
****....
Ludah Mikaila mendarat sempurna di wajah wanita kejam itu.
Plak...
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Mikaila, hingga sudut bibir nya pecah dan berdarah.
"Hahaha....kau hanya bisa melakukan itu pengecut, nenek tua ****** gendeng!"teriak Mikaila yang kini kembali tertawa terbahak-bahak meskipun rasa panas dan perih menjalar di pipi dan sudut bibirnya.
"Kau masih menantang ku!"teriak wanita itu sambil menatap tajam kearah Mikaila.
"Kalau ia kenapa? ayo kita bertarung jika kau benar-benar jago, ****** gila"ucap Mikaila.
__ADS_1
"Baiklah"ucap Sharon.
"Lepaskan dia"ucap Sharon pada anak buah nya.
Sampai tali itu terlepas saat itu juga Mikaila menerjang wanita itu hingga terjungkal ke belakang dan kepalanya membentur tembok.
Saat ini juga Mikaila duduk di atas tubuh wanita itu dan menghajar wajah cantik itu habis-habisan, hingga lebih babak belur dari dirinya.
Wanita itu berteriak meminta tolong pada anak buah nya sampai seseorang datang dan menghentikan perkelahian itu.
Tepat pukul enam pagi, Gidion datang bersama dengan anak buahnya.
"Hentikan"ucap pria itu saat itu juga.
"Heeuh pangeran sudah datang untuk menolong istri tercinta"ucap Mikaila, sambil menatap dingin ke arah pria itu.
"Apa? yang kalian lakukan, cepat bawa Nona muda pergi ke rumah sakit"ucap Gidion.
"Miris,,,, bukan kah cerita dongeng mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada putri maka pangeran yang akan langsung menggendong putri lalu dibawa pergi dan diobati oleh nya"ucap Mikaila.
"Mikaila jangan keterlaluan"ucap Gidion.
"Apa? ini yang dibilang keterlaluan"ucap Mikaila, sambil menginjak perut Sharon, dengan sebelah kaki nya.
"Mikaila!"teriak Gidion.
"Owh aku lupa jika ternyata pangeran benar-benar sangat mencintai putri"ucap Mikaila yang kini membungkuk hormat pada Gidion.
Pria itu terus menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat menahan amarahnya.
"Sudah kubilang bawa Nona muda ke rumah sakit dan lakukan pemeriksaan menyeluruh setelah itu minta sembukan dia dengan baik, aku akan segera memberikan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan untuk gadis ini"ucap Gidion dengan wajah datar nya.
Sementara Mikaila bersandar di dinding dengan ber sedekap dada gadis itu tidak akan pernah mundur jika Gidion benar-benar ingin menghajar nya nanti.
Saat semua orang pergi, sambil membawa pergi Sharon, kini Gidion mendekat dia melepaskan kancing jas nya, lalu dengan gerakan cepat dia memasangkan jas tersebut pada Mikaila.
"Kau"lirih Mikaila.
"Kenapa? bukan kah, pangeran selalu datang untuk menyelamatkan putri salju, dan dia akan menggendong nya ala bridal style, seperti saat ini."ucap Gidion, yang kini benar-benar melakukan itu.
"Berhenti memberontak atau kita akan benar-benar jatuh"ucap pria yang kini tengah berada di atas atap gedung tersebut.
"Kau mau bawa kemana aku"ucap Mikaila saat melihat sebuah helikopter yang siap terbang.
.....................
"Menyelamatkan putri salju dari amukan nenek sihir yang kejam"jawab Gidion saat mereka sudah duduk di dalam helikopter tersebut.
"Kau salah orang"ucap Mikaila.
"Bukan kah katamu tadi jika pangeran bebas memilih, dan sedari dulu aku hanya memilih mu, untuk menjadi ratu dalam hatiku dalam hidup ku"ucap Gidion lembut sambil membingkai wajah cantik itu, lalu meminta anak buahnya menerbangkan pesawat tersebut.
Sampai di sebuah pulau pribadi milik Gidion pribadi tanpa sepengetahuan kedua orang tua nya, dia kembali membawa Mikaila turun dari helikopter masih dengan menggendong gadis itu ala bridal style.
"Dimana ini aku harus segera memenangkan kompetisi olimpiade, sebentar lagi"ucap Mikaila.
Masih ada waktu honey"ucap Gidion.
"Tapi aku tidak tau dimana kedua asisten mommy dan Daddy berada"ucap Mikaila.
"Masuklah nanti kamu akan tau"ucap Gidion.
"Om jelek kamu tidak membohongi ku ya kan"ucap Mikaila.
"Kamu bisa menilai semua itu nanti setelah berada di dalam sayang"ucap pria itu.
"Heumm baik'lah"ucap gadis itu yang masih berwajah datar itu.
Gidion membawa masuk Mikaila kedalam disana ternyata sudah ada barang-barang pribadi nya yang entah kapan? Gidion bawa semua masih lengkap saat Mikaila mengecek semua itu.
Sementara kedua asisten pribadi nya juga sudah berada di sana dan mereka terlihat segar bugar tanpa kurang suatu apapun.
"Maafkan kami nona, kami teledor"ucap kedua orang itu.
"Sudah lah, melihat kalian baik-baik saja pun sudah lebih dari cukup, aku tidak ingin kalian terlibat dalam masalah pribadi ku, mungkin sebentar lagi aku akan masuk penjara, tapi tidak masalah yang penting aku sudah menghajar wanita gila itu sampai babak belur"ucap Mikaila.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang memasukkan mu kedalam penjara karena adegan saat kau menjadi tukang pukul sudah ku hapus honey"ucap Gidion penuh percaya diri.
"Bagaimana apa? pangeran sudah memenuhi syarat untuk melamar tuan putri"ucap Gidion.
"Apa? tuan lupa jika tuan sudah menikah dengan tuan putri yang gila itu"tanya Mikaila.
"Dia lebih dewasa dari dirimu honey, maka sebaiknya kamu lebih sopan saat memanggil nya"ucap Gidion lembut.
"Ah... maafkan aku,,, aku baru sadar bahwa seorang suami akan membela istrinya meskipun dia bersalah mungkin karena cinta yang begitu besar"ucap gadis itu.
"Sayang maaf"ucap Gidion.
"Tuan muda tidak perlu untuk meminta maaf, anda tidak salah karena yang salah disini hanya aku, dan aku yang sudah menghajar istri anda, maaf,,,, kamu bisa melaporkan aku sekarang juga ke kantor polisi"ucap gadis itu.
Gidion langsung menggeleng pelan, dia hendak meraih Mikaila, namun gadis itu menghindar.
"Hubungi Daddy atau uncle Allan, kita harus segera pulang disini bukan rumah kita"ucap Mikaila.
"Maafkan saya nona tidak ada jaringan internet disini"ucap keduanya berbohong Gidion memang sengaja menutup akses internet saat ia tidak butuh.
"Apahhh? lalu bagaimana dengan kita"ucap Mikaila.
"Kita akan baik-baik saja Sayang meskipun tanpa internet"ucap Gidion.
"Tidak itu tidak mungkin lalu bagaimana dengan sekolah ku"ucap Mikaila.
"Itu bisa diatur honey, di kamar kita ada jaringan internet kok"ucap Gidion.
"Hanya di sana"ujar gadis itu kaget.
"Ya, karena kamar kita ada di bangunan yang menjulang tinggi itu"ucap Gidion.
"Aku tidak akan tidur dengan orang lain"ucap Mikaila.
"Baiklah sayang,, tapi aku bukan orang lain, Aku adalah cintamu" ucap Gidion.
Sementara, Mikaila sendiri malah memalingkan wajahnya, karena dia merasa mual mendengar ucapan Gideon. bukan tidak percaya dengan cinta pria itu tapi dia tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
Sudah cukup, tahun yang lalu ia menderita karena pria itu kini tidak lagi, mikaila akan mulai hidup baru dengan pria lain yang nantinya akan hadir dalam hidupnya.
Tidak ada lagi pengulangan hubungan atau sejenisnya, saat ini dia ingin fokus dengan sekolah nya dan setelah itu ia akan kuliah di negeri orang.
Mungkin, pilihannya terdengar egois bagi Gidion tapi itulah Mikaila, yang pernah kecewa dia tidak akan memilih pria dengan latar belakang dan kedudukan yang tinggi.
Yang penting dia sayang dengan Mikaila, agar supaya lebih bahagia bersama dengannya dan tidak ada hubungan yang rumit.
Dan yang tersulit adalah bagaimana caranya bisa terlepas dari Gideon yang terlihat tidak memungkin kan melepaskan dirinya pergi saat ini.
Sementara, itu di kediaman Kenzie mencemaskan Putrinya, pria itu mendapat kabar dari perwakilan sekolahnya bahwa salah satu peserta olimpiade yang berasal dari sekolah tersebut yaitu shanum tidak hadir di tempat.
"Deddy,,, tolong cari putriku segera, di mana dia berada? ke mana perginya para pengawal kenapa dia tidak bisa ditemukan bahkan sekarang tidak ada kabar darinya sama sekali aku khawatir terjadi apa-apa pada putri ku"ucap Sanum.
"mommy,, tenang dulu Putri kita mungkin sedang tersesat, dia tidak mungkin hilang karena kita tahu, Putri kita itu sangat pintar jadi tidak perlu cemas berlebihan, sekarang lebih baik kita berdoa saja. Daddy sudah mengerahkan orang-orang kepercayaan kita untuk mencarinya, dan Daddy juga meminta bantuan Allan untuk mencari keberadaan Mikaila saat ini" ujar Kenzie.
Satu minggu, sudah Allan dan anak buahnya mencari keberadaan Mikaila, Gadis itu belum juga ditemukan.
Sementara Kenji pun sama dia mencari ke sana kemari dia juga mendatangi beberapa bandara, di setiap negara tempat transit, saat itu.
Sampai akhirnya seseorang ngabarinya dan mengirim foto gadis yang tidak lain adalah Mikaila, kini tengah duduk termenung di sebuah balkon kamarnya, dia tak lain adalah Gideon. yang meminta Kenzie untuk tidak mencemaskan putrinya.
Yang kini berada dalam perlindungannya, karena jika gadis itu berkeliaran di luar, maka bahaya akan mengancamnya.
Bukan tidak mungkin istrinya akan memburu gadis itu, karena dia bukan wanita biasa seperti kebanyakan wanita lainnya, dia adalah wanita yang pendendam.
Dia pasti akan meminta bantuan dari keluarga Gideon, maka dari itu Gidion menahan Mikaila di pulau pribadinya.
Setelah, mengetahui itu Kenzie pun, akhirnya merasa lega.
Begitu juga, dengan Sanum saat ini Ibu dari Mikaila itu sudah mulai merasa tenang, setidaknya bisa aman, meskipun dia tetap harus berjaga jika suatu saat nanti terjadi sesuatu kepada putrinya itu.
Karena, kedua orang tua mungkin akan menemukan putrinya itu, meskipun Gidion akan melindunginya hingga titik darah penghabisan.
Tapi,, sebagai orang tua, Samun tetaplah ibu yang selalu mencemaskan anak-anaknya dan tidak bisa terus berpangku tangan meskipun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
Tapi dia selalu mencoba untuk melihat keadaan putrinya sambungan telepon atau yang lainnya karena Gideon meminta agar mereka bersabar dan tidak terlalu banyak berhubungan, karena takut akan terdeteksi oleh keluarga Gideon sendiri.
__ADS_1