
Arvin hanya bisa tersenyum melihat reaksi Shania yang memang sangat manja dan tidak bisa jauh darinya, hingga detik ini jika dia telat menghubungi gadis itupun akan seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang besar.
Apalagi ini tentang handphone dan yang lainnya mungkin masih bisa di maklumi tapi tidak bertemu dengan Arvin, itu adalah masalah besar ditambah tidak ada handphone.
"Aku tidak setuju, lebih baik aku tinggal disini sampai hari pernikahan nanti."ujar Shania.
"Ya tidak bisa begitu dong sayang,,, kamu harus patuh dengan peraturan yang berlaku, nanti juga ketemu Arvin lagi kamu bisa puas-puasin baku hantam dengan dia."ucap Mariana.
"Jadi omah doain aku berantem dengan kak Arvin."ucap Shania.
"Bukan begitu sayang,,, kamu belum saatnya tau yang omah katakan sebagai perumpamaan baku hantam itu apa?."ucap Mariana.
"Ah, Omah main rahasia-rahasia nih, aku sudah dewasa."ucap Shania.
Semua orang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Shania yang bikin geregetan itu.
"Sudah sekarang mommy mau jemput kakak kalian dulu di bandara mungkin sebentar lagi mereka tiba.
"Ah,,, Sembilan keponakan ku datang."ucap Shania.
"Sembilan, bukanya anak kak Vino itu empat."ujar Arvin yang bingung.
"Kak Vino 4, kak Zaid 3, kak Sky 2. hitung saja."ucap Shania antusias.
"Mereka semua ikut hadir."ucap Arvin kaget.
"Tentu saja tuan Arvin Wijaya, mereka semua juga keluarga kita."ucap Shania.
Semua orang terkekeh kecil.
"Kak Gerald..."ucap Shania bertanya.
"Gerald sudah dalam perjalanan mungkin besok baru tiba."ucap Mariana.
"Ah,,, aku punya banyak keponakan ditambah lagi dengan kedua kakak ku ini yang anaknya masih antah berantah."ucap Shania.
"Enak saja,, aku juga mau langsung buat cucu buat mommy dan Daddy."ucap Upin Dan Ipin kompak.
"Waduh kompak benar Upin Dan Ipin."celetuk Shania yang kini mendapatkan lemparan bantal sofa yang langsung di hadang oleh Arvin.
"Huh...gak kena we... Aku punya pelindung yang super tampan dan keren ini."ucap Shania yang kini tengah rangkul lengan Arvin.
"Awas saja satu Minggu tidak ada dia kau juga di rumah."ucap Kevin.
"Kevin sudah sekarang kamu juga harus segera bersiap dengan pernikahan kalian berdua."ucap Kenzo.
"Siap Opah,,kalo begitu aku pulang dulu."ucap Kevin.
"Pulanglah pulanglah sana segera persiapkan pesta pernikahan Upin Dan Ipin bersama jangan dipisah soalnya takut terjadi iri hati."ucap Shania yang kembali mengejek kedua kakaknya itu.
"Heumm.. sayang tidak baik bicara begitu."ucap Arvin.
"Tuh dengar apa? kata calon suamimu kau bisa jadi adik durhaka nanti."ucap Kevin yang gemas terhadap sang adik.
"Alah kalau tidak aku bantu juga kalian tidak akan sesukses sekarang, mungkin sekarang sedang mewek nyari dua kakak ipar ku ini."ucap Shania yang langsung membuat semua orang terdiam begitu juga dengan Kenzie.
krikkk ...
Jika ada suara jangkrik mungkin itulah perumpamaan nya.
Sampai saat Arvin kembali bicara.
"Yang mau makan malam disini atau di luar."tanya Arvin.
"Diluar yang,,, tapi bisa tidak buat acara seperti kemarin."ucap Shania.
"Tidak sayang,,,itu namanya pemborosan lalu nanti setelah menikah mau makan pake apa?."ucap Arvin yang selalu berpikir positif.
"Aduh,,, yang kamu itu selalu saja perhitungan, nanti bisa minta daddy kalau sudah menikah."ucap Shania.
"Sayang bukan perhitungan tapi harus berfikir panjang, aku mohon mungkin bisa memberikan makan malam romantis, setiap harinya, tapi masadepan kita bagaimana? itu yang harus dipikirkan,,, boleh sekali-kali kita merayakan sesuatu tapi kalau terus-terusan orang seperti ku mana mampu."ucap Arvin kembali merendah.
"Heumm... kamu benar."ucap Mariana.
"Tuh dengar kan sayang,,, mommy memang sangat beruntung memiliki menantu seperti Arvin yang selalu berfikir panjang, dan dia mampu membimbing mu kelak."ucap Sanum.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun mulai pergi meninggalkan rumah Arvin semeantara Shania masih di sana.
"Sayang kamu mau masak apa? nanti saat hari pertama kita menikah nanti."ucap Arvin.
"Mungkin telur dadar sambal mentah, goreng ayam."ucap Shania.
"Benarkah, memang bisa goreng ayam."ucap Arvin.
"Bisa dong,,, tinggal masukin ke open."ucap Shania.
"Itu namanya memanggang sayang."ucap Arvin sambil terkekeh kecil.
"Biar saja kan yang penting sama-sama matang."ucap Shania.
"Iya, sayang tapi itu namanya ayam panggang sayang bukan ayam goreng."ucap Arvin.
"Ya aku belajar sama mommy nanti."ucap Shania.
"Heumm...itu baru istriku yang paling hebat."ucap Arvin.
Arvin pun meminta asisten rumah untuk membuat makan malam.
"Yank,,, apa? di rumah kita nanti tidak ada koki sama sekali."ucap Shania yang kini terlihat khawatir.
Arvin pun langsung tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Ada sayang koki pun ada tapi aku ingin dimasakin sama istriku sendiri."ucap Arvin.
"Tentu saja aku akan masak buat suamiku yang tampan ini, tapi aku harus belajar dulu, semoga tuan Arvin Wijaya bisa memakluminya."ucap Shania.
"Tentu saja honey,,, aku akan menunggu hari itu tiba nyonya Arvin Wijaya."ucap Arvin sambil mengecup bibir Shania dan meninggalkan gigitan kecil di bibir itu.
Sontak Shania membulatkan matanya, dia langsung bergegas mengalungkan lengannya di leher Arvin.
"Mas Arvin nakal."ucap Shania yang kini tersenyum menggoda.
"Suruh siapa? nge-gemesin gitu."ucap Arvin.
"Kak, aku meleleh."ucap Shania.
"Kok bisa."ucap Arvin.
Arvin tidak melepaskan itu dia menahan tengkuk Shania, dan memperdalam ciuman itu.
Shania sendiri hanyut dalam ciuman itu hingga hampir kehabisan nafas, dan itu membuat keduanya tersenyum manis di posisi kening mereka saling beradu.
Akhirnya mereka pun menyudahi acara itu setelah makan malam Arvin pun mengantar Shania pulang meskipun sulit untuk menyakinkan bahwa mereka bisa berpisah.
Sampai saat Arvin menggendong Shania dari mobilnya, dia bahkan langsung mengantar Shania kedalam kamarnya, Arvin masih belum bisa pergi saat itu Shania berulang kali mencium bibirnya dan mereka bercumbu mesra hingga berulang kali.
Sampai di penghujung acara Arvin pun meninggalkan gadis itu yang tengah menangis sesenggukan karena tidak akan bisa bertemu dengan Arvin meskipun lewat telepon.
Se- buccin itu Shania pada Arvin, meskipun Arvin juga melakukan hal yang sama, tapi Arvin masih bisa menahan itu karena dia adalah laki-laki.
Akhirnya Arvin pun pulang menitipkan Shania pada semuanya, kenapa? harus ada acar pingitan segala padahal nanti juga mereka akan tetap bersama. itu yang sekarang dipikirkan oleh keduanya, sementara yang terjadi pada Kendra dan Kevin pun sama dengan mereka hanya saja saat ini bedanya waktunya lebih singkat.
..................
Keesokan harinya, saat ini Shania menjalani hari pertama pingitan begitu juga dengan kedua kakanya.
Tapi baru satu hari saja gadis itu sudah meraung-raung menangis dan meminta bertemu dengan Arvin.
Sementara semua orang hanya bisa geleng-geleng kepala, dan kedua kakak nya mengejek Shania.
Julia sendiri hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah adik bungsunya itu.
Wanita itu sibuk dengan keempat anaknya, dibantu oleh Baby sitter sementara meskipun sementara tapi mereka semua profesional.
Berbeda dengan Zaid yang memang membawa mereka serta untuk ketiga anaknya itu, meskipun kini mereka sudah berusia dua tahun.
Kehangatan keluarga di Mension tersebut membuat semua orang berbahagia seperti biasanya perkumpulan laki-laki yang kini tengah membicarakan bisnis mereka disaat sedang berkumpul seperti saat ini.
Sementara para istri dan anak-anaknya duduk bersama, ditambah keluarga Adri sampai anak cucu mereka yang ikut bergabung di kesempatan itu hingga satu Minggu kedepan.
Saat ini meja makan super panjang dan sangat lebar itu penuh dengan kebahagiaan hidangan dan orang-orang yang tengah menikmati itu.
__ADS_1
Sementara saat ini Arvin tengah menangis sesenggukan karena dia hanya tinggal sendiri di rumah itu, tepat di kamar sang bunda yang kini kosong melompong hanya ada ranjang dan walk in closed yang menampakkan beberapa barang berharga yang tidak di sumbangkan oleh Arvin sebagai kenangan.
"Bunda,,, Arvin kesepian, dihari pernikahan Arvin nanti bahkan Arfan tidak akan bisa datang karena sedang sibuk di kampus. Tidak ada keluarga kita satupun yang hadir apalagi setelah mereka tahu bahwa semua warisan tidak ada yang dibagikan kepada mereka."ucap Arvin lirih.
Keluarga Arvin hanya hadir di hari pertama hingga ketujuh, setelah itu tidak ada satupun yang kembali hadir meskipun acara tahlil itu terus digelar.
Arvin benar-benar merasa kesepian, hingga saat pintu yang terbuka itu diketuk oleh seseorang.
"Siapa?."ucap Arvin.
"Den, diluar ada teman Aden."ucap bibi asisten rumah.
"Namanya."ucap Arvin.
"Diego den, katanya baru datang dari Belanda bersama kedua temannya."ucap wanita itu.
"Buat kan minum bi, nanti saya keluar sebentar lagi."ucap Arvin yang merasa sedikit lega, setidaknya ada sahabat yang akan mendampingi dia saat menikah nanti seperti perkataan mereka dulu saat mereka masih kuliah.
Arvin langsung masuk kedalam kamar mandi, dia membasuh wajah, meskipun wajah sembab dan mata merah itu tidak bisa dia sembunyikan.
"Kalian hadir,,,."ucap Arvin yang langsung memeluk ketiganya bersamaan.
"Sorry Vin, kami tidak bisa datang saat aunty meninggal."ucap Diego.
"Tidak apa-apa aku mengerti kalian juga punya kesibukan, aku sudah bersyukur kalian datang saat ini,,, jika tidak aku mungkin sendirian adikku tidak bisa kembali sekarang."ucap Arvin sendu.
"Jangan bersedih, kami juga tidak hanya bertiga keluarga kita juga hadir dan akan menjadi wali mu nanti menggantikan aunty dan uncle."ucap Diego dan Sean juga Piter.
"Aku benar-benar sangat berterimakasih, tapi kenapa? mereka tidak menginap disini saja. rumah ini terasa sangat sepi."ucap Arvin.
"Mungkin karena mereka sudah sangat kelelahan Vin, besok mereka akan kesini aku akan suruh mereka menginap disini."ucap Piter.
Sahabat Arvin bukan hanya mereka bertiga, ada juga dua orang wanita yang saat ini menjadi jodoh Piter dan Sean, sementara Diego sampai saat ini masih mengejar karir seperti dirinya dulu sebelum bertemu dengan Shania.
Obrolan keempat pria beda usia satu dua tahun itu tetap berlanjut hingga pagi, sambil sesekali menyesap rokok dan wine.
Sudah seperti kebiasaannya dulu hingga tanpa mereka sadari kini keempatnya tidur di sofa dan karpet empuk itu di depan televisi.
Sampai saat pagi hari mereka baru pindah ke kamar masing-masing yang ditunjukkan oleh bibi asisten rumah tangga itu.
Kamar yang sejak semalam telah ia siapkan untuk ketiga tamu, seperti perintah tuan mudanya itu.
Mereka kembali tertidur hingga jam makan siang.
Pesta pernikahan kedua Calon kakak ipar Arvin pun digelar dengan sangat megah, seperti pesta yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh Arvin dan seluruh keluarga Kenzie, untuk pernikahan Shania nanti.
Apapun bisa dilakukan dengan uang yang mereka punya saat ini, Arvin menjadi tamu misterius saat ini karena tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Shania.
Arvin pun langsung bergegas pergi dari pesta sebelum dia dan Shania bertemu, karena masih ada waktu hingga empat hari untuk bisa kembali bersama dengannya dalam ikatan pernikahan.
Shania sendiri kini tengah meneliti satu persatu tamu yang datang, dia akan kabur bersama dengan Arvin jika dia bertemu dengan pujaan hatinya itu.
Tetapi Arvin tidak terlihat batang hidungnya sama sekali
Sementara saat hadir Arvin menyamar sebagai pelayan dan dia menggunakan topeng seperti pelayan yang ada di sana.
Kenzie dan yang lainnya pun tahu dengan calon menantunya putrinya yang tidak tahu itu karena Sky sengaja mengecoh gadis itu.
Selain rasa cemburunya terhadap Arvin, Sky juga diminta oleh Vino untuk melakukan hal itu.
Sementara Arvin yang kini tengah berada di hotel untuk menjemput keluarga Diego yang akan menggantikan kedua orang tuanya nanti dia akan mengajak mereka untuk tinggal di rumah Arvin .
Arvin tidak ingin mereka mengeluarkan biaya tinggal selama di Indonesia, Arvin ingin mereka tinggal di rumahnya juga agar dia tidak kesepian sampai saat Arvin membawa Shania kembali ke rumah itu.
Sementara Shania merasa sangat tersiksa, tadinya dia ingin bertemu dengan Arvin dan melepas rindu, tapi nyatanya Arvin begitu patuh pada kedua orang tuanya dan juga adat istiadat itu.
Sanum pun merangkul bahu putrinya yang kini tengah bercucuran air mata.
"Sayang,,, baru tiba hari, masih ada empat hari lagi yang harus kamu lewati, setelah itu mommy tidak akan melarang mu untuk tetap bersama dengannya sampai kapanpun itu."ucap Sanum lembut.
"Tapi mommy rasanya sungguh sangat menyakitkan dan begitu berat, aku begitu mencintai kak Arvin begitu juga dengan rasa rindu ini."ucap Shania.
"Sabar sayang,,,asal kamu tahu dihari pertemuan kalian nanti ada hal yang benar-benar tidak bisa kamu lupa hari itu."ucap Sanum.
Shania pun mengangguk pelan, saat ini dia mulai mengerti dengan maksud dan tujuan tersebut.
__ADS_1
Sampai pesta pernikahan Kendra dan Kevin selesai digelar, pesta yang diadakan selama dua hari berturut-turut itu memperlihatkan rasa lelah sekaligus bahagia di Antara kedua pengantin wanita yang kini menjadi ratu dari kedua putra seorang Milioner tersebut.
Novara begitu cantik, begitu juga dengan adinda, keduanya adalah pilihan pria yang sering diejek sebagai Upin Dan Ipin itu.